Tuesday, November 27, 2018

The Power of Now

oleh: Eckhart Tolle
 
” Jangan mencari keadaan lain selain keadaan yang anda alami sekarang; jika tidak, anda akan membangkitkan konflik dan penolakan bawah sadar dalam diri anda. Ampuni diri anda karena tidak merasa damai. Saat anda sepenuhnya merasakan kegelisahan anda, kegelisahan anda akan berubah menjadi kedamaian. Segala sesuatu yang anda terima sepenuhnya akan membawa anda kesana, akan membawa anda kedalam kedamaian. Inilah keajaiban penyerahan”

Sebuah tulisan spiritual modern yang luar biasa, “The Power of Now” pertama kali diterbitkan di kanada, ketika diluncurkan di amerika serikat, tak diduga buku ini menjadi hit dan membuat Eckhart Tolle menjadi seorang guru yang banyak dicari.

The Power of Now secara intens befokus pada masalah yang kita hadapi hari ini dan sosok diri kita sekarang ini. Ini mungkin buku yang paling praktis dari semua buku panduan praktis, kesuksesan atau spiritual, karena buku ini menolak kecenderungan umum kita untuk membayangkan suatu masa depan yang gemerlap tanpa sungguh-sungguh menggenggam waktu sekarang.

Buku ini juga merupakan sintesis pemikiran agama-agama yang sudah ada dan tradisi lainnya dan memuaskan kerinduan abad 21 untuk berpikir melampaui batas2 agama konvensional, dan mengakui pada dasarnya semua agama mengutarakan hal yang sama.

Tuesday, November 20, 2018

Apa Kata Tiga Saintis Besar Ini Tentang Tuhan?

Oleh: Ioanes Rahkmat

Fisikawan besar mekanika quantum kebangsaan Amerika, Richard P. Feynman (11 Mei 1918-15 Februari 1988), mengatakan bahwa “Aku tidak percaya bahwa sains dapat membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada; aku pikir, itu memang tidak mungkin. Dan jika tidak mungkin, maka bukankah suatu kepercayaan (a belief) kepada sains dan suatu kepercayaan kepada suatu Tuhan (yakni suatu Tuhan biasa dalam agama-agama) adalah suatu kemungkinan yang konsisten?”/1/

Maksud Feynman jelas bahwa sains dan agama-agama sama-sama percaya pada kemungkinan adanya Tuhan. Orang beragama percaya pada keberadaan Tuhan; dan kita tahu, kepercayaan itu (selama belum didukung bukti-bukti) berada dalam wilayah kemungkinan; dan para saintis tidak bisa membuktikan Tuhan itu tidak ada, artinya para saintis juga membuka diri juga pada kemungkinan Tuhan itu ada. Jadi, sains dan agama-agama, dalam hal ini, konsisten satu sama lain. Dengan Feynman menyatakan hal ini, jelas kita tidak bisa menggolongkan sang fisikawan agung ini sebagai seorang ateis. Kecuali jika anda meragukan keaslian ucapan Feynman yang saya telah kutip ini! Apakah dia seorang agnostik, saya ragu menjawabnya.

Menurut Richard P. Feynman dalam buku yang sama, sains dan agama bertemu pada ranah moralitas atau etika. Dalam ranah moral dan ranah sains orang mengajukan sebuah pertanyaan yang sama, yakni “Jika aku melakukan hal ini, maka apa yang akan terjadi?” Dalam dunia agama, pertanyaan ini mendorong orang untuk bertindak secara bermoral sedemikian rupa untuk menghasilkan banyak kebajikan; dalam dunia sains, pertanyaan ini mendorong para saintis untuk menguji pertanyaan-pertanyaan mereka lewat eksperimen-eksperimen. Dengan kata lain, persoalan “sebab dan akibat” sama-sama digumuli oleh para etikus dan para saintis; dan dalam rangka menjawab persoalan ini sains dan etika bertemu./2/ Jadi, tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa sains dan etika tidak bisa bertemu untuk berdialog.

Biografi dan Pemikirannya Thomas Aquinas

 Oleh: Dwi Pujianingtyas Prabaningrum

St. Thomas Aquinas, salah satu tokoh filsafat barat pada abad pertengahan, dilahirkan di Lombardy, Rossa Sicca, daerah di kerajaan Napels, Italia pada tahun 1225 M (ada sumber yang menyebutkan pada tahun 1224 M). Dia berasal dari keluarga keturunan bangsawan, Kaisar Frederick I dan Henry VI. Thomas Aquinas terlahir dari pasangan Pangeran Landulf, keturunan Aquino dan Theodora, seorang Countest of Teano. Keluarganya  merupakan penganut agama Khatolik yang taat. Latar belakang ini ikut menentukan latar belakang pendidikan dan tujuan hidupnya.

Thomas Aquinas yang juga dikenal dengan nama Italia yaitu Thomaso d’Aquino, ketika berumur lima tahun (sekitar tahun 1257), Thomass Aquinas mulai belajar di Biara Benedictus di Monte Cassino hingga dia berusia lima belas tahun. Setelah selama sepuluh tahun belajar di Monte Casssino sebagai pendidikan dasar guna menjadi seorang biarawan, dia melanjutkan memperdalam ilmu bahasa di negara lain dengan beralih menjadi seorang Ordo Dominikan. Hal ini pada mulanya ditentang oleh keluarganya yang merupakan penganut Khatolik yang taat, namun tekat bulatnya pada akhirnya mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya sehingga dia mendapatkan restu dari keduanya dan ressmi menjadi salah seorang anggota Ordo Dominikan tepat pada tahun 1245.

Monday, November 19, 2018

Tuhan Sudah Mati (Bagian 2, selesai)

Nietzsche tetap berada dalam kesulitan: di satu sisi dia terus melawan Tuhan yang lama; di sisi lain, di saat-saat ketika dia tidak begitu kuat, dia menjadi takut juga.
Zarathustra berkata,
Jauh!
Dia sendiri telah melarikan diri
Temanku yang terakhir, satu-satunya
Musuh terbesarku,
Yang tidak aku ketahui,
Dewa algojoku.
Tidak! Kembalilah
Dengan semua siksaanmu!
Untuk yang terakhir dari semua yang kesepian
Oh, kembalilah!
Semua air mataku mengalir
Arah mereka kepadamu;
Dan nyala akhir hatiku -
Menyala untukmu!
Oh, kembalilah,
Tuhanku yang tidak diketahui! Sakitku!
Kebahagiaanku yang terakhir!

Kata-kata ini terlihat hampir gila: “Tuhanku yang tidak diketahui! Sakitku! Kebahagiaanku yang terakhir! Ah, kembalilah!”

Tuhan Sudah Mati (Bagian 1)

Pertanyaan: Mengapa Friedrich Nietzche menyatakan bahwa Tuhan sudah mati?

Jawaban OSHO:
Narayana, dia harus menyatakan itu, karena Tuhan sudah mati. Tuhan yang telah disembah selama ribuan tahun telah mati; bukan Tuhan yang sebenarnya, tetapi Tuhan yang telah diciptakan oleh pikiran manusia - Tuhan yang ada di kuil-kuil dan masjid-masjid dan gereja-gereja dan sinagog-sinagog, Tuhan dari kitab Perjanjian Lama, Dewa dari kitab Veda. Manusia telah tumbuh (lebih dewasa) melampaui konsep-konsep itu.

Nietzche hanya menyatakan satu fakta. Tentu saja, dia sama terkejutnya seperti orang lain. Dia sendiri belum siap menerimanya. Bahkan, seumur hidupnya dia berjuang untuk menerimanya. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa Tuhan benar-benar mati, tetapi hal itu sulit bagi pria malang itu. Itu akan sulit bagi siapa pun. Dan dia adalah seorang pria dari baja; dia bukan pria biasa, dia benar-benar pria yang kuat, tapi tetap saja itu terlalu banyak. Dia harus sangat menderita karena dialah yang pertama kali mendeklarasikannya, dan untuk menjadi seorang perintis itu selalu bahaya. Dia mengalami gangguan saraf. Bagian terakhir dari hidupnya adalah dalam keadaan gila. Dia mempertaruhkan banyak untuk deklarasi ini.

Apakah Tuhan Itu?

OSHO, APAKAH TUHAN ITU?

Prem Sukavi, TUHAN bukan seseorang/satu individu. Hal itu adalah salah satu kesalahpahaman terbesar, dan ia telah berlaku begitu lamanya sehingga ia telah menjadi hampir satu fakta. Bahkan jika satu kebohongan diulang terus-menerus selama berabad-abad pasti tampaknya seolah-olah itu adalah kebenaran.

Tuhan adalah kehadiran, bukan seseorang. Oleh karenanya semua ibadah adalah kebodohan belaka. Ke-penuh-doa-an diperlukan, bukan doa. Tidak ada seorang pun untuk didoakan; tidak ada kemungkinan dialog mana pun antara engkau dan Tuhan. Dialog itu mungkin hanya antara dua orang, dan Tuhan bukanlah seseorang tetapi satu kehadiran - seperti keindahan, seperti sukacita.

Tuhan hanya berarti ketuhanan. Karena fakta inilah Buddha menolak keberadaan Tuhan.

Dia ingin menekankan bahwa Tuhan adalah satu sifat, satu pengalaman - seperti cinta. Engkau tidak bisa berbicara kepada cinta, engkau bisa menjalaninya. Engkau tidak perlu menciptakan kuil cinta, engkau tidak perlu membuat patung cinta, dan membungkuk ke patung-patung itu akan menjadi omong kosong belaka. Dan itulah yang telah terjadi di gereja-gereja, di kuil-kuil, di masjid-masjid.

Saturday, November 17, 2018

Meister Eckhart: Sang Mistikus Jerman


Oleh: Rikardus Jaya Gabu

Pendahuluan
Meister Eckhart dikenal sebagai bapak mistisisme Jerman, musuh bagi para pemikir Kristen, sebagai juru bicara dari masa pencerahan, dan sebagai pelopor idealisme Jerman[1]. Banyaknya gelar yang diberikan kepadanya karena pemikiran-pemikirannya yang sangat cemerlang dan juga bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Meski demikian, ia lebih dikenal sebagai seorang mistikus Jerman yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran barat. Dalam usahanya untuk memahami Allah, ia tidak begitu berharap pada spekulasi-spekulasi teologi dan metafisika, tetapi ia menaruh perhatian besar pada interpretasi atas pengalaman-pengalaman mistik.