Sunday, September 13, 2020

Selamat Datang Di Multiverse

Oleh : Brian Greene  

“Yang benar-benar menarik bagi saya adalah apakah Tuhan memiliki pilihan dalam menciptakan dunia.”

Begitulah Albert Einstein, dengan caranya yang sangat puitis, bertanya apakah alam semesta kita adalah satu-satunya alam semesta yang mungkin ada.

Pernyataan ini sering disalahartikan dengan mereferensi ke Tuhan, karena pertanyaan Einstein bukanlah pertanyaan teologis. Sebaliknya, Einstein ingin mengetahui apakah hukum fisika menciptakan alam semesta yang unik — milik kita — yang dipenuhi galaksi, bintang, dan planet. Atau sebaliknya, seperti berbagai macam mobil baru setiap tahun di tempat dealer, dapatkah hukum fisika memunculkan alam semesta dengan berbagai fitur baru dan berbeda? Dan jika demikian, apakah realitas agung yang telah kita ketahui — melalui teleskop yang kuat dan penumbuk partikel raksasa (Large Hidrogen Collider) adalah produk dari beberapa proses acak, lemparan dadu kosmik yang memilih fitur kita dari banyak menu kemungkinan? Atau adakah penjelasan yang lebih dalam mengapa hal-hal seperti ini terjadi?

Misteri Alam Semesta

Oleh : Owen Waters 

Metafisika hari ini adalah fisika masa depan. Dengan mempelajari metafisika spiritual, Anda bisa mulai memahami misteri-misteri alam semesta.

Sebagai contoh, dua ratus tahun yang lalu, listrik masih merupakan misteri besar. Saat itu, beberapa visioner seperti Michael Faraday mengungkap semakin banyak informasi tentang sifat listrik. Setelah dimungkinkan untuk menghasilkan listrik, ia memberdayakan Revolusi Industri dan kemudian menghasilkan Era Elektronik, yang segera berubah menjadi Revolusi Informasi hari ini.

Reaksi berantai yang luar biasa dari evolusi teknologi ini dimungkinkan oleh keingintahuan segelintir mistik visioner. Sekarang, bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh wawasan mistik dari dunia saat ini untuk dunia esok hari. Sebagai contoh, energi selanjutnya yang harus dipahami adalah energi eterik. Kerabat yang lebih halus untuk energi listrik, energi eterik adalah kekuatan hidup yang mengalir ke arah kita dari Matahari, memberi energi dan memotivasi semua bentuk kehidupan.

Mengapa Sains Sulit Menyangkal Keberadaan Tuhan

Oleh : Amir D. Aczel dari Time Magazine 

Sejumlah buku dan artikel baru-baru ini akan membuat Anda percaya bahwa — entah bagaimana — sains kini telah menyangkal keberadaan Tuhan. Kita mengetahui banyak tentang cara kerja alam semesta, menurut penulisnya, bahwa peran Tuhan sama sekali tidak diperlukan: kita dapat menjelaskan semua cara kerja alam semesta tanpa membutuhkan sosok Pencipta.

Dan memang, sains telah memberi kita banyak sekali pengertian. Pengetahuan yang berlipat ganda kira-kira setiap beberapa tahun atau kurang. Dalam fisika dan kosmologi, kita sekarang dapat mengklaim untuk mengetahui apa yang terjadi pada alam semesta kita sedini sepersekian detik setelah Big Bang, sesuatu yang mungkin tampak mengejutkan. Dalam kimia, kita memahami reaksi paling rumit di antara atom dan molekul, dan dalam biologi kita mengetahui bagaimana sel hidup bekerja dan telah memetakan seluruh genom kita. Tetapi apakah basis pengetahuan yang luas ini menyangkal keberadaan semacam kekuatan luar yang sudah ada sebelumnya yang mungkin telah membentuk alam semesta kita dalam perjalanannya?

Beberapa Fisikawan Percaya bahwa Kita Hidup dalam Hologram Raksasa

Oleh : Joseph Stromberg 

Idenya bukanlah bahwa alam semesta ini adalah semacam simulasi seperti dalam film The Matrix, tetapi bahwa meskipun kita tampaknya hidup di alam semesta tiga dimensi, alam semesta ini mungkin hanya memiliki dua dimensi. Ini disebut prinsip holografik.

Pemikirannya seperti ini: Ada permukaan dua dimensi yang berada cukup jauh, yang berisi semua data yang diperlukan untuk sepenuhnya menggambarkan semesta kita – dan seperti halnya dalam hologram, data ini diproyeksikan muncul dalam tiga dimensi. Seperti halnya karakter di layar TV, kita hidup di permukaan datar yang kelihatannya memiliki kedalaman.

Mungkin terdengar tidak masuk akal. Tetapi ketika beberapa fisikawan menganggap itu benar dalam perhitungan mereka, semua masalah fisika besar – seperti sifat lubang hitam dan rekonsiliasi gravitasi dan mekanika kuantum – menjadi jauh lebih mudah untuk dipecahkan. Singkatnya, hukum fisika tampaknya lebih masuk akal ketika ditulis dalam dua dimensi daripada dalam tiga dimensi.

Dunia Batin, Melampaui Sains, Di Balik Pengalaman Spiritual

Oleh : Peter Russel 

Ilmu pengetahuan dan spiritualitas hampir tidak pernah sejalan. Pandangan mereka tentang sifat materi sering tampak bertentangan. Dan semakin banyak pemahaman ilmiah kita tentang dunia telah bertumbuh, semakin dalam pertentangan yang tampak.

Ilmu pengetahuan modern telah menjelajahi jauh ke dalam ruang, waktu, dan materi, sering tampaknya menjauh dari Tuhan. Para astronom telah melihat ke luar angkasa, ke tepi alam semesta yang diketahui; kosmolog telah melihat kembali ke dalam apa yang mereka sebut “waktu yang dalam”, ke awal penciptaan; sementara fisikawan telah melihat ke bawah ke “struktur dalam” materi, ke fundamental kosmos. Dari quark ke quasar, mereka tidak menemukan bukti tentang Tuhan. Mereka juga tidak menemukan kebutuhan akan Tuhan. Semesta tampaknya bekerja dengan sangat baik tanpa bantuan sosok ilahi.

Tuhan yang telah dihilangkan oleh sains disebut “Tuhan kesenjangan/ the God of the gaps” – Tuhan yang diperlukan untuk menjelaskan kesenjangan dalam pengetahuan manusia. Selama berabad-abad, ilmu pengetahuan semakin mengisi celah-celah ini. Sebelum Newton, orang mengira Tuhan yang menggerakkan matahari dan bulan melewati langit; sekarang kita memahami gerakan mereka adalah karena gravitasi. Sebelum Darwin, diyakini bahwa Tuhan menciptakan banyak spesies kehidupan yang berbeda; sekarang kita menjelaskannya dalam hal evolusi genetika. Demikian pula dengan gempa bumi, aurora borealis dan respon imun, saat ini lempeng tektonik, ion matahari, dan biologi molekuler menjelaskannya dengan cukup memuaskan.

Friday, May 15, 2020

VISI (kerinduan) Ibn Al-Arabi

"Jika engkau mencintai suatu wujud karena keindahannya, engkau tak lain kecuali mencintai Allah, karena dia adalah satu-satunya Wujud yang indah".
 
Syahadat adalah "Tidak ada tuhan dan tidak ada realitas absolut selain Allah. Tidak ada keindahan selain Dia. Kita tidak bisa melihat Tuhan itu sendiri, namun kita bisa melihatnya ketika dia memilih untuk mewahyukan diri melalui makhluk-makhluknya (Nizam), yang mengilhami rasa cinta di hati kita.
 
Ketika Al-Arabi sedang melaksanakan thawaf di Ka'bah, dia mengalami suatu peristiwa hebat yang meninggalkan pengaruh kuat dan lama terhadap dirinya; dia melihat seorang perempuan muda, yang bernama Nizam, dikelilingi cahaya surgawi dan dia sadar bahwa perempuan itu adalah titisan Sophia.
 

Wednesday, May 13, 2020

KEMBALI KE AKAR (Bagian 1)

Sosan berkata: Untuk kembali ke akar berarti menemukan maknanya, tetapi menejar wujud-wujud berarti melewatkan sumbernya.
 
Untuk kembali ke akar berarti menemukan maknanya ... apakah tujuan dari seluruh permainan semesta ini? Apakah makna dari semua pepohonan yang bertumbuh ini, dan manusia, hewan-hewan, dan burung-burung? Apakah makna dari bumi dan surga ini? Apakah makna dari keseluruhan ini? Di manakah engkau akan menemukan maknanya?
 
Bagi pikiran, makna haruslah menjadi akhirnya – ke mana semesta ini bergerak haruslah menjadi maknanya, tujuannya. Bagi pikiran, makna haruslah di suatu tempat di tempat tujuan: ke mana kita sedang pergi.
 
Dan sutra Sosan ini mengatakan: Untuk kembali ke akar adalah untuk mencari maknanya ... bukan di masa depan, bukan dalam keinginan dan tujuan, bukan di tempat lain, tetapi ke akarnya. Bukan pada yang akhir tetapi pada yang awal.
 
Cobalah untuk memahaminya. Banyak hal yang harus dipahami. Pertama, jika ada makna itu pastinya berada di dalam benih. Mungkin tersembunyi, tidak terlihat, tetapi pastinya berada di dalam benih, karena tidak ada apa pun yang bisa muncul yang tidak ditemukan di dalam benih. Tidak ada apa pun yang bisa keluar dari kekosongan.