Tuesday, November 27, 2018

The Power of Now

oleh: Eckhart Tolle
 
” Jangan mencari keadaan lain selain keadaan yang anda alami sekarang; jika tidak, anda akan membangkitkan konflik dan penolakan bawah sadar dalam diri anda. Ampuni diri anda karena tidak merasa damai. Saat anda sepenuhnya merasakan kegelisahan anda, kegelisahan anda akan berubah menjadi kedamaian. Segala sesuatu yang anda terima sepenuhnya akan membawa anda kesana, akan membawa anda kedalam kedamaian. Inilah keajaiban penyerahan”

Sebuah tulisan spiritual modern yang luar biasa, “The Power of Now” pertama kali diterbitkan di kanada, ketika diluncurkan di amerika serikat, tak diduga buku ini menjadi hit dan membuat Eckhart Tolle menjadi seorang guru yang banyak dicari.

The Power of Now secara intens befokus pada masalah yang kita hadapi hari ini dan sosok diri kita sekarang ini. Ini mungkin buku yang paling praktis dari semua buku panduan praktis, kesuksesan atau spiritual, karena buku ini menolak kecenderungan umum kita untuk membayangkan suatu masa depan yang gemerlap tanpa sungguh-sungguh menggenggam waktu sekarang.

Buku ini juga merupakan sintesis pemikiran agama-agama yang sudah ada dan tradisi lainnya dan memuaskan kerinduan abad 21 untuk berpikir melampaui batas2 agama konvensional, dan mengakui pada dasarnya semua agama mengutarakan hal yang sama.

Tuesday, November 20, 2018

Apa Kata Tiga Saintis Besar Ini Tentang Tuhan?

Oleh: Ioanes Rahkmat

Fisikawan besar mekanika quantum kebangsaan Amerika, Richard P. Feynman (11 Mei 1918-15 Februari 1988), mengatakan bahwa “Aku tidak percaya bahwa sains dapat membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada; aku pikir, itu memang tidak mungkin. Dan jika tidak mungkin, maka bukankah suatu kepercayaan (a belief) kepada sains dan suatu kepercayaan kepada suatu Tuhan (yakni suatu Tuhan biasa dalam agama-agama) adalah suatu kemungkinan yang konsisten?”/1/

Maksud Feynman jelas bahwa sains dan agama-agama sama-sama percaya pada kemungkinan adanya Tuhan. Orang beragama percaya pada keberadaan Tuhan; dan kita tahu, kepercayaan itu (selama belum didukung bukti-bukti) berada dalam wilayah kemungkinan; dan para saintis tidak bisa membuktikan Tuhan itu tidak ada, artinya para saintis juga membuka diri juga pada kemungkinan Tuhan itu ada. Jadi, sains dan agama-agama, dalam hal ini, konsisten satu sama lain. Dengan Feynman menyatakan hal ini, jelas kita tidak bisa menggolongkan sang fisikawan agung ini sebagai seorang ateis. Kecuali jika anda meragukan keaslian ucapan Feynman yang saya telah kutip ini! Apakah dia seorang agnostik, saya ragu menjawabnya.

Menurut Richard P. Feynman dalam buku yang sama, sains dan agama bertemu pada ranah moralitas atau etika. Dalam ranah moral dan ranah sains orang mengajukan sebuah pertanyaan yang sama, yakni “Jika aku melakukan hal ini, maka apa yang akan terjadi?” Dalam dunia agama, pertanyaan ini mendorong orang untuk bertindak secara bermoral sedemikian rupa untuk menghasilkan banyak kebajikan; dalam dunia sains, pertanyaan ini mendorong para saintis untuk menguji pertanyaan-pertanyaan mereka lewat eksperimen-eksperimen. Dengan kata lain, persoalan “sebab dan akibat” sama-sama digumuli oleh para etikus dan para saintis; dan dalam rangka menjawab persoalan ini sains dan etika bertemu./2/ Jadi, tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa sains dan etika tidak bisa bertemu untuk berdialog.

Biografi dan Pemikirannya Thomas Aquinas

 Oleh: Dwi Pujianingtyas Prabaningrum

St. Thomas Aquinas, salah satu tokoh filsafat barat pada abad pertengahan, dilahirkan di Lombardy, Rossa Sicca, daerah di kerajaan Napels, Italia pada tahun 1225 M (ada sumber yang menyebutkan pada tahun 1224 M). Dia berasal dari keluarga keturunan bangsawan, Kaisar Frederick I dan Henry VI. Thomas Aquinas terlahir dari pasangan Pangeran Landulf, keturunan Aquino dan Theodora, seorang Countest of Teano. Keluarganya  merupakan penganut agama Khatolik yang taat. Latar belakang ini ikut menentukan latar belakang pendidikan dan tujuan hidupnya.

Thomas Aquinas yang juga dikenal dengan nama Italia yaitu Thomaso d’Aquino, ketika berumur lima tahun (sekitar tahun 1257), Thomass Aquinas mulai belajar di Biara Benedictus di Monte Cassino hingga dia berusia lima belas tahun. Setelah selama sepuluh tahun belajar di Monte Casssino sebagai pendidikan dasar guna menjadi seorang biarawan, dia melanjutkan memperdalam ilmu bahasa di negara lain dengan beralih menjadi seorang Ordo Dominikan. Hal ini pada mulanya ditentang oleh keluarganya yang merupakan penganut Khatolik yang taat, namun tekat bulatnya pada akhirnya mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya sehingga dia mendapatkan restu dari keduanya dan ressmi menjadi salah seorang anggota Ordo Dominikan tepat pada tahun 1245.

Monday, November 19, 2018

Tuhan Sudah Mati (Bagian 2, selesai)

Nietzsche tetap berada dalam kesulitan: di satu sisi dia terus melawan Tuhan yang lama; di sisi lain, di saat-saat ketika dia tidak begitu kuat, dia menjadi takut juga.
Zarathustra berkata,
Jauh!
Dia sendiri telah melarikan diri
Temanku yang terakhir, satu-satunya
Musuh terbesarku,
Yang tidak aku ketahui,
Dewa algojoku.
Tidak! Kembalilah
Dengan semua siksaanmu!
Untuk yang terakhir dari semua yang kesepian
Oh, kembalilah!
Semua air mataku mengalir
Arah mereka kepadamu;
Dan nyala akhir hatiku -
Menyala untukmu!
Oh, kembalilah,
Tuhanku yang tidak diketahui! Sakitku!
Kebahagiaanku yang terakhir!

Kata-kata ini terlihat hampir gila: “Tuhanku yang tidak diketahui! Sakitku! Kebahagiaanku yang terakhir! Ah, kembalilah!”

Tuhan Sudah Mati (Bagian 1)

Pertanyaan: Mengapa Friedrich Nietzche menyatakan bahwa Tuhan sudah mati?

Jawaban OSHO:
Narayana, dia harus menyatakan itu, karena Tuhan sudah mati. Tuhan yang telah disembah selama ribuan tahun telah mati; bukan Tuhan yang sebenarnya, tetapi Tuhan yang telah diciptakan oleh pikiran manusia - Tuhan yang ada di kuil-kuil dan masjid-masjid dan gereja-gereja dan sinagog-sinagog, Tuhan dari kitab Perjanjian Lama, Dewa dari kitab Veda. Manusia telah tumbuh (lebih dewasa) melampaui konsep-konsep itu.

Nietzche hanya menyatakan satu fakta. Tentu saja, dia sama terkejutnya seperti orang lain. Dia sendiri belum siap menerimanya. Bahkan, seumur hidupnya dia berjuang untuk menerimanya. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa Tuhan benar-benar mati, tetapi hal itu sulit bagi pria malang itu. Itu akan sulit bagi siapa pun. Dan dia adalah seorang pria dari baja; dia bukan pria biasa, dia benar-benar pria yang kuat, tapi tetap saja itu terlalu banyak. Dia harus sangat menderita karena dialah yang pertama kali mendeklarasikannya, dan untuk menjadi seorang perintis itu selalu bahaya. Dia mengalami gangguan saraf. Bagian terakhir dari hidupnya adalah dalam keadaan gila. Dia mempertaruhkan banyak untuk deklarasi ini.

Apakah Tuhan Itu?

OSHO, APAKAH TUHAN ITU?

Prem Sukavi, TUHAN bukan seseorang/satu individu. Hal itu adalah salah satu kesalahpahaman terbesar, dan ia telah berlaku begitu lamanya sehingga ia telah menjadi hampir satu fakta. Bahkan jika satu kebohongan diulang terus-menerus selama berabad-abad pasti tampaknya seolah-olah itu adalah kebenaran.

Tuhan adalah kehadiran, bukan seseorang. Oleh karenanya semua ibadah adalah kebodohan belaka. Ke-penuh-doa-an diperlukan, bukan doa. Tidak ada seorang pun untuk didoakan; tidak ada kemungkinan dialog mana pun antara engkau dan Tuhan. Dialog itu mungkin hanya antara dua orang, dan Tuhan bukanlah seseorang tetapi satu kehadiran - seperti keindahan, seperti sukacita.

Tuhan hanya berarti ketuhanan. Karena fakta inilah Buddha menolak keberadaan Tuhan.

Dia ingin menekankan bahwa Tuhan adalah satu sifat, satu pengalaman - seperti cinta. Engkau tidak bisa berbicara kepada cinta, engkau bisa menjalaninya. Engkau tidak perlu menciptakan kuil cinta, engkau tidak perlu membuat patung cinta, dan membungkuk ke patung-patung itu akan menjadi omong kosong belaka. Dan itulah yang telah terjadi di gereja-gereja, di kuil-kuil, di masjid-masjid.

Saturday, November 17, 2018

Meister Eckhart: Sang Mistikus Jerman


Oleh: Rikardus Jaya Gabu

Pendahuluan
Meister Eckhart dikenal sebagai bapak mistisisme Jerman, musuh bagi para pemikir Kristen, sebagai juru bicara dari masa pencerahan, dan sebagai pelopor idealisme Jerman[1]. Banyaknya gelar yang diberikan kepadanya karena pemikiran-pemikirannya yang sangat cemerlang dan juga bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Meski demikian, ia lebih dikenal sebagai seorang mistikus Jerman yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran barat. Dalam usahanya untuk memahami Allah, ia tidak begitu berharap pada spekulasi-spekulasi teologi dan metafisika, tetapi ia menaruh perhatian besar pada interpretasi atas pengalaman-pengalaman mistik.

Wednesday, November 14, 2018

Usia Lanjut

Aku ingin engkau benar-benar sadar bahwa kematian itu bukanlah akhirnya. Dalam semesta, tidak ada yang mulai dan tidak ada yang berakhir. Lihat saja di sekitar ... malam hari bukanlah akhir, juga pagi hari bukanlah awal. Pagi bergerak menuju malam dan malam bergerak menuju pagi hari. Semuanya hanya bergerak ke dalam berbagai bentuk.

Tidak ada awal dan tidak ada akhir.

Mengapa itu harus sebaliknya dengan manusia? - manusia bukan pengecualian. Dalam gagasan menjadi luar biasa ini, dalam merasa menjadi lebih istimewa daripada hewan-hewan lain dan pepohonan dan burung-burung, manusia telah menciptakan nerakanya sendiri, rasa takutnya. Gagasan bahwa kita adalah makhluk luar biasa, kita adalah manusia, telah menciptakan sebuah kerenggangan antara dirimu dan semesta. Kerenggangan itu menyebabkan semua ketakutan dan kesengsaraanmu, menyebabkan kegelisahan dan kecemasan yang tidak perlu di dalam dirimu.

Monday, November 12, 2018

Akal dan Jiwa (Bagian III)

Sejumlah alternatif bagi dualisme telah dibahas oleh para filsuf. Di satu sisi adalah materialisme yang menolak sama sekali eksistensi akal (dan jiwa). Kaum materialis percaya bahwa kondisi dan cara kerja mental sama saja dengan kondisi dan cara kerja fisik. Dalam bidang psikologi, materialisme menjadi apa yang dikenal dengan behaviorisme, yang menyatakan bahwa semua manusia berperilaku secara mekanis murni dalam merespon stimulus eksternal. Di sisi lainnya adalah filsafat idealisme yang menegaskan bahwa alam fisik itu tidak ada, segala sesuatu adalah persepsi.

Tampaklah bahwa teori dualis tersebut jatuh ke dalam perangkap pencarian akan substansi (akal) untuk menjelaskan apa sebenarnya konsep abstrak itu, bukan obyek. Dorongan untuk mereduksi konsep abstrak menjadi sesuatu tampak jelas sepanjang sejarah sains dan filsafat, yang diilustrasikan melalui konsep-konsep kacau semacam phlogiston, teori cairan panas, eter yang bersinar terang dan daya-kehidupan. Dalam semua kasus ini, fenomena yang bersatu membutuhkan penjelasan dalam kaitannya dengan energi atau bidang yang abstrak semacam itu.

Akal dan Jiwa (Bagian II)

Sebelumnya telah dikatakan bahwa wujud akal lain selain akal kita sendiri hanya dapat disimpulkan melalui analogi. Jika seseorang mengajukan pertanyaan: “Bagaimana saya tau bahwa Felix memiliki akal?” jawabannya hanya: “Saya memiliki akal, Felix berperilaku seperti saya, berbicara seperti saya, mengaku memiliki akal seperti saya, maka saya berkesimpulan, dia memiliki akal seperti saya.” Akan tetapi, penalaran ini sama-sama dapat diterapkan, baik pada mesin maupun pada manusia. Karena Anda tidak pernah dapat menduduki akal manusia lain dan mengalami kesadaran mereka secara langsung, setiap asumsi tentang akal yang dimiliki oleh orang lain pasti hanya merupakan sebuah keyakinan. Jadi, jawaban atas pertanyaan “dapatkah mesin berpikir?” adalah bahwa tak seorang pun memiliki alasan untuk menempatkan manusia lebih tinggi di atas mesin atas dasar performa (dalam tugas intelektual tertentu) yang hanya merupakan kriteria eksternal yang dilakukan seorang untuk menilai pengalaman ‘internal’ mesin. Jika mesin dibuat dapat merespons dengan cara yang sama seperti manusia terhadap semua pengaruh eksternal, maka tidak ada alasan yang dapat diamati untuk mengklaim bahwa mesin tidak berpikir, atau tidak memiliki kesadaran. Lebih jauh, jika berpendapat bahwa anjing berpikir, atau laba-laba dan semut memiliki kesadaran dasar, maka komputer yang ada saat ini pun dapat dipandang sadar dalam pengertian terbatas.

Akal dan Jiwa (Bagian I)

Apapun perbedaan pendapat orang-orang tentang hakikat Tuhan, saya yakin tak ada satupun agama yang mengajarkan bahwa Tuhan hanyalah sekadar akal (atau sudah ada tapi saya yang tidak tahu?). Tapi karna manusia –bahkan hewan dalam batasan tertentu– punya akal, maka Tuhan pun pasti memiliki akal, yang lebih besar dari siapapun, karna Tuhan (katanya) adalah wujud tertinggi. Akan tetapi, apakah akal itu?

Menurut Wikipedia, akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah. Kelanjutannya bisa Anda baca di http://id.wikipedia.org/wiki/Akal.

Meskipun pengertian akal di wikipedia tersebut menurut saya sudah cukup bagus, namun masih banyak hal ruang kosong yang bisa diisi dengan berbagai macam pertanyaan di sana. Pertanyaan tentang apa itu akal tidak pernah basi. Sudah dan selalu diperdebatkan oleh teolog dan filosof sejak lama. Namun dewasa ini studi tentang akal telah masuk dalam wilayah sains, melalui psikologi dan psikoanalisis. Dan lebih belakangan lagi masuk dalam riset otak, penghitungan dan apa yang disebut ‘kecerdasan artifisial‘. Hanya akal yang memiliki pengalaman langsunglah yang diasosiasikan dengan otak. Secara sederhana, akal menempati otak. Namun tak seorangpun menegaskan bahwa Tuhan, atau jiwa yang telah pergi, memiliki otak. Apakah akal yang benar-benar terpisah dari alam fisik memiliki makna? Apakah akal dapat hidup sesudah mati?

Saturday, November 10, 2018

Apakah Kesadaran Nilainya Lebih Tinggi dari Pada Cinta?

Puncak tertinggi adalah titik tertinggi dari semua nilai: kebenaran, cinta, kesadaran, keaslian, totalitas. Pada puncak tertinggi mereka tidak dapat dipisahkan. Mereka terpisah hanya di lembah gelap dari ketidaksadaran kita. Mereka terpisah hanya ketika mereka tercemar, bercampur dengan hal-hal lain. Saat mereka menjadi murni mereka menjadi satu; semakin murni, semakin dekat mereka satu dengan yang lain.

Misalnya, setiap nilai ada dalam banyak tingkat; setiap nilai adalah tangga dari banyak anak tangga.

Cinta adalah nafsu - anak tangga terendah, yang menyentuh neraka; dan cinta juga doa - anak tangga tertinggi, yang menyentuh surga. Dan di antara keduanya ada banyak tingkat yang mudah dilihat.

Dalam nafsu, cinta hanya satu persen; sembilan puluh sembilan persen adalah hal-hal lain: kecemburuan, pembesaran ego, kepemilikan, kemarahan, seksualitas. Nafsu lebih bersifat fisik, lebih bersifat kimia; ia tidak memiliki sesuatu yang lebih dalam dari itu. Nafsu itu sangat dangkal, bahkan tidak sedalam kulit.

Apa yang Terjadi Di Pesantren Rumi?

'Janganlah engkau menghakimi ...' Tidak perlu menghakimi. Apa pun yang sedang terjadi, terimalah itu. Apa pun yang sedang dilakukan orang-orang lain, mereka harus melaluinya. Ada satu metode untuk semua kegilaan itu di sini, itu sangat metodologis. Engkau hanya tetap diam, tanpa menilai.

Suatu kali pernah terjadi:

Seorang mistikus Sufi besar, Jalaluddin Rumi, dulu tinggal dengan seratus muridnya di sebuah pesantren. Beberapa pelancong datang. Pesantren itu jauh dari kota mana pun, bahkan jauh dari jalanan mana pun, tetapi orang-orang menjadi tertarik - orang-orang yang penasaran bisa pergi ke mana saja: mereka (bahkan sudah) pergi ke bulan. Orang yang penasaran adalah orang yang ingin tahu, mereka bisa pergi ke mana saja. Mereka menjadi penasaran dan mereka pergi ke sana. Pesantren itu jauh dari kota-kota, di luar jalan raya, tetapi mereka mengatasi semua kesulitan dalam perjalanan dan mereka mencapai padang pasir. Pintu-pintu pesantrennya tidak tertutup - karena Rumi tidak pernah berpikir bahwa siapa pun akan datang dari jauh - sehingga mereka dapat melihat apa yang terjadi di dalam ...

Seseorang sedang tertawa dengan keras, liar, seseorang sedang menari, seseorang sedang bernyanyi, seseorang berdiri di atas kepalanya, orang-orang sedang melakukan seribu satu hal - dan Jalaluddin Rumi sedang duduk di tengah-tengah semuanya itu, hening, dengan mata tertutup.

Buddha dan Cerita yang Indah Tentang Kematian

Seorang wanita kehilangan putranya; hanya beberapa hari yang lalu suaminya juga meninggal. Kissa Gautami adalah namanya dan sekarang putra satu-satunya telah meninggal. Dia dalam keadaan sangat putus asa, tentu saja; anaknya adalah harapan satu-satunya. Buddha sedang berada di kota; orang-orang berkata, ”Janganlah menangis dan janganlah bersedih. Kenapa engkau tidak membawa anakmu kepada Buddha? Dia penuh belas kasih, dia mungkin menghidupkan kembali putramu.”

Wanita itu bergegas dengan membawa mayat anaknya. Buddha memandang wanita itu, mengatakan kepada wanita itu untuk menempatkan anak wanita itu di hadapan Buddha dan berkata kepadanya, “Ya, Aku akan menghidupkan kembali dia, tetapi engkau harus memenuhi satu syarat.”

Wanita itu berkata, “Aku siap untuk memberikan bahkan hidupku. Katakanlah kondisi apapun dan aku akan memenuhinya.”

Buddha berkata, “Ini adalah kondisi yang sederhana, Aku tidak pernah meminta kepada seseorang persyaratan besar, hanya persyaratan kecil, ini adalah hal yang sangat sederhana. Engkau hanya perlu pergi ke kota dan membawa beberapa biji mustard. Hanya ingat satu hal: Biji mustard haruslah berasal dari sebuah rumah yang dimana tidak seseorang pun pernah mati disana.”

OSHO Terkasih, Bagaimana Gagasanmu Tentang Surga?

Tidak ada surga dan tidak ada neraka. Mereka bukan geografis, mereka adalah bagian dari psikologismu.

Mereka bersifat psikologis.

Untuk menjalani kehidupan spontanitas, kebenaran, cinta dan keindahan adalah hidup di surga.

Untuk hidup dalam kemunafikan, kebohongan dan kompromi, untuk hidup sesuai dengan orang lain, adalah hidup di neraka.

Hidup dalam kebebasan adalah surga, dan hidup dalam perbudakan adalah neraka.

Engkau dapat menghias sel penjaramu dengan indah, tetapi tidak ada bedanya, itu masih sel penjara.

Dan itulah yang dilakukan orang-orang, mereka terus mendekorasi sel penjara mereka. Mereka memberinya nama-nama yang indah, mereka terus melukisnya, memasang foto-foto baru di dinding, mengatur perabotan dengan cara baru, membeli lebih banyak barang - tetapi mereka tinggal di penjara.

Dalam Pertanyaan "Siapakah aku"? Apakah Maksudnya "Aku"? Apakah Itu Berarti Esensi Kehidupan?

"SIAPAKAH AKU?" BUKANLAH BENAR-BENAR PERTANYAAN karena tidak memiliki jawaban; itu tidak dapat dijawab. Ini adalah perangkat ( device : metode yang dibuat untuk tujuan tertentu), bukan pertanyaan. Itu digunakan sebagai mantra. Ketika Engkau terus bertanya di dalam diri, "Siapakah Aku?

Siapakah Aku?" Engkau tidak menunggu jawaban. Pikiranmu akan menyediakan banyak jawaban; semua jawaban itu harus ditolak. Pikiranmu akan berkata, "Engkau adalah esensi kehidupan. Engkau adalah jiwa yang kekal. Kamu Ilahi," dan seterusnya dan seterusnya. Semua jawaban itu harus ditolak: NETI NETI - orang harus terus berkata, "Bukan ini atau itu."

Ketika Engkau menyangkal semua jawaban yang mungkin pikiran dapat sediakan dan rancang, ketika pertanyaan itu tetap benar-benar tidak dapat dijawab, keajaiban terjadi: tiba-tiba pertanyaan itu juga menghilang. Ketika semua jawaban telah ditolak, pertanyaannya tidak memiliki alat penopang, tidak ada pendukung di dalam untuk berdiri lagi. Ini hanya roboh , itu ambruk, itu menghilang.

Agama Sesungguhnya Tidak Ada Hubungannya dengan Perang ...

AGAMA YANG SESUNGGUHNYA TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN PERANG, AGAMA YANG SESUNGGUHNYA BERHUBUNGAN DENGAN PENCARIAN KEDAMAIAN

Agama-agama terorganisir telah menciptakan banyak perang - sama seperti yang telah dilakukan oleh para politikus. Nama mereka mungkin berbeda... para politikus berperang demi sosialisme, demi komunisme, demi fasisme, demi nazisme; dan agama-agama terorganisir berperang demi Tuhan, demi cinta, demi konsep mereka tentang kebenaran. Dan jutaan orang telah terbunuh disebabkan perang antara Kristen dan Muslim, antara Kristen dan Yahudi, antara Muslim dan Hindu, antara Hindu dan Buddhis. Agama yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan perang, agama yang sesungguhnya berhubungan dengan pencarian akan kedamaian. Namun agama-agama terorganisir tidak tertarik pada kedamaian - mereka hanya tertarik untuk menjadi lebih berpengaruh, lebih dominan.

Aku mengutuk agama-agama terorganisir sama seperti aku mengutuk para politikus - keduanya tidak lain hanyalah urusan politik. Jadi ketika Aku mengatakan kepadamu bahwa orang-orang "beragama" sebaiknya dihormati, dihargai - para politikus sebaiknya pergi menemui mereka untuk meminta saran, meminta pendapat - yang aku maksudkan bukanlah orang-orang dari agama-agama terorganisir; yang aku maksudkan adalah individu-individu "beragama." Dan seorang individu "beragama" bukanlah seorang Hindu, bukanlah seorang Kristen, bukanlah seorang Muslim. Bagaimana mungkin ia bisa menjadi seorang Hindu, bisa menjadi seorang Kristen, bisa menjadi seorang Muslim? Tuhan sendiri bukanlah Hindu, bukanlah Muslim, bukanlah Kristen. Dan seseorang yang telah mengetahui sesuatu yang Ilahi, menjadi terwarnai dengan sifat-sifat ke-Ilahian, menjadi semerbak dengan aroma Ketuhanan.

Thursday, November 8, 2018

The Science of Miracles: Perception Versus Reality

berjalan-di-the-sun-bangun by Deepak Chopra: In its ambition to explain every aspect of the natural world, modern science has sidestepped very few problems.

Some mysteries are so difficult that they defy the scientific method. It’s hard to conceive of experiments that will tell us what happened before time and space emerged, for example. But two mysteries have been consistently sidestepped for decades out of prejudice. One is the nature of consciousness, the other the reality of phenomena loosely categorized as mystical or supernatural.

However, now that there is a burgeoning science of consciousness, fermenting with much theorizing, arguments, and controversies, it may be necessary to solve all kinds of fringe phenomena, in particular miracles, that have long been considered the province of superstition, credulity, and outright fraud. (This is the hardened position of the vocal skeptics’ camp, but their impact on the practice of science is too minimal to deal with here.)

Nothing Is Coincidental—Everything Is Meaningful

by Deepak Chopra, M.D.: The word “synchronicity” has become popular for describing coincidences that seem to come out of nowhere…

You think someone’s name, and a few minutes later the person calls. You want to read a certain book, and without telling anyone, a friend suddenly brings you the book. Synchronicity is defined as a meaningful coincidence, setting it apart from random coincidences that have no meaning, like seeing the same make of car show up at a stoplight.

Coincidence Isn’t the Whole Picture

By making synchronicity special and unusual, however, you might be seeing the picture upside down.  Life is a meaningful experience, but the flood of experiences you might have are too many. Billions of bits of sensory data flood your eyes and ears; endless thoughts fill your head. To bring order out of chaos, you edit reality to suit what you want to see, hear, and think. This edited version is only a small fraction of the whole—and it contains a built-in problem.

Friday, November 2, 2018

Apakah Ilmu Pengetahuan dan Spiritualitas saling Bertentangan Satu sama Lain?

Oleh: Neale Donald Walsch
 
Mari saya mulai dengan mengatakan bahwa pemahaman saya tentang Tuhan “bisa dianggap sesuai dengan paradigma ilmiah” Saya tidak pernah berpikir bahwa sains dan spiritualitas adalah saling eksklusif, atau saling bertentangan satu sama lain.

Apa yang diberitahukan CWG kepada saya adalah menambahkan “sedikit informasi” yang sebelumnya tidak saya miliki dalam pemikiran saya … dan dialog itu tidak membatasi informasinya pada apa yang sepenuhnya dipahami oleh umat manusia, tetapi mengajak saya untuk meluaskan imajinasi saya untuk melihat kemungkinan bahwa mungkin ada sesuatu tentang Tuhan dan tentang Kehidupan yang belum sepenuhnya dipahami oleh manusia … pemahaman yang dapat mengubah segalanya.

Saya pikir satu-satunya perbedaan antara apa yang dikatakan dalam CWG kepada saya tentang Tuhan dan apa yang ilmu pengetahuan katakan kepada kita tentang alam semesta adalah bahwa CWG ( secara lebih luas lagi, Spiritualitas Baru) mengatakan bahwa proses kehidupan telah (dan terus berlanjut) yang secara sadar diciptakan oleh kekuatan dan sumber kebijaksanaan, kesadaran diri, dan niat menuju yang saya gambarkan dalam satu kata sebagai Cinta.

Saya telah sampai pada kesimpulan bahwa energi yang saya rasakan sebagai cinta adalah Esensi utama, atau Energi Murni, yang Tidak Terpisahkan yang bagi beberapa orang (termasuk saya sendiri,) menyebutnya sebagai Tuhan. Saya percaya bahwa Esensi Inti atau Energi Murni ini bertindak dengan maksud dan tujuan – tujuan dan maksud dari setiap elemen yang mampu dipilih oleh kesadaran … dan bahwa tujuan atau tujuan gabungan atau kolaboratif dari Keseluruhan adalah apa yang kita sebut sebagai Tuhan dalam Tindakan.

Saturday, October 20, 2018

Mengenal Teori Quantum

Oleh: Michio Kaku

Teori quantum didasarkan pada ide bahwa semua kemungkinan peristiwa memiliki probabilitas untuk terjadi, tak peduli seberapa fantastik atau pandirnya peristiwa itu. Ini, pada gilirannya, terletak di jantung teori alam semesta berinflasi—ketika big bang awal terjadi, terdapat transisi quantum menuju status baru di mana alam semesta tiba-tiba berinflasi luar biasa besar. Keseluruhan alam semesta kita, kelihatannya, muncul dari lompatan—yang sangat tidak mungkin—quantum. Walaupun Adams menulis dengan bergurau, kita fisikawan menyadari bahwa bila kita bisa, dengan suatu cara, mengendalikan probabilitas-probabilitas ini, seseorang bisa melakukan perbuatan luar biasa yang tidak dapat dibedakan dari sulap. Tapi untuk saat ini, pengubahan probabilitas peristiwa berada jauh di luar jangkauan teknologi kita.

Saya terkadang mengajukan pertanyaan sederhana kepada mahasiswa Ph.D. kami di universitas, seperti misalnya, kalkulasikan probabilitas bahwa diri mereka akan tiba-tiba lenyap dan mewujud kembali (rematerialize) di sisi lain sebuah dinding batu bata. Menurut teori quantum, terdapat probabilitas kecil, namun dapat dikalkulasi, bahwa ini bisa terjadi. Atau, sebetulnya, bahwa kita akan lenyap di ruang tinggal rumah kita dan berakhir di Mars. Menurut teori quantum, seseorang pada prinsipnya dapat secara tiba-tiba mewujud kembali di planet merah tersebut. Tentu saja, probabilitasnya begitu kecil sehingga kita harus menanti lebih lama dari umur alam semesta. Alhasil, dalam kehidupan sehari-hari kita, kita bisa mengabaikan peristiwa seimprobabel itu. Tapi di level subatom, probabilitas semacam itu sangat krusial untuk keberfungsian alat elektronik, komputer, dan laser.

Determinisme atau Ketidakpastian?

Teori quantum adalah teori fisika tersukses sepanjang masa. Rumusan tertinggi teori quantum adalah Standard Model, yang melambangkan buah eksperimen akselerator partikel selama berdekade-dekade. Sebagian dari teori ini telah diuji hingga 1 bagian dalam 10 miliar. Bila seseorang memasukkan massa neutrino, maka Standard Model konsisten dengan semua eksperimen partikel subatom, tanpa kecuali.

Tapi tak peduli seberapa sukses teori quantum ini, secara eksperimen ia didasarkan pada postulat-postulat yang telah melepaskan badai kontroversi filsafat dan teologis selama 80 tahun terakhir. Postulat kedua, khususnya, telah menimbulkan kemarahan agama-agama karena menanyakan siapa yang memutuskan takdir kita. Di sepanjang zaman, para filsuf, teolog, dan ilmuwan tertarik dengan masa depan dan bertanya-tanya apakah, entah bagaimana caranya, takdir kita bisa diketahui. Dalam Macbeth-nya Shakespeare, Banquo, putus asa mengangkat tabir yang menutupi takdir kita, menyampaikan dialog terkenang berikut:

Kehendak Bebas dan Determinisme (Part II)

Pandangan lain tentang kebebasan adalah sebagian (atau semua) peristiwa disebabkan, akan tetapi peristiwa yang kita ciptakan tidak memiliki sebab dari dalam alam semesta. Secara khusus, gagasan ini menegaskan bahwa pikiran kita berada di luar dunia fisik (filsafat dualistik), tetapi pikiran kita agaknya bisa mencapainya dan mempengaruhi apa yang terjadi. Dengan demikian, sejauh dunia fisik saja yang diperhatikan, tidak semua peristiwa dapat ditentukan, karena pikiran bukan bagian dari dunia fisik. Kita masih bertanya, apa yang menyebabkan pikiran memutuskan sebagaimana ia memutuskan?

Jika sebab-sebab itu bermula dalam dunia fisik (dan jelas sebagian memang demikian), maka kita kembali ke determinisme, dan pengenalan pikiran non-fisik merupakan hiasan kosong. Akan tetapi, jika sebagian dari sebab-sebab itu non-fisik, apakah hal itu membuat kita lebih bebas? Jika kita tidak memiliki kendali atas sebab-sebab non-fisik, maka kita tidak lebih baik daripada kita memiliki sebab-sebab fisik yang tak dapat dikendalikan. Namun jika kita dapat mengontrol sebab-sebab keputusan kita sendiri, apa yang menentukan bagaimana kita memilih melaksanakan kontrol tersebut: lebih banyak pengaruh eksternal (fisik atau non-fisik) atau kita? “Saya melakukannya karena saya menjadikan diri saya, menjadikan diri saya, menjadikan diri saya…” Di manakah rangkaian itu berakhir? Haruskah kita jatuh dalam gerak mundur tak berhingga? Dapatkah kita mengatakan bahwa kaitan pertama dalam rangkaian tersebut disebabkan oleh diri: kita tidak membutuhkan sebab dari luar diri kita? Apakah konsep ini kausalitas diri (sebab tanpa sebab) memiliki makna?

Kehendak Bebas dan Determinisme (Part I)

Ketika Newton menemukan hukum mekanikanya, banyak orang yang menilainya sebagai kematian konsep kehendak bebas. Menurut Newton, alam semesta bagaikan sebuah mesin jam raksasa, yang bergerak sepanjang jalan yang kaku dan tetap menuju suatu kondisi akhir yang tak dapat diubah. Gerak setiap atom diduga telah diputuskan di muka, dan ditetapkan semenjak permulaan waktu. Manusia hanya dilihat sebagai komponen mesin kompleks yang terperangkap dalam mekanika kosmik yang sangat besar. Kemudian muncul fisika baru dengan relativitas ruang dan waktunya serta ketidakpastian kuantumnya. Seluruh persoalan kebebasan memilih dan determinisme berpulang ke titik temunya.

Tampaknya ada sebuah antagonisme fundamental antara dua teori yang merupakan fondasi fisika baru. Di satu sisi, teori kuantum memberikan kepada pengamat suatu peran penting dalam hakikat realitas fisik. Banyak fisikawan mengklaim bahwa ada bukti eksperimen yang konkret berlawanan dengan gagasan ‘realitas obyektif’. Ini menawarkan kepada manusia suatu kemampuan unik untuk mempengaruhi struktur semesta fisik dengan cara yang tak terimpikan pada masa Newton. Di sisi lain, teori relativitas, yang melumpuhkan konsep waktu universal, masa lalu, masa kini dan masa depan absolut, membangkitkan suatu gambaran masa depan yang dalam pengertian tertentu telah ada. Jika masa depan ‘ada’, apakah itu berarti kita tak berdaya mengubahnya?

KEHIDUPAN (bagian III)

Asal-usul kehidupan tetap menjadi salah satu misteri saintifik yang sangat besar. Hanya ketika molekul organik mencapai tingkat kompleksitas tertentu yang sangat tinggi, mereka dapat disebut ‘hidup’, dalam arti bahwa mereka menginsyaratkan banyak informasi dalam bentuk yang stabil dan tidak hanya menunjukkan kemampuan menyimpan cetak-biru bagi peniruan, tetapi juga sarana untuk mengimplementasikan tiruan tersebut. Persoalannya adalah, bagaimana persoalan ini dapat ditembus oleh proses fisika dan kimiawi tanpa bantuan sebab supernatural.

Bumi kira-kira berusia 4,5 milyar tahun. Jejak kehidupan yang telah berkembang yang ada dalam rekaman fosil menunjukkan setidak-tidaknya 3,5 milyar tahun, dan kemungkinan bentuk kehidupan yang sangat sederhana telah ada sebelumnya. Jadi, dalam istilah geologi, kehidupan segera terbentuk di planet baru kita yang dingin manakala trauma kelahiran sistem tata surya telah hilang. Ini menunjukkan bahwa mekanisme apapun yang bertanggungjawab atas munculnya kehidupan, sistem itu sangat efisien, suatu pengamatan yang telah mendorong sebagian saintis berkesimpulan bahwa kehidupan merupakan suatu hasil tak terelakkan berkat kondisi fisika dan kimiawi.

KEHIDUPAN (bagian II)

Dalam kasus sistem yang hidup, tak seorang pun menyangkal bahwa organisme merupakan kumpulan atom-atom. Kesalahannya adalah mengandaikan bahwa organisme tidak lain hanya kumpulan atom. Klaim semacam itu lucu seolah-olah menegaskan bahwa simfoni Beethoven hanyalah kumpulan not, atau bahwa novel Harry Potter hanyalah kumpulan kata-kata. Sifat kehidupan, tema nada atau alur cerita itulah yang disebut sifat-sifat ‘yang muncul’. Sifat-sifat itu muncul hanya pada tingkat struktur yang kolektif, dan tidak bermakna pada tingkat komponen. Deskripsi komponen tidak bertentangan dengan deskripsi holistik; dua sudut pandang yang saling melengkapi, yang masing-masing absah pada tingkatannya sendiri-sendiri. (Jika kita menyelidiki teori kuantum, kita akan menemukan lagi gagasan tentang deskripsi yang berbeda tetapi saling melengkapi atas satu sistem.)

Arti penting perbedaan tingkat ini sudah banyak dikenal oleh para operator komputer. Komputer elektronik modern terdiri dari jaringan rumit dari kontak dan saklar elektrik yang dikitari oleh urutan sengatan listrik yang kompleks. Itulah tingkat deskripsi perangkat kerasnya (hardware). Di sisi lain, aktivitas elektrik yang sama menggambarkan penyelesaian seperangkat persamaan matematis atau analisis atas jalannya peluru. Deskripsi semacam itu, yang berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada perangkat keras, menggunakan konsep-konsep semisal antara lain program, operasi, simbol, input, output, jawaban, yang tentu tak bermakna pada tingkat perangkat keras. Komponen saklar dalam komputer tidak menyala untuk menghitung kuadrat, misalnya. Ia menyala karena voltasenya benar dan hukum fisika mengharuskannya begitu. Desktipsi program tingkat tinggi tentang cara kerja komputer disebut tingkat perangkat lunak (software). Baik deskripsi perangkat keras maupun perangkat lunak sama-sama menggambarkan apa yang sedang terjadi dalam komputer, yang masing-masing sesuai dengan jalannya, tetapi pada tingkat konseptual yang benar-benar berbeda.

KEHIDUPAN (bagian I)

Menurut teolog, kehidupan adalah mukjizat tertinggi, dan kehidupan manusia menggambarkan prestasi puncak rencana kosmik Tuhan. Bagi saintis, kehidupan adalah fenomena yang sangat mengagumkan di alam. Ratusan tahun lalu, masalah asal-muasal dan evolusi kehidupan telah menjadi medan pertempuran bagi benturan terbesar sejarah antara sains dan agama.

Teori Evolusi Darwin telah menggoyang dasar doktrin Kristen, dan lebih dari pernyataan lain semenjak Copernicus menempatkan matahari sebagai pusat tata surya, menyadarkan orang awam akan konsekuensi luas analisis ilmiah. Sains, tampaknya, dapat mengubah seluruh perspektif manusia tentang dirinya dan hubungannya dengan alam semesta.

Apakah kehidupan itu dan apakah ia menjadi bukti bagi spirit Ilahi?

Alkitab (dan beberapa kitab suci lainnya) menyatakan secara eksplisit bahwa kehidupan adalah akibat langsung perbuatan Tuhan. Ia tidak muncul secara alamiah sebagai akibat dari proses fiskal biasa yang terbentuk setelah penciptaan langit dan bumi. Sebaliknya, Tuhan sengaja menciptakan, dengan kekuatan ilahi, pertama-tama tumbuhan dan hewan, kemudian Adam dan Hawa. Sebagian besar orang Kristen dan Yahudi kini memang mengakui sifat alegoris Kejadian, dan tidak melakukan upaya untuk membela pandangan kitabiah tentang asal usul kehidupan sebagai fakta historis. Namun, sifat Ilahi dalam kehidupan, terutama kehidupan manusia, terus menjadi ciri utama doktrin keagamaan kontemporer.

Saturday, October 13, 2018

Tanpa Patahan di Permukaan Bumi, Tidak Ada Kehidupan!

Ilustrasi exoplanet yang mengorbit bintang lain. Kredit: ESO/L. Calçada Oleh:

Apa yang membuat sebuah planet serupa Bumi?

Saat ini, manusia sudah menemukan lebih dari 3500 planet di bintang lain. Sebagian di antaranya adalah planet batuan yang seukuran-Bumi. Tapi, tidak berarti planet-planet itu mirip rumah kita, Bumi.

Ilustrasi exoplanet yang mengorbit bintang lain. Kredit: ESO/L. Calçada

Untuk membantu kita memahami perbedaan berbagai tipe planet kecil dan batuan, para astronom dan pakar kebumian (orang-orang yang belajar tentang batuan) berkolaborasi. Mereka meneliti berbagai campuran materi di dalam bintang untuk memperoleh informasi tentang planet yang ada di bintang-bintang itu.

Penelitian ini menggunakan data pengamatan dari Sloan Digital Sky Survey (SDSS) dengan pemodelan interior planet untuk bisa memahami keragaman struktur exoplanet kecil yang komposisi utamanya adalah batuan. Tujuannya untuk mengetahui apakah planet-planet yang ada di bintang-bintang tesebut punya lempeng tektonik atau medan magnetik. Selain itu, perbedaan materi pembentuk bintang dan planet-planetnya bisa mempengaruhi kemampuan si planet untuk mendukung kehidupan.

Tuesday, September 18, 2018

NDE dan Spiritualitas

Penelitian oleh: Kevin Williams
 
Beberapa orang percaya bahwa dengan menganut agama kita menjadi spiritual dan sebaliknya. Mereka mungkin pergi ke tempat ibadah secara teratur, dan memiliki pengetahuan yang besar tentang agama dan pemahaman terhadap kitab suci, dan percaya bahwa ini adalah apa artinya menjadi spiritual. Mereka bahkan mungkin memperlakukan orang lain dengan buruk atau bahkan mejalani hidup yang tidak mencerminkan kemanusiaan, tetapi karena mereka selalu pergi ke tempat ibadah dan mengetahui kitab suci, mereka percaya bahwa mereka sudah spiritual. Informasi yang diperoleh dari dokumentasi pengalaman dekat-kematian menunjukkan bahwa spiritualitas adalah sangat berbeda dengan religius. Mungkin cara terbaik untuk membedakan agama dan spiritualitas adalah untuk mengatakan bahwa agama adalah alat untuk membimbing orang ke dalam kekuatan spiritual cinta dan kasih sayang bagi orang lain. Bahkan, agama dan spiritualitas begitu berbeda, Anda mungkin mengetahui bahwa banyak orang yang begitu religius namun sangat tidak spiritual.

Spiritualitas dari NDE

Informasi berikut adalah ringkasan dari wawasan tentang spiritualitas yang diperoleh dari dokumentasi pengalaman dekat-kematian (NDE) :

Menurut dokumentasi pengalaman dekat-kematian (NDE), alasan keberadaan kita di Bumi adalah untuk mencapai pertumbuhan rohani. Kita lebih merupakan makhluk spiritual daripada makhluk fisik. Kita menempati tubuh kita yang terdiri dari daging untuk memenuhi keinginan kita untuk pertumbuhan rohani, untuk menyelesaikan sebuah misi bagi Tuhan, untuk memenuhi syarat untuk alam roh yang lebih tinggi, untuk menguji ide-ide spiritual yang kita miliki sebelum kita dilahirkan untuk melihat apakah kita benar-benar memiliki cita-cita, untuk mendapatkan tingkat realisasi diri, untuk kembali menemukan pengetahuan yang lebih tinggi dengan cara fisik, menjadi lebih dari pendamping Tuhan, untuk menemukan kerajaan surga di dalam, untuk mencapai tujuan kita berkembang menjadi makhluk-makhluk rohani yang lebih tinggi dari sebelumnya, tapi dengan individualitas, untuk menjadikan Tuhan lebih kuat dengan menyebarkan kasih yang adalah Tuhan, untuk membawa cahaya dalam kegelapan, tetapi yang lebih penting, bersuka cita, cinta, tertawa, dan hidup untuk tujuan tunggal itu karena ini adalah cara yang suci.

Agama dan Spiritualitas

Oleh: Mary Mageau
 
Kita hidup dalam pergeseran paradigma. Agama yang terorganisasi, termasuk gereja-gereja Kristen dan semua denominasinya, sedang menjadi saksi terus berkurangnya keanggotaan mereka. Saat ini lebih sedikit orang yang melihat ke agama tradisional dan gereja-gereja untuk memperoleh jawaban atas masalah kontemporer mereka. Ini adalah karena ajaran sederhana yang berasal dari para guru telah menjadi ajaran yang menguasai dan mengendalikan manusia, menjadikannya budaya, peraturan, ritual dan dogma dogma. Mempertimbangkan fakta bahwa Yesus Kristus tidak pernah menjadi penganut Kristen, Sang Buddha juga tidak menganut Buddha. Dan sementara agama tradisional terus berusaha menyangkal, akar dan cabang-cabang gerakan spiritualitas baru terbentuk di mana-mana. Jalan lain telah dipilih dan dialami oleh banyak orang di seluruh dunia.
Gerakan Spiritualitas baru berada satu tingkat tersendiri. Tidak seperti kebanyakan agama, ia tidak memiliki kitab suci, pusat organisasi, pendeta yang secara resmi dilantik, dan tidak ada tempat sentral, pemujaan atau dogma.
Spiritualitas Baru mengekspresikan diri dengan cara berikut: perduli lebih aktif terhadap lingkungan, mempelajari praktek meditasi agama Timur, pemerhati masalah keadilan sosial, keadilan bagi laki-laki dan perempuan dalam semua aspek pengambilan keputusan, mencari sistem ekonomi yang lebih baik untuk semua dan melakukan upaya perdamaian sebagai lawan dari peperangan. Spiritualitas baru ini terus berkembang dan kuat saat ini ketika semua sistem budaya, politik dan ekonomi yang ada terlihat gagal. Karena pengalaman kita sebelumnya tentang keterpisahan diri sangat besar, keinginan yang mendalam terhadap hubungan personal yang kuat untuk kehadiran suci dari keberadaan diri kita didalam, untuk struktur sosial dan untuk alam itu sendiri yang mendorong kemajuan dari perubahan itu.

Monday, September 17, 2018

Enam Perbedaan antara Agama dan Spiritualitas

Oleh: Deepak Chopra

'Agama adalah keyakinan pada pengalaman orang lain. Spiritualitas adalah Anda memiliki pengalaman Anda sendiri.'

Memberitahu orang-orang bahwa Anda spiritual tetapi tidak religius sering disambut dengan wajah bingung. Orang cenderung berpikir spiritualitas sebagai sesuatu yang sangat aneh dan misterius. Mereka bahkan berjuang untuk membedakannya dari agama tapi ini hanya karena orang-orang dalam masyarakat modern saat ini memiliki rasa takut dimanipulasi dan memiliki kurangnya pengetahuan ketika sesuatu yang bersifat non-material datang kepada mereka.

Kebenaran dari masalah ini adalah bahwa spiritualitas adalah mungkin hal yang paling alami ada, sesimpel kesadaran diri Anda sendiri mengakui bahwa Anda lebih dari sekedar tubuh, bahwa Anda adalah jiwa dengan potensi yang tak terbatas.

Untuk menyederhanakan apa yang saya coba jelaskan, inilah daftar singkat dari hal-hal yang membantu untuk lebih memahami perbedaan antara agama dan spiritualitas.

Wednesday, September 12, 2018

Fisika Peradaban Ekstra-terrestrial

Oleh: Michio Kaku

(Dr. Michio Kaku, Profesor Fisika Teoritis di City University of New York, adalah penulis buku Visions: How Science Will Revolutionize the 21st Century dan buku best-seller Hyperspace)

Carl Sagan pernah mengajukan pertanyaan berikut: “Apa artinya bagi sebuah peradaban untuk mencapai umur jutaan tahun? Kita telah punya teleskop radio dan spaceship selama beberapa dekade; peradaban teknis kita baru berumur beberapa ratus tahun…sebuah peradaban maju berumur jutaan tahun pasti jauh melampaui kita seperti kita melampaui primata atau kera.”

Walaupun terkaan mengenai peradabaan semaju itu hanyalah spekulasi belaka, seseorang masih dapat memakai hukum fisika untuk menempatkan batas atas dan batas bawah pada peradaban ini. Terutama sejak hukum teori medan quantum, relativitas umum, termodinamika, dan lain-lain berkedudukan cukup kuat, fisika dapat menetapkan batas fisik luas yang membatasi parameter peradaban-peradaban ini.

Pertanyaannya tak lagi soal spekulasi omong-kosong. Segera, manusia akan menghadapi kejutan eksistensial begitu daftar terbaru lusinan planet ekstrasurya seukuran Yupiter membengkak bertambah menjadi ratusan planet seukuran bumi, yang hampir kembar identik dengan tanah pijak kita di angkasa. Ini mungkin akan mengantarkan sebuah era baru dalam hubungan kita dengan alam semesta: kita takkan pernah lagi memandang langit malam dengan cara yang sama, menyadari bahwa para ilmuwan mungkin pada akhirnya dapat menyusun sebuah ensiklopedia yang mengidentifikasi koordinat presisi ratusan planet mirip bumi.

Sekarang ini, setiap beberapa minggu selalu ada kabar ditemukannya sebuah planet ekstrasurya seukuran Yupiter, yang terbaru adalah berjarak sekitar 15 tahun cahaya yang mengorbit bintang Gliese 876. Yang paling spektakuler dari temuan-temuan ini dipotret oleh Hubble Space Telescope, yang mengambil foto sebuah planet berjarak 450 tahun cahaya yang dikatapelkan ke ruang angkasa oleh sebuah sistem bintang-ganda.

Sunday, September 9, 2018

Mekanika Kuantum Mendukung Kehendak Bebas (Free Will)

Oleh: Tom Hartsfield

http://bigthink.com/experts-corner/quantum-mechanics-supports-free-will

Apakah Anda percaya pada kehendak bebas ? Beberapa ahli fisika dan ahli saraf percaya proposisi yang berlawanan, yaitu determinisme. Matematika mekanika kuantum memiliki argumen untuk hal ini: Determinisme tidak mungkin terjadi kecuali Anda bersedia membuat pengorbanan filosofis yang lebih besar.

Sebuah pandangan determinis mengatakan, “Jika saya tahu secara lengkap bagaimana suatu sistem bekerja, seperti posisi setiap partikel dan bagaimana hukum-hukum alam semesta beroperasi, saya dapat mengatakan dengan tepat apa yang akan saya lakukan di semua situasi di masa depan.” misalnya, dengan mengukur gravitasi matahari dan gerakan benda tata surya, kita dapat menghitung apakah sebuah asteroid akan menabrak kita atau bagaimana posisi satelit dalam orbit yang kompleks di atas Bumi.

Jelas, umat manusia telah cukup berhasil: Ilmu pengetahuan dan teknologi mendukung dunia modern karena kita sebagian besar dapat memahami dan mengantisipasi tindakan benda mati.

Dialog Profesor dan Murid yang Sering Dijadikan HOAX

einsteinDialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan “sombong”. Biasanya di akhir kisah ditambahkan embel-embel bahwa murid itu adalah Albert Einstein, yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch Spinoza, yaitu keserasian hukum alam. Selain mencatut nama Einstein, dialog ini juga memiliki kesalahan logika yang fatal. Berikut adalah perbaikan untuk dialog tersebut yang diterjemahkan dari http://www.rationalresponders.com/debunking_an_urban_legend_evil_is_a_lack_of_something dengan sedikit adaptasi. Sementara itu, kalau mau lihat kisah aslinya yang ngawur bisa dilihat di http://novrya.blogspot.nl/2011/01/profesor-yang-tidak-punya-otak.html

Alkisah, seorang profesor filsafat menantang muridnya: “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

“Tuhan menciptakan semuanya?” tanya profesor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Tuesday, August 28, 2018

Kesadaran sebagai Tuhan

Oleh : Peter Russel

"Jiwa itu sendiri adalah citra Tuhan yang paling indah dan sempurna".
St. John of the Cross.

Bagi banyak orang, pernyataan “Akulah Tuhan” dianggap penghujatan. Tuhan, menurut agama konvensional, adalah dewa tertinggi, pencipta yang mahakuasa. Bagaimana mungkin manusia mengklaim bahwa dia adalah Tuhan?

Ketika pendeta Kristen abad ke-14 dan mistikus Meister Eckhart menyatakan bahwa, “Tuhan dan saya adalah Satu”, dia dibawa ke hadapan Paus Yohanes XXII dan dipaksa untuk “membatalkan semua yang telah dia keliru ajarkan.” Lainnya mengalami nasib buruk. Mistikus Islam abad kesepuluh al-Hallaj disalibkan karena menggunakan bahasa yang mengklaim identitasnya sebagai Tuhan.

Namun ketika para mistikus mengatakan “Akulah Tuhan,” atau kata-kata seperti itu, mereka tidak berbicara tentang seseorang. Eksplorasi batin mereka telah mengungkapkan sifat diri sejati, dan inilah yang mereka kenali dengan Tuhan. Mereka mengklaim bahwa esensi diri, perasaan “Aku” tanpa atribut pribadi, adalah Tuhan.

Sarjana kontemporer dan mistikus Thomas Merton mengatakannya dengan sangat jelas:

"Ketika saya menembus kedalaman eksistensi dan realitas saya sendiri dalam akar yang paling dalam adalah sesuatu yang tidak dapat didefinisikan yang merupakan diri saya sendiri, maka melalui pusat yang dalam ini saya masuk ke dalam Diri yang tak terbatas yang bagi saya adalah Yang Maha Kuasa".

Friday, August 10, 2018

Apakah Kita Hidup Dalam Simulasi ‘Permainan Komputer’ Raksasa?

computer.jpgOleh : Alexa Erickson
 
Ketika era milenium semakin dekat, banyak yang mungkin merefleksikan betapa berbedanya bayangan masa depan kita telah berubah dari bagaimana kita pernah membayangkannya. Bertentangan dengan banyak film, buku, dan spekulasi pribadi tentang masa depan, kita saat ini belum memiliki mobil terbang dan belum ada pelayan robot, belum ada perjalanan waktu atau berjalan dengan kecepatan cahaya. Namun, begitu banyak yang telah berubah, tetapi kita tidak menyadarinya.

Dan meskipun kita hanya dapat membuat dugaan yang logis tentang apa yang akan terjadi di masa depan, setidaknya kita mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini. Dan itu yang paling penting dari semuanya.

Tetapi bagaimana jika kita tidak benar-benar mengetahui realitas kita? Bagaimana jika, terlepas dari semua yang kita ketahui, bagaimana kita menjalani hidup kita, kita ini ternyata hanyalah sebuah simulasi permainan komputer? Mungkinkah setiap orang dan benda di kosmos sesungguhnya hanyalah karakter dalam permainan komputer besar? Bagaimana kita bisa tahu? Meskipun mungkin terdengar seperti ide terbaik yang ada di dunia, itu sebenarnya adalah hipotesis ilmiah yang memiliki dasar.

Wednesday, August 1, 2018

Kesalahpahaman Tentang Teori Evolusi

Picture11. Jika manusia berevolusi dari monyet, mengapa masih ada monyet? Atau mengapa monyet tersebut tidak berevolusi menjadi manusia?

Manusia tidak berevolusi dari kera/monyet, melainkan monyet/kera dan manusia sama-sama berevolusi dari nenek moyang yang sama, yang hidup jutaan tahun yang lalu. Begitu juga dengan hewan-hewan dan tumbuhan lainnya, kita semua sama-sama berevolusi dari common ancestor (nenek moyang yang sama). Karena proses evolusi membutuhkan waktu miliaran tahun maka waktu hidup kita yang hanya rata-rata 60 tahun ini terlalu pendek untuk dapat menyaksikan proses ini. Oleh karena itulah ilmuan pergi menggali fosil di seluruh dunia untuk menemukan tulang belulang nenek moyang kita yang sudah punah tersebut. Dari situlah ditemukan bahwa pada lapisan-lapisan bumi yang lebih tua, terdapat fosil-fosil makhluk hidup yang telah punah, terlihat jelas transisi dari makhluk yang lebih sederhana (mikroorganisme) menuju yang lebih kompleks. Misalnya, pada lapisan bumi yang paling awal (cambrian dan pre-cambrian), tidak ada ditemukan fosil-fosil makhluk hidup yang bertulang belakang (vertebrata), fosil-fosil makhluk hidup bertulang belakang ditemukan pada lapisan-lapisan bumi yang lebih muda. Fosil-fosil hewan bertulang belakang pun tidak langsung muncul semua, terdapat tahapan; pada lapisan bumi yang lebih tua, hanya ditemukan fosil-fosil ikan, lalu menuju lapisan bumi yang lebih muda ditemukan fosil reptil, lalu dinosaurus, mamalia, burung, dan kemudian manusia pada lapisan-lapisan bumi yang termuda. Itulah mengapa pakar biologi ada yang mengatakan, “Jika ingin membuktikan teori evolusi itu salah maka temukanlah fosil kelinci pada era cambrian—di mana hanya di temukan fosil invertebrata (Makhluk tak bertulang belakang).”

Jika ada satu saja fosil yang ditemukan pada urutan waktu geologis yang salah maka teori evolusi akan diakui salah. Tapi bukti ilmiah semakin hari semakin mendukung teori evolusi. Catatan fosil selalu membenarkan perubahan bertahap dari simple ke kompleks. Tetapi ini bukan berarti evolusi selalu menunjukkan transisi spesies dari yang paling sederhana menjadi lebih kompleks, dalam beberapa kasus ini dapat terjadi sebaliknya.

Thursday, July 26, 2018

Mitos Asal-Usul, Penciptaan, dan Agama

Semua bangsa memiliki mitos asal-usul untuk menjelaskan dari mana mereka berasal. Dalam mitologi suku Aborigin Tasmania, dewa bernama Moinee dikalahkan oleh dewa bernama Dromerdeener dalam pertempuran di antara bintang-bintang. Moinee jatuh ke daratan Tasmania. Sebelum mati, ia ingin memberikan berkat terakhirnya kepada tempat persemayaman terakhirnya sehingga ia memutuskan untuk menciptakan manusia. Namun, dia terburu-buru dan lupa memberi lutut kepada manusia. Sebaliknya, justru menambah ekor seperti kangguru, yang berarti makhluk ciptaannya itu tidak bisa duduk. Karena itu, mereka menjerit memohon pertolongan.

Dromerdeener yang perkasa, yang masih berkeliling langit dalam pawai kemenangannya, mendengar jeritan mereka dan turun untuk melihat apa yang terjadi. Dia jatuh iba dan lekas mengabulkan permohonan manusia; memberikan lutut yang bisa ditekuk dan menghilangkan ekor. Dalam versi lain mitos Tasmania itu, Moinee memanggil manusia pertama yang diberi nama Parlevar ke langit. Saat itu, Parlevar tidak bisa duduk karena berekor seperti kangguru dan memiliki lutut yang tidak bisa ditekuk. Melihat itu, sang dewa pesaing, Dromerdeener datang menyelamatkan. Dia memberi lutut yang tepat dan memotong ekornya, lalu menyembuhkan luka dengan lemak. Parlevar kemudian turun ke Tasmania menyusuri jalanan langit (Bima sakti).

Orang Norse dari Skandinavia, terkenal sebagai Viking, memiliki dewa-dewi seperti halnya Yunani dan Romawi. Pemimpin para dewa itu adalah Odin, terkadang disebut Wotan atau Woden (asal nama kata Wednesday—hari bagi Dewa Odin). Dia memiliki anak, Thor (Thursday—hari bagi Dewa Thor). Suatu hari Odin sedang berjalan-jalan di pesisir pantai bersama saudara-saudaranya, dan menemukan dua batang pohon.

DNA dari Surga

Judul Asli: River Out of Eden

Oleh: Richard Dawkins


Kisah penciptaan dapat ditemui di setiap kebudayaan. Selama beribu tahun kisah semacam itu bertahan sebagai sebuah kepercayaan hingga diguncang oleh sebuah pemikiran yang diusung dua raksasa ilmiah: Charles Darwin dan Alfred Wallace. Manusia sebelumnya puas dengan penjelasan bahwa kuda memang berasal dari kuda, yang diperanakkan oleh kuda, dan seterusnya, dan seterusnya. Lalu pertanyaannya adalah darimana datangnya kuda pertama? Jawaban versi kisah penciptaan adalah “dari sononya”, entah diciptakan oleh yang namanya Dewa atau Tuhan. Teori evolusi memberikan jawaban lain. Setiap keturunan menghasilkan variasi yang sedikit berbeda dengan induknya sehingga setelah akumulasi variasi keturunan berjuta tahun kemudian, dapat menghasilkan keturunan yang kadang berbeda seperti langit dan bumi. Bayangkan saja perbedaan antara anjing Chihuahua dan anjing Saint Bernard yang dulunya berasal dari satu keturunan anjing, padahal mereka baru berpisah dari cabang evolusinya kurang lebih 10.000 tahun yang lalu, saat anjing pertama kali dijinakkan oleh manusia. Masalahnya, teori evolusi meskipun sederhana, seringkali salah dimengerti karena publisitas yang terlalu berpihak. Setiap kali orang mendengar teori evolusi, yang terpikir pasti tentang teori yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera. Untuk menjawab itulah buku “Sungai dari Firdaus” menjadi penting, dan ia ditulis dalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang yang tidak pernah mendalami biologi evolusioner sekalipun.

Sungai dari Firdaus sungguh sebuah analogi yang tepat. Kehidupan berawal dari sebuah mata air yang begitu sederhana, hanya sebuah rangkaian DNA yang bisa memperbanyak diri. “Kebetulan-kebetulan” terjadi dan DNA tersebut membentuk selubung yang menjadi rumahnya yang disebut sel. Lahirlah secara resmi makhluk hidup pertama, yang bisa terus menggandakan dirinya. Yang justru menarik adalah proses penggandaan tersebut yang tidak sempurna. Sesekali terjadi kesalahan penggandaan yang membuat keturunannya tidak persis sempurna seperti induknya. Ketidaksempurnaan ini justru adalah kesempurnaan kehidupan. Dari situlah lahir keberanekaragaman hidup, dan Sungai dari Firdaus itu pun bercabanglah, menjadi bermilyar-milyar anak sungai.

Antiklerikalisme, Ateisme dan Kritik Agama

Ateisme adalah sebuah momok di negeri ini, hampir sejelek sang iblis itu sendiri. Ia disamakan dengan pemadat, pelacur, pembunuh, dan pemerkosa. Ia tak punya tempat hidup di negeri yang “beragama” ini.

Untuk itu marilah kita mundur dalam sejarah. Ateisme lahir dari sejarah yang panjang, sebagai salah satu anak dari modernisme. Meskipun cikal bakal ateisme sebenarnya sudah muncul dari Xenophanes di zaman Yunani Kuno, yang mengatakan bahwa dewa-dewa yang ada hanyalah gambaran manusia saja dan tidak mungkin dewa yang agung kelakuannya sama dengan manusia, modernisme tetap menjadi ibu kandung dari ateisme, terlebih ateisme yang menjadi lawan dari teisme, khususnya teisme versi Yudeo-Kristiani.

Modernisme lahir di dalam sebuah kondisi di mana dogma merajalela, dan manusia tidak mempunyai tempat. Semua segi kehidupan dilihat dari sudut pandang agama yang dogmatis. Manusia tidak memiliki tempat di dunia ini, sebuah panggung sandiwara di mana ia menjadi pemain di dalamnya. Hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Tuhan yang menilainya, yang memberinya surga bila ia memainkan perannya dengan sesuai, dan neraka untuk yang menentangnya, tanpa berpikir mengapa sesuatu boleh atau tidak boleh dilakukan.

Modernisme, dipicu juga oleh gerakan Reformasi Protestan, yang melahirkan subjektivisme, yaitu percaya pada pemikiran sendiri, seperti tercermin dalam semboyan pencerahan “sapere aude”, aku berpikir untuk diriku sendiri. Protestanisme, walaupun pada dirinya masih dogmatis dengan hanya percaya pada kitab suci, ia telah membuka jalan ke subjektivisme dengan memberikan kebebasan dalam mengartikan kitab suci. Tafsir kitab suci yang mulanya hanya menjadi hak kaum pendeta, menjadi milik semua umat beriman karena Tuhan diyakini menyapa setiap orang secara sama melalui kitab suci.

Wednesday, July 18, 2018

Mengetuk Pintu Surga

Oleh: Kupret El-kazhiem

[caption id="attachment_231364" align="alignright" width="322" caption="sumber: https://www.thedailybeast.com/articles/2011/10/10/lisa-randall-on-knocking-on-heaven-s-door.html"][/caption]

Judul Buku: Knocking on Heaven's Door: How Physics and Scientific Thinking Illuminate the Universe and the Modern World

Penulis: Lisa Randall

Penerbit: HarperCollins, 2011

Dalam buku yang ditulis oleh Steven Weinberg “Dreams Of The Final Theory” di mana intinya adalah para ilmuwan sedang mencoba untuk menemukan teori yang bisa menyatukan semua gaya yang bekerja di alam semesta ini, seperti gaya gravitasi, elektromagnetism, weak force and strong force. Karena jika mengacu pada Big Bang, keempat gaya tersebut pernah berada dalam satu force yang sama, yang itu digambarkan oleh Michio Kaku sebagai a solid diamond, kemudian tidak diketahui secara akurat mengapa keempat gaya tersebut berdiri secara independen.

Pencarian akan theory of everything itu telah menjadi mimpi terbesar dari para ilmuwan yang memang sangat penasaran atas apa yang terjadi di atas alam semesta yang penuh dengan kompleksitas dan misteri, lalu apakah ToE ini akan membawa konsekwensi khusus atas eksistensi manusia ketika misalkan berhasil ditemukan? Saya kira iya, karena dengan mengetahui invisible force yang bekerja di balik realitas alam semesta maka manusia bisa memanfaatkannya untuk kepentingan survivalnya di masa depan, karena basic fundamental dari life adalah survival.

Debat Antara Richard Dawkins and Francis Collins

Sumber:http://old.richarddawkins.net/articles/4047-god-vs-science-a-debate-between-richard-dawkins-and-francis-collins

Diterjemahkan oleh TACU

Sains modern dan agama sama-sama bermaksud menjelaskan cara alam semesta bekerja. Yang tersebut pertama menjelaskan melalui materi (natural) dan kedua melalui hal gaib (supernatural). Sejak beberapa abad yang lalu kemajuan sains mendorong gerakan ateisme (anti-Tuhan) yang menolak keberadaan Tuhan samasekali. Sebaliknya agama bersikukuh pada kehadiran Tuhan.

Segelintir orang beragama lantas kasak-kusuk dengan gerakan kreasionisme. Gerakan itu selalu dipecundangi bersama-sama atau terpisah oleh kalangan ateis dan ilmuwan beragama dalam setiap kesempatan. Ateis dan ilmuwan beragama sekubu dalam melawan kreasionisme. Tapi apa jadinya bila keduanya dihadapkan satu-sama lain untuk membahas sains dan ketuhanan?

Berikut ini terjemahan perdebatan wakil kedua pihak sekubu tentang sains dan ketuhanan (bukan membahas sains dan agama). Kubu ateis diwakili oleh zoolog Richard Dawkins. Ia ilmuwan biologi yang termasyhur sebagai penutur fasih teori evolusi, dan kemudian ateisme. Dawkins dikenal sebagai ilmuwan jurubicara ateis. Buku terbaru Dawkins berjudul God Delusion termasuk laris-manis di dunia.

Lawan debat Dawkins adalah genetikawan Francis Collins, yang kini jadi ilmuwan jurubicara kaum beragama. Collins pernah menjadi Director of the National Human Genome Research Institute. Ia memimpin 2.400 berbagai bangsa untuk memetakan tiga milyar gen. Pada usia 27 tahun ia masuk Kristen dari sebelumnya ateis. Dua tahun yang lalu ia menulis buku The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief. 

Sekalipun beragama, Collins cenderung berpihak pada deisme daripada mendukung teisme. Deisme berpendapat bahwa Tuhan ada di luar Alam-Semesta dan tidak campur-tangan pada kehidupan sehari-hari manusia. Ada pun teisme (landasan teologi sebagian besar Samawi) berpendapat bahwa Tuhan hadir dan turun-tangan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengabulkan doa.

Kedua ilmuwan kelas kakap dipertemukan oleh majalah TIME di Time & Life Building, New York City pada November 2006 untuk membahas perbedaan pendapat mereka.

Berikut ini terjemahan perdebatan mereka. Selamat menikmati!