Selasa, 06 November 2012

Kecerdasan Spiritual Danah Zohar Sebuah telaah kritis tentang SQ

Buku Danah Zohar telah terbit lagi. Buku itu berjudul sangat bombastis SQ, Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence (Bloomsbury, London 2000). Buku ini adalah bagian dari triloginya tentang holisme kuantum yang aplikatif untuk kehidupan sehari-hari. Pada buku pertama, the Quantum Self (Bloomsbury , London 1990), Zohar telah mendobrak elitisme fisika kuantum yang oleh Fritjof Capra dilebur dengan elitisme mistik Timur menjadi elitisme eksklusif mistisime zaman baru. Dengan bukunya itu, Zohar justru meletakkan proses kuantum di tengah kehidupan kita sehari-hari dengan menyatakan bahwa proses berpikir kita yang biasa dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pengalaman mistik yang esoteris, pada dasarnya adalah sebuah proses kuantum.

Pada bukunya yang kedua, the Quantum Society (Flamingo, London 1994), dia menyatakan bahwa masyarakat dunia harus ditata kembali menjadi sebuah masyarakat kuantum, yaitu sejumlah komunitas-komunitas kecil tatap muka yang berinteraksi secara dialogis serupa dengan model dialog internal yang terjadi dalam otak manusia. Dalam buku kedua ini dia mengatakan bahwa landasan fisika bagi kesadaran manusia adalah proses kondensasi Bose Einstein kuantum sel-sel saraf yang menimbulkan koherensi gelombang listrik-magnet di otak

Nah, buku Danah Zohar yang ketiga ini, SQ, adalah bagian terakhir,
tentunya klimaks, dari trilogi holisme kuantum. Dalam buku ini, Zohar sekali lagi menggunakan otak sebagai model sentral untuk wacana besarnya, dan teorinya tentang holisme kuantum menjadi bingkai besar membayangi wacana yang tabu di kalangan ilmuwan Barat yaitu mistisisme. Alih-alih berbicara tentang mistik yang metarasional, dia justru menggunakan konsep "inteligensi spiritual" yang suprarasional sebagai konsep sentral dalam wacana mistisisme terapan.

Tampaknya, sudah menjadi kecenderungan umum di dasawarsa-dasawarsa
peralihan milenium ini untuk memperluas konsep inteligensi pada aspek-aspek kejiwaan yang pada waktu-waktu sebelumnya dianggap sebagai tidak rasional. Misalnya, Daniel Goleman mengajukan konsep inteligensi emosional. Kini, Danah Zohar mengajukan konsep inteligensi spiritual. Inteligensi spiritual dianggap sebagai bentuk inteligensi tertinggi yang memadukan kedua bentuk inteligensi terdahulu yaitu inteligensi intelektual dan inteligensi emosional.

Sebenarnya, konsep inteligensi spiritual yang berkaitan dengan makna
hidup telah dibicarakannya secara sambil lalu pada buku-bukunya yang pertama dan kedua. Pada Quantum Self, Zohar berbicara mengenai visi
kuantum tentang kosmologi dan teologi. Pada bab akhir bukunya yang kedua, the Quantum Society, Zohar melampirkan naskah pidatonya di depan di depan pertemuan Yayasan Kebudayaan Eropa di Helsinki bulan Mei 1994 pada akhir abad yang lalu, dia berbicara mengenai tiga jenis cara berpikir manusia yaitu berpikir logis rasional, berpikir asosiatif intuitif dan berpikir praktis kreatif.

Di tahun 1997 dalam bukunya diluar trilogi kuantum, Rewiring the
Corporate Brain, dia berbicara adanya tiga jenis cara berpikir yaitu berpikir serial, berpikir asosiatif dan berpikir kuantum. Di tahun 2000 konsep berpikir kuantum itulah menjelma menjadi "hyperthinking" atau inteligensi spiritual dalam bukunya SQ. SQ adalah pelengkap dan penyepadu IQ dan EQ. Dengan demikian EQ, IQ dan SQ berkaitan dengan emosi, rasio dan spirit adalah trinitas psikologi baru yang menggantikan trinitas Id, Ego dan Superego yang diberikan Freud.

Namun suami Danah Zohar, psikiater Ian Marshall, bukanlah seorang
psikoanalis Freudian. Dia adalah seorang Jungian yang juga psikolog humanistis. Trinitas Id, Ego dan Superego digantikan oleh trinitas Anima, Persona dan Diri. Berbeda dengan Id yang mencerminkan dorongan-dorongan hayawaniah, anima adalah sekumpulan potensi-potensi manusiawi primitif yang berada di bawah kesadaran. Dan persona adalah topeng psikologis yang dikembangkan oleh ego seseorang dalam menghadapi lingkungannya. Sedangkan Diri adalah pusat kesadaran dan ketidaksaran.

Berbeda dengan Freud dan Jung yang menganggap inteligensi hanya ada
pada tataran ego dan person, pasangan suami istri Zohar-Marshall ini justru menganggap bahwa ketiga komponen psikhis mempunyai kecerdasan sendiri-sendiri. Id mempunyai kecerdasan emosional yang asosiatif, ego mempunyai kecerdasan intelektual yang rasional dan Diri mempunyai kecerdasan spiritual yang integratif.

Ketiga bentuk kecerdasan itu, menurut Zohar dan Marshall, mempunyai
akar-akar neurobiologis di otak manusia. Kecerdasan emosional ada di sistem limbik, alias otak dalam, yang terdiri dari thalamus, hypothalamus dan hippocampus. Kecerdasan intelektual ada di korteks serebrum alias otak besar. Sedangkan kecerdasan spiritual mempunyai dasar neurofisiologis pada osilasi frekuensi gamma 40 Hertz yang bersumber pada integrasi sensasi-sensasi menjadi persepsi obyek-obyek dalam pikiran manusia.

Tentu saja dugaan Danah Zohar adanya korelasi antara osilasi Gamma
dan kecerdasan spiritual sangatlah berlebihan. Soalnya integrasi sensasi menjadi persepsi obyek-obyek bukanlah komponen dari tertinggi dari pengalaman spiritual. Komponen utama dari spiritualitas bukan integrasi pada tahapan indrawi, akan tetapi unifikasi dan transendensi yang melampaui taraf intelektualitas. Sedangkan intelektualitas itu sendiri merupakan taraf perkembangan mental yang melampaui pengalaman obyek-obyek indrawi.

Kecerdasan
(organ) Proses Psikologis (karekteristik)
Emosional (Id) Proses primer (asosiatif)
Mental (Ego) Proses sekunder (rasional)
Spiritual (Diri Luhur) Proses tersier (integratif)

Tabel 1

Tiga jenis kecerdasan dan proses psikologis yang menyertainya


Landasan Fisika Kecerdasan Spiritual


Ketiga buku Danah Zohar mempunyai asumsi yang sama, yaitu asumsi
bahwa kesadaran itu punya landasan di alam fisik. Asumsi dasar yang kedua adalah evolusionisme yang mengatakan bahwa kesadaran manusia adalah puncak kesadaran dari evolusi kesadaran fisik yang primordial. Dalam formulasi awalnya, di the Quantum Self, kesadaran fisik itu diidentifikasinya dengan kuantum medan-medan interaksi fundamental antar partikel elementer. Dalam bukunya yang kedua, dia mengidentifikasi kesadaran fisik itu dengan sinkronisasi gelombang-gelombang otak.

Dalam bukunya yang terakhir dia mengidentifikasi proto-kesadaran itu
dengan partikel skalar Higgs, yang dihipotesakan oleh Higgs agar terjadi perusakan simetri spontan interaksi antar partikel fundamental yang ditandai dengan massa yang berbeda-beda antara quark dan lepton. Konon, menurut Zohar perusakan simetri ini merupakan awal primordial evolusi kesadaran yang berpuncak pada terbentuknya kecerdasan spiritual pada manusia.

Evolusi kesadaran itu berlangsung secara siklis dengan enam fase
evolusioner diskrit yang tegas. Sebelum terjadinya perusakan simetri terdapat superstring yang disebut sebagai Era GUT (Grand Unified Field Theory). Era ini diawali dengan vakum kuantum dan berakhir dengan munculnya medan Higgs, yang diikuti oleh era kedua yaitu era quark. Era Quark berakhir dengan terbentuknya hadron-hadron yaitu partikel-partikel yang berinteraksi kuat.

Di antara hadron-hadron yang penting adalah nukleon (proton dan
netron) dan pion (meson pi). Quark itu adalah bagian terkecil bagi nukleon yang merupakan batu bata inti-inti atom dan meson pi yang merupakan perekat nukleon dalam inti. yang kemudian bergabung dengan elektron-elektron membentuk atom-atom. Nukleon dan meson itu disebut sebagai hadron.

Era ketiga, yaitu Era Atom, adalah era di mana hadron-hadron yang
stabil membentuk inti atom yang kemudian bergabung dengan elektron menjadi atom-atom. Atom-atom ini, sangat beragam jenisnya, kemudian bergabung membentuk molekul-molekul yang jauh lebih beragam bentuk dan sifatnya. Molekul-molekul ini adalah bagian-bagian terkecil materi yang masih memiliki sifat-sifat keseluruhan.

Tabel 2

Siklus Evolusi Kosmologis menurut Danah Zohar

Maka, dengan demikian, kita telah melukiskan sebuah proses
terbentuknya materi makroskopis bersumber dari vakum kuantum yang oleh Danah Zohar diidentifikasikan dengan sunyata yaitu kekosongan mutlak dalam ajaran Budha. Proses selanjutnya pada evolusi kosmik adalah proses peningkatan kesadaran mulai dari tahap inteligensi emosional diikuti oleh tahap inteligensi mental dan berakhir pada tahap inteligensi spiritual yang berujung pada terbentuknya ruh semesta. Proses peningkatan kesadaran ini dapat diidentifikasi
sebagai proses kembalinya proto-kesadaran ke sunyata yang diidentifikasi Zohar dengan vakum kuantum.

Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang dimiliki oleh hewan-
hewan. Manusia memiliki kecerdasan emosional dalam kendali ego. Ego inilah yang mencapai kecerdasan mental yang bisa ditingkatkan menjadi kecerdasan spiritual dengan pembentukan diri yang utuh seperti yang dikenal oleh Carl Gustaf Jung, pendiri psikologi analitis, sebagai proses individuasi. Suami Danah Zohar, Ian Marshal yang psikiater itu, adalah penganut psikologi analitis Jung yang kreatif. Bersama suaminya, Zohar mengidentifikasi ada enam tipe ego yang diidentifikasinya dengan enam cakra terrendah dalam tradisi Yoga dan melukiskannya secara indah dalam bentuk bunga teratai bertajuk enam, masing-masing tajuk diidentikasi dengan ego tipe tertentu.

Pusat dari bunga teratai itu tak lain dari Diri yang utuh yang
didefinisikan Jung sebagai terminal akhir proses individuasi. Pusat bunga inilah yang diidentifikasi oleh Danah Zohar dan Ian Marshall sebagai cakra mahkota dalam tradisi Yoga. Yoga adalah jalan menuju terbukanya cakra mahkota itu. Dalam tradisi Yoga pembukaan cakra-cakra itu berjalan secara berurutan, mulai dari yang terrendah berakhir dengan yang tertinggi yaitu cakra mahkota. Dengan tersempurnakannya Diri manusia, manusia pun memperoleh kecerdasan spiritual.

Evaluasi Kritis Teori Kecerdasan Spiritual

 
Teori psikologi Danah Zohar yang pada dasarnya adalah sebuah
rekonstruksi terhadap psikologi analitis Jung dengan menggunakan teori kuantum sebagai model. Teori ini sebenarnya merupakan kontribusi besar bagi terbentuknya paradigma baru di milenium yang baru kita masuki ini. Zohar membawakan sebuah kisah besar evolusi kosmik ditengah teriakan garang para posmodernis yang mencanangkan berakhirnya kisah-kisah besar dipenghujung abad ke-20 yang lalu. Akan tetapi kisah evolusi spiritual kosmos telah lama ditembangkan di awal abad lalu sebelum pecahnya Perang Dunia II oleh Henry Bergson dengan evolusi kreatifnya, Pierre Teilhard dengan teori noogenesisnya, Aurobindo dengan Yoga integralnya, Alfred North Whitehead dengan filsafat organismenya.

Teori evolusionisme spiritual bahkan disempurnakan oleh David Bohm
dengan teori Holo-movementnya yang kemudian dikembangkan secara populer oleh banyak pemikir Zaman Baru seperti Gorge Leonard (The Silent Pulse 1991) dan Ken Wilber (Atman Project 1980) dengan psikologi transpersonalnya. Kebanyakan pemikir-pemikir zaman baru dipengaruhi oleh filsafat mistik Timur yang panteistik. Danah Zohar mencoba mengoreksi pemikir-pemikir zaman baru tersebut dengan cara memasukkan kembali spiritualitas dalam konteks keseharian dengan wacana religius yang monoteistik, di mana vakum kuantum dianggap sebagai wadah imanensi Tuhan yang transenden.

Lepas dari sumbangan positif Danah Zohar dan Ian Marshall dalam
memulihkan kehidupan spiritual pada sehari-hari dengan argumentasi ilmiah sehingga dapat diterima oleh generasi milenium, barangkali ada baiknya memeriksa gagasan mereka dengan tradisi mistik tradisional secara mendalam. Misalnya adanya tiga inteligensi yaitu inteligensi emosional, inteligensi rasional dan inteligensi spiritual mengingatkan kita akan adanya tiga jiwa, yaitu nafs haywaniah, nafs nathiqah dan nafs qudsiyah, dalam filsafat Islam tradisional. Dalam tradisi tashawwuf ketiganya dikaitkan dengan nafs, aql dan qalb.

Jadi apa yang diberikan kedua suami istri dari Inggris
itu,sebenarnya, bukanlah suatu yang baru. Hanya saja dengan mengidentifikasi ketiga fakultas itu dengan inteligensi yang biasanya diasosiasikan dengan rasionalitas menunjukkan adanya kegamangan yang harus dicari sumbernya. Pernyataannya, bahwa intelligensi rasional dapat dimilik oleh komputer, tetapi tidak dengan EQ dan SQ, menunjukkan sumber kegamangan dan kegelisahan mereka. Membaca literatur kecerdasan buatan menunjukkan bahwa dalam paruh pertama abad ini komputer akan mencapai IQ yang sama dengan IQ manusia dan terus berlipat mengikuti hukum Moore.

Prediksi futuristik robot-robot supercerdas itu tentunya akan
menakutkan para evolusionis materialistis yang menganggap manusia sebagai puncak evolusi biologis dengan IQ sebagai mahkotanya. Penganut holisme, sayap kanan pemikiran pos-modernis Barat, yang mewarisi evolusionisme dari materialisme abad pencerahan, dengan sendirinya juga mengalami ketakutan yang sama. Untuk menangkal ketakutan itu maka diciptakanlah konsep inteligensi yang yang lebih besar dari inteligensi intelektual atau IQ. EQ adalah perluasan pertama. Dan SQ adalah perluasan terakhir yang disumbangkan oleh Danah Zohar dan suaminya. Dengan demikian, kini manusia dapat mengatakan dengan tenang bahwa komputer atau robot-robot masa depan tak akan dapat mencapai kecerdasan manusia seutuhnya.

Dengan begitu, sebenarnya Danah Zohar telah memasuki dunia psikologi
transpersonal, namun sayangnya ternyata dia masih terperangkap dalam kerangka pemikiran teoritis psikologi analitis tradisi Carl Gustaf Jung. Walaupun begitu, dia telah melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan Jung, yaitu membuat skematisasi yang kaku. Bahkan, untuk skematisasi itu, dia telah melakukan revisi dengan menggabungkan sensasi dan intuisi menjadi satu fungsi yaitu persepsi. Dengan demikian, dia telah mengganti keempatan kuaternitas, yang menurut Jung adalah pengganti ketigaan atau trinitas, dengan keenaman atau heksitas. Padahal, jika dia melakukan perluasan yang konsisten terhadap psikologi analitis Jung, dia akan memperoleh suatu skema kedelapanan.

Namun, tampaknya Danah Zohar lebih tertarik pada bunga teratai
bertajuk enam ketimbang bunga teratai bertajuk delapan. Mungkin, apa yang diperolehnya adalah mandala pribadi yang mencerminkan milenium ketiga yang kita hadapi sekarang. Namun, mengikuti pola pikir Jungian, apa yang diperoleh Zohar mungkin saja merupakan cerminan arketipe bintang enam Daud yang ada di bawahsadar kolektif leluhurnya yaitu bangsa Yahudi. Walaupun begitu hal itu bukan berarti bahwa arkhetip itu tidak benar. Arketip bukanlah suatu kebenaran, akan tetapi merupakan medium ekspresi bagi formulasi kebenaran. Satu arketip tidak lebih benar dari arketip yang lain.

Oleh karena berada dalam perangkap Jungian, dia tidak bisa menerima
hirarki kesadaran yang melekat dalam setiap kesadaran Timur yang ditemukan kembali oleh para psikolog transpersonal. Itulah sebabnya, oleh Danah Zohar, keenam cakra yang dalam tradisi Yoga tersusun secara berjenjang dari tempat kedudukan ke ubun-ubun, menjadi tersebar mendatar melingkar sebagai tajuk bunga dan dan cakra ketujuh sebagai pusat bunga. Keenam tajuk itu diidentifikasikannya sebagai enam buah ego dan pusatnya dianggap sebagai representasi Diri.

Di antara keenam tajuk ego dan pusat bunga diri itu terdapat enam
tajuk arketipe Jung yang diidentifikasi Zohar dengan enam dewa-dewi dalam mitologi Yunani/Romawi yang diabadikan dalam enam benda langit, enam titik Sephirot dalam pohon Kehidupan Qabbalah mistik Yahudi, enam sakramen Kristen dan enam cakra di bawah cakra mahkota dalam Kundalini Yoga.

Dengan demikian, tampaknya, Danah Zohar ingin menunjukkan bahwa
spiritualitas itu sebenarnya sama, kendati berkembang dalam konteks kultural yang berbeda, karena bersumber pada proses pemenuhan diri psikologis yaitu proses yang sama: proses individuasi. Namun sayang, dengan menyejajarkan semua simbol-simbol esoteris dalam satu bidang datar, dia telah menghilangkan sifat hirarkis kesadaran yang dipahami oleh hampir semua tradisi mistik sedunia.

Alternatif Islami Kecerdasan Spiritual


Menyadari sinkretisme metodologis dan teologi panteistik Danah Zohar
bertentangan dengan ajaran Islam, maka kita perlu melakukan perbaikan dan penyempurnaan terhadap peta psikologi esoteris Danah Zohar. Pertama-tama kita harus mengembalikan struktur hirarkis ke dalam upaya pemetaan psikologis. Disamping itu kita harus mengganti kosmologi panteistik Zohar dengan yang monoteistik. Kita akan melakukan yang kedua terlebih dahulu.

Siklus evolusi kosmologis Danah Zohar harus diganti dengan siklus
evolusi-devolusi kosmologis sebagai berikut. Pada tabel ini busur aliran penciptaan adalah dari atas kebawah. Dilihat pada kolom kiri proses penciptaan merupakan proses integrasi dan pada kolom kanan terdapat aspek diferensiatif proses penciptaan.

Tabel 3

Siklus Evolusi/Devolusi Kosmologis

Perbedaan siklus evolusi-devolusi kosmologis ini dengan siklus
evolusi kosmologi Danah Zohar ada dua. Pertama, siklus evolusi devolusi kosmologis bersifat murni material, sedangkan siklus kosmologis Danah Zohar mencampurkan proses material dan mental dalam satu siklus. Kedua, siklus Danah Zohar tidak memasukkan Yang Maha Pencipta sehingga memberikan kesan panteistik. Sedangkan proses evolusi-devolusi kosmik tak lain dari proses penciptaan-penghancuran Ilahiah.

Selanjutnya kita pada kolom tengah kita dapat membuat satu garis
menurun, Maha Pencipta berupa peniupan ruh pada organisme manusia, disamping itu kita dapat membuat garis tegak menaik sebagai lambang dari kembalinya ruh manusia ke padaNya. Proses menurun ini dapat kita sebut sebagai proses involusi, sedangkan proses menaik ini dapat kita beri nama sebagai proses envolusi. Dalam bahasa filsafat tradisional, proses involusi dikenal sebagai proses emanasi atau Tanazzul, sedangkan proses envolusi tak lain dari proses iluminasi mistik atau Taraqqi.

Dalam skematisme Zohar proses taraqqi itu bersesuaian dengan jalur
naik "emosional=>mental=>spiritual=>ruh-semesta". Dalam hal ini Zohar masih konsisten dengan hirarki psikologi tradisional. Akan tetapi jika dia tetap konsisten, maka dia akan meletakkan cakra-cakra yoga yang merupakan simbolisasi tingkat-tingkat kesadaran mistik itu juga secara vertikal. Sayangnya dia tidak konsisten, hirarki cakra dalam tradisi Yoga dirombaknya.

Hal ini, mungkin, karena tradisi pemikiran liberalisme demokratik dan
egaliterisme modernistik telah begitu kuat pada bawah sadar Danah Zohar. Oleh karena itu, seperti halnya pada banyak psikolog Barat modern yang lain, dia pun membuat keenam cakra Kundalini Yoga ada dalam satu dataran —atau dalam skema bunga teratai bertajuk enamnya, dalam satu lingkaran— yang menunjukkan kesetaraan tingkat-tingkat tersebut dan menyamakannya dengan tingkat arhetipal Jung.

Selanjutnya terjadilah ketidakkonsistenan kedua yaitu ketika dia
mengubah perumusan jalur "emosional->mental->spiritual" pada siklus evolusi kosmik menjadi jalur "mental->emosional->spiritual" pada
proses individuasi psikhik. Dalam hal ini, tampak pengaruh pemikiran psikologi analitis Jung yang dianut suaminya telah menghalangi proses pencerahan dirinya. Alih-alih menemukan sumber transendental di atas akal rasional, dia menemukan sumber imanen di bawah emosionalitas pada kehidupan atau, lebih dalam lagi, pada apa yang disebutnya sebagai proto-kesadaran.

Tampaknya kita harus mengoreksi Danah Zohar dalam hal ini, jika ingin
merumuskan kecerdasan spiritual secara islami. Pertama-tama, mungkin kita harus mengembalikan ketujuh cakra Yoga itu secara vertikal, lalu menggantinya dengan ekivalennya dalam tradisi tashawuf Islam. Tradisi Islam tidak mengenal konsep cakra tetapi mengenal konsep Lathaif atau kumpulan lathifah. Nama-nama lathifah ini berbeda-beda untuk thariqat yang berbeda, namun fungsinya sama yaitu sebagai representasi tingkat- tingkat kesadaran.

Apa yang disebut sebagai cakra mahkota yang mencerminkan tingkat
tertinggi kesadaran manusia, dalam tradisi tarekat dikenal sebagai nafs kamilah (2:177). Cakra terendah dalam Yoga bersesuaian dengan nafs ammarah (12:53). Sedangkan kelima cakra lainnya dari bawah keatas bersesuaian dengan tingkat-tingkat kesadaran yang disebut nafs lawwamah (75:1-2, 14:22), nafs mulhamah (91:78), nafs muthma'innah (89:27, 13:27-28), nafs mardhiyah (89:28, 92:18-20) dan nafs radhiyah (89:28, 92:21, 46:15). Syaikh al-Palimbani misalnya menyatakan bahwa ketujuh nufus ruhiah itu dengan ketujuh lathaif: nafs, qalb, ruh, sirr, sirr as-sirr, khafi dan akhfa.

Agar kita dapat merujuk pada Quran lebih tepat, mungkin kita dapat
mengganti urutan lathaif itu itu dengan alternatif berikut jism, nafs (12:53, 50:67), 'aql (67:10), qalb (2:225, 26:88-89), fu'ad (32:9), lubb (3:190, 12:111) dan ruh (19:17, 32:9). Ketujuh lathaif itu dapat letakkan pada jalur involusi menurun atau tanazul pada kolom tengah siklus envolusi-devolusi dengan jism diletakkan pada organisme dan ruh diletakkan pada haribaan Maha Pencipta. Sedangkan ketujuh nufus ruhiah itu kita letakkan pada jalur envolusi menaik dari nafs ammarah, yang kesadarannya berpusat pada jism organisme, ke puncak kesadaran nafs kamilah yang berpusat pada Tauhid.

Dengan skema tingkat kesadaran Islam yang baru kita buat ini,
tampaklah apa yang disebut kecerdasan spiritual oleh Danah Zohar baru sampai pada tataran qalb atau nafs mulhamah yang bersesuaian dengan tataran makna atau meaning. Sedangkan tataran nilai-nilai yang universal dan transendental dapat diidentifikasi dengan tingkat-tingkat spiritualitas yang lebih tinggi yang tak dapat dicapai oleh enam jalur individuasi pada mandala teratai bertajuk enam yang diajukannya. Secara tabular kenyataan itu dapat dilukiskan sebagai Tabel 4 berikut ini.

Nafs Latifah Kecerdasan

Kamilah Insan Kamil
Radhiyah Ruh
Mardhiyah Lub
Muthmainnah Fu'ad
Mulhamah Qalb Spiritual
Lawwamah 'Aql Intelektual
Amarah Nafs Emosional

Tabel 4[1]

Evolusi Psikologis Kesadarn Islam
(dibaca dari bawah ke atas)

Sebenarnya, Danah Zohar bukannya tidak mengenal adanya tingkat-
tingkat yang lebih tinggi dari Diri luhur yang menurut Jung merupakan pusat kesadaran pribadi. Dari siklus evolusi kosmologisnya, puncak evolusi itu bukanlah kecerdasan spiritual manusia, akan tetapi adalah ruh universal yang diidentifikasinya dengan vakum kuantum dan diinterpretasikannya sebagai sunyata sesuai dengan tradisi agama Budha yang dianutnya. Dengan demikian Zohar meletakkan dirinya sebagai seorang reformis zaman baru yang mensintesakan spiritualitas dan sains.

Dikembalikan ke tataran peradaban Islam, maka ruh universal versi
Zohar itu harus digantikan dengan konsep 'aql al-'awal dalam filsafat tradisional Islam, atau Haqiqat al-Muhammadiyah dalam tradisi tashawuf. Dalam terminologi masa kini kita dapat mengidentifikasi 'aql al-awal itu sebagai kesadaran kosmik, di mana pada fase milenium ini kesadaran kosmik itu masih terlalu jauh dari jangkauan. Akan tetapi tahap pertama menuju hal itu secara kolektif telah di depan mata kita. Pada tahap pertama ini spiritualitas individu cukup ditingkatkan menjadi spiritualitas kolektif dalam lingkup planeter.

Kesadaran planeter yang mungkin bisa disebut kesadaran Gaia ini
sebenarnya dapat diidentifikasikan dengan aql fa'al yang menurut tradisi filsafat Islam merupakan limpahan terakhir aql al-'awal yang diyakini oleh ahli hikmat Islam di masa lalu sebagai kecerdasan pengatur alam bawah bulan alias bumi kita ini. Dengan demikian ini berarti bahwa thariqah yang biasanya diidentifikasi sebagai proses pensucian diri atau tazkiyah al-nafsi harus diperluas menjadi tazkiyah al-madaniyati atau islamisasi peradaban.

Tampaknya, misi Danah Zohar untuk melakukan spiritualisasi peradaban,
jika diletakkan dalam konteks Islam, tidak lain dari pada parsialisasi tazkiyah al-madaniyati yang merupakan misi Rasulullah Muhammad SAW yang membawa Din al-Islam sebagai rahmatan li al-'alamin. Dengan demikian, penyakit krisis makna hidup yang di alami peradaban Barat dewasa ini dan menyebar dengan semakin gencarnya globalisasi di segala bidang, insya Allah, dapat ditangkal oleh dunia Islam apabila kita dapat memaknai dan menghayati Din al-Islam secara kaafah dan hakiki.

Kesimpulan


Danah Zohar dan Ian Marshall adalah tokoh-tokoh zaman baru yang
menyadari krisis spiritual peradabannya yaitu peradaban Barat modern yang sekuler yang paradigmanya berdasarkan paradigma Newtonian yang
atomisitik.

Kedua pemikir zaman baru itu berusaha memperbaiki peradabannya secara mendasar dengan menggantikan paradigma atomistik Newtonian dengan paradigma holistik relasional kuantum.

Dengan reformasi paradigmatik ini keduanya mengharapkan terjadi transformasi personal melalui pemahaman diri, penyelenggaraan masyarakat dan penataan peradaban secara kuantum.

Untuk melakukan penataan kembali peradaban Barat, diperlukan transformasi personal para pembangun peradaban dengan mengembangkan kecerdasan spiritual yang mengatasi dan mengendalikan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang lebih rendah.

Gagasan kecerdasan spiritual Danah Zohar dan suaminya itu ternyata masih menggunakan psikologi analitis Jungian yang dikombinasikan dengan psikologi humanistik yang digabungkan dengan mitologi dan mistisisme tradisional yang berasal dari Barat maupun dari Timur.

Gagasan kecerdasan spiritual ini diintegrasikan dengan wawasan holisme kuantum yang menganggap evolusi jagat raya sebagai pengembangan fluktuasi kuantum vakum yang diidentifikasi dengan sunyata dalam agama Budha.

Dengan melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi integralis disimpulkan bahwa Din Islam yang dipahami secara integral merupakan alternatif Islami bagi solusi terhadap krisis multidimensional yang bersumber


Armahedi Mahzar
 

Daftar Pustaka
  1. Ken Wilber The Atman Project, The Theosophical Publishing House, Illinois 1980
  2. DR.M.Chatib Quzwain, MENGENAL ALLAH, sebuah studi mengenai ajaran tasawuf Syaikh 'Abdus-samad al-Palimbani, Bulan Bintang, Jakarta 1985Gorge Leonard The Silent Pulse, Bantam 1991
  3. Danah Zohar, Ian Marshal The Quantum Self, Bloomsbury , London 1990.
  4. Danah Zohar, Ian Marshal The Quantum Society, Flamingo, London 1994.
  5. Danah Zohar, Ian Marshal SQ, Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence Bloomsbury, London 2000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar