Wednesday, November 14, 2018

Usia Lanjut

Aku ingin engkau benar-benar sadar bahwa kematian itu bukanlah akhirnya. Dalam semesta, tidak ada yang mulai dan tidak ada yang berakhir. Lihat saja di sekitar ... malam hari bukanlah akhir, juga pagi hari bukanlah awal. Pagi bergerak menuju malam dan malam bergerak menuju pagi hari. Semuanya hanya bergerak ke dalam berbagai bentuk.

Tidak ada awal dan tidak ada akhir.

Mengapa itu harus sebaliknya dengan manusia? - manusia bukan pengecualian. Dalam gagasan menjadi luar biasa ini, dalam merasa menjadi lebih istimewa daripada hewan-hewan lain dan pepohonan dan burung-burung, manusia telah menciptakan nerakanya sendiri, rasa takutnya. Gagasan bahwa kita adalah makhluk luar biasa, kita adalah manusia, telah menciptakan sebuah kerenggangan antara dirimu dan semesta. Kerenggangan itu menyebabkan semua ketakutan dan kesengsaraanmu, menyebabkan kegelisahan dan kecemasan yang tidak perlu di dalam dirimu.

Monday, November 12, 2018

Akal dan Jiwa (Bagian III)

Sejumlah alternatif bagi dualisme telah dibahas oleh para filsuf. Di satu sisi adalah materialisme yang menolak sama sekali eksistensi akal (dan jiwa). Kaum materialis percaya bahwa kondisi dan cara kerja mental sama saja dengan kondisi dan cara kerja fisik. Dalam bidang psikologi, materialisme menjadi apa yang dikenal dengan behaviorisme, yang menyatakan bahwa semua manusia berperilaku secara mekanis murni dalam merespon stimulus eksternal. Di sisi lainnya adalah filsafat idealisme yang menegaskan bahwa alam fisik itu tidak ada, segala sesuatu adalah persepsi.

Tampaklah bahwa teori dualis tersebut jatuh ke dalam perangkap pencarian akan substansi (akal) untuk menjelaskan apa sebenarnya konsep abstrak itu, bukan obyek. Dorongan untuk mereduksi konsep abstrak menjadi sesuatu tampak jelas sepanjang sejarah sains dan filsafat, yang diilustrasikan melalui konsep-konsep kacau semacam phlogiston, teori cairan panas, eter yang bersinar terang dan daya-kehidupan. Dalam semua kasus ini, fenomena yang bersatu membutuhkan penjelasan dalam kaitannya dengan energi atau bidang yang abstrak semacam itu.

Akal dan Jiwa (Bagian II)

Sebelumnya telah dikatakan bahwa wujud akal lain selain akal kita sendiri hanya dapat disimpulkan melalui analogi. Jika seseorang mengajukan pertanyaan: “Bagaimana saya tau bahwa Felix memiliki akal?” jawabannya hanya: “Saya memiliki akal, Felix berperilaku seperti saya, berbicara seperti saya, mengaku memiliki akal seperti saya, maka saya berkesimpulan, dia memiliki akal seperti saya.” Akan tetapi, penalaran ini sama-sama dapat diterapkan, baik pada mesin maupun pada manusia. Karena Anda tidak pernah dapat menduduki akal manusia lain dan mengalami kesadaran mereka secara langsung, setiap asumsi tentang akal yang dimiliki oleh orang lain pasti hanya merupakan sebuah keyakinan. Jadi, jawaban atas pertanyaan “dapatkah mesin berpikir?” adalah bahwa tak seorang pun memiliki alasan untuk menempatkan manusia lebih tinggi di atas mesin atas dasar performa (dalam tugas intelektual tertentu) yang hanya merupakan kriteria eksternal yang dilakukan seorang untuk menilai pengalaman ‘internal’ mesin. Jika mesin dibuat dapat merespons dengan cara yang sama seperti manusia terhadap semua pengaruh eksternal, maka tidak ada alasan yang dapat diamati untuk mengklaim bahwa mesin tidak berpikir, atau tidak memiliki kesadaran. Lebih jauh, jika berpendapat bahwa anjing berpikir, atau laba-laba dan semut memiliki kesadaran dasar, maka komputer yang ada saat ini pun dapat dipandang sadar dalam pengertian terbatas.

Akal dan Jiwa (Bagian I)

Apapun perbedaan pendapat orang-orang tentang hakikat Tuhan, saya yakin tak ada satupun agama yang mengajarkan bahwa Tuhan hanyalah sekadar akal (atau sudah ada tapi saya yang tidak tahu?). Tapi karna manusia –bahkan hewan dalam batasan tertentu– punya akal, maka Tuhan pun pasti memiliki akal, yang lebih besar dari siapapun, karna Tuhan (katanya) adalah wujud tertinggi. Akan tetapi, apakah akal itu?

Menurut Wikipedia, akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal maupun informal, dari manusia pemiliknya. Akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah. Kelanjutannya bisa Anda baca di http://id.wikipedia.org/wiki/Akal.

Meskipun pengertian akal di wikipedia tersebut menurut saya sudah cukup bagus, namun masih banyak hal ruang kosong yang bisa diisi dengan berbagai macam pertanyaan di sana. Pertanyaan tentang apa itu akal tidak pernah basi. Sudah dan selalu diperdebatkan oleh teolog dan filosof sejak lama. Namun dewasa ini studi tentang akal telah masuk dalam wilayah sains, melalui psikologi dan psikoanalisis. Dan lebih belakangan lagi masuk dalam riset otak, penghitungan dan apa yang disebut ‘kecerdasan artifisial‘. Hanya akal yang memiliki pengalaman langsunglah yang diasosiasikan dengan otak. Secara sederhana, akal menempati otak. Namun tak seorangpun menegaskan bahwa Tuhan, atau jiwa yang telah pergi, memiliki otak. Apakah akal yang benar-benar terpisah dari alam fisik memiliki makna? Apakah akal dapat hidup sesudah mati?

Saturday, November 10, 2018

Apakah Kesadaran Nilainya Lebih Tinggi dari Pada Cinta?

Puncak tertinggi adalah titik tertinggi dari semua nilai: kebenaran, cinta, kesadaran, keaslian, totalitas. Pada puncak tertinggi mereka tidak dapat dipisahkan. Mereka terpisah hanya di lembah gelap dari ketidaksadaran kita. Mereka terpisah hanya ketika mereka tercemar, bercampur dengan hal-hal lain. Saat mereka menjadi murni mereka menjadi satu; semakin murni, semakin dekat mereka satu dengan yang lain.

Misalnya, setiap nilai ada dalam banyak tingkat; setiap nilai adalah tangga dari banyak anak tangga.

Cinta adalah nafsu - anak tangga terendah, yang menyentuh neraka; dan cinta juga doa - anak tangga tertinggi, yang menyentuh surga. Dan di antara keduanya ada banyak tingkat yang mudah dilihat.

Dalam nafsu, cinta hanya satu persen; sembilan puluh sembilan persen adalah hal-hal lain: kecemburuan, pembesaran ego, kepemilikan, kemarahan, seksualitas. Nafsu lebih bersifat fisik, lebih bersifat kimia; ia tidak memiliki sesuatu yang lebih dalam dari itu. Nafsu itu sangat dangkal, bahkan tidak sedalam kulit.

Apa yang Terjadi Di Pesantren Rumi?

'Janganlah engkau menghakimi ...' Tidak perlu menghakimi. Apa pun yang sedang terjadi, terimalah itu. Apa pun yang sedang dilakukan orang-orang lain, mereka harus melaluinya. Ada satu metode untuk semua kegilaan itu di sini, itu sangat metodologis. Engkau hanya tetap diam, tanpa menilai.

Suatu kali pernah terjadi:

Seorang mistikus Sufi besar, Jalaluddin Rumi, dulu tinggal dengan seratus muridnya di sebuah pesantren. Beberapa pelancong datang. Pesantren itu jauh dari kota mana pun, bahkan jauh dari jalanan mana pun, tetapi orang-orang menjadi tertarik - orang-orang yang penasaran bisa pergi ke mana saja: mereka (bahkan sudah) pergi ke bulan. Orang yang penasaran adalah orang yang ingin tahu, mereka bisa pergi ke mana saja. Mereka menjadi penasaran dan mereka pergi ke sana. Pesantren itu jauh dari kota-kota, di luar jalan raya, tetapi mereka mengatasi semua kesulitan dalam perjalanan dan mereka mencapai padang pasir. Pintu-pintu pesantrennya tidak tertutup - karena Rumi tidak pernah berpikir bahwa siapa pun akan datang dari jauh - sehingga mereka dapat melihat apa yang terjadi di dalam ...

Seseorang sedang tertawa dengan keras, liar, seseorang sedang menari, seseorang sedang bernyanyi, seseorang berdiri di atas kepalanya, orang-orang sedang melakukan seribu satu hal - dan Jalaluddin Rumi sedang duduk di tengah-tengah semuanya itu, hening, dengan mata tertutup.

Buddha dan Cerita yang Indah Tentang Kematian

Seorang wanita kehilangan putranya; hanya beberapa hari yang lalu suaminya juga meninggal. Kissa Gautami adalah namanya dan sekarang putra satu-satunya telah meninggal. Dia dalam keadaan sangat putus asa, tentu saja; anaknya adalah harapan satu-satunya. Buddha sedang berada di kota; orang-orang berkata, ”Janganlah menangis dan janganlah bersedih. Kenapa engkau tidak membawa anakmu kepada Buddha? Dia penuh belas kasih, dia mungkin menghidupkan kembali putramu.”

Wanita itu bergegas dengan membawa mayat anaknya. Buddha memandang wanita itu, mengatakan kepada wanita itu untuk menempatkan anak wanita itu di hadapan Buddha dan berkata kepadanya, “Ya, Aku akan menghidupkan kembali dia, tetapi engkau harus memenuhi satu syarat.”

Wanita itu berkata, “Aku siap untuk memberikan bahkan hidupku. Katakanlah kondisi apapun dan aku akan memenuhinya.”

Buddha berkata, “Ini adalah kondisi yang sederhana, Aku tidak pernah meminta kepada seseorang persyaratan besar, hanya persyaratan kecil, ini adalah hal yang sangat sederhana. Engkau hanya perlu pergi ke kota dan membawa beberapa biji mustard. Hanya ingat satu hal: Biji mustard haruslah berasal dari sebuah rumah yang dimana tidak seseorang pun pernah mati disana.”

OSHO Terkasih, Bagaimana Gagasanmu Tentang Surga?

Tidak ada surga dan tidak ada neraka. Mereka bukan geografis, mereka adalah bagian dari psikologismu.

Mereka bersifat psikologis.

Untuk menjalani kehidupan spontanitas, kebenaran, cinta dan keindahan adalah hidup di surga.

Untuk hidup dalam kemunafikan, kebohongan dan kompromi, untuk hidup sesuai dengan orang lain, adalah hidup di neraka.

Hidup dalam kebebasan adalah surga, dan hidup dalam perbudakan adalah neraka.

Engkau dapat menghias sel penjaramu dengan indah, tetapi tidak ada bedanya, itu masih sel penjara.

Dan itulah yang dilakukan orang-orang, mereka terus mendekorasi sel penjara mereka. Mereka memberinya nama-nama yang indah, mereka terus melukisnya, memasang foto-foto baru di dinding, mengatur perabotan dengan cara baru, membeli lebih banyak barang - tetapi mereka tinggal di penjara.

Dalam Pertanyaan "Siapakah aku"? Apakah Maksudnya "Aku"? Apakah Itu Berarti Esensi Kehidupan?

"SIAPAKAH AKU?" BUKANLAH BENAR-BENAR PERTANYAAN karena tidak memiliki jawaban; itu tidak dapat dijawab. Ini adalah perangkat ( device : metode yang dibuat untuk tujuan tertentu), bukan pertanyaan. Itu digunakan sebagai mantra. Ketika Engkau terus bertanya di dalam diri, "Siapakah Aku?

Siapakah Aku?" Engkau tidak menunggu jawaban. Pikiranmu akan menyediakan banyak jawaban; semua jawaban itu harus ditolak. Pikiranmu akan berkata, "Engkau adalah esensi kehidupan. Engkau adalah jiwa yang kekal. Kamu Ilahi," dan seterusnya dan seterusnya. Semua jawaban itu harus ditolak: NETI NETI - orang harus terus berkata, "Bukan ini atau itu."

Ketika Engkau menyangkal semua jawaban yang mungkin pikiran dapat sediakan dan rancang, ketika pertanyaan itu tetap benar-benar tidak dapat dijawab, keajaiban terjadi: tiba-tiba pertanyaan itu juga menghilang. Ketika semua jawaban telah ditolak, pertanyaannya tidak memiliki alat penopang, tidak ada pendukung di dalam untuk berdiri lagi. Ini hanya roboh , itu ambruk, itu menghilang.

Agama Sesungguhnya Tidak Ada Hubungannya dengan Perang ...

AGAMA YANG SESUNGGUHNYA TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN PERANG, AGAMA YANG SESUNGGUHNYA BERHUBUNGAN DENGAN PENCARIAN KEDAMAIAN

Agama-agama terorganisir telah menciptakan banyak perang - sama seperti yang telah dilakukan oleh para politikus. Nama mereka mungkin berbeda... para politikus berperang demi sosialisme, demi komunisme, demi fasisme, demi nazisme; dan agama-agama terorganisir berperang demi Tuhan, demi cinta, demi konsep mereka tentang kebenaran. Dan jutaan orang telah terbunuh disebabkan perang antara Kristen dan Muslim, antara Kristen dan Yahudi, antara Muslim dan Hindu, antara Hindu dan Buddhis. Agama yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan perang, agama yang sesungguhnya berhubungan dengan pencarian akan kedamaian. Namun agama-agama terorganisir tidak tertarik pada kedamaian - mereka hanya tertarik untuk menjadi lebih berpengaruh, lebih dominan.

Aku mengutuk agama-agama terorganisir sama seperti aku mengutuk para politikus - keduanya tidak lain hanyalah urusan politik. Jadi ketika Aku mengatakan kepadamu bahwa orang-orang "beragama" sebaiknya dihormati, dihargai - para politikus sebaiknya pergi menemui mereka untuk meminta saran, meminta pendapat - yang aku maksudkan bukanlah orang-orang dari agama-agama terorganisir; yang aku maksudkan adalah individu-individu "beragama." Dan seorang individu "beragama" bukanlah seorang Hindu, bukanlah seorang Kristen, bukanlah seorang Muslim. Bagaimana mungkin ia bisa menjadi seorang Hindu, bisa menjadi seorang Kristen, bisa menjadi seorang Muslim? Tuhan sendiri bukanlah Hindu, bukanlah Muslim, bukanlah Kristen. Dan seseorang yang telah mengetahui sesuatu yang Ilahi, menjadi terwarnai dengan sifat-sifat ke-Ilahian, menjadi semerbak dengan aroma Ketuhanan.

Thursday, November 8, 2018

The Science of Miracles: Perception Versus Reality

berjalan-di-the-sun-bangun by Deepak Chopra: In its ambition to explain every aspect of the natural world, modern science has sidestepped very few problems.

Some mysteries are so difficult that they defy the scientific method. It’s hard to conceive of experiments that will tell us what happened before time and space emerged, for example. But two mysteries have been consistently sidestepped for decades out of prejudice. One is the nature of consciousness, the other the reality of phenomena loosely categorized as mystical or supernatural.

However, now that there is a burgeoning science of consciousness, fermenting with much theorizing, arguments, and controversies, it may be necessary to solve all kinds of fringe phenomena, in particular miracles, that have long been considered the province of superstition, credulity, and outright fraud. (This is the hardened position of the vocal skeptics’ camp, but their impact on the practice of science is too minimal to deal with here.)

Nothing Is Coincidental—Everything Is Meaningful

by Deepak Chopra, M.D.: The word “synchronicity” has become popular for describing coincidences that seem to come out of nowhere…

You think someone’s name, and a few minutes later the person calls. You want to read a certain book, and without telling anyone, a friend suddenly brings you the book. Synchronicity is defined as a meaningful coincidence, setting it apart from random coincidences that have no meaning, like seeing the same make of car show up at a stoplight.

Coincidence Isn’t the Whole Picture

By making synchronicity special and unusual, however, you might be seeing the picture upside down.  Life is a meaningful experience, but the flood of experiences you might have are too many. Billions of bits of sensory data flood your eyes and ears; endless thoughts fill your head. To bring order out of chaos, you edit reality to suit what you want to see, hear, and think. This edited version is only a small fraction of the whole—and it contains a built-in problem.

Friday, November 2, 2018

Apakah Ilmu Pengetahuan dan Spiritualitas saling Bertentangan Satu sama Lain?

Oleh: Neale Donald Walsch
 
Mari saya mulai dengan mengatakan bahwa pemahaman saya tentang Tuhan “bisa dianggap sesuai dengan paradigma ilmiah” Saya tidak pernah berpikir bahwa sains dan spiritualitas adalah saling eksklusif, atau saling bertentangan satu sama lain.

Apa yang diberitahukan CWG kepada saya adalah menambahkan “sedikit informasi” yang sebelumnya tidak saya miliki dalam pemikiran saya … dan dialog itu tidak membatasi informasinya pada apa yang sepenuhnya dipahami oleh umat manusia, tetapi mengajak saya untuk meluaskan imajinasi saya untuk melihat kemungkinan bahwa mungkin ada sesuatu tentang Tuhan dan tentang Kehidupan yang belum sepenuhnya dipahami oleh manusia … pemahaman yang dapat mengubah segalanya.

Saya pikir satu-satunya perbedaan antara apa yang dikatakan dalam CWG kepada saya tentang Tuhan dan apa yang ilmu pengetahuan katakan kepada kita tentang alam semesta adalah bahwa CWG ( secara lebih luas lagi, Spiritualitas Baru) mengatakan bahwa proses kehidupan telah (dan terus berlanjut) yang secara sadar diciptakan oleh kekuatan dan sumber kebijaksanaan, kesadaran diri, dan niat menuju yang saya gambarkan dalam satu kata sebagai Cinta.

Saya telah sampai pada kesimpulan bahwa energi yang saya rasakan sebagai cinta adalah Esensi utama, atau Energi Murni, yang Tidak Terpisahkan yang bagi beberapa orang (termasuk saya sendiri,) menyebutnya sebagai Tuhan. Saya percaya bahwa Esensi Inti atau Energi Murni ini bertindak dengan maksud dan tujuan – tujuan dan maksud dari setiap elemen yang mampu dipilih oleh kesadaran … dan bahwa tujuan atau tujuan gabungan atau kolaboratif dari Keseluruhan adalah apa yang kita sebut sebagai Tuhan dalam Tindakan.