Tuesday, September 18, 2018

NDE dan Spiritualitas

Penelitian oleh: Kevin Williams
 
Beberapa orang percaya bahwa dengan menganut agama kita menjadi spiritual dan sebaliknya. Mereka mungkin pergi ke tempat ibadah secara teratur, dan memiliki pengetahuan yang besar tentang agama dan pemahaman terhadap kitab suci, dan percaya bahwa ini adalah apa artinya menjadi spiritual. Mereka bahkan mungkin memperlakukan orang lain dengan buruk atau bahkan mejalani hidup yang tidak mencerminkan kemanusiaan, tetapi karena mereka selalu pergi ke tempat ibadah dan mengetahui kitab suci, mereka percaya bahwa mereka sudah spiritual. Informasi yang diperoleh dari dokumentasi pengalaman dekat-kematian menunjukkan bahwa spiritualitas adalah sangat berbeda dengan religius. Mungkin cara terbaik untuk membedakan agama dan spiritualitas adalah untuk mengatakan bahwa agama adalah alat untuk membimbing orang ke dalam kekuatan spiritual cinta dan kasih sayang bagi orang lain. Bahkan, agama dan spiritualitas begitu berbeda, Anda mungkin mengetahui bahwa banyak orang yang begitu religius namun sangat tidak spiritual.

Spiritualitas dari NDE

Informasi berikut adalah ringkasan dari wawasan tentang spiritualitas yang diperoleh dari dokumentasi pengalaman dekat-kematian (NDE) :

Menurut dokumentasi pengalaman dekat-kematian (NDE), alasan keberadaan kita di Bumi adalah untuk mencapai pertumbuhan rohani. Kita lebih merupakan makhluk spiritual daripada makhluk fisik. Kita menempati tubuh kita yang terdiri dari daging untuk memenuhi keinginan kita untuk pertumbuhan rohani, untuk menyelesaikan sebuah misi bagi Tuhan, untuk memenuhi syarat untuk alam roh yang lebih tinggi, untuk menguji ide-ide spiritual yang kita miliki sebelum kita dilahirkan untuk melihat apakah kita benar-benar memiliki cita-cita, untuk mendapatkan tingkat realisasi diri, untuk kembali menemukan pengetahuan yang lebih tinggi dengan cara fisik, menjadi lebih dari pendamping Tuhan, untuk menemukan kerajaan surga di dalam, untuk mencapai tujuan kita berkembang menjadi makhluk-makhluk rohani yang lebih tinggi dari sebelumnya, tapi dengan individualitas, untuk menjadikan Tuhan lebih kuat dengan menyebarkan kasih yang adalah Tuhan, untuk membawa cahaya dalam kegelapan, tetapi yang lebih penting, bersuka cita, cinta, tertawa, dan hidup untuk tujuan tunggal itu karena ini adalah cara yang suci.

Agama dan Spiritualitas

Oleh: Mary Mageau
 
Kita hidup dalam pergeseran paradigma. Agama yang terorganisasi, termasuk gereja-gereja Kristen dan semua denominasinya, sedang menjadi saksi terus berkurangnya keanggotaan mereka. Saat ini lebih sedikit orang yang melihat ke agama tradisional dan gereja-gereja untuk memperoleh jawaban atas masalah kontemporer mereka. Ini adalah karena ajaran sederhana yang berasal dari para guru telah menjadi ajaran yang menguasai dan mengendalikan manusia, menjadikannya budaya, peraturan, ritual dan dogma dogma. Mempertimbangkan fakta bahwa Yesus Kristus tidak pernah menjadi penganut Kristen, Sang Buddha juga tidak menganut Buddha. Dan sementara agama tradisional terus berusaha menyangkal, akar dan cabang-cabang gerakan spiritualitas baru terbentuk di mana-mana. Jalan lain telah dipilih dan dialami oleh banyak orang di seluruh dunia.
Gerakan Spiritualitas baru berada satu tingkat tersendiri. Tidak seperti kebanyakan agama, ia tidak memiliki kitab suci, pusat organisasi, pendeta yang secara resmi dilantik, dan tidak ada tempat sentral, pemujaan atau dogma.
Spiritualitas Baru mengekspresikan diri dengan cara berikut: perduli lebih aktif terhadap lingkungan, mempelajari praktek meditasi agama Timur, pemerhati masalah keadilan sosial, keadilan bagi laki-laki dan perempuan dalam semua aspek pengambilan keputusan, mencari sistem ekonomi yang lebih baik untuk semua dan melakukan upaya perdamaian sebagai lawan dari peperangan. Spiritualitas baru ini terus berkembang dan kuat saat ini ketika semua sistem budaya, politik dan ekonomi yang ada terlihat gagal. Karena pengalaman kita sebelumnya tentang keterpisahan diri sangat besar, keinginan yang mendalam terhadap hubungan personal yang kuat untuk kehadiran suci dari keberadaan diri kita didalam, untuk struktur sosial dan untuk alam itu sendiri yang mendorong kemajuan dari perubahan itu.

Monday, September 17, 2018

Enam Prebedaan antara Agama dan Spiritualitas

Oleh: Deepak Chopra

'Agama adalah keyakinan pada pengalaman orang lain. Spiritualitas adalah Anda memiliki pengalaman Anda sendiri.'

Memberitahu orang-orang bahwa Anda spiritual tetapi tidak religius sering disambut dengan wajah bingung. Orang cenderung berpikir spiritualitas sebagai sesuatu yang sangat aneh dan misterius. Mereka bahkan berjuang untuk membedakannya dari agama tapi ini hanya karena orang-orang dalam masyarakat modern saat ini memiliki rasa takut dimanipulasi dan memiliki kurangnya pengetahuan ketika sesuatu yang bersifat non-material datang kepada mereka.

Kebenaran dari masalah ini adalah bahwa spiritualitas adalah mungkin hal yang paling alami ada, sesimpel kesadaran diri Anda sendiri mengakui bahwa Anda lebih dari sekedar tubuh, bahwa Anda adalah jiwa dengan potensi yang tak terbatas.

Untuk menyederhanakan apa yang saya coba jelaskan, inilah daftar singkat dari hal-hal yang membantu untuk lebih memahami perbedaan antara agama dan spiritualitas.

Wednesday, September 12, 2018

Fisika Peradaban Ekstra-terrestrial

Oleh: Michio Kaku

(Dr. Michio Kaku, Profesor Fisika Teoritis di City University of New York, adalah penulis buku Visions: How Science Will Revolutionize the 21st Century dan buku best-seller Hyperspace)

Seberapa majukah mereka?
Carl Sagan pernah mengajukan pertanyaan berikut: “Apa artinya bagi sebuah peradaban untuk mencapai umur jutaan tahun? Kita telah punya teleskop radio dan spaceship selama beberapa dekade; peradaban teknis kita baru berumur beberapa ratus tahun…sebuah peradaban maju berumur jutaan tahun pasti jauh melampaui kita seperti kita melampaui primata atau kera.”

Walaupun terkaan mengenai peradabaan semaju itu hanyalah spekulasi belaka, seseorang masih dapat memakai hukum fisika untuk menempatkan batas atas dan batas bawah pada peradaban ini. Terutama sejak hukum teori medan quantum, relativitas umum, termodinamika, dan lain-lain berkedudukan cukup kuat, fisika dapat menetapkan batas fisik luas yang membatasi parameter peradaban-peradaban ini.

Pertanyaannya tak lagi soal spekulasi omong-kosong. Segera, manusia akan menghadapi kejutan eksistensial begitu daftar terbaru lusinan planet ekstrasurya seukuran Yupiter membengkak bertambah menjadi ratusan planet seukuran bumi, yang hampir kembar identik dengan tanah pijak kita di angkasa. Ini mungkin akan mengantarkan sebuah era baru dalam hubungan kita dengan alam semesta: kita takkan pernah lagi memandang langit malam dengan cara yang sama, menyadari bahwa para ilmuwan mungkin pada akhirnya dapat menyusun sebuah ensiklopedia yang mengidentifikasi koordinat presisi ratusan planet mirip bumi.

Sekarang ini, setiap beberapa minggu selalu ada kabar ditemukannya sebuah planet ekstrasurya seukuran Yupiter, yang terbaru adalah berjarak sekitar 15 tahun cahaya yang mengorbit bintang Gliese 876. Yang paling spektakuler dari temuan-temuan ini dipotret oleh Hubble Space Telescope, yang mengambil foto sebuah planet berjarak 450 tahun cahaya yang dikatapelkan ke ruang angkasa oleh sebuah sistem bintang-ganda.

Sunday, September 9, 2018

Mekanika Kuantum Mendukung Kehendak Bebas (Free Will)

Oleh: Tom Hartsfield

http://bigthink.com/experts-corner/quantum-mechanics-supports-free-will

Apakah Anda percaya pada kehendak bebas ? Beberapa ahli fisika dan ahli saraf percaya proposisi yang berlawanan, yaitu determinisme. Matematika mekanika kuantum memiliki argumen untuk hal ini: Determinisme tidak mungkin terjadi kecuali Anda bersedia membuat pengorbanan filosofis yang lebih besar.

Sebuah pandangan determinis mengatakan, “Jika saya tahu secara lengkap bagaimana suatu sistem bekerja, seperti posisi setiap partikel dan bagaimana hukum-hukum alam semesta beroperasi, saya dapat mengatakan dengan tepat apa yang akan saya lakukan di semua situasi di masa depan.” misalnya, dengan mengukur gravitasi matahari dan gerakan benda tata surya, kita dapat menghitung apakah sebuah asteroid akan menabrak kita atau bagaimana posisi satelit dalam orbit yang kompleks di atas Bumi.

Jelas, umat manusia telah cukup berhasil: Ilmu pengetahuan dan teknologi mendukung dunia modern karena kita sebagian besar dapat memahami dan mengantisipasi tindakan benda mati.

Dialog Profesor dan Murid yang Sering Dijadikan HOAX

einsteinDialog seorang profesor dengan muridnya mengenai teodisi atau upaya untuk merekonsiliasi keberadaan Tuhan dengan kejahatan telah menyebar luas di dunia maya. Seorang murid dikisahkan berhasil membantah pernyataan profesor yang digambarkan “sombong”. Biasanya di akhir kisah ditambahkan embel-embel bahwa murid itu adalah Albert Einstein, yang jelas salah karena Einstein tidak percaya Tuhan personal, namun kepada Tuhannya Baruch Spinoza, yaitu keserasian hukum alam. Selain mencatut nama Einstein, dialog ini juga memiliki kesalahan logika yang fatal. Berikut adalah perbaikan untuk dialog tersebut yang diterjemahkan dari http://www.rationalresponders.com/debunking_an_urban_legend_evil_is_a_lack_of_something dengan sedikit adaptasi. Sementara itu, kalau mau lihat kisah aslinya yang ngawur bisa dilihat di http://novrya.blogspot.nl/2011/01/profesor-yang-tidak-punya-otak.html

Alkisah, seorang profesor filsafat menantang muridnya: “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”

Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya.”

“Tuhan menciptakan semuanya?” tanya profesor sekali lagi.

“Ya, Pak, semuanya,” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

Tuesday, August 28, 2018

Kesadaran sebagai Tuhan

Oleh : Peter Russel

"Jiwa itu sendiri adalah citra Tuhan yang paling indah dan sempurna".
St. John of the Cross.

Bagi banyak orang, pernyataan “Akulah Tuhan” dianggap penghujatan. Tuhan, menurut agama konvensional, adalah dewa tertinggi, pencipta yang mahakuasa. Bagaimana mungkin manusia mengklaim bahwa dia adalah Tuhan?

Ketika pendeta Kristen abad ke-14 dan mistikus Meister Eckhart menyatakan bahwa, “Tuhan dan saya adalah Satu”, dia dibawa ke hadapan Paus Yohanes XXII dan dipaksa untuk “membatalkan semua yang telah dia keliru ajarkan.” Lainnya mengalami nasib buruk. Mistikus Islam abad kesepuluh al-Hallaj disalibkan karena menggunakan bahasa yang mengklaim identitasnya sebagai Tuhan.

Namun ketika para mistikus mengatakan “Akulah Tuhan,” atau kata-kata seperti itu, mereka tidak berbicara tentang seseorang. Eksplorasi batin mereka telah mengungkapkan sifat diri sejati, dan inilah yang mereka kenali dengan Tuhan. Mereka mengklaim bahwa esensi diri, perasaan “Aku” tanpa atribut pribadi, adalah Tuhan.

Sarjana kontemporer dan mistikus Thomas Merton mengatakannya dengan sangat jelas:

"Ketika saya menembus kedalaman eksistensi dan realitas saya sendiri dalam akar yang paling dalam adalah sesuatu yang tidak dapat didefinisikan yang merupakan diri saya sendiri, maka melalui pusat yang dalam ini saya masuk ke dalam Diri yang tak terbatas yang bagi saya adalah Yang Maha Kuasa".

Friday, August 10, 2018

Apakah Kita Hidup Dalam Simulasi ‘Permainan Komputer’ Raksasa?

computer.jpgOleh : Alexa Erickson
 
Ketika era milenium semakin dekat, banyak yang mungkin merefleksikan betapa berbedanya bayangan masa depan kita telah berubah dari bagaimana kita pernah membayangkannya. Bertentangan dengan banyak film, buku, dan spekulasi pribadi tentang masa depan, kita saat ini belum memiliki mobil terbang dan belum ada pelayan robot, belum ada perjalanan waktu atau berjalan dengan kecepatan cahaya. Namun, begitu banyak yang telah berubah, tetapi kita tidak menyadarinya.

Dan meskipun kita hanya dapat membuat dugaan yang logis tentang apa yang akan terjadi di masa depan, setidaknya kita mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini. Dan itu yang paling penting dari semuanya.

Tetapi bagaimana jika kita tidak benar-benar mengetahui realitas kita? Bagaimana jika, terlepas dari semua yang kita ketahui, bagaimana kita menjalani hidup kita, kita ini ternyata hanyalah sebuah simulasi permainan komputer? Mungkinkah setiap orang dan benda di kosmos sesungguhnya hanyalah karakter dalam permainan komputer besar? Bagaimana kita bisa tahu? Meskipun mungkin terdengar seperti ide terbaik yang ada di dunia, itu sebenarnya adalah hipotesis ilmiah yang memiliki dasar.

Wednesday, August 1, 2018

Kesalahpahaman Tentang Teori Evolusi

Picture11. Jika manusia berevolusi dari monyet, mengapa masih ada monyet? Atau mengapa monyet tersebut tidak berevolusi menjadi manusia?

Manusia tidak berevolusi dari kera/monyet, melainkan monyet/kera dan manusia sama-sama berevolusi dari nenek moyang yang sama, yang hidup jutaan tahun yang lalu. Begitu juga dengan hewan-hewan dan tumbuhan lainnya, kita semua sama-sama berevolusi dari common ancestor (nenek moyang yang sama). Karena proses evolusi membutuhkan waktu miliaran tahun maka waktu hidup kita yang hanya rata-rata 60 tahun ini terlalu pendek untuk dapat menyaksikan proses ini. Oleh karena itulah ilmuan pergi menggali fosil di seluruh dunia untuk menemukan tulang belulang nenek moyang kita yang sudah punah tersebut. Dari situlah ditemukan bahwa pada lapisan-lapisan bumi yang lebih tua, terdapat fosil-fosil makhluk hidup yang telah punah, terlihat jelas transisi dari makhluk yang lebih sederhana (mikroorganisme) menuju yang lebih kompleks. Misalnya, pada lapisan bumi yang paling awal (cambrian dan pre-cambrian), tidak ada ditemukan fosil-fosil makhluk hidup yang bertulang belakang (vertebrata), fosil-fosil makhluk hidup bertulang belakang ditemukan pada lapisan-lapisan bumi yang lebih muda. Fosil-fosil hewan bertulang belakang pun tidak langsung muncul semua, terdapat tahapan; pada lapisan bumi yang lebih tua, hanya ditemukan fosil-fosil ikan, lalu menuju lapisan bumi yang lebih muda ditemukan fosil reptil, lalu dinosaurus, mamalia, burung, dan kemudian manusia pada lapisan-lapisan bumi yang termuda. Itulah mengapa pakar biologi ada yang mengatakan, “Jika ingin membuktikan teori evolusi itu salah maka temukanlah fosil kelinci pada era cambrian—di mana hanya di temukan fosil invertebrata (Makhluk tak bertulang belakang).”

Jika ada satu saja fosil yang ditemukan pada urutan waktu geologis yang salah maka teori evolusi akan diakui salah. Tapi bukti ilmiah semakin hari semakin mendukung teori evolusi. Catatan fosil selalu membenarkan perubahan bertahap dari simple ke kompleks. Tetapi ini bukan berarti evolusi selalu menunjukkan transisi spesies dari yang paling sederhana menjadi lebih kompleks, dalam beberapa kasus ini dapat terjadi sebaliknya.

Thursday, July 26, 2018

Mitos Asal-Usul, Penciptaan, dan Agama

Semua bangsa memiliki mitos asal-usul untuk menjelaskan dari mana mereka berasal. Dalam mitologi suku Aborigin Tasmania, dewa bernama Moinee dikalahkan oleh dewa bernama Dromerdeener dalam pertempuran di antara bintang-bintang. Moinee jatuh ke daratan Tasmania. Sebelum mati, ia ingin memberikan berkat terakhirnya kepada tempat persemayaman terakhirnya sehingga ia memutuskan untuk menciptakan manusia. Namun, dia terburu-buru dan lupa memberi lutut kepada manusia. Sebaliknya, justru menambah ekor seperti kangguru, yang berarti makhluk ciptaannya itu tidak bisa duduk. Karena itu, mereka menjerit memohon pertolongan.

Dromerdeener yang perkasa, yang masih berkeliling langit dalam pawai kemenangannya, mendengar jeritan mereka dan turun untuk melihat apa yang terjadi. Dia jatuh iba dan lekas mengabulkan permohonan manusia; memberikan lutut yang bisa ditekuk dan menghilangkan ekor. Dalam versi lain mitos Tasmania itu, Moinee memanggil manusia pertama yang diberi nama Parlevar ke langit. Saat itu, Parlevar tidak bisa duduk karena berekor seperti kangguru dan memiliki lutut yang tidak bisa ditekuk. Melihat itu, sang dewa pesaing, Dromerdeener datang menyelamatkan. Dia memberi lutut yang tepat dan memotong ekornya, lalu menyembuhkan luka dengan lemak. Parlevar kemudian turun ke Tasmania menyusuri jalanan langit (Bima sakti).

Orang Norse dari Skandinavia, terkenal sebagai Viking, memiliki dewa-dewi seperti halnya Yunani dan Romawi. Pemimpin para dewa itu adalah Odin, terkadang disebut Wotan atau Woden (asal nama kata Wednesday—hari bagi Dewa Odin). Dia memiliki anak, Thor (Thursday—hari bagi Dewa Thor). Suatu hari Odin sedang berjalan-jalan di pesisir pantai bersama saudara-saudaranya, dan menemukan dua batang pohon.

DNA dari Surga

Judul Asli: River Out of Eden

Oleh: Richard Dawkins


Kisah penciptaan dapat ditemui di setiap kebudayaan. Selama beribu tahun kisah semacam itu bertahan sebagai sebuah kepercayaan hingga diguncang oleh sebuah pemikiran yang diusung dua raksasa ilmiah: Charles Darwin dan Alfred Wallace. Manusia sebelumnya puas dengan penjelasan bahwa kuda memang berasal dari kuda, yang diperanakkan oleh kuda, dan seterusnya, dan seterusnya. Lalu pertanyaannya adalah darimana datangnya kuda pertama? Jawaban versi kisah penciptaan adalah “dari sononya”, entah diciptakan oleh yang namanya Dewa atau Tuhan. Teori evolusi memberikan jawaban lain. Setiap keturunan menghasilkan variasi yang sedikit berbeda dengan induknya sehingga setelah akumulasi variasi keturunan berjuta tahun kemudian, dapat menghasilkan keturunan yang kadang berbeda seperti langit dan bumi. Bayangkan saja perbedaan antara anjing Chihuahua dan anjing Saint Bernard yang dulunya berasal dari satu keturunan anjing, padahal mereka baru berpisah dari cabang evolusinya kurang lebih 10.000 tahun yang lalu, saat anjing pertama kali dijinakkan oleh manusia. Masalahnya, teori evolusi meskipun sederhana, seringkali salah dimengerti karena publisitas yang terlalu berpihak. Setiap kali orang mendengar teori evolusi, yang terpikir pasti tentang teori yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera. Untuk menjawab itulah buku “Sungai dari Firdaus” menjadi penting, dan ia ditulis dalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang yang tidak pernah mendalami biologi evolusioner sekalipun.

Sungai dari Firdaus sungguh sebuah analogi yang tepat. Kehidupan berawal dari sebuah mata air yang begitu sederhana, hanya sebuah rangkaian DNA yang bisa memperbanyak diri. “Kebetulan-kebetulan” terjadi dan DNA tersebut membentuk selubung yang menjadi rumahnya yang disebut sel. Lahirlah secara resmi makhluk hidup pertama, yang bisa terus menggandakan dirinya. Yang justru menarik adalah proses penggandaan tersebut yang tidak sempurna. Sesekali terjadi kesalahan penggandaan yang membuat keturunannya tidak persis sempurna seperti induknya. Ketidaksempurnaan ini justru adalah kesempurnaan kehidupan. Dari situlah lahir keberanekaragaman hidup, dan Sungai dari Firdaus itu pun bercabanglah, menjadi bermilyar-milyar anak sungai.

Antiklerikalisme, Ateisme dan Kritik Agama

Ateisme adalah sebuah momok di negeri ini, hampir sejelek sang iblis itu sendiri. Ia disamakan dengan pemadat, pelacur, pembunuh, dan pemerkosa. Ia tak punya tempat hidup di negeri yang “beragama” ini.

Untuk itu marilah kita mundur dalam sejarah. Ateisme lahir dari sejarah yang panjang, sebagai salah satu anak dari modernisme. Meskipun cikal bakal ateisme sebenarnya sudah muncul dari Xenophanes di zaman Yunani Kuno, yang mengatakan bahwa dewa-dewa yang ada hanyalah gambaran manusia saja dan tidak mungkin dewa yang agung kelakuannya sama dengan manusia, modernisme tetap menjadi ibu kandung dari ateisme, terlebih ateisme yang menjadi lawan dari teisme, khususnya teisme versi Yudeo-Kristiani.

Modernisme lahir di dalam sebuah kondisi di mana dogma merajalela, dan manusia tidak mempunyai tempat. Semua segi kehidupan dilihat dari sudut pandang agama yang dogmatis. Manusia tidak memiliki tempat di dunia ini, sebuah panggung sandiwara di mana ia menjadi pemain di dalamnya. Hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Tuhan yang menilainya, yang memberinya surga bila ia memainkan perannya dengan sesuai, dan neraka untuk yang menentangnya, tanpa berpikir mengapa sesuatu boleh atau tidak boleh dilakukan.

Modernisme, dipicu juga oleh gerakan Reformasi Protestan, yang melahirkan subjektivisme, yaitu percaya pada pemikiran sendiri, seperti tercermin dalam semboyan pencerahan “sapere aude”, aku berpikir untuk diriku sendiri. Protestanisme, walaupun pada dirinya masih dogmatis dengan hanya percaya pada kitab suci, ia telah membuka jalan ke subjektivisme dengan memberikan kebebasan dalam mengartikan kitab suci. Tafsir kitab suci yang mulanya hanya menjadi hak kaum pendeta, menjadi milik semua umat beriman karena Tuhan diyakini menyapa setiap orang secara sama melalui kitab suci.

Wednesday, July 18, 2018

Mengetuk Pintu Surga

Oleh: Kupret El-kazhiem

[caption id="attachment_231364" align="alignright" width="322" caption="sumber: https://www.thedailybeast.com/articles/2011/10/10/lisa-randall-on-knocking-on-heaven-s-door.html"][/caption]

Judul Buku: Knocking on Heaven's Door: How Physics and Scientific Thinking Illuminate the Universe and the Modern World

Penulis: Lisa Randall

Penerbit: HarperCollins, 2011

Dalam buku yang ditulis oleh Steven Weinberg “Dreams Of The Final Theory” di mana intinya adalah para ilmuwan sedang mencoba untuk menemukan teori yang bisa menyatukan semua gaya yang bekerja di alam semesta ini, seperti gaya gravitasi, elektromagnetism, weak force and strong force. Karena jika mengacu pada Big Bang, keempat gaya tersebut pernah berada dalam satu force yang sama, yang itu digambarkan oleh Michio Kaku sebagai a solid diamond, kemudian tidak diketahui secara akurat mengapa keempat gaya tersebut berdiri secara independen.

Pencarian akan theory of everything itu telah menjadi mimpi terbesar dari para ilmuwan yang memang sangat penasaran atas apa yang terjadi di atas alam semesta yang penuh dengan kompleksitas dan misteri, lalu apakah ToE ini akan membawa konsekwensi khusus atas eksistensi manusia ketika misalkan berhasil ditemukan? Saya kira iya, karena dengan mengetahui invisible force yang bekerja di balik realitas alam semesta maka manusia bisa memanfaatkannya untuk kepentingan survivalnya di masa depan, karena basic fundamental dari life adalah survival.

Debat Antara Richard Dawkins and Francis Collins

Sumber:http://old.richarddawkins.net/articles/4047-god-vs-science-a-debate-between-richard-dawkins-and-francis-collins

Diterjemahkan oleh TACU

Sains modern dan agama sama-sama bermaksud menjelaskan cara alam semesta bekerja. Yang tersebut pertama menjelaskan melalui materi (natural) dan kedua melalui hal gaib (supernatural). Sejak beberapa abad yang lalu kemajuan sains mendorong gerakan ateisme (anti-Tuhan) yang menolak keberadaan Tuhan samasekali. Sebaliknya agama bersikukuh pada kehadiran Tuhan.

Segelintir orang beragama lantas kasak-kusuk dengan gerakan kreasionisme. Gerakan itu selalu dipecundangi bersama-sama atau terpisah oleh kalangan ateis dan ilmuwan beragama dalam setiap kesempatan. Ateis dan ilmuwan beragama sekubu dalam melawan kreasionisme. Tapi apa jadinya bila keduanya dihadapkan satu-sama lain untuk membahas sains dan ketuhanan?

Berikut ini terjemahan perdebatan wakil kedua pihak sekubu tentang sains dan ketuhanan (bukan membahas sains dan agama). Kubu ateis diwakili oleh zoolog Richard Dawkins. Ia ilmuwan biologi yang termasyhur sebagai penutur fasih teori evolusi, dan kemudian ateisme. Dawkins dikenal sebagai ilmuwan jurubicara ateis. Buku terbaru Dawkins berjudul God Delusion termasuk laris-manis di dunia.

Lawan debat Dawkins adalah genetikawan Francis Collins, yang kini jadi ilmuwan jurubicara kaum beragama. Collins pernah menjadi Director of the National Human Genome Research Institute. Ia memimpin 2.400 berbagai bangsa untuk memetakan tiga milyar gen. Pada usia 27 tahun ia masuk Kristen dari sebelumnya ateis. Dua tahun yang lalu ia menulis buku The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief. 

Sekalipun beragama, Collins cenderung berpihak pada deisme daripada mendukung teisme. Deisme berpendapat bahwa Tuhan ada di luar Alam-Semesta dan tidak campur-tangan pada kehidupan sehari-hari manusia. Ada pun teisme (landasan teologi sebagian besar Samawi) berpendapat bahwa Tuhan hadir dan turun-tangan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengabulkan doa.

Kedua ilmuwan kelas kakap dipertemukan oleh majalah TIME di Time & Life Building, New York City pada November 2006 untuk membahas perbedaan pendapat mereka.

Berikut ini terjemahan perdebatan mereka. Selamat menikmati!

Wawancara Singkat dengan Lisa Randall

Lisa Randall, theoretical particle physicist at Harvard, explained the strange physics of string theory and tiny extra dimensions in her first book, Warped Passages. She met The Daily Beast for a cappuccino at L.A. Burdicks to discuss how scientific progress happens, the largest particle accelerator ever made, the origin of mass, the future of physics, and her most recent book Knocking on Heaven’s Door.

Diterjemahkan oleh: TACU

Salah satu motif utama buku Randall adalah proses penemuan saintifik yang terkadang tampak sembarangan, sehingga dunia terlihat kabur ketika sains mencoba melampaui batasan terjauh dari pengetahuan ilmiah. Pada skala biasa dalam kehidupan sehari-hari kita memiliki sejumlah besar data yang mengkonfirmasi pemahaman kita tentang fisika. Tetapi pada skala yang tidak familier, seperti energi terkecil, yang terbesar, kita berbenturan dengan batas-batas pengalaman. Ini tidak berarti bahwa kita tidak harus mempercayai fisika—jauh daripada itu, karena fisika modern telah disusun dan diverifikasi dengan prediksi-prediksi yang keakuratannya sangat mencengangkan—tetapi juga memperkenalkan apakah itu ketidakpastian ilmiah, atau potensi untuk penemuan-penemuan baru yang lebih luar biasa.

The Large Hadron Collider (LHC) di Swiss, adalah mesin yang paling rumit yang dibangun dan akselerator partikel paling kuat di dunia. Saat ini, LHC menempatkan kita pada lingkup pengetahuan. Dalam bukunya, Randall berhasil mengubah percobaan ini pada skala yang jauh dan tidak familier ke dalam tindakan penting dalam drama kosmik.

Monday, July 9, 2018

Alam Semesta Jauh Lebih Cerdas Dari Manusia

Oleh: Archer Clear

Alam Semesta lebih nyata dari Tuhan-Tuhan imaginer, itu fakta dan tidak ada pengetahuan yang lebih baik dari fakta, di luar itu saya lebih senang menyebutnya tidak tahu. – Archer Clear

Bayangkan, bahwa kehidupan kita di atas planet ini bisa saja hilang dalam seketika (instan), “monster-monster” pembunuh ada di sekitar kita, lihat gunung ada volcano disana, lihat laut ada tsunami yang siap menggulung setiap waktu, di darat ada gempa bumi, lihat ke langit ada meteor, astroid yang setiap detik siap manghantam planet bumi.

Semua itu adalah alami, Natural Behavior is Uncertainty, sifat ketidakpastian itu adalah bawaan alam yang masih belum dimengerti secara baik oleh manusia, untuk itu jika mengacu pada teori Darwin, bahwa bukan yang paling pintar atau yang paling kuat yang akan dapat bertahan hidup di atas planet ini, tapi mereka yang paling bisa melakukan adaptasi atas perubahan-perubahan yang ditawarkan oleh alam (nature).

Pertanyaannya, apakah kita sebagai manusia merupakan entitas yang “penting” di alam semesta ini, jawabannya sudah sangat jelas “tidak Penting” dan saya kira konsep-konsep tentang Tuhan, kehidupan setelah kematian, surga dan neraka adalah ciptaan manusia untuk mengisi ketidakmengertiannya atas apa yang terjadi dalam kehidupannya sejak hari pertama hingga dia kembali menjadi bagian dari alam semesta ini.

Jika Kehidupan Ini Jawaban, Apakah Pertanyaannya?

Science, Reason, Life, Religion & the Universe it self

By : Archer Clear

Erwin Schrödinger, In science and humanism once’s asking a question, ‘who are we?’ and the answer on this question is not only one of the task, but the task of science.”

Kita menyebut kehidupan adalah segala sesuatu yang bergerak, aktif dalam ruang kesadarannya masing-masing. Itulah hidup dalam pengertian yang paling sederhana. Erwin Schrodinger dalam bukunya What is Life, mencoba menjawab dengan pendekatan yang sangat fundamental, yaitu pada skala molekuler, atau level atom. Dalam dunia quantum, semua partikel dapat dikategorikan hidup, karena mereka bergerak dengan cara-cara yang tak menentu, proses interaksi yang terjadi pada level quantum kemudian menghadirkan realitas yang kompleks.

Manusia adalah salah satu produk dari interaksi di dunia quantum, kita adalah spesies yang kompleks, jika diurai seberapa kompleks struktur yang membangun manusia maka bisa dibayangkan akan begitu banyak halaman akan habis untuk membahas satu wilayah saja, ambil contoh satu bagian tubuh kita, misalkan struktur otak. Ini membutuhkan science of neural untuk menjelaskan bagaimana otak berinteraksi yang kemudian membentuk imej-imej yang setiap saat bisa kita nikmati secara instan. Misalkan, jika Anda tidak memiliki pengetahuan tentang apel, bagaimana Anda tahu yang Anda lihat itu adalah apel dalam pengertian hasil komputasi otak Anda, atau apel dalam pengertian yang lain? Dari pertanyaan sederhana itu bisa ditarik satu garis pengertian bahwa pengetahuan itu adalah syarat utama dalam memahami realitas, tanpa pengetahuan kita tidak akan mengerti apa yang sedang kita saksikan dialam semesta ini, dalam bahasa Richard Dawkins we are the blind watchmaker.

Alam Semesta Tanpa Tujuan

krauss5Oleh: Lawrence M. Krauss

Diterjemahkan oleh Tim TACU

Ilusi tentang tujuan dan rancangan besar mungkin ilusi paling hebat mengenai alam semesta sehingga sains harus berkonfrontasi dengan hal itu dari hari ke hari. Di mana-mana kita melihat, tampak bahwa dunia ini dirancang sedemikian rupa sehingga kita dapat berkembang.

Posisi Bumi mengelilingi matahari, kehadiran bahan organik, air dan iklim yang hangat—semua memungkinkan terjadinya kehidupan di planet kita. Namun, dengan sekitar 100 miliar sistem tenaga surya di galaksi kita sendiri, dengan air, karbon dan hidrogen yang menyebar, maka tidak mengherankan bahwa kondisi ini akan muncul seketika di suatu tempat. Dan mengenai keanekaragaman kehidupan di Bumi—seperti yang dijelaskan Darwin lebih dari 150 tahun yang lalu dan eksperimen-eksperimen yang telah divalidasi—seleksi alam dalam evolusi bentuk-bentuk kehidupan dapat terjadi baik itu dalam kondisi keragaman maupun keteraturan tanpa ada rancangan besar yang mengatur.

Sebagai seorang kosmolog, ilmuwan yang mempelajari asal-usul dan evolusi alam semesta, saya sangat menyadari bahwa ilusi kita tetap mencerminkan kebutuhan manusia yang mendalam untuk menganggap bahwa keberadaan bumi, kehidupan, alam semesta dan hukum-hukum yang mengaturnya membutuhkan sesuatu yang lebih mendalam. Bagi banyak orang, hidup dalam alam semesta yang mungkin tidak memiliki tujuan dan pencipta, pasti tidak akan terpikirkan oleh mereka.

Friday, June 22, 2018

Teori Awal Penciptaan Alam Semesta

479960_469909319725937_489317959_nSTEPHEN HAWKING: THE GRAND DESIGN

resensi buku oleh: Oir Nikonian

Sejak pertanyaan “mengapa kita ada” mengusik manusia berpuluh abad silam, ikhtiar untuk mencari jawabannya tak pernah berhenti. Banyak orang berpaling ke berbagai kekuatan besar di luar manusia. Para filsuf sejak Yunani klasik menyodorkan jawaban-jawaban spekulatif dengan mengandalkan kekuatan logika. Merekalah yang mendominasi pikiran manusia.

Tapi filsafat kini mati, kata Stephen Hawking. Filsafat tak sanggup mengimbangi perkembangan sains modern, terutama fisika. Obor penerang bagi pencarian ilmu pengetahuan kini dipikul para ilmuwan. Walaupun sains modern dianggap baru bermula pada abad ke-17, sumbangannya luar biasa bagi kemajuan peradaban, meski sayangnya juga bagi kerusakan.

Bagi Hawking, untuk memahami semesta pada tingkat terdalam, kita perlu beranjak dari sekadar menjawab pertanyaan bernada “bagaimana” menuju “mengapa”. “Bagaimana” adalah pertanyaan praktis yang lazim diajukan ilmuwan. Dengan kemajuan sains, kinilah saatnya kita mengajukan pertanyaan seperti: Mengapa sesuatu ada dan bukan tak ada? Mengapa kita ada? Mengapa hukum tertentu berlaku, dan bukan yang lain? Inilah pertanyaan pamungkas tentang kehidupan dan alam semesta yang secara “tradisional” beredar di ranah filsafat. Hawking, bersama Leonard Mlodinow, berusaha menjawabnya dalam karya mereka yang baru terbit, The Grand Design.

Tuhan Tidak Menciptakan Manusia; Manusia yang Menciptakan Tuhan


Diterjemahkan oleh: TACU

 J. Anderson Thomson is a psychiatrist at the University of Virginia. He serves as a trustee of the Richard Dawkins Foundation for Reason and Science. Clare Aukofer is a medical writer. They are the authors of “Why We Believe in God(s): A Concise Guide to the Science of Faith.”

Sebelum John Lennon menuliskan lirik—dalam lagu imagine, “living life in peace,” dia menulis bait “no heaven … / no hell below us …/ and no religion too.”

No religion: Apakah sebenarnya yang dimaksudkan oleh Lennon? Sebagai permulaan, sebuah dunia tanpa utusan-utusan “ilahi” seperti Osama bin Laden yang memicu kekerasan. Sebuah dunia di mana kesalahan, seperti dalam peristiwa badai Katrina yang menghilangkan banyak nyawa, sesungguhnya bisa dihindari dan ditanggulangi, tapi bukan dihubungkan dengan “kehendak Tuhan.” di mana politisi tidak lagi bersaing untuk membuktikan yang mana lebih dipercayai secara irasional dan tidak dapat dipertahankan. Di mana berpikir kritis adalah ideal. Singkatnya, dunia yang masuk akal.

Dalam beberapa tahun terakhir para ilmuwan yang mengkhususkan diri dalam bidang pikiran dan kejiwaan telah mengungkapkan DNA agama. Mereka telah menghasilkan teori-teori yang kuat, didukung oleh bukti empiris (termasuk studi “pencitraan” otak di tempat kerja), yang mendukung kesimpulan bahwa manusia-lah yang menciptakan Tuhan, bukan sebaliknya. Dan semakin baik kita memahami sains, semakin kita mendekat kepada no heaven … / no hell below us …/ and no religion too.

God, Quantum Mechanic & Human Spirit

By: Archer Clear

“I shall quite briefly mention here the notorious atheism of science. The theists reproach it for this again and again. Unjustly. A personal God can not be encountered in a world picture that becomes accessible only at the price that everything personal is excluded from it. We know that whenever God is experienced, it is an experience exactly as real as a direct sense impression, as real as one’s own personality. As such He must be missing from the space-time picture. ― Erwin Schrödinger

“I don’t like it, and I’m sorry I ever had anything to do with it. I do not meet with God in space and time, God is Spirit.” ― Erwin Schrödinger

Kedua pernyataan Erwin Schrödinger, bagi saya adalah sebuah penegasan bahwa apa yang biasa disebut sebagai personal God oleh mayoritas manusia di atas planet ini terutama konsep God yang ada dalam agama hanya sebuah Delusi. Personal God dan “God Is Spirit” adalah dua hal yang secara prinsipil sangat berbeda. Apa yang dimaksud God dalam pandangan sains adalah spirit itu sendiri, God dalam huruf “G”. Saintis yang berpikir dengan cara terbuka, akan menjawab “I don’t know” atas sosok personal God, karena siapapun bisa menciptakan imej tentang Tuhan pribadi, dan sesungguhnya apa yang kita bayangkan itu tidak lain adalah refleksi atas diri kita sendiri.

Mengapa Tuhan Tidak Menciptakan Alam Semesta

Oleh: Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow

Diterjemahkan oleh TACU

Menurut mitologi Viking, gerhana terjadi ketika dua serigala, Skoll dan Hati, menangkap matahari atau bulan. Pada permulaan terjadinya gerhana, orang-orang sengaja membuat kebisingan, berharap dapat menakut-nakuti serigala-serigala itu hingga kabur. Setelah beberapa saat, orang-orang mesti menyadari bahwa gerhana itu berakhir tanpa menghiraukan apakah mereka berlarian dan menghancurkan pot-pot.

Keacuhan terhadap bagaimana alam ini bekerja, telah menggiring orang-orang kuno untuk membuat mitos-mitos sebagai dalil pembuktian bagi pemahaman mereka terhadap dunia. Akan tetapi, kemudian orang-orang beralih ke filsafat, yakni berusaha menggunakan nalar mereka—beserta intuisi berdosis tepat—untuk menguraikan semesta mereka berada. Hari ini kita menggunakan nalar, matematika dan tes uji coba—dengan kata lain, ilmu pengetahuan modern.

Evolusi Tuhan

Author: Robert Wright

Reviewer: Paul Bloom, a professor of psychology at Yale, is the author of “Descartes’ Baby: How the Science of Child Development Explains What Makes Us Human.” His book “How Pleasure Works” will be published next year.


Diterjemahkan oleh TACU

Tuhan menjadi melow. Tuhan yang mana bagi kebanyakan orang Amerika amat sangat dipuja-puja, meski terkadang begitu kesal terhadap aborsi dan pernikahan gay, tapi tampil begitu lembut apabila dibandingkan dengan Yahweh dalam gambaran Alkitab Ibrani. Dahulu kala tentara Tuhan, suku yang kejam, yang merasa dalam keadaan tidak aman dan bersedia untuk melakukan pembunuhan massal demi memamerkan kekuatannya. Tapi setidaknya Yahweh memiliki pandangan moral yang kuat, yang kadang-kadang mencerahkan orang Israel mengenai bagaimana seharusnya mereka bersikap. Bagi leluhur mereka, secara kontras, orang-orang itu menyembah Tuhan-Tuhan yang tidak kompeten. Tidak memiliki petunjuk moral, bahkan mereka sering meneriaki orang-orang dan cenderung mengarah kepada obsesi-obsesi aneh. Salah satu Tuhan, atau dewa petir akan marah jika orang-orang menyisir rambut mereka selama badai atau menonton anjing-anjing berpasangan.

Bagaimana Kita Hidup Setelah Matinya Tuhan

Peter Watson adalah seorang intelektual sejarah, jurnalis, dan penulis dari tiga belas buku, termasuk The German Genius, The Medici Conspiracy, dan The Great Divide. Dia juga pernah menulis untuk The Sunday Times, The New York Times, the Observer, dan the Spectator Dia tinggal di London. Dia cukup berbaik hati untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang buku barunya The Age of Atheists: How We Have Sought to Live Since the Death of God..

1.  Anda memulai pembahasan atheisme  dengan menyebut filsuf Jerman abad ke-19, Friedrich Nietzsche. Kenapa dia menjadi titik awal yang tepat?

Pada tahun 1882 Nietzsche menyatakan secara terus terang, dalam bahasa yang jelas mencolok, bahwa “Tuhan telah mati”, dan menambahkan “bahwa kita telah membunuhnya”. Dan ini hanya dua puluh tahun berselang setelah terbitnya karya Darwin, Origin of Species, yang benar-benar dipahami sebagai pukulan terbesar bagi Kekristenan (baca: agama). Tapi karya Nietzsche pantas mendapat pengakuan sebagai kedua terdekat. Darwinisme berasimilasi lebih cepat di Jerman daripada di Inggris karena gagasan evolusi itu terutama terjadi di sana. Darwin menyatakan dalam salah satu suratnya bahwa ide-idenya diterima lebih baik di Jerman daripada di tempat lain. Dan sejarah Kulturkampf di Jerman—pertempuran antara Protestan dan Katolik—yang berarti menyerang agama secara umum, oleh penganutnya sendiri. Orang-orang menanggapi Nietzsche dengan beragam pendapat yang kelihatannya satu sama lain saling melebihi—Ibsen, misalnya, W. B. Yeats, Robert Graves, James Joyce. Di Jerman ada fenomena generasi Nietzschean—berisi orang-orang muda yang menghidupkan filosofinya dalam komunitas khusus. Dan orang menanggapi Nietzsche karena gaya tulisannya begitu bernas, to the point, mudah diingat, dan jernih. Nietzsche memberitahu kita sefasih mungkin, bahwa tidak ada di luar, atau lebih tinggi dari hidup itu sendiri. Tidak ada yang beyond atau above, tidak ada transendensi dan tidak pula metafisik. Ini adalah pemikiran yang berbahaya pada waktu itu, dan tetap mengancam bagi banyak orang.

Tuesday, June 19, 2018

Sains dan Agama


Oleh: Werner Heisenberg
Diterjemahkan oleh Tim TACU

Werner Heisenberg (1901-1976) lahir di Würzberg, Jerman, dan menerima gelar doktor dalam fisika teoritis dari University of Munich. Ia menjadi terkenal karena terobosannya, yakni Prinsip Ketidakpastian dan penerima Penghargaan Nobel dalam Fisika di tahun 1932. Setelah Perang Dunia II, ia diangkat sebagai direktur Max Planck Institute untuk Fisika dan Astrofisika.
-------------------
Suatu malam selama Konferensi Solvay, beberapa anggota muda tetap tinggal di lounge hotel. Yang termasuk kelompok ini ialah Wolfgang Pauli dan saya sendiri, dan tak lama kemudian bergabung Paul Dirac. Salah satu dari kami berkata: “Einstein terus berbicara tentang Tuhan, apa yang bisa kita perbuat dengan itu? Hal ini sangat sulit untuk membayangkan bahwa seorang ilmuwan seperti Einstein harus memiliki ikatan yang kuat, seperti dengan tradisi keagamaan”.

“Tidak begitu banyak bagi Einstein dibandingkan Max Planck,” keberatan seseorang. “Dari beberapa ucapan Planck akan terlihat bahwa ia tidak melihat adanya kontradiksi antara agama dan sains, memang bahwa ia percaya keduanya sangat kompatibel.”

Monday, June 18, 2018

Menjadi Seorang Fisikawan

By: Brian Greene

http://www.pbs.org/wgbh/nova/physics/on-being-physicist.html

Brian Greene is a professor of physics and mathematics at Columbia University. He is the author of The Fabric of the Cosmos, from which this essay was excerpted and on which the four-part NOVA series premiering in fall 2011 is based. Greene is also the author of The Elegant Universe, the subject of a three-part NOVA series that aired in 2003, and The Hidden Reality.

Ketika saya membalik halaman terakhir dari karya Albert Camus, The Myth of Sisyphus bertahun-tahun yang lalu, saya terkejut oleh karya tersebut yang telah mencapai suatu perasaan menyeluruh tentang optimisme. Kisahnya menceritakan seorang pria yang dikutuk untuk mendorong batu ke atas bukit dengan pengetahuan penuh bahwa batu itu akan menggelinding turun kembali, pria itu mendorong lagi, ini bukan jenis cerita yang Anda harapkan untuk memiliki akhir yang bahagia.

Sains Vs Agama

Stephen Hawking

Pertama yang harus diperhatikan disini adalah, siapa sih Tuhan? Tanpa jelas apa itu Tuhan, maka kita membicarakan sesuatu yang bisa saja berbeda. Sebagai contoh, Paijo mengatakan kalau ia tinggal di Bandung. Temannya, Poniran,  memprotes karena ia tidak tinggal di Bandung. Tapi jelas Paijo benar karena yang dimaksud Bandung oleh Paijo adalah rumah kapal di sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Di sana rumah kapal disebut Bandung. Poniran juga benar, karena apa yang ia maksud adalah kota Bandung, Ibu kota Jawa Barat. Tapi keduanya bertengkar karena semata berbeda pengertian dari kata Bandung.

Begitu juga, Tuhan yang dibicarakan oleh Hawking berbeda dengan Tuhan yang dibicarakan oleh pemuka agama Islam, kristen, yahudi, dsb. Bagi Hawking, ia menyindir Tuhan yang dipakai sebagai penjealasan atas fenomena alam. Baginya Tuhan hanyalah sebuah alat penjelasan sementara. Anda tidak tahu petir, katakan itu amarah Tuhan. Anda tidak tahu tsunami, katakan itu cobaan Tuhan. Tuhan disini adalah pengisi kekosongan sementara. Apa yang disebut orang sebagai God of the Gap. Dan pernyataan Hawking adalah bahwa fisika sudah cukup maju sehingga Tuhan tidak muat lagi untuk diselipkan dalam bolongan-bolongan dalam kotak fenomena alam yang belum terjawab.

Newton dan Leibniz; Peletak Fondasi Sains

From Casirrer, Ernst. Newton and Leibniz. The Philosophical Review, Vol. 52, No.4, Juli, 1943.

Perseteruan antara Newton dan Leibniz telah sering diceritakan di dalam banyak buku teks maupun buku-buku ilmiah populer lainnya. Yang dibahas di dalamnya biasanya adalah mengenai klaim penciptaan kalkulus. Sebuah perdebatan lain sering kali lolos dari perhatian banyak orang, dan perdebatan inilah yang diangkat oleh Cassirer di dalam sebuah tulisannya di dalam Jurnal The Philosophical Review. Perdebatan ini adalah mengenai posisi epistemologis kedua raksasa filsafat ini dalam melihat ilmu alam atau—di dalam bahasa yang dipakai di zaman itu—filsafat alam.

Untuk melihat perbedaan yang mendasar di antara kedua filsuf alam tersebut bukanlah sebuah perkara yang mudah. Sentimen-sentimen yang menyertai perdebatan tersebut mengaburkan esensi dari perdebatan itu sendiri. Surat menyurat yang terjadi di tahun 1715 dan 1716 antara Leibniz dan Samuel Clarke yang membela Newton juga tidak banyak membantu untuk melihat masalah ini lebih jelas. Bahkan tuduhan-tuduhan yang saling dilontarkan satu sama lain malah melebar pada masalah agama. Untuk itu kita perlu masuk ke dalam pemikiran kedua filsuf ini secara mendasar supaya bisa memahami betul inti perdebatan mereka.

Sains dan Pencarian Makna: Menyiasati Konflik Tua Antara Sains dan Agama

Oleh: F. Budi Hardiman
  
Tujuan agama sejati seharusnya adalah memaknai asas-asas dunia indrawi jauh ke dalam jiwa. – Leibniz

Di samping agama dan filsafat, sains merupakan salah satu bentuk pengetahuan manusia yang gigih mencari makna. Mungkin sains tidak menuntaskan banyak misteri kehidupan manusia, seperti misteri asal-usul kehidupan dan misteri kematian, namun langkah-langkah untuk memecahkan enigma-enigma seperti itu tampaknya berjalan progresif dalam sains. Kesan bahwa sains ingin menyaingi agama atau bahkan menggantikannya dalam perannya sebagai juru tafsir dunia cukuplah beralasan. Sains berambisi menjadi sistem pandangan dunia menyeluruh dan itulah yang terjadi dalam scientism. Di dalam saintisme kesahihan agama dalam memaknai dunia ditolak. Di tengah-tengah dominasi saintistis itu di abad ke-20 terjadi suatu tren yang sebaliknya: kesahihan sains dalam memaknai dunia juga dipersoalkan.

 Secara garis besar, ada tiga posisi untuk memahami hubungan antara sains dan agama dalam pencarian makna. Dengan makna di sini dimaksudkan terutama ‘kebenaran’. Pertama, sains dan agama memiliki teritorium yang berbeda dalam pencarian makna. Kedua, agama dan sains dapat dibawa ke dalam arena yang sama dalam pencarian makna. Dan ketiga, agama dan sains menerangi realitas yang sama, namun dengan perspektif yang berbeda. Dalam tulisan ini saya ingin menunjukkan bagaimana filsafat sains kontemporer bergerak ke posisi kedua dalam pencarian makna. Lalu saya ingin menunjukkan daya tarik posisi ketiga.

Sains itu Keren!

By : Archer Clear

“Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is to not stop questioning.” ―Albert Einstein, Relativity: The Special and the General Theory
“The most beautiful Experience we can have is the mysterious – the fundamental emotion which stands at the cradle of true art and true science.” ―Albert Einstein, Albert Einstein
Science atau dalam bahasa yang paling umum dikenal dengan istilah ilmu Pengetahuan, bagi saya adalah sebuah pencapaiaan terbaik yang dimiliki oleh manusia sejak 430 SM, di mana seorang filsuf yunani bernama Democritus, mengajukan sebuah Hipotesis tentang truktur terkecil dalam materi adalah atom yang itu kemudian dapat dibuktikan, walau masih belum cukup akurat. Terkait dengan struktur terkecil ini, yang ternyata bukanlah atom, melainkan masih ada struktur yang membentuk atom seperti quark, dan di dalam quark masih ada partikel yang bekerja, hingga string theory menawarkan satu hipotesis yang saya kira agak mirip-mirip dengan apa yang pernah dibayangkan oleh Democritus, yaitu dawai (string) yang bergerak secara bebas, uncertain dan tidak dalam posisi 3 dimensi ruang dan waktu, tapi diperkirakan  bekerja pada 10 dimensi ruang dan 1 waktu (Baca: String Theory). Awesome!

Ilmu Pengetahuan adalah Jembatan Masa Depan

By : Archer Clear

“The saddest aspect of life right now is that science gathers knowledge faster than society gathers wisdom.” ― Isaac Asimov.

Masalah utama dalam sebuah bangsa bukanlah anak-anak yang tidak mengerti sains. Masalahnya adalah orang dewasa yang tidak mengerti sains. Dan jumlah orang dewasa berbanding 5 : 1 dengan jumlah anak-anak, dan parahnya mereka memegang kekuasaan, mereka menulis undang-undang dan mereka secara bebas berbicara dalam bahasa ketidakmengertian atas sains itu sendiri.

Bila negara memiliki orang dewasa buta huruf dan buta ilmu pengetahuan maka Anda akan melihat tatanan yang melandasi dan membuat suatu bangsa kaya, cerdas, dan kuat, telah rusak pada landasan yang paling mendasar. Demikianlah ungkapan inspiratif dari Neil deGrase Tyson, tentang sebuah bangsa yang sama sekali tidak menyadari bahwa kekuatan terbesar–pondasi bangunan suatu bangsa–adalah menguasai sains dan memperkuat demokrasi berdasarkan humanisme.

Ilmuwan Saintifik dan Ilmuwan Cocoklogi

Dari situs World Science Festival yang didirikan oleh ilmuwan ternama Brian Greene, dilansir sebuah berita penemuan yang mengejutkan dunia fisika yang dapat menjelaskan kelahiran liar alam semesta kita. Dengan menggunakan teleskop BICEP2 di Kutub Selatan, para ilmuwan telah menemukan apa yang mereka yakini sebagai tanda dari gelombang gravitasi yang menyebarkan ekspansi alam semesta dengan cepat, dalam pecahan-pecahan terkecil, tepat di detik pertama setelah Big Bang. Jika hasil dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics dapat dibuktikan, implikasinya sangat mendalam.

“Sebagai salah satu yang telah memikirkan kemungkinan ini selama lebih dari 30 tahun, masih sulit untuk percaya bahwa kita benar-benar akan melihat sinyal dari waktu awal mula yang begitu dekat!” kata fisikawan teoritis dari Arizona State University, Lawrence Krauss kepada kita. “Jika hasilnya dapat dibuktikan, itu akan menjadi salah satu perkembangan yang paling penting dalam pemahaman empiris kita tentang alam semesta sepanjang masa.”

MAHKOTA SUFI: Syekh Sa'di Asy-Syirazi

Barangsiapa mengikuti jalan itu (pencarian kebenaran), ia akan kehilangan topi (kebanggaan) dan kepalanya (rasionalitas).
(Nizhami, Treasury of Mysteries)
Gulistan (Kebun Mawar) dan Bustan (Kebun Buah) karya Sa'di asy-Syirazi merupakan dua karya klasik Sufisme yang mengandung ajaran moral dan etika serta banyak dibaca orang di India, Persia, Pakistan, Afghanistan dan Asia Tengah. Pada masa hidupnya, Sa'di adalah seorang Darwis yang senantiasa berkelana. Ia pernah ditangkap bala tentara Perang Salib dan disuruh menggali parit sedemikian dalam. Ia juga mengunjungi pusat-pusat pengajaran di Timur dan menulis puisi serta prosa yang bernilai sangat tinggi. Ia pernah belajar di perguruan tinggi Baghdad yang didirikan Nizham, Menteri Pengadilan Syah, sahabat Omar Khayyam. Ia mempunyai ikatan dengan para Sufi dari Tarekat Naqsyabandiyah, mempunyai hubungan dekat dengan Syekh Syahabuddin Suhrawardi, pendiri Tarekat Suhrawardiyah serta Najmuddin Kubra, Sang "Pilar Masa", salah seorang Sufi terbesar sepanjang masa.

Pengaruh Sa'di terhadap kesusastraan Eropa diakui sangat besar. Tulisan-tulisannya merupakan salah satu acuan dasar bagi Gesta Romanorum, buku induk berbagai legenda dan alegori di Barat. Para sarjana (Barat) telah mencatat pengaruh-pengaruh Sa'di dalam kesusastraan, seperti dalam sastra jerman. Penterjemahan karya-karyanya pertama kali ditemukan di Barat pada abad ketujuh belas. Akan tetapi, seperti kebanyakan karya Sufi lainnya, maksud yang terkandung dalam karya Sa'di hampir tidak dipahami sama sekali oleh para pengkaji sastra. Ini terbukti dalam sebuah ulasan tipikal dari seorang komentator masa kini. Ulasannya memang bukan pendapatnya tentang Sa'di, namun merupakan indikasi pikiran di penanya: "Sangat diragukan apakah Sa'di benar-benar seorang Sufi. Sebab menurutnya pendidikan mengucilkan mistik."

MAHKOTA SUFI: Fariduddin Aththar, Sang Kimiawan

Seekor kera melihat sebuah cherry di dalam sebuah botol yang bening dan berniat mengambilnya. Kemudian ia memasukkan tangannya melalui leher botol dan memungut buah cherry itu. Namun sekarang ia tidak bisa mengeluarkan tangannya. Sang pemburu yang sengaja memasang perangkap tersebut kemudian mendekat. Kera yang terjerat botol itu, tidak dapat lari dan tertangkap. "Setidaknya aku dapat menggenggam buah cherry," pikir kera. Pada saat itu sang pemburu memukul siku kera dengan cepat, kemudian tangan kera terbuka, terlepas dari botol. Sekarang sang pemburu memiliki buah, botol dan kera.
(Kitab Amu-Daria)
"Meninggalkan sesuatu karena orang lain telah menyalahgunakannya mungkin suatu puncak kebodohan. Kesejatian Sufi tidak dapat dicakup dalam aturan dan peraturan, dalam doa dan ibadah -- akan tetapi secara terpisah."

MAHKOTA SUFI: Omar Khayyam

Ketaatan sejati adalah demi ketaatan itu sendiri, bukan karena mengharap surga atau takut pada neraka.
(Rabi'ah al-Adawiyah)
Syair-syair (kuatrin) Omar, putra Ibrahim sang Pembuat Kemah, telah diterjemahkan hampir dalam setiap bahasa dunia. Sama sekali tidak dapat dipercaya apabila dalam kehidupannya ia dianggap sebagai penganut aliran Assassin (sekelompok pembunuh bermotifkan politik), teman Nizham sang Wazir Agung, sebagai anggota istana dan penggemar makanan serta minuman, oleh sebab berbagai terjemahan yang keliru. Sudah menjadi anggapan umum bahwa Rubaiyat terjemahan FitzGerald lebih merepresentasikan penyair Irlandia dibandingkan Persia. Namun ini sebenarnya merupakan penilaian dangkal, karena Omar sebenarnya tidak merepresentasikan dirinya sendiri, namun sebuah madzhab filosofi Sufi. Kita tidak hanya perlu mengetahui apa yang sebenarnya dikatakan Omar, namun kita juga perlu mengetahui apa maksud perkataannya.

Sebenarnya ada suatu hal menarik lebih lanjut bahwa dalam pembauran berbagai gagasan dari beberapa penyair Sufi dan mengangkat nama Omar, FitzGerald tanpa disadari telah menggaris bawahi pengaruh Sufi dalam kesusastraan Inggris.

MAHKOTA SUFI: Al-Ghazali Dari Persia

Kata-kata yang digunakan untuk menunjuk"keadaan" Sufisme hanyalah perkiraan-perkiraan.
(Kalabadzi)
Selama orang-orang Normandia melakukan konsolidasi kekuasaannya di Inggris dan Sicilia, dan selama aliran pengetahuan Arab ke Barat terus meningkat melalui Arab Spanyol dan Italia, saat ini kekuasaan Islam telah berlangsung tak kurang dari lima ratus tahun lamanya. Puncak keilmuan yang tak seimbang --yang fungsi-fungsinya telah dilarang oleh hukum agama, tetapi dalam kenyataan memiliki kekuatan yang besar-- berupaya untuk mencoba mendamaikan metode filsafat Yunani Kuno (Greek) dengan al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Nabi saw. serta menerima Skolastisisme sebagai metode untuk menafsir agama. Para ahli dialektika belum mampu menemukan diri mereka untuk mendemonstrasikan kebenaran dan kepercayaan-kepercayaan mereka dengan makna-makna intelektual. Masyarakat lewat sirkulasi pengetahuan telah tumbuh melampaui dialektika formal. Kondisi ekonomi yang sangat baik telah menghasilkan intelektualitas yang luas, melampaui kebutuhan terhadap jaminan-jaminan dogmatik. Atau melampaui pernyataan bahwa, "negara harus benar". Islam telah menjadi negara. Islam tampak seperti akan jatuh berkeping-keping.

Seorang pemuda Persia, negeri permadani, yang dikenal dengan Muhammad al-Ghazali (seorang pemintal benang), hidup yatim sejak masih kecil dan dididik sebagai Sufi di sebuah universitas di Asia Tengah yang ada saat itu. Ia ditakdirkan untuk memperoleh dua hal yang luar biasa, sebagai akibat dari dimana dua agama, Islam dan Kristen menghasilkan beberapa karakteristik yang hingga kini tetap dimiliki.

MAHKOTA SUFI: Ibnu Arabi, Asy Syekh Al-Akbar

Bagi pendosa yang jahat, aku mungkin terlihat jahat. Tetapi bagi yang baik -- betapa luhurnya aku (Mirza Khan, Anshari.
 
Salah satu pengaruh metafisis paling mendalam terhadap dunia Muslim maupun Kristen adalah ajaran Ibnu Arabi as-Sufi, dalam bahasa Arab disebut asy-Syekh al-Akbar (Mahaguru). Ia keturunan Hatim ath-Tha'i, yang masih termasyhur di kalangan bangsa Arab sebagai laki-laki paling dermawan yang pernah dikenal dan dalam Ruba'iyat versi FitzGerald disebutkan, "Ijinkan Hatim ath-Tha'i berseru: Pesta! "Jangan hiraukan dia!" (maksudnya karena terlalu seringnya menjamu orang-orang lain).

Spanyol telah menjadi negeri Arab selama lebih dari empat abad ketika Ibnu Arabi (dari) Murcia dilahirkan pada 1164. Diantara nama-namanya adalah al-Andalusi, dan tidak diragukan dia lah salah satu tokoh terbesar dari beberapa tokoh besar Spanyol yang pernah hidup. Secara umum diyakini bahwa tidak ada puisi cinta yang lebih besar dari karyanya; dan tidak ada seorang Sufi yang begitu mendalam menarik perhatian para teolog ortodoks dengan makna batin dari kehidupan dan karyanya.

MAHKOTA SUFI: Maulana Jalaluddin Rumi

Siapa yang berperilaku sesuai dengan perkataannya, dialah yang tercerahkan, yang menolak hubungan-hubungan biasa dari dunia.(Dzun-Nun al-Mishri)
Maulana (secara harfiah bermakna "Guru Kita") Jalaluddin Rumi, pendiri Tarekat Para Darwis Berputar, dalam karirnya menjadi bukti ungkapan Timur, "Para raksasa muncul dari Afghanistan dan mempengaruhi dunia." Ia dilahirkan di Bactria, dari sebuah keluarga bangsawan pada awal abad ketiga belas. Ia tinggal dan mengajar di Iconum (Rum) di Asia Kecil, sebelum munculnya Kerajaan Utsmani, yang tahtanya menurut seruannya ia tolak. Karya-karyanya ditulis dalam bahasa Persia, dan dipandang tinggi oleh orang Persia karena kandungan puitis, kesusastraan dan mistiknya. Sehingga karya-karya ini disebut sebagai "al-Qur'an dalam bahasa Pehlevi (bahasa Persia)" -- meskipun karya-karya ini bertentangan dengan kepercayaan bangsa Persia, sekte Syi'ah, yang dikritik atas eksklusivismenya.
Di kalangan orang Muslim Arab, India dan Pakistan, Rumi dipandang sebagai salah seorang dari guru mistik tingkat pertama -- meskipun ia menyatakan bahwa ajaran-ajaran al-Qur'an bersifat alegoris,dan ia memiliki tujuh makna yang berbeda. Jangkauan pengaruh Rumi sulit untuk bisa diperkirakan, meskipun hal ini terkadang bisa dilihat secara sekilas, pada kesusastraan dan pemikiran dari berbagai madzhab. Bahkan Doktor Johnson, yang terkenal karena pernyataannya yang tidak menyenangkan, mengatakan tentang Rumi, "Ia menjelaskan kepada Peziarah akan rahasia-rahasia dari jalan Kesatuan, dan menyingkap Misteri-misteri dari jalan Kebenaran Abadi."

MAHKOTA SUFI: Ajaran Rahasia

Aku bertanya kepada seorang anak yang sedang berjalan sambil membawa lilin, "Dari mana cahaya itu berasal?" Tiba-tiba ia meniupnya. "Katakan kepadaku, ke manakah perginya --maka aku akan mengatakan kepadamu dari mana asalnya." (Hasan al-Bashri)
Apa pun menurut sebutan dari Timur maupun Barat, dengan suatu cara atau lainnya, kita adalah para pewaris berbagai kekuatan dan kelemahan filsafat Arab Abad Pertengahan. Salah satu kekurangan metode ini adalah upaya menerapkannya di luar bidangnya yang paling mencapai sukses. Tentu saja bidang ini adalah kumpulan, perbandingan, verifikasi dan penafsiran Hadis-hadis Nabi saw.

Pengambilan teknik ini beserta tradisinya itu sendiri merupakan perluasan berbagai metode keilmuan yang diperoleh orang-orang Saracen sendiri dari para teolog Yunani Kristen, dan perluasan ini berlangsung cepat. Teknik bisa dipelajari dengan mudah, sebab teknik ini berarti mengumpulkan fakta-fakta dan menumpuknya satu sama lain dengan tujuan membentuk susunan yang lengkap.

Sunday, June 10, 2018

MAHKOTA SUFI: Kitab tentang Para Darwis

Oleh: Idries Shah 

Jika kau tidak mengerti hal-hal ini,
tinggalkanlah, jangan bergabung dengan
orang kafir dalam kepalsuan-kebodohan
... tetapi semua orang tidak memahami
rahasia-rahasia Jalan tersebut (Syabistari, Secret Garden, terjemahan Johnson Pasha).

 Jika memang ada buku-teks darwis standar, maka pastilah buku tersebut adalah "Hadiah-hadiah Pengetahuan" --Awarif al-Ma'arif-- yang ditulis pada abad ketiga belas dan telah dikaji oleh anggota-anggota dari semua Tarekat. Penulisnya, Syekh Syahabuddin Suhrawardi (1145-kira-kira 1235) dengan menguasai semua gabungan teori, ritual dan praktik di masanya, mendirikan sekolah-sekolah pengajaran yang dekat dengan istana Persia dan India, dan merupakan Imam dari para Imam Sufi di Baghdad.

Kitab tersebut menarik bagi kita karena ia memaparkan tahapan-tahapan lahir dan awal yang mempunyai daya tarik untuk memahami kumpulan tulisan darwis, mempunyai muatan-muatan pemikiran dan amalan dasar dari para mistikus ini, dan (juga) karena Letnan Kolonel Wilberforce Clarke. Kolonel Clarke sendiri seorang darwis, kemungkinan ia anggota Tarekat Suhrawardiyah. Ia telah menerjemahkan lebih separo dari (kitab) Gifts (Hadiah-hadiah), untuk pertama kalinya ke dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan pada tahun 1891. Dan sebagai penerjemah pertama dari Orchard karya Hafizh, Kisah Iskandar karya Nizhami dan Amalan-amalan karya Hafizh, ia adalah pengikut yang baik dari tradisi para Sufi yang unik seperti Raymond Lully.