Tuesday, April 6, 2021

Teori Kemunculan Islam dan Kristen

Diterjemahkan dari Artikel karya Francois de Blois berjudul “Islam in its Arabian Context” dalam buku “The Qur’an in Context”

 Oleh: Rohmatul Izad

Pada dua sampai tiga dekade terakhir telah muncul madzhab baru dalam kajian Islam di Barat, banyak pengikut dari madzhab ini menyebut diri mereka sebagai ‘revisionis’. Dorongan utama dari aliran ini adalah untuk menentang validitas dari catatan muslim tradisional tentang lokasi dan waktu asal muasal Islam dengan melakukan kajian pada wilayah utara Arab (seperti Babilonia dan padang gurun Syiria), dan  pada kurun waktu yang lebih modern (mungkin akhir abad ke-8 atau abad ke-9). Dalam beberapa tahun terakhir pula, terdapat  kecenderungan  yang sangat kuat dari para revisionis ini  untuk menentang validitas tekstual Al-Qur’an dan merekonstruksikan ke sebuah versi yang seharusnya lebih tua dari kitab suci umat Muslim.

Sejak awal, para tokoh ‘revisionis’ ini menyatakan bahwa mereka menaruh perhatian pada kemapanan tradisi ‘historis kritis’ pada studi kitab suci Kristen yang muncul sejak sekitar awal abad kesembilan belas. Namun, menurut saya, ada perbedaan mendasar antara konteks sejarah pada studi Perjanjian Baru di satu sisi, dan pada studi Al-Qur’an di sisi yang lain.

Apakah Sains itu Agama?

Diterjemahkan dari teks pidato Richard Dawkins ketika menerima penghargaan "Humanist of The Year" pada tahun 1966

Oleh: Ade Sabda Galah

Adalah lumrah untuk menjadi apokaliptis mengenai ancaman terhadap kemanusiaan yang diakibatkan oleh virus AIDS, musibah “lembu gila” dan banyak lainnya, namun saya kira soalnya adalah bahwa keimanan adalah salah satu kejahatan terbesar di dunia yang sebanding dengan penyakit cacar namun lebih sulit untuk dibasmi.

Keimanan, sebagai keyakinan tanpa bukti, adalah sisi buruk agama yang prinsipiil. Dan siapa, setelah melihat Irlandia Utara dan Timur Tengah, dapat yakin bahwa virus keimanan tidak berbahaya? Salah satu kisah yang diceritakan kepada pemuda Muslim pelaku bom bunuh diri adalah bahwa kesyahidan adalah jalan pintas menuju surga – dan tidak hanya surga melainkan juga 72 bidadari cantik yang masih perawan dan menunggu mereka di dalamnya. Bagi saya tampaknya bahwa harapan terbaik kita mungkin adalah menyediakan semacam “kontrol senjata spiritual”: mengirim ke dalamnya para teolog terlatih untuk menurunkan angka keperawanan.

Mengingat bahaya iman tersebut – dan mengingat pencapaian pemikiran dan pengamatan dalam aktivitas yang disebut sains – saya menganggap ironis bahwa, kapan pun saya memberikan kuliah secara publik, selalu saja ada seseorang yang maju ke depan dan berkata, “Tentu, sains Anda tak ubahnya sebuah agama sebagaimana agama kami. Secara fundamental, sains pada akhirnya hanya akan menjadi keyakinan, kan?”