Friday, August 10, 2018

Apakah Kita Hidup Dalam Simulasi ‘Permainan Komputer’ Raksasa?

computer.jpgOleh : Alexa Erickson
 
Ketika era milenium semakin dekat, banyak yang mungkin merefleksikan betapa berbedanya bayangan masa depan kita telah berubah dari bagaimana kita pernah membayangkannya. Bertentangan dengan banyak film, buku, dan spekulasi pribadi tentang masa depan, kita saat ini belum memiliki mobil terbang dan belum ada pelayan robot, belum ada perjalanan waktu atau berjalan dengan kecepatan cahaya. Namun, begitu banyak yang telah berubah, tetapi kita tidak menyadarinya.

Dan meskipun kita hanya dapat membuat dugaan yang logis tentang apa yang akan terjadi di masa depan, setidaknya kita mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini. Dan itu yang paling penting dari semuanya.

Tetapi bagaimana jika kita tidak benar-benar mengetahui realitas kita? Bagaimana jika, terlepas dari semua yang kita ketahui, bagaimana kita menjalani hidup kita, kita ini ternyata hanyalah sebuah simulasi permainan komputer? Mungkinkah setiap orang dan benda di kosmos sesungguhnya hanyalah karakter dalam permainan komputer besar? Bagaimana kita bisa tahu? Meskipun mungkin terdengar seperti ide terbaik yang ada di dunia, itu sebenarnya adalah hipotesis ilmiah yang memiliki dasar.

Wednesday, August 1, 2018

Kesalahpahaman Tentang Teori Evolusi

Picture11. Jika manusia berevolusi dari monyet, mengapa masih ada monyet? Atau mengapa monyet tersebut tidak berevolusi menjadi manusia?

Manusia tidak berevolusi dari kera/monyet, melainkan monyet/kera dan manusia sama-sama berevolusi dari nenek moyang yang sama, yang hidup jutaan tahun yang lalu. Begitu juga dengan hewan-hewan dan tumbuhan lainnya, kita semua sama-sama berevolusi dari common ancestor (nenek moyang yang sama). Karena proses evolusi membutuhkan waktu miliaran tahun maka waktu hidup kita yang hanya rata-rata 60 tahun ini terlalu pendek untuk dapat menyaksikan proses ini. Oleh karena itulah ilmuan pergi menggali fosil di seluruh dunia untuk menemukan tulang belulang nenek moyang kita yang sudah punah tersebut. Dari situlah ditemukan bahwa pada lapisan-lapisan bumi yang lebih tua, terdapat fosil-fosil makhluk hidup yang telah punah, terlihat jelas transisi dari makhluk yang lebih sederhana (mikroorganisme) menuju yang lebih kompleks. Misalnya, pada lapisan bumi yang paling awal (cambrian dan pre-cambrian), tidak ada ditemukan fosil-fosil makhluk hidup yang bertulang belakang (vertebrata), fosil-fosil makhluk hidup bertulang belakang ditemukan pada lapisan-lapisan bumi yang lebih muda. Fosil-fosil hewan bertulang belakang pun tidak langsung muncul semua, terdapat tahapan; pada lapisan bumi yang lebih tua, hanya ditemukan fosil-fosil ikan, lalu menuju lapisan bumi yang lebih muda ditemukan fosil reptil, lalu dinosaurus, mamalia, burung, dan kemudian manusia pada lapisan-lapisan bumi yang termuda. Itulah mengapa pakar biologi ada yang mengatakan, “Jika ingin membuktikan teori evolusi itu salah maka temukanlah fosil kelinci pada era cambrian—di mana hanya di temukan fosil invertebrata (Makhluk tak bertulang belakang).”

Jika ada satu saja fosil yang ditemukan pada urutan waktu geologis yang salah maka teori evolusi akan diakui salah. Tapi bukti ilmiah semakin hari semakin mendukung teori evolusi. Catatan fosil selalu membenarkan perubahan bertahap dari simple ke kompleks. Tetapi ini bukan berarti evolusi selalu menunjukkan transisi spesies dari yang paling sederhana menjadi lebih kompleks, dalam beberapa kasus ini dapat terjadi sebaliknya.

Thursday, July 26, 2018

Mitos Asal-Usul, Penciptaan, dan Agama

Semua bangsa memiliki mitos asal-usul untuk menjelaskan dari mana mereka berasal. Dalam mitologi suku Aborigin Tasmania, dewa bernama Moinee dikalahkan oleh dewa bernama Dromerdeener dalam pertempuran di antara bintang-bintang. Moinee jatuh ke daratan Tasmania. Sebelum mati, ia ingin memberikan berkat terakhirnya kepada tempat persemayaman terakhirnya sehingga ia memutuskan untuk menciptakan manusia. Namun, dia terburu-buru dan lupa memberi lutut kepada manusia. Sebaliknya, justru menambah ekor seperti kangguru, yang berarti makhluk ciptaannya itu tidak bisa duduk. Karena itu, mereka menjerit memohon pertolongan.

Dromerdeener yang perkasa, yang masih berkeliling langit dalam pawai kemenangannya, mendengar jeritan mereka dan turun untuk melihat apa yang terjadi. Dia jatuh iba dan lekas mengabulkan permohonan manusia; memberikan lutut yang bisa ditekuk dan menghilangkan ekor. Dalam versi lain mitos Tasmania itu, Moinee memanggil manusia pertama yang diberi nama Parlevar ke langit. Saat itu, Parlevar tidak bisa duduk karena berekor seperti kangguru dan memiliki lutut yang tidak bisa ditekuk. Melihat itu, sang dewa pesaing, Dromerdeener datang menyelamatkan. Dia memberi lutut yang tepat dan memotong ekornya, lalu menyembuhkan luka dengan lemak. Parlevar kemudian turun ke Tasmania menyusuri jalanan langit (Bima sakti).

Orang Norse dari Skandinavia, terkenal sebagai Viking, memiliki dewa-dewi seperti halnya Yunani dan Romawi. Pemimpin para dewa itu adalah Odin, terkadang disebut Wotan atau Woden (asal nama kata Wednesday—hari bagi Dewa Odin). Dia memiliki anak, Thor (Thursday—hari bagi Dewa Thor). Suatu hari Odin sedang berjalan-jalan di pesisir pantai bersama saudara-saudaranya, dan menemukan dua batang pohon.

DNA dari Surga

Judul Asli: River Out of Eden

Oleh: Richard Dawkins


Kisah penciptaan dapat ditemui di setiap kebudayaan. Selama beribu tahun kisah semacam itu bertahan sebagai sebuah kepercayaan hingga diguncang oleh sebuah pemikiran yang diusung dua raksasa ilmiah: Charles Darwin dan Alfred Wallace. Manusia sebelumnya puas dengan penjelasan bahwa kuda memang berasal dari kuda, yang diperanakkan oleh kuda, dan seterusnya, dan seterusnya. Lalu pertanyaannya adalah darimana datangnya kuda pertama? Jawaban versi kisah penciptaan adalah “dari sononya”, entah diciptakan oleh yang namanya Dewa atau Tuhan. Teori evolusi memberikan jawaban lain. Setiap keturunan menghasilkan variasi yang sedikit berbeda dengan induknya sehingga setelah akumulasi variasi keturunan berjuta tahun kemudian, dapat menghasilkan keturunan yang kadang berbeda seperti langit dan bumi. Bayangkan saja perbedaan antara anjing Chihuahua dan anjing Saint Bernard yang dulunya berasal dari satu keturunan anjing, padahal mereka baru berpisah dari cabang evolusinya kurang lebih 10.000 tahun yang lalu, saat anjing pertama kali dijinakkan oleh manusia. Masalahnya, teori evolusi meskipun sederhana, seringkali salah dimengerti karena publisitas yang terlalu berpihak. Setiap kali orang mendengar teori evolusi, yang terpikir pasti tentang teori yang mengatakan bahwa manusia berasal dari kera. Untuk menjawab itulah buku “Sungai dari Firdaus” menjadi penting, dan ia ditulis dalam bahasa yang mudah dipahami oleh orang yang tidak pernah mendalami biologi evolusioner sekalipun.

Sungai dari Firdaus sungguh sebuah analogi yang tepat. Kehidupan berawal dari sebuah mata air yang begitu sederhana, hanya sebuah rangkaian DNA yang bisa memperbanyak diri. “Kebetulan-kebetulan” terjadi dan DNA tersebut membentuk selubung yang menjadi rumahnya yang disebut sel. Lahirlah secara resmi makhluk hidup pertama, yang bisa terus menggandakan dirinya. Yang justru menarik adalah proses penggandaan tersebut yang tidak sempurna. Sesekali terjadi kesalahan penggandaan yang membuat keturunannya tidak persis sempurna seperti induknya. Ketidaksempurnaan ini justru adalah kesempurnaan kehidupan. Dari situlah lahir keberanekaragaman hidup, dan Sungai dari Firdaus itu pun bercabanglah, menjadi bermilyar-milyar anak sungai.

Antiklerikalisme, Ateisme dan Kritik Agama

Ateisme adalah sebuah momok di negeri ini, hampir sejelek sang iblis itu sendiri. Ia disamakan dengan pemadat, pelacur, pembunuh, dan pemerkosa. Ia tak punya tempat hidup di negeri yang “beragama” ini.

Untuk itu marilah kita mundur dalam sejarah. Ateisme lahir dari sejarah yang panjang, sebagai salah satu anak dari modernisme. Meskipun cikal bakal ateisme sebenarnya sudah muncul dari Xenophanes di zaman Yunani Kuno, yang mengatakan bahwa dewa-dewa yang ada hanyalah gambaran manusia saja dan tidak mungkin dewa yang agung kelakuannya sama dengan manusia, modernisme tetap menjadi ibu kandung dari ateisme, terlebih ateisme yang menjadi lawan dari teisme, khususnya teisme versi Yudeo-Kristiani.

Modernisme lahir di dalam sebuah kondisi di mana dogma merajalela, dan manusia tidak mempunyai tempat. Semua segi kehidupan dilihat dari sudut pandang agama yang dogmatis. Manusia tidak memiliki tempat di dunia ini, sebuah panggung sandiwara di mana ia menjadi pemain di dalamnya. Hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Tuhan yang menilainya, yang memberinya surga bila ia memainkan perannya dengan sesuai, dan neraka untuk yang menentangnya, tanpa berpikir mengapa sesuatu boleh atau tidak boleh dilakukan.

Modernisme, dipicu juga oleh gerakan Reformasi Protestan, yang melahirkan subjektivisme, yaitu percaya pada pemikiran sendiri, seperti tercermin dalam semboyan pencerahan “sapere aude”, aku berpikir untuk diriku sendiri. Protestanisme, walaupun pada dirinya masih dogmatis dengan hanya percaya pada kitab suci, ia telah membuka jalan ke subjektivisme dengan memberikan kebebasan dalam mengartikan kitab suci. Tafsir kitab suci yang mulanya hanya menjadi hak kaum pendeta, menjadi milik semua umat beriman karena Tuhan diyakini menyapa setiap orang secara sama melalui kitab suci.

Wednesday, July 18, 2018

Mengetuk Pintu Surga

Oleh: Kupret El-kazhiem

[caption id="attachment_231364" align="alignright" width="322" caption="sumber: https://www.thedailybeast.com/articles/2011/10/10/lisa-randall-on-knocking-on-heaven-s-door.html"][/caption]

Judul Buku: Knocking on Heaven's Door: How Physics and Scientific Thinking Illuminate the Universe and the Modern World

Penulis: Lisa Randall

Penerbit: HarperCollins, 2011

Dalam buku yang ditulis oleh Steven Weinberg “Dreams Of The Final Theory” di mana intinya adalah para ilmuwan sedang mencoba untuk menemukan teori yang bisa menyatukan semua gaya yang bekerja di alam semesta ini, seperti gaya gravitasi, elektromagnetism, weak force and strong force. Karena jika mengacu pada Big Bang, keempat gaya tersebut pernah berada dalam satu force yang sama, yang itu digambarkan oleh Michio Kaku sebagai a solid diamond, kemudian tidak diketahui secara akurat mengapa keempat gaya tersebut berdiri secara independen.

Pencarian akan theory of everything itu telah menjadi mimpi terbesar dari para ilmuwan yang memang sangat penasaran atas apa yang terjadi di atas alam semesta yang penuh dengan kompleksitas dan misteri, lalu apakah ToE ini akan membawa konsekwensi khusus atas eksistensi manusia ketika misalkan berhasil ditemukan? Saya kira iya, karena dengan mengetahui invisible force yang bekerja di balik realitas alam semesta maka manusia bisa memanfaatkannya untuk kepentingan survivalnya di masa depan, karena basic fundamental dari life adalah survival.

Debat Antara Richard Dawkins and Francis Collins

Sumber:http://old.richarddawkins.net/articles/4047-god-vs-science-a-debate-between-richard-dawkins-and-francis-collins

Diterjemahkan oleh TACU

Sains modern dan agama sama-sama bermaksud menjelaskan cara alam semesta bekerja. Yang tersebut pertama menjelaskan melalui materi (natural) dan kedua melalui hal gaib (supernatural). Sejak beberapa abad yang lalu kemajuan sains mendorong gerakan ateisme (anti-Tuhan) yang menolak keberadaan Tuhan samasekali. Sebaliknya agama bersikukuh pada kehadiran Tuhan.

Segelintir orang beragama lantas kasak-kusuk dengan gerakan kreasionisme. Gerakan itu selalu dipecundangi bersama-sama atau terpisah oleh kalangan ateis dan ilmuwan beragama dalam setiap kesempatan. Ateis dan ilmuwan beragama sekubu dalam melawan kreasionisme. Tapi apa jadinya bila keduanya dihadapkan satu-sama lain untuk membahas sains dan ketuhanan?

Berikut ini terjemahan perdebatan wakil kedua pihak sekubu tentang sains dan ketuhanan (bukan membahas sains dan agama). Kubu ateis diwakili oleh zoolog Richard Dawkins. Ia ilmuwan biologi yang termasyhur sebagai penutur fasih teori evolusi, dan kemudian ateisme. Dawkins dikenal sebagai ilmuwan jurubicara ateis. Buku terbaru Dawkins berjudul God Delusion termasuk laris-manis di dunia.

Lawan debat Dawkins adalah genetikawan Francis Collins, yang kini jadi ilmuwan jurubicara kaum beragama. Collins pernah menjadi Director of the National Human Genome Research Institute. Ia memimpin 2.400 berbagai bangsa untuk memetakan tiga milyar gen. Pada usia 27 tahun ia masuk Kristen dari sebelumnya ateis. Dua tahun yang lalu ia menulis buku The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief. 

Sekalipun beragama, Collins cenderung berpihak pada deisme daripada mendukung teisme. Deisme berpendapat bahwa Tuhan ada di luar Alam-Semesta dan tidak campur-tangan pada kehidupan sehari-hari manusia. Ada pun teisme (landasan teologi sebagian besar Samawi) berpendapat bahwa Tuhan hadir dan turun-tangan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan mengabulkan doa.

Kedua ilmuwan kelas kakap dipertemukan oleh majalah TIME di Time & Life Building, New York City pada November 2006 untuk membahas perbedaan pendapat mereka.

Berikut ini terjemahan perdebatan mereka. Selamat menikmati!