Thursday, May 31, 2012

Delusinasi


Delusi ialah keyakinan salah yang dipercaya oleh seseorang meski berbagai bukti relevan berbicara sebaliknya. Orang yang percaya terhadap keyakinan yang salah tersebut berarti mengalami delusinasi. Delusinasi tidak ada kaitannya dengan adanya jaringan syaraf otak seseorang yang mengalami kerusakan. Seorang yang mengalami delusinasi sangat yakin pada kepercayaannya itu sampai-sampai hal yang diyakini dan dipercayainya itu tidak dapat diganggu-gugat terlebih diubah sekalipun bukti-bukti fisik yang berdasar pada sains telah memberikan penjelasan yang bertolak belakang dengan keyakinan dan kepercayaannya.

Lebih dari 20 persen Ilmuan Ateis bersifat Spiritual

Penelitian ini diterbitkan dalam edisi Juni 2011 jurnal ilmiah Sociology of Religion.

Lewat wawancara mendalam pada 275 ilmuan alam dan sosial di universitas-universitas terkenal, para peneliti Rice menemukan kalau 72 dari para ilmuan tersebut mengatakan bahwa mereka memiliki spiritualitas yang konsisten dengan sains, walaupun mereka tidak beragama secara formal.

“Hasil kami menunjukkan kalau para ilmuan memandang agama dan spiritualitas sebagai konstruk yang berbeda secara kualitatif,” kata Elaine Howard Ecklund, asisten profesor sosiologi di Rice dan penulis perdana studi ini. “Para ilmuan ateis spiritual ini mencari makna kebenaran lewat spiritualitas – yang dibangkitkan lewat dan konsisten dengan pekerjaan mereka sebagai ilmuan.”

Sebagai contoh, para ilmuan ini memandang sains dan spiritualitas sebagai “pembuatan makna tanpa keyakinan” dan sebagai penaklukkan makna individual yang tidak akan pernah final. Menurut penelitian ini, mereka melihat spiritualitas kongruen dengan sains dan terpisah dari agama, karena penaklukkan tersebut; dimana spiritualitas terbuka dengan perjalanan ilmiah, sementara agama memerlukan keyakinan mutlak walau dengan “ketiadaan bukti empiris.”

Ketidaktahuan

Ketidaktahuan atau ignorance menghalangi proses berpikir kritis, untuk itu perlu untuk terus belajar secara luas dan mendalam

Oleh Robert Todd Carrol, 2004

Mungkin kendala terbesar dalam berpikir kritis adalah ketidakpedulian (ignorance): tidak adanya pengetahuan latar belakang mendasar mengenai subjek yang dibahas. Ketidakpedulian berbeda dengan kebodohan, yang berhubungan dengan tidak adanya, atau penerapan yang tidak kompeten pada kecerdasan. Ketidakpedulian berhubungan dengan tidak adanya informasi atau pengetahuan.

Mungkin tidak ada yang paling mengkendalai berpikir kritis daripada tidak adanya kosakata yang sesuai. Menggunakan kamus yang baik sering merupakan cara yang cepat dan efisien untuk mengatasi salah satu kendala utama berpikir kritis. Lagi pula, bila anda tidak memahami apa yang dimaksud oleh orang lain, anda tidak dapat menilai dengan baik kalimat atau argumen orang tersebut.

Pandangan Kita Terhadap Dunia

Motivasi dan perilaku seseorang dipengaruhi pandangannya mengenai dunia, seperti moral dan agama.

Oleh Robert Todd Carrol, 2004

Masing-masing kita memiliki sederetan nilai dan keyakinan dasar mengenai dunia ini. Nilai dan keyakinan ini adalah saringan dimana kita mempersepsi dunia dan menafsirkan pengalaman. Nilai seseorang dapat mempengaruhi bukan hanya seberapa pentingnya nilai yang ia berikan pada fakta, namun juga apa yang ia anggap sebagai fakta. Keyakinan moral dan agama adalah bagian dari pandangan seseorang terhadap dunia dan seringkali bertabrakan dengan pandangan dunia orang lain.

Beberapa pandangan memuat pemahaman kalau pandangan lainnya harus dimusnahkan dan mereka harus menjadi pandangan yang dominan. Pandangan demikian tidak menerima kompromi dan memandang mereka yang mengajukan toleransi pada pandangan lain adalah bagian dari sebuah konspirasi untuk meremehkan mereka dengan mendukung berpikir bebas. Kelompok agama ultrakonservatif dicirikan oleh pandangan dunia yang demikian.

Berpikir Kritis


Setiap manusia berpikir karena berpikir sudah merupakan sifat dasar manusia. Namun, sebagian besar pikiran manusia itu berat sebelah, menyimpang, parsial (tidak utuh), tak didukung oleh informasi yang cukup, atau memiliki prasangka-prasangka tertentu. Namun demikian, kualitas kehidupan manusia, dan apa yang manusia hasilkan, buat, atau bangun berdasar pada kualitas pikirannya. Sementara itu di sisi lain, pikiran yang bobrok dapat merugikan, baik uang maupun kualitas hidup manusia. Oleh karena itu, pikiran berkualitas yang dimiliki manusia tidaklah datang dengan sendirinya atau “jatuh dari langit” melainkan harus dikembangkan dan dilatih secara sistematis dan tiada henti.

Secara sangat sederhana dapat dikatakan bahwa berpikir kritis merupakan cara berpikir mengenai subjek, isi, dan masalah apapun, di mana manusia yang berpikir selalu meningkatkan dan memperbarui kualitas berpikirnya. Upaya ini dilakukannya dengan berbagai analisis, penilaian, dan rekonstruksi yang terampil. Berpikir kritis artinya diarahkan, dikendalikan, diawasi oleh diri sendiri sekaligus merupakan koreksi terhadap diri sendiri. Semua hal tersebut dilakukan secara teliti karena dikendalikan oleh berbagai tolok ukur yang berasal dari pemikiran yang berkualitas. Hal ini berkaitan dengan kemampuan komunikasi yang baik dan kemampuan menyelesaikan masalah yang dimiliki manusia, begitu juga komitmen untuk mengatasi egosentrisme dan sosiosentrisme yang menjadi sifat dasar manusia.

Keyakinan


Oleh Robert Todd Carrol, 2004

Beberapa keyakinan dapat menghalangi pemikiran kritis. Bila anda yakin anda akan gagal dalam memecahkan sebuah masalah, anda mungkin tidak mau mencoba. Bila anda tidak mencoba, anda tidak akan memberi kesempatan pada diri anda untuk belajar dan mengembangkan bakat anda, termasuk bakat berpikir kritis. Mengejutkannya, sebagian besar penelitian telah menemukan kalau percaya bahwa kecerdasan adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir, dan tetap tidak berubah sepanjang hidup karena gen, menghalangi orang dalam beberapa cara yang dapat mempengaruhi kemampuan mereka berpikir kritis.

“Salah satu hal terbodoh yang dilakukan orang dengan pandangan kalau kecerdasan itu tetap adalah mengorbankan kesempatan belajar yang penting saat kesempatan tersebut mengandung resiko mengungkapkan ketidakpedulian atau membuat kesalahan” (Dweck 2002: 29). Kenapa? Karena orang yang percaya kecerdasan sepenuhnya tetap lebih cenderung takut gagal dari pada mereka yang memandang kecerdasan adalah potensi yang dapat dikembangkan. Mereka takut gagal karena mereka cenderung mengukur harga diri mereka dengan kecerdasan mereka. Mereka menafsirkan kegagalan sebagai tanda kalau mereka kurang cerdas. Mereka kemudian bermain aman. 

Ilmu Pengetahuan dan Skeptisisme



Ilmu pengetahuan merupakan cara berpikir dan bertindak tertentu yang bermanfaat untuk memahami berbagai pengetahuan yang diperoleh manusia, baik yang diterima secara langsung maupun tidak langsung (terjadi di masa lalu maupun masa kini). Hal-hal yang termasuk ke dalam cara berpikir manusia adalah semua hal mengenai ide, hipotesa, teori, dan paradigma. Sedangkan hal-hal yang termasuk ke dalam tindakan manusia adalah pengalaman, analisis statistik, penelitian lapangan, pengumpulan data, penemuan-penemuan, komunikasi dengan sesama, seminar (presentasi), dan tulisan-tulisan. Hal-hal yang termasuk ke dalam cara berpikir manusia itu dinamakan metode mental, sementara berbagai hal yang termasuk ke dalam tindakan manusia disebut metode sikap/kebiasaan.

Jika demikian, apa yang menjadi ciri khas ilmu pengetahuan? Metode apakah yang digunakan oleh, dan dalam ilmu pengetahuan? Apakah metode ilmu pengetahuan itu? Ada begitu banyak tulisan yang membahas mengenai metode ilmu pengetahuan ini. Namun, kata sepakat mengenai hal tersebut sangat sulit dicapai, atau setidaknya, di antara para ahli  memiliki rumusan hal itu yang saling berbeda mengenai hal tersebut. Namun demikian, hal ini tidak berarti mereka tidak mengetahui apa yang dilakukannya. Antara “melakukan” dan “menjelaskan” terdapat perbedaan, walaupun umumnya para ahli menjalankan proses “melakukan” dan “menjelaskan” tersebut.