Monday, October 29, 2012

Teori Darwin Terputus, Manusia Tidak Primitif

Sangat mungkin manusia sudah hidup di Bumi selama juataan tahun, penemuan fosil dan fragmen lainnya menjelaskan bahwa evolusi manusia bukan dari spesis perimitif seperti yang dijelaskan dalam teori Darwin.
Sampai saat ini, masih banyak peneliti yang mendukung teori Darwin yang ‘mungkin’ hanya bertujuan untuk menggapai popularitas dibalik penemuan kerangka manusia kera ataupun spesis primitif. Tapi bisakah kita mengkategorikan manusia yang menggunakan peralatan batu dan api sebagai manusia kera primitif?

Salamology: SAGET “Simple Algorithm of the Grand Evolution Theory”

Oleh: Maryanto
 

Gambar 1: Besar dan arah kecepatan lempeng (V) di suatu tempat di muka bumi relatif terhadap Lempeng Arabia. Skala V di ujung kiri atas gambar (garis= 5 cm/th).  V pinggir Pangea sekitar 7 cm/th. Pangea mencakup 6 dari 7 lempeng besar, satu lempeng lain (Lempeng Pasifik) adalah Panthalassa. Lempeng Pangea seakan awan mirip siklun, dengan Mekah sebagai pusat siklun. Besar kecepatan akan semakin besar bila semakin jauh dari Mekah. Bila jaraknya sama, maka V relatif sama. Arahnya amat teratur, hampir semua searah jarum jam mengelilingi Mekah. Kalau titik relatifnya tidak tengah siklun, misal di pinggir siklun, maka arah dan besar kecepatannya tidaklah akan seteratur itu. Awan siklun pipih lingkaran seakan cakram juga menggambarkan Tatasurya, galaksi semisal Bimasakti, juga alam raya.

Sunday, October 28, 2012

Rahasia Papan Catur

Catur merupakan permainan asah otak yang paling digemari di dunia. Konon permainan pikiran ini telah dikembangkan ribuan tahun yang lalu oleh para Brahmana dari India, meskipun ada pendapat bahwa sebenarnya orang Cinalah yang pertama kali menemukan prinsip dasarnya sebagai suatu permainan dengan matriks bilangan. Tidak kurang kaisar Parsi zaman dahulu pun menjadikan permainan catur diatas papan dengan kotak 8x8=64 tersebut menjadi permainan yang penuh keagungan karena secara tidak sadar manusia diajak untuk mengatur cara menyusun kaidah-kaidah logis, strategi dan juga taktik.

Ketika permainan catu rmemasuki wilayah Arabia Badui, biji catur berbentuk Gajah kemudian diperkenalkan sebagai symbol Dewa Pengetahuan yaitu Ganesha.

Suatu hari seorang Yatim Piatu membuktikan rahasia ketidak sahihan aritmatika-geometri papan catur 8x8=64 karena berhasil membuktikan bahwa 8x8 tidak sama dengan 64.

Tuesday, October 23, 2012

Kosmologi Cantik

Teori medan kuantum menggambarkan bahwa semua benda yang ada merupakan keadaan atau pola dari energy yang terisolasi dan dinamis. Keadaan latar belakang dari energy yang tidak tereksitasi juga disebut hampa kuantum (Quanyum vacuum).

Suatu benda ketika diikat menjadi banyak ikatan (dieksitasi menjadi berbagai energi), akan tampak sebagai manifestasi yang banyak. Semua benda yang ada adalah hasil eksitasi ruangan hampa kuantum, sehingga ruang hampa ada sebagai pusat dari segala benda. Energy ruangan hampa mendasari sekaligus menembus kosmos. Karena diri kita sendiri bagian dari kosmos, energy ruang hampa pasti mendasari dan memasuki diri kita.

Alam Semesta dan Kosmologi

Dr. K.N. Jayatilleke dari Universitas Ceylon mengemukakan pendapatnya sebagai berikut :

“Konsepsi tentang Kosmos (= Alam Semesta) menurut Buddhisme, pada masa-masa awal dari perkembangannya, itu secara essensial, sama dengan konsepsi modern tentang alam semesta. Didalam teks berbahasa Pali, yang sampai di tangan kita, secara aksaranya diceriterakan, terdapat ratusan ribu matahari-matahari, bulan-bulan, bumi-bumi, dan dunia-dunia yang lebih tinggi, yang membentuk sistem dunia tingkatan minor (= kecil); terdapat seratus ribu kali jumlah sistem dunia tingkatan minor, yang membentuk sistem dunia tingkatan medium (= tengah-tengah); dan terdapat seratus ribu kali sistem dunia tingkatan medium yang membentuk sistem dunia tingkatan mayor (= besar).

Didalam terminologi modern, itu tampaknya, apabila satu sistem dunia minor (= culanika loke dhatu), adalah sama dengan sebuah galaxy, yang melalui telescope yang paling baik, dapat kita lihat terdapat kira-kira ratusan juta dunia (matahari, bulan-bulan, dan sebagainya) didalamnya, maka dapat kita renungkan bahwa konsepsi Buddhis tentang sistem dunia-dunia, itu mempunyai kesamaan yang besar dengan keterangan dari ilmu pengetahuan modern.

Mengenal Abdus Salam, Muslim Peraih Nobel Fisika

Dr. Yulduz N. Khaliulin - Moscow

Cendekiawan Pakistan yang terkenal, seorang primadona dari antara para ahli fisika teoritis dari abad yang baru saja lalu, pemenang Hadiah Nobel yaitu Profesor Abdus Salam (1926-1996) secara abadi telah menorehkan namanya di kalangan sains dunia sebagai seorang periset akbar mengenai hukum interaksi partikel nuklir elementer dan strukturnya. Ia telah memberikan kontribusi besar bagi penelitian dan pemahaman dunia yang multi kompleks dan bersifat probabilistik sedemikian rupa dimana ia telah mencapai tingkatan saatnya teori mekanika klasik Newton berakhir dan kaidah-kaidah Phisika Quantum mulai berperan.

Profesor Abdus Salam merupakan salah seorang pencipta dari ‘model standar’ modern dari struktur atom. Konsep paling modern dari fisika teoritis (untuk mana Profesor Abdus Salam beserta dua orang ilmuwan Amerika Serikat yaitu S. Gleshou dan S. Vajnberg mendapat Hadiah Nobel tahun 1979) menghasilkan gambaran konstruksi dari suatu teori yang menggabungkan elektromagnetisme dengan interaksi lemah dari partikel nuklir. Albert Einstein yang terkenal tidak berhasil sepanjang hidupnya untuk menciptakan teori tersebut. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa seorang ilmuwan Muslim telah sampai di tubir pengungkapan kaidah-kaidah fundamental yang berlaku umum baik dalam suatu mikrokosmos atau pun makrokosmos. Kaidah yang ditemukan menjelang abad 21 telah membawa fajar baru dalam pemahaman filosofis Ketunggalan Alam Semesta.

Kecepatan di atas Kecepatan Cahaya

Hasil penelitian yang akan mengejutkan dunia sains dan akan mendobrak hukum fisika yang telah mapan selama lebih dari 100 tahun yaitu dengan ditemukannya partikel yang bisa bergerak dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Laboratotium Organisasi Eropa untuk Reset Nuklir (CERN) GeneVa, Swiss pada hari jum’at tanggal 23 September 2011 waktu setempat telah berhasil menguji kecepatan Neutrino yang keberadaan partikel ini memiliki kecepatan 20 per 1 juta di atas kecepatan cahaya, dengan diletus dari akselerator pengirim CERN Swiss menempuh waktu 60 nanodetik lebih dari pada detector penerima di INFN gua Gran Sasso Laboratori di Italia berjarak 730 Km hasil Laporan OPERA (Oscillation Project with Emulsion-tRacking Appaartus) yang didasarkan pada pengamatan lebih dari 15.000 momen neutrino.

Pemberontakan pada Tuhan Pencipta Alam Semesta

Sains modern telah bergerak menuju deisme yaitu suatu faham yang beranggapan Tuhan berada jauh dari luar alam. Tuhan menciptakan alam dan sesudah alam diciptakan, Tuhan tidak memperhatikan dan memelihara alam lagi. Alam berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan ketika proses penciptaannya. Peraturan-peraturan tersebut tidak berubah-ubah dan sangat sempurna. Tuhan diibaratkan dengan tukang yang mahir membuat jam, setelah jam itu selesai dibuat ia tidak membutuhkan si pembuatnya lagi. Jam itu berjalan sesuai dengan mekanisme yang telah tersusun dengan rapi.

Faham deisme sepakat bahwa Tuhan Esa dan jauh dari alam, serta maha sempurna, sepakat bahwa Tuhan tidak melakukan interfensi pada alam lewat kekuatan supernatural. Tuhan tidak terlibat dengan pengaturan alam. Dia menciptakan alam dan memprogramkan perjalanannya, tetapi Dia tidak menghiraukan apa yang telah terjadi atau apa yang akan terjadi pada alam. Alam dibiarkan berjalan sendiri dan Tuhan hanya melihatnya dari kejauhan sampai alam ini rusak dengan sendirinya. Tuhan pensiun dari pekerjaannya dan tidak punya pekerjaan lagi.

Sumbangan Teori Relativitas untuk Memahami Al-Qur’an

Kita tahu bahwa Teori Relativitas Einstein ada dua macam yaitu teori relativitas khusus dan teori relativitas umum. Berdasarkan teori relativitas khusus menunjukan bahwa kecepatan membuat waktu bersifat relative. Bila suatu benda bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya maka waktu akan mengalami pemoloran atau melambatnya waktu, fenomena ini disebut dengan delatasi waktu, sedangkan teori relativitas umum mempostulatkan bahwa gravitasi membuat waktu menjadi relative. Waktu akan berjalan lebih lambat di daerah yang gravitasinya lebih besar. Inti dari kedua teori ini adalah waktu yang bersifat relative.

Apabila ada manusia yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya atau berjalan di daerah yang gravitasinya lebih besar dari gravitasi bumi misalnya matahari (ini cuma pengandaian) maka waktu akan berjalan lambat begitu pula fungsi biologi dan anatomi tubuhnya serta semua pergerakan yang terkait dengan atom-atom penyusun tubuhnya. Percobaan yang dilakukan di British Nasional Institute of Physics telah menguatkan fakta tersebut, penelitinya John Laverty, mencocokkan dua jam yang menunjukan waktu yang sama (dua jam tersebut memiliki tingkat ketelitian yang optimal, perkiraan kesalahan kira-kira tidak lebih dari 1 detik dalam 300.000 tahun).

Mengapa Tuhan Tidak Bisa Dilihat?


Seorang astronot dan seorang ahli bedah otak pernah berdiskusikan tentang agama, ahli bedah itu seorang Kristen dan seorang astronot orang yang tidak beragama. Sang astronotpun berkata: “Saya pergi keluar angkasa berkali-kali tapi tidak pernah melihat Tuhan dan Malaikat”. Mendengar perkataan seperti itu Sang ahli bedah otakpun berkata: “ Dan aku mengoperasi banyak otak cemerlang namun aku tidak pernah menemukan satu pikiranpun.” Katanya.

Dari perkataan sang ahli bedah otak itu menunjukkan bahwa bukan berarti pikiran itu tidak ada walaupun setiap waktu manusia menggunakan pikirannya tetapi tak pernah sekalipun kita melihat wujud dari pikiran itu sendiri, pikiran bukanlah materi yang terlihat. Andaikata pikiran adalah materi maka pikiran itu bisa dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang paling kecil seperti layaknya benda atau zat. Pisau yang bagaimana yang dapat memecah pikiran kita gak ada tentunya. Begitu juga dengan perkataan sang astronot itu tidak membuktikan kalau Tuhan dan Malaikat tidak ada melainkan tidak terlihat karena bukan materi. Sejauh apapun Astronot menjelajahi ruang angkasa pasti tidak akan pernah menemukan malaikat apalagi Tuhan.

Pola Dasar Alam Semesta

Masalah besar terjadi di dunia fisika pada abad 19 yang hampir-hampir saja fisika mengalami kebuntuan yaitu munculnya fenomena pada radiasi benda hitam yang tidak dapat dipecahkan dengan konsep materi dan gelombang saat itu. Teori pada saat itu seakan mengatakan jika materi ya materi artinya fenomena yang terjadi pada materi , ya memang khasnya materi dan tidak pernah terjadi pada gelombang.

Begitu juga dengan gelombang, gelombang ya gelombang yang artinya fenomena yang terjadi pada gelombang tidak pernah terjadi pada materi, materi mengalami tumbukan sedangkan gelombang mengalami interferensi dan difraksi. Teori fisika klasik yang menganggap bahwa cahaya sebagai gelombang tidak dapat menerangkan spectrum radiasi benda hitam. Dimana fenomena yang ditunjukkan oleh radiasi benda hitam adalah gelombang radiasinya berperilaku seperti materi.

Detik-Detik Penciptaan Alam Semesta/Jagat Raya

Pada sepertiga pertama abad ke 20, para astronom mempertanyakan tentang sumber energy dalam planet dan mengusulkannya sebagai adanya proses terbalik nuklir fussion. Mereka menyebutnya sebagai nuclear fussion yaitu proses terjadi akibat fusi nukler unsure ringan untuk membentuk unsure yang lebih tinggi dalam ukuran nuklirnya.

Pada tahun 1957, empat orang astronom modern yaitu Margaret, Geoffrey Bur Bridge, M.William A-Fowler dan Fred Hoyle. Telah merampungkan pembuatan redaksi teori penciptaan beragam unsure nuklir di dalam bintang (synthesis of the element in star). Berdasarkan teori tersebut para Astronom dapat menafsirkann distribusi relative bagi beragam unsure pada bagian alam semesta yang terlihat. Disamping itu mereka juga bisa menafsirkan perekembangan alam semesta yang terlihat melalui asap yang komposisinya gas hydrogen dan sedikit atom helium, hingga terciptanya alam semesta seperti sekarang ini. Dalam komposisinya terdapat unsure yang paling ringan dan sederhana seperti hydrogen sampai dengan unsure yang paling berat dan rumit strukturnya yaitu Lawrencium, sesuai dengan system yang sangat akurat yang menjelaskan karakter unsure pada tempatnya dalam daftar sirkulasi elemen.

Menuju Batas Alam Semesta

Dengan menggunakan teleskop baru di Observatorium Gunung Wilson, Edwin Hubble dan asistennya, Milton Lasell Humason (1891-1972) menghabiskan malam-malamnya untuk mengamati setiap sudut langit. Dalam waktu singkat Hubble mampu menjejaki bola langit yang berjari-jari 3 juta tahun cahaya yang  mengandung dua puluh galaksi. Tidak puas dengan itu Hubble terus tenggelam dalam petualangan antariksanya, lantas Dia menjejaki bola langit dengan 30 juta tahun cahaya dan 200 galaksi untuk memuaskan apa yang menjadi keinginannya dalam mengarungi antariksa bersama dengan teleskopnya. Hubble terus berlari menuju batas alam semesta tanpa ada yang bisa menghentikannya dan memang harusnya tidak berhenti, hingga Dia berkesimpulan bahwa galaksi diluar bima sakti sebanyak bintang yang ada di dalam bima sakti itu sendiri. Menurutnya ada sekitar 200-300 miliar galaksi lainnya selain bima sakti.

Ekspansi Alam Semesta

Pada tahun 1922 fisikawan Rusia Alexander Friedmann meramalkan alam semesta memuai atau mengalami ekspansi. Menurut Fiedmann galaksi-galaksi juga bergerak kesamping tetapi dengan kecepatan rendah. Ketika alam semesta mengerut tidak semua partikel bertabrakan, ada yang bersimpangan jalan dan saling menjauhi, inilah yang dimaksud dengan jagat raya memuai atau ekspansi alam semesta. Menurut perhitungan,pemuaian alam semesta terjadi antara 5% – 10% dalam satu miliar tahun sekali.

ada 3 bentuk pemuaian atau ekspansi alam semesta model friedmann yaitu :

Model pertama : Alam semesta tidak terhingga dalam ruang yang tidak terbatas. Gravitasi begitu kuat sehingga ruang menggembung mirip permukaan bola dengan 3 dimensi, dan dimensi ke 4 adalah waktu yang rentangannya seperti garis bujur 2 yaitu batas awal dan batas akhir.

Model kedua : Ruang melengkung mirip pelana kuda dan tak terhingga

Model ke tiga : Ruang itu datar dan tidak terhingga dengan laju pemuaian yang kritis.

Ruang dan Waktu yang Dinamis

Ruang-Waktu mempengaruhi cara benda bergerak dan forsanya, sebaliknya ruang-waktu juga dipengaruhi oleh cara benda itu bergerak dan forsanya bekerja. Dengan demikian, ruang – waktu tidak hanya dipengaruhi juga mempengaruhi semua kejadian dalam alam semesta ini, artinya ruang-waktu sangat dinamis atau berubah. Perubahan itu disebut memuai atau mengembang. Berawal dari suatu waktu yang tak terhingga dimasa lalu dan akan berakhir pada suatu waktu yang tak terhingga di masa depan.

Lintasan planet-planet yang lonjong pernah dinyatakan oleh seorang ilmuwan muslim pada abad ke -10 Al-Biruni menyatakan benda-benda angkasa beredar dalam garis lonjong atau elips, Al-Biruni memperkenalkan pengukuran geodetic,menentukan koordinat sejumlah tempat dengan teliti dan cermat dan menetapkan arah kiblat dengan bantuan astronomi dan matematika. Selain itu ia juga menentukan jarak keliling bumi bersama sejumlah ilmuwan lainnya. Para ilmuwan barat menganggap Al-Biruni sebagai salah satu tokoh yang mempunyai pengaruh besar bagi bangsa barat dan ilmu pengetahuan modern.

Alam Semesta yang Memuai

Pada tahun 1750 M telah diketahui bahwa bumi kita berada pada sebuah galaksi yang terdiri dari ribuan bintang yang disebut sebagai Bima Sakti (MilkyWay). Bahkan seorang astronom bernama William Herschel telah mendata posisi dan jarak sejumlah besar bintang. Namun data-data ini baru dapat diterima secara lengkap pada awal abad ke-20, dan pada abad ke-20 diketahui bahwa galaksi kita berbentuk piringan cakram (seperti spiral). Galaksi kita mempunyai garis tengah sekitar seratus ribu tahun-cahaya. Galaksi ini berputar lambat-lambat; bintang-bintang dalam lengan-lengan spiralnya beredar mengitari pusat galaksi sekali dalam tiap beberapa ratus juta tahun. matahari hanyalah sebuah bintang kuning biasa dengan ukuran rata-rata, dan terletak di dekat pinggir dalam dari salah satu lengan spiral galaksi kita itu.

Pada tahun 1924 M, seorang astronom Amerika Edwin Hubble melangkah lebih maju daripada para astronom sebelumnya. Dalam penelitiannya di Observatorium Mount Wilson California, ia melahirkan sebuah gambaran modern tentang alam semesta. Hubble menemukan bahwa Bima Sakti hanyalah satu dari beberapa ratus milyar galaksi yang ada di alam semesta ini, yang dapat dilihat dengan menggunakan teropong modern. Tiap-tiap galaksi berisi beberapa ratus milyar bintang, dan diantara galaksi-galaksi ini terdapat kawasan yang sangat luas yang merupakan ruang kosong. Untuk membuktikan hal ini diperlukan pengukuran untuk menentukan jarak antar galaksi. Edwin Hubble menggunakan metode dengan mengukur kecemerlangan kentara sebuah bintang yang bergantung pada berapa banyak cahaya yang dipancarkan (luminositas) dan jaraknya dari mata kita.

Telaah atas Ruang dan Waktu

Pada zaman klasik, Aristoteles meyakini bahwa keadaan alami suatu benda adalah rihat (diam). Suatu benda bergerak hanya apabila didorong oleh suatu forsa (gaya) atau impuls (dorongan). Aristoteles pun meyakini bahwa sebuah benda berat akan jatuh lebih cepat daripada benda yang lebih ringan, karena tarikan ke arah bumi lebih besar. Semua hukum ini diyakini kebenarannya tanpa perlu sebuah pengecekan melalui pengamatan. Semuanya dihasilkan hanya dengan pemikiran murni semata. Berbeda ketika revolusi ilmiah terjadi, dimana sebuah hukum dapat dinyatakan benar apabila telah didukung dengan hasil pengamatan secara langsung.

Dewasa ini gagasan kita mengenai gerak suatu benda berasal sari Galileo dan Newton. Galileo dalam sebuah percobaannya: menggelindingkan bola-bola yang memiliki bobot berlainan pada sepanjang lereng yang rata. Peristiwa ini serupa dengan jatuhnya benda berat secara vertikal, namun lebih mudah diamati karena kecepatannya lebih rendah. Percobaan ini menunjukkan bahwa tiap bola bertambah kecepatannya dengan laju yang sama, baik bola yang berat ataupun yang lebih ringan. Tentu saja sebuah batu akan jatuh bebas lebih cepat dari bulu, hal ini karena bulu diperlambat oleh gesekan udara. Akan tetapi jika kita menjatuhkan dua batu yang berbeda beratnya―benda yang resistans udaranya tidak besar―mereka akan jatuh dengan laju yang sama. Hukum ini kemudian dikenal sebagai teori Ekuivalensi, yaitu bahwa percepatan (akselerasi) menciptakan gaya (force) dan bahwa massa suatu benda, yang diukur dengan berat benda tersebut di bumi, harus sama dengan massa yang diperoleh dari peristiwa tumbukan benda itu dengan benda-benda lain di manapun di alam semesta, atau manakala ia mengalami percepatan oleh suatu gaya.

Asas Ketidakpastian

Berangkat dari sebuah pernyataan seorang ilmuwan Perancis Marquis de Laplace pada awal abad ke-19, bahwa alam semesta bersifat deterministik. Laplace menyarankan seharusnya ada seperangkat hukum-hukum ilmiah yang akan terjadi dalam alam semesta, dengan cukup mengetahui keadaan lengkap alam semesta pada satu waktu. Bahkan ia mengandaikan adanya hukum-hukum serupa yang mengatur semua hal lain, termasuk tabiat manusia.

Hal ini mendorong seorang ilmuwan Jerman Werner Heisenberg untuk merumuskan asas ketidakpastiannya (1926 M) yang mempunyai implikasi yang sangat signifikan terhadap cara manusia memandang dunia.

Sebelum itu, seorang ilmuwan Jerman lain, Max Planck (1858-1947 M), mengemukakan Teori Kuantum (1900) yang menjelaskan laju pemancaran radiasi dari dalam benda panas dengan sangat memuaskan. Max Planck mengemukakan, bahwa cahaya, sinar-X dan gelombang-gelombang lain tidak dapat dipancarkan dengan laju sewenang-wenang (arbitrer), melainkan hanya dalam paket-paket tertentu yang disebutnya kuantum (jamak: kuanta). Lebih dari itu, tiap kuantum mempunyai kuantitas energi tertentu, yang makin besar dengan makin tingginya frekuensi, sehingga pada frekuensi yang cukup tinggi pemancaran sebuah kuantum tunggal menuntut energi yang lebih besar daripada yang tersedia. Jadi radiasi pada frekuensi tinggi akan dikurangi dan laju hilangnya energi benda itu akan terhingga.

Lahirnya Kosmologi Modern; Hasil Pergulatannya dengan Agama

Kata kosmologi sendiri berasal dari kata Yunani, Kosmos. Kata ini pada masa Yunani Kuno dipakai oleh Pythagoras untuk menggambarkan keteraturan dan keselarasan benda-benda langit. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya kata kosmologi tidak lagi dipakai dalam hal penjelajahan alam semesta, terutama ketika zaman Aristoteles. Langit dijadikan objek pemujaan sebagaimana berlangsung pada masa Babilonia. Yang ada hanyalah bidang astronomi yang mengkaji tentang perhitungan gerak benda-benda langit atau ramal meramal nasib yang merupakan wilayah astrologi, sedangkan aspek langit lainnya merupakan kawasan yang dikuasai oleh teologi.

Setelah itu kosmologi baru muncul kembali dalam karya penting Thomas Aquinas, Summa Theologica. Kemudian pada abad ke-18 Christian Wolff menggunakan kata ini untuk membagi wilayah kajian filsafat. Dalam pengertian Wolff, kosmologi adalah telaah tentang sistem kosmik, yang diselidiki menurut inti dan hakikatnya yang mutlak, baik menurut segi material maupun menurut maknanya. Hal ini berarti bahwa―dalam spekulasi filosofis mengenai kosmos― obyek-obyek kosmologi tidak secara a priori dibatasi pada benda fisika-kimia ataupun biotik (makhluk hidup), melainkan juga manusia dan kosmos sejauh dialami oleh manusia.

Agama versus Sains Modern

Diakui atau tidak, sains modern lahir dan berkembang di dunia Barat. Meski tidak selamanya bahwa Barat adalah Kristen, atau sebaliknya, Kristen adalah Barat, akan tetapi secara umum, Barat modern mengidentifikasikan dirinya sebagai berakar pada tradisi Yunani, Yahudi dan Kristen. Namun, dewasa ini sains modern dan turunannya, teknologi, telah dieksplorasi oleh semua budaya masyarakat di seluruh dunia. Sains modern mampu menggantikan semua cara lain dalam mengeksplorasi dan menggali potensi alam, setidak-tidaknya dalam pengertian praktisnya.

Dampak dari perkembangan sains modern sungguh menakjubkan. Sains modern telah mengubah cara manusia dalam menjalani hidup, berkomunikasi, melahirkan anak, memproduksi bahan makanan, pakaian, dan perumahan serta dalam menjalani berbagai kegiatan rutin dalam kehidupannya sehari-hari. Ini tidak hanya mewarnai kehidupan orang-orang Barat saja, namun keberadaan sains modern telah diakui secara mendunia dan sains modern telah hidup dan menguasai semua lini kehidupan dalam berbagai budaya, seperti budaya Hindu, Cina dan budaya bangsa-bangsa di belahan dunia lainnya, termasuk di dalamnya budaya Islam yang juga turut serta berpartisipasi dengan penuh gairah dalam mengkonsumsi hasil perkembangan sains modern.

Sains Abad Pertengahan hingga Abad Pencerahan

Dalam catatan sejarah, sistem Ptolemaik bertahan selama 13 abad, yaitu dari abad ke-2 Masehi hingga abad abad ke-17 M. Jadi dalam 13 abad tersebut tidak ada penemuan yang cukup signifikan hingga pada penemuan Coeprnicus (1543 M), Kepler (1571-1630 M), Galileo (1564-1642 M), dan Newton (1642-1727 M).

Pada abad ke-18 sains modern melakukan perubahan besar-besaran yang kemudian dikenal sebagai gerakan renaisans. Zaman ini merupakan zaman pencerahan, zaman yang menandai keterpisahan dari masa lampau dengan memusatkan perhatian pada keduniawian dalam skala yang cukup besar.

Pada abad ini, sains tidak hanya bergelut dalam bidang ilmu perbintangan dan kajian tentang fenomena alam, akan tetapi sains menjadi dasar bagi pengembangan teknologi yang riil yang menfokuskan diri pada penemuan masalah kelistrikan dan kemagnetan di satu pihak dan penemuan alat-alat di pihak lain. Ditemukannya mesin uap, mesin pembangkit muatan listrik secara mekanis, kondensor untuk mengumpulkan dan menyimpan muatan listrik, penggunaan tehnik-tehnik baru dalam industri kecil dan lain sebagainya.

Tiga Pilar Kosmologi Standar

Sekarang, kosmologi bukan lagi sekadar teori-teori spekulatif tentang asal-usul, evolusi, komposisi, dan struktur alam semesta ini. Ia sudah merupakan ilmu pengetahuan yang didukung beragam hasil observasi astronomis, juga hasil-hasil eksperimen fisika yang berkaitan. Bahkan, sebagian kalangan ahli kosmologi mengatakan, saat ini adalah eranya kosmologi presisi, yaitu era ketika data-data astronomis melimpah dengan tingkat kepresisian yang semakin tinggi.

Banyak hasil observasi yang mendukung teori-teori yang diajukan. Ada juga yang mengentakkan para ilmuwan, alam semesta ini belum sepenuhnya terpahami. Bahkan mendorong mereka untuk terus menformulasikan aturan-aturan atau teori-teori yang memerikan alam semesta ini.

Salah satu teori yang diajukan untuk menjelaskan alam semesta ini adalah model kosmologi big bang. Model kosmologi ini pertama kali diajukan seorang ilmuwan Rusia, A. A. Friedmann, dan secara terpisah seorang pendeta-ilmuwan Belgia, G. Lemaitre. Model kosmologi yang mereka ajukan merupakan salah satu solusi teori relativitas umum Einstein. Dalam teorinya ini, Einstein menyatakan hubungan kelengkungan ruang-waktu dengan sumber medan yang mengisi ruang-waktu tersebut.

Mengembangkan Akhlak Muhammad Dengan Simbologika

Abstract

Dari Intuisi Ke Logika Dari Logika Ke Intuisi, Modus Trilateral Cara Berpikir Dari Komposisi & Kodefikasi Al Qur’an.

“Knowledge for everyone”
“Vive le open source”

Suatu saat, kira-kira menjelang tragedi Tsunami Aceh di tahun 2004, setelah menamatkan saja buku Kun fa Yakuun yang sudah menjadi 5 buku dengan 1423 halaman, saya menyusun 2 pasangan bilangan 2 dijit. Yang saya  ingat waktu itu memang lagi intens nyepi total, tanpa melakukan aktivitas apapun kecuali menelusuri jejak-jejak Nabi Muhammad  SAW melalui Al Qur’an. Iseng-iseng saya menguraikan susunan bilangan 1234 (ABJD) dengan cara menguraikannya sebagai matriks 2×2 :

1  2

3  4

Cahaya Muhammad: Sinkronisasi Akal dan Wahyu (Qlb)

Abstract

Simbologika sistem bilangan yang mendeskripsikan kecepatan cahaya.

Siapapun yang pernah belajar fisika, pastilah pernah tahu kalau kecepatan cahaya menurut standar ISO itu 299 792 458  m/s. Nilai kecepatan cahaya ini merupakan nilai yang akurat yang dihitung melalui fisika di akhir abad 19 dan abad ke-20. Dalam praktek, seringkali kita membulatkannya jadi 300.000 km per detik. Selain itu, nilai yang dijadikan standar tersebut merupakan hasil yang sudah dicocokkan dengan percobaan empiris.


Saya melakukan sintesis intuitif dengan bilangan kecepatan cahaya tersebut dengan mengkomposisikan ulang susunannya jadi susunan kelompok 3 dijit bilangan. Jadi, saya kelompokkan jadi 299, 792, dan 458. Lantas saya jejerkan ke-3 kelompok bilangan itu menjadi suatu matriks 3×3 sehingga didapat susunan berikut:

Realitas yang Meluas dan Kembali Kepada Diri Sendiri

Oleh: Atmonadi

"Kemudian Dia (Allah) beristawa ke langit, sedangkan langit masih berupa asap (gas),” (Surat Fushilat ayat 11).
“Tidaklah orang-orang kafir tahu bahwasanya langit dan bumi itu dahulu keduanya bersatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya,” (Surat Al Anbiya ayat 30).
Bagaimanakan manusia memahami realitas mulai sejak menyadari simbologi-simbologi elementernya yaitu suatu titik?

Sejak konsep dasar, dimana seluruh ide awal mula dinyatakan dan diekspansikan oleh pikiran manusia, maka terjadi evolusi pemikiran dimana realitas terurai secara parabolik dengan simbologika.

Agama dan Sains, Satu Koin 2 Rupa

Evolusi spiritual menjadi sains merupakan suatu proses pembelajaran bagaimana manusia berubah ketika memandang realitas dari keadaan yang terintegrasi menjadi terurai dan kemudian diintegrasikan kembali di wilayah sains sebagai teori kosmologis yaitu unifikasi teori kuantum dan teori gravitasi kuantum.

Dasar-dasar teori tentang segala sesuatu sebenarnya ada di depan mata kita sebagai suatu teori metafisika yang berhubungan dengan kemampuan manusia melihat, merasakan, merumuskan dan mengaktualisaikan kembali realitas dalam berbagai tingkat pemahamannya masing-masing. Agama dan Sains memang semestinya berhubungan.

Agama dalam terjemahan harfiahnya adalah suatu sarana untuk menyatakan suatu keteraturan dari kekacauan. Asal katanya berasal dari bahasa sansekerta dimana “a” menyatakan “tidak” dan Gama menyatakan “kacau”.

Deciphering "2012"

Oleh: @tmonadi

Belakangan ini, tepatnya sekitar lima tahunan yang lalu, tak lama setelah tsunami membelalakkan mata semua orang di Planet Bumi ini, isu 2012  mencuat ke permukaan. Khususnya di Internet, media distribusi informasi yang saat ini sudah merambah kemana-mana. Disebut kemana-mana karena sekarang ini mobile device sudah lebih mampu beradaptasi dengan internet dan lebih murah dan terjangkau harganya. Akibatnya akses informasi di masyarakat semakin mudah dan cepat meluas. Belum lagi pemberitaan yang gencar atas suatu peristiwa menyebabkan percepatan sebaran informasi. Baik informasi itu gosip atau suatu informasi yang bernilai.

2012 merupakan isu yang paling hangat diomongkan orang saat ini. Maklum saja, film berhudul “2012” mulai diputar pekan ini di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, khususnya di Jakarta dimana gosip berkembang biak bagai virus. Karena itu jangan heran kalau segala macam orang mulai ngomong soal 2012, baik orang awam, dukun, ustad, ilmuwan, dan tentu saja saya yang beberapa bulan yang lalu sudah membaca bukunya dan resensinya sudah saya terbitkan pula di blog saya.

Monday, October 22, 2012

Kosmologi Baru Implikasinya dalam Religiusitas

Oleh: Hardiansyah Suteja
 
Abstrak

Dalam perkembangan teori kosmologi mutakhir, yang salah satunya adalah Big Bang, sebagian besar kalangan beragama serta beberapa saintis melihat hal ini sebagai suatu tanda afirmatif tradisi penciptaan berbasis Kitab Suci (Scriptures). Di saat sama, pada pihak lain, tidak sedikit menegaskan bahwa perkembangan kosmologi serta disiplin astronomi beserta turunannya tidak serta merta membenarkan penciptaan semesta oleh Tuhan. Paper berikut akan menyorot pro dan kontra yang mengitari dan membrojol (emerged) pada perkembangan mutakhir kosmologi serta implikasinya bagi keberagamaan (religiosity).

Energi Gelap (Dark Energy) Dalam Model Standar Kosmologi Baru


Dengan perkembangan terbaru dari berbagai hasil pengamatan ini, kita memiliki model kosmologi baru yang merupakan model standar kosmologi (hot big bang) yang diperluas.

Model standar kosmologi baru itu memiliki karakteristik:
  • Alam semesta dengan geometri datar (flat) dengan parameter densitas Ω = 1.0023 ± 0.0055 (dari data satelit Wilkinson Microwave Anisotropy Probe — WMAP), dan sedang dalam keadaan berekspansi dipercepat
  • Alam semesta mengalami proses inflasi (ekspansi yang bersifat eksponensial) dalam waktu amat singkat, pada saat usia semesta dini
  • Inhomogenitas densitas yang menjadi cikal bakal struktur dalam alam semesta, berasal dari fluktuasi kuantum yang terbawa ke skala makro selama masa inflasi
  • Komposisi alam semesta terdiri dari (WMAP Jan 2010): (72.8 ± 0.5) % energi gelap (dark energy), (22.7 ± 1.4) % materi gelap nonbaryonik (nonbaryonic dark matter), dan (4.56 ± 0.16) % baryon

Kosmologi Filsafat

Ruang Lingkup Kosmologi Filsafat

Kosmologi berasal dari kata Yunani “kosmos” dan “logos”. “Kosmos” berarti susunan, atau ketersusunan yang baik. Lawannya ialah “khaos”, yang berarti “kacau balau” (Bakker, 1995: 39). Sedangkan “logos” juga berarti “keteraturan”, sekalipun dalam “kosmologi” lebih tepat diartikan sebagai “azas-azas rasional” (Kattsoff, 1986: 75). Dalam sejarah filsafat Barat, tercatat Phytagoras (580 – 500 SM) merupakan orang yang pertama kali memakai istilah “kosmos” sebagai terminologi filsafat. Bahkan dalam tradisi Aristotelian, penyelidikan tentang keteraturan alam disebut sebagai “fisika” (bukan dalam pengertian modern), dan filsafat Skolastik memakai nama “filsafat alami” (philosophia naturalis) untuk menyebut hal yang sama (Bakker, 1995: 40).

Istilah “kosmologi ”(cosmology) dipakai pertama kali oleh Christian von Wolff dalam bukunya “Discursus Praeliminaris de Philosophia in Genere” tahun 1728, dengan menempatkannya dalam skema pengetahuan filsafat sebagai cabang dari “metafisika” dan dibedakan dengan cabang-cabang metafisika yang lain seperti “ontologi”, “teologi metafisik”, maupun “psikologi metafisik” (Munitz, dalam Edward, ed., 1976: 237). Dengan demikian, sejak “klasifikasi Christian”, “kosmologi” dimengerti sebagai sebuah cabang filsafat yang membicarakan asal mula dan susunan alam semesta; dan dibedakan dengan “ontologi” atau “metafisika umum” yang merupakan suatu telaah tentang watak-watak umum dari realitas natural dan supernatural; juga dibedakan dengan “filsafat alam” (The philosophy of nature) yang menyelidiki hukum-hukum dasar, proses dan klasifikasi objek-objek dalam alam (Runes, 1975: 68-69). Namun demikian, walau secara definitif “kosmologi” dibedakan dengan “ontologi” maupun “filsafat alam”, pemilahan yang tegas dalam analisis konseptual antara ketiga bidang tersebut merupakan suatu usaha yang sulit dikerjakan, mengingat objek material dan objek formal yang hampir sama.

Wednesday, October 17, 2012

Asal-Usul Teori Evolusi

Dalam komentarnya terhadap The Descent of Man, karya Charles Darwin, modernis Arab, Jamaluddin al Afghani mengatakan bahwa “Abu Bakar ibnu Bashrun dalam karyanya mengenai alkimia menyatakan bahwa mineral berubah menjadi tanaman, dan tanaman menjadi hewan, dan bagian terakhir dari perubahan ini dan menjadi puncaknya adalah manusia. Bila ini adalah basis teori evolusi, maka para ilmuan Arab telah lebih dahulu menyatakannya sebelum Darwin.”

Beberapa penulis Arab memang telah tiba pada konsep evolusi; Usman Amar al Jahiz (wafat 869) dan Abu al Hasan Ali al Masudi (wafat 956) mengajukan evolusi “dari mineral ke tanaman, dari tanaman ke hewan, dan dari hewan ke manusia.” Al Masudi diusir dari Baghdad, mungkin karena mengajukan gagasan seperti ini.

Dalam bidang Zoologi, biologiwan Arab mengembangkan berbagai teori evolusi. John William Draper mengatakan bahwa teori evolusi versi Arab berkembang jauh lebih mendalam daripada kita karena meluas hingga ke abiogenesis, menuju ke mahluk inorganik atau mineral. Menurut Al Khazini, gagasan evolusi meluas diantara masyarakat di dunia Arab pada abad ke-12 dan diajarkan di sekolah-sekolah masa itu.

Kesurupan

Individu dan kelompok sekuler, skeptik dan liberal yang tidak percaya adanya setan dan jin percaya kalau kesurupan hanyalah masalah mental dan fisik.

Sedikit yang mencoba mendalami lebih jauh masalah ini. Tapi apakah hal ini memiliki basis di kenyataan?

Kesurupan bagi mereka disebabkan oleh:

1. Gangguan otak, seperti sindrom Gilles de la Tourette, epilepsi, gangguan identitas disosiatif atau
2. Penyakit mental, seperti schizophrenia, psikosis, histeria, mania, atau
3. Orang yang otaknya kurang lebih sehat tapi sayangnya tersedot dalam permainan peran sosial dengan konsekuensi yang sangat tidak nyaman, seperti remaja yang hanya dapat mengatakan hal-hal tabu jika ia kesurupan.

Kesadaran

Apa itu kesadaran? Tidak ada satu definisi yang cukup untuk konsep yang demikian sulit, namun kita dapat menyatakan kesadaran sebagai kewaspadaan diri dan refleksi diri, kemampuan merasakan sakit atau senang, sensasi merasa hidup dan menjadi manusia, segala yang lewat melalui pikiran.


Menurut Psikolog Steven Pinker, kesadaran adalah pertanyaan besar dan sulit.

Apa yang ada bukanlah satu masalah tentang kesadaran tetapi dua, yang, dikatakan filsuf David Chalmers sebagai masalah mudah dan masalah susah. Dikatakan mudah seperti mudahnya manusia mencari usaha menyembuhkan kanker atau mengirim manusia ke Mars. Sedikit banyak ilmuan tahu apa yang dicari, dan dengan kemampuan dan dana yang cukup, kita dapat memecahkannya di abad ini.

50 Buku Sains dan Filsafat Populer untuk Abad 21

Salah satu masalah dalam buku sains dan filsafat populer (bukan textbook) adalah cepatnya fakta berubah. Buku-buku sains populer usianya pendek dan jika tidak hati-hati menulis, dalam beberapa tahun isinya akan segera kadaluarsa. Hal yang sama juga dihadapi buku filsafat karena semakin banyak relung filsafat yang diungkap sains.

Ini juga mengapa buku sains populer jarang ditemukan di toko buku kita sementara buku filsafat hanya karya-karya klasik. Ketika para penerjemah kita sedang sibuk menerjemahkan karya para profesor faktanya telah diperiksa ulang, dan ketika para penerjemah selesai menerjemahkannya, ia sudah kadaluarsa. Sungguh begitu, ada beberapa buku yang cukup klasik namun argumentasi dan fakta-faktanya masih sangat relevan dengan masa kini.

Berikut Fakil membuat daftar buku sains dan filsafat populer hasil karangan para ilmuan laki-laki yang sekarang sudah tua namun di masa mudanya telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan sains.

Walaupun fakta ilmiah terus berubah dan diperbaiki, fakta-fakta ilmiah yang digambarkan dalam buku-buku ini relatif tetap dan terus konsisten dengan perkembangan zaman. Kami rekomendasikan anda untuk membeli dan membacanya.

Masalah Probabilitas dalam Debat Evolusi

Kreasionis mengklaim kalau protein yang dibutuhkan untuk kehidupan sangat kompleks. Kemungkinan kalau bahkan satu molekul protein terbentuk secara kebetulan adalah 1 berbanding 10^113, padahal ada ribuan protein berbeda dibutuhkan untuk membentuk kehidupan.

Sebenarnya argumen ini dibuat berdasarkan empat asumsi. Keempat asumsi ini harus dibuktikan benar, sebelum argumen probabilitas diajukan. Tapi berikut akan ditunjukkan kalau keempat asumsi tersebut salah:

Filsafat Sains: Saklar

Berikut adalah sebuah diksi sumbangan dari teman. Diksi ini membahas tentang filsafat biologi. Aslinya, diksi ini diterbitkan dalam jurnal komunitas Verstehn Bandung, edisi ke-7 yang baru terbit bulan lalu.

Larut telah malam dibalik jendela hitam di sudut atas sel sesak ini. Retak-retak dinding merayap seolah akan melilit tiap insan yang terguling dan meringkuk sendu di sel penjara. Aku baru saja ditendang ke dalam sel ini dan bergabung dengan para terkurung. Dan seperti mereka, akupun meringkuk dengan menempelkan tulang belakangku di dinding. Bedanya, pandanganku tak kosong seperti mereka. Mataku bertanya, kenapa aku bisa ada di sini.

Sembilan ratus ribu tahun lalu, orang seusiaku berlarian di padang rumput sambil memikul tombak bermata batu. Di atas kepala bukan dinding datar yang kejam, tetapi langit cerah dengan hamburan birunya. Orang seusiaku saat itu berkejaran bersama tak peduli onak dan sengat. Tujuan kami satu, seekor kijang malang yang tersesat di rerimbunan lalang. Tak peduli ia masih muda, satu persatu tombak menusuk tubuhnya dan orang seusiaku pulang bersama-sama. Seandainya aku di sana, aku tentu bergembira di depan kekasihku. Menatap matanya sambil mengangkat tanduk rusa. Aku yang pertama menikamnya, aku sang pejantan.

Tapi sekarang eksplosivitas itu berubah. Terima kasih atas warisan genetik dari mereka di masa lalu, aku sekarang dihukum karena berbuat seperti itu. Memang yang kutikam bukan kijang, yang kutikam adalah manusia yang kubenci, tapi sekarang tak ada kijang lagi. Lagi pula, kekasihku tidak menyukainya. Kekasihku sangat ingin ia tidak ada di dunia. Aku memuaskan nafsu kekasihku. Tapi bukan pujian yang kuperoleh, yang kudapat adalah rantai panas di kaki.

Awal Alam Semesta: Kacau

Instrumen matematika terbaru kembali menunjukkan bahwa alam semesta kita yang terus berevolusi ini berawal dari kekacauan yang luar biasa.

Tujuh tahun lalu fisikawan Universitas Northwestern, Adilson E. Motter, menduga bahwa perluasan alam semesta pada saat dentuman besar itu sangat kacau. Sekarang ia beserta kolega telah membuktikannya dengan menggunakan argumen matematis yang ketat. Penelitian yang diterbitkan jurnal Communications in Mathematical Physics, melaporkan bahwa tidak hanya kekacauan itu yang mutlak tetapi juga perangkat matematika yang dapat digunakan untuk mendeteksinya. Bila diterapkan pada model yang paling diterima untuk evolusi alam semesta, perangkat ini menunjukkan bahwa awal alam semesta adalah kacau.

Beberapa hal adalah mutlak. Kecepatan cahaya, misalnya, adalah sama bagi setiap observer dalam ruang kosong. Lainnya adalah relatif. Pikirkan kerlipan merah-biru pada sirene ambulans, yang bergerak dari tinggi ke rendah saat melewati observer. Permasalahan lama dalam fisika adalah menentukan apakah kekacauan – fenomena dengan kejadian kecil yang menyebabkan perubahan sangat besar dalam evolusi waktu dari sebuah sistem, seperti alam semesta – adalah absolut atau relatif dalam sistem yang diatur oleh relativitas umum, di mana waktu itu sendiri adalah relatif.

Model Standar – Apa yang paling mendasar ?

Mungkin pembaca pernah dengar yang dinamakan LHC atau Large Hadron Collider yang ada di CERN. Sebenarnya apa sih yang mereka cari? kenapa pencarian partikel itu penting untuk kemanusiaan dan menjawab tentang misteri alam. Oke disini anda akan saya bawa ke dalam seri model standar.

Pertanyaan Abadi yang Selalu Ditanyakan

Mungkin sejak hadirnya manusia modern di bumi, manusia sudah sejak lama memiliki pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kekal maksudnya hampir selalu ditanyakan, paling tidak satu kali dalam hidupnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti :
Dunia (segala sesuatu yang ada termasuk alam semesta ) ini terbuat dari apa?
Yang menyatukan dunia ini apa?
Apa bahan penyusun dunia ini?

Patung pahatan seniman Rodin, judulnya the Thinker

Bisakah Tidak Ada menjadi Ada?

“Sesuatu itu harus diciptakan dari ketidak adaan. Bila anda mencoba menciptakan sesuatu dari yang ada, maka anda hanya mengubahnya. Jadi untuk menciptakan sesuatu anda harus mampu menciptakan ketidak adaan.” – Werner Erhard

Pertanyaan ini akan dibahas bukan secara filsafati atau teologis, namun secara fisika. Dalam fisika, dapatkah anda mendapatkan sesuatu dari ketidak adaan? Dan jika bisa, apa yang bisa dan tidak bisa anda dapatkan?

Jawabannya ya, dan ada banyak cara. Faktanya, dalam banyak cara, mendapatkan sesuatu dari ketiadaan itu tidak dapat dihindarkan! (Walaupun tidak harus mendapatkan apapun yang anda inginkan.)

Sebagai contoh, ambil sebuah kotak dan kosongkan isinya, jadi apa yang anda miliki sekarang adalah ruang yang kosong total. Sebuah vakum yang ideal, sempurna dan kosong. Sekarang, apa yang ada dalam kotak tersebut?

Apakah menurut anda ketidak adaan? Tidak, ruang kosong tidaklah mungkin bisa benar-benar kosong.

Kamera Digital Paling Tajam di Dunia, Menangkap Gambar Pertama dalam Melacak Energi Gelap

"Dark Energy Survey akan membantu kita memahami mengapa ekspansi alam semesta mengalami percepatan, bukannya melambat karena gravitasi."

Delapan miliar tahun yang lalu, sinar cahaya dari galaksi-galaksi jauh memulai perjalanan panjangnya menuju bumi. Kamera Energi Gelap, mesin pemetaan luar angkasa yang paling kuat yang pernah diciptakan, yang dibangun di puncak gunung di Chile, telah berhasil menangkap dan merekam sinar cahaya purba tersebut untuk pertama kalinya.

Cahaya itu mungkin menyimpan jawaban bagi salah satu misteri terbesar dalam dunia fisika – mengapa ekspansi alam semesta mengalami percepatan.

Para ilmuwan dalam kolaborasi Dark Energy Survey internasional minggu ini mengumumkan bahwa Kamera Energi Gelap, produk hasil dari perencanaan dan konstruksi selama delapan tahun oleh para ilmuwan, insinyur, dan teknisi di tiga benua, telah mencapai cahaya pertamanya. Gambar-gambar pertama dari luar angkasa selatan diambil dengan kamera berkekuatan 570 megapiksel pada tanggal 12 September.

“Pencapaian cahaya pertama melalui Kamera Dark Energi ini memulai era baru yang signifikan bagi eksplorasi kita terhadap perbatasan kosmik,” kata James Siegrist, direktur asosiasi ilmu fisika energi tinggi dengan Departemen Energi Amerika Serikat. “Hasil survei ini akan membawa kita lebih dekat dalam memahami misteri energi gelap, dan apa artinya bagi alam semesta.”

Tim Ilmuwan Menemukan Bagaimana Keteraturan Tercipta dari Pergerakan Acak Partikel dalam Kosmos

"Medan-medan ini membantu membentuk arus, dan kemungkinan berperan bersama gravitasi dalam mendukung pembentukan sistem tata surya, yang akhirnya dapat mengarah pada terbentuknya planet seperti bumi."

Salah satu misteri yang tak terpecahkan dalam ilmu pengetahuan kontemporer adalah bagaimana struktur-struktur yang sangat terorganisir dapat muncul dari pergerakan partikel yang acak. Hal ini berlaku pada banyak situasi mulai dari objek-objek astrofisika yang membentang selama jutaan tahun cahaya hingga pada lahirnya kehidupan di bumi.

Penemuan mengejutkan akan adanya medan elektromagnetik yang mengorganisir-diri pada gas terionisasi (juga dikenal sebagai plasma) akan memberi cara baru bagi para ilmuwan untuk mengeksplorasi bagaimana keteraturan muncul dari kekacauan di dalam kosmos. Temuan ini dipublikasikan secara online dalam jurnal Nature Physics, 30 September.

Iman Pada Teori Fisika: Tafsir Multijagad Mekanika Kuantum

Berikut adalah sumbangan dari teman. Aslinya tulisan ini diterbitkan dalam buletin komunitas Verstehn Bandung edisi ke-sepuluh

Untuk memahami alam semesta dan segala mekanismenya, manusia mengembangkan teori-teori fisika.  Teori fisika memberikan penjelasan berdasarkan rasio empiris yang dimiliki manusia.

Pada dasarnya, teori fisika terdiri dari dua unsur, yaitu bagian formal dan bagian interpretif (Everett, 1973:133). Bagian formal mencakup struktur yang murni logika matematika. Struktur ini disebut pula model matematika. Manusia mengabstraksi alam menjadi seperangkat persamaan-persamaan dan aturan logika untuk memanipulasi persamaan tersebut. Sebuah konsep yang ditarik dari alam dibentuk menjadi simbol dan direkayasa sesuai aturan berpikir jernih sehingga diperoleh konsekuensi-konsekuensi. Bagian interpretif mencakup seperangkat asosiasi antara model matematika dengan pengalaman duniawi. Artinya, konsekuensi yang didapatkan dari aturan bernalar kemudian di kembalikan ke alam untuk diuji kebenarannya. Aturan ini berbentuk semantik yang mengkaitkan bahasa teori formal dengan bahasa hidup sehari-hari (Frank, 1946:3-4). Tulisan ini akan menunjukkan kalau terdapat beberapa teori dalam fisika pada dasarnya dibangun bukan oleh pembuktian tersebut, namun berdasarkan keimanan. Lebih lanjut, juga ditunjukkan kalau setidaknya dalam kasus tafsir multijagad, teori yang dipercaya secara dogmatis tersebut berhasil ditunjukkan, secara tidak langsung, berdasarkan perkembangan teknologi kemudian.

Monday, October 15, 2012

Mengenal Teori Quantum

Sumber: Michio Kaku, “Dunia Paralel” 

Teori quantum didasarkan pada ide bahwa semua kemungkinan peristiwa memiliki probabilitas untuk terjadi, tak peduli seberapa fantastik atau pandirnya peristiwa itu. Ini, pada gilirannya, terletak di jantung teori alam semesta berinflasi—ketika big bang awal terjadi, terdapat transisi quantum menuju status baru di mana alam semesta tiba-tiba berinflasi luar biasa besar. Keseluruhan alam semesta kita, kelihatannya, muncul dari lompatan—yang sangat tidak mungkin—quantum. Walaupun Adams menulis dengan bergurau, kita fisikawan menyadari bahwa bila kita bisa, dengan suatu cara, mengendalikan probabilitas-probabilitas ini, seseorang bisa melakukan perbuatan luar biasa yang tidak dapat dibedakan dari sulap. Tapi untuk saat ini, pengubahan probabilitas peristiwa berada jauh di luar jangkauan teknologi kita.

Saya terkadang mengajukan pertanyaan sederhana kepada mahasiswa Ph.D. kami di universitas, seperti misalnya, kalkulasikan probabilitas bahwa diri mereka akan tiba-tiba lenyap dan mewujud kembali (rematerialize) di sisi lain sebuah dinding batu bata. Menurut teori quantum, terdapat probabilitas kecil, namun dapat dikalkulasi, bahwa ini bisa terjadi. Atau, sebetulnya, bahwa kita akan lenyap di ruang tinggal rumah kita dan berakhir di Mars. Menurut teori quantum, seseorang pada prinsipnya dapat secara tiba-tiba mewujud kembali di planet merah tersebut. Tentu saja, probabilitasnya begitu kecil sehingga kita harus menanti lebih lama dari umur alam semesta. Alhasil, dalam kehidupan sehari-hari kita, kita bisa mengabaikan peristiwa seimprobabel itu. Tapi di level subatom, probabilitas semacam itu sangat krusial untuk keberfungsian alat elektronik, komputer, dan laser.

Dimensi-dimensi Alam Semesta yang Tak Terlihat

    Oleh: Nima Arkani-Hamed, Savas Dimopoulos, dan Georgi Dvali

    Ilustrasi oleh: Bryan Christie Design
    (Sumber: Scientific American, Special Edition – The Once and Future Cosmos, 31 Desember 2002, hal. 66-73)

    "Alam semesta tampak (visible universe) boleh jadi terletak pada sebuah membran yang mengapung di ruang dimensi tinggi".

    Alam semesta membran di alam dimensi tinggi
    boleh jadi merupakan tempat kita hidup. Eksp
    erimen-eksperimen mungkin dapat mendeteksi
    tanda-tanda dimensi tambahan berukuran ham
    pir satu millimeter dalam masa dekat ini.

    Cerita klasik tahun 1884 karya Edwin A. Abbott, Flatland: A Romance of Many Dimensions, melukiskan petualangan “A. Square”, karakter yang hidup di dunia dua-dimensi yang dihuni oleh sosok-sosok animasi geometris—segitiga, persegi, segilima, dan sebagainya. Menjelang akhir cerita, pada hari pertama tahun 2000, makhluk spheris dari “Spaceland” tiga-dimensi melintasi Flatland dan mengangkut A. Square keluar dari domain bidang [Flatland] untuk menunjukkan kepadanya alam dunia tiga-dimensi sejati yang lebih besar. Begitu memahami apa yang diperlihatkan oleh lingkungan tersebut, A. Square berspekulasi bahwa Spaceland sendiri mungkin eksis sebagai subruang kecil alam semesta empat-dimensi yang lebih besar lagi.

    Bumi Mendekati Titik Kritis Global

    Bumi diambang kritis, pertumbuhan populasi manusia dan berapa banyak sumber daya yang telah digunakan setiap orang, dianggap sebagai sumber penyebab titik kritis global.
    Sekelompok ilmuwan dari seluruh dunia saat ini sedang memperingatkan besarnya pertumbuhan penduduk, kerusakan luas ekosistem alam, dan perubahan iklim yang dapat mendorong Bumi ke arah perubahan permanen biosfer, titik kritis global akan memiliki konsekuensi yang merusak persiapan dan mitigasi. Secara biologis akan menjadi dunia baru pada saat itu.

    Penelitian ini dirilis situs resmi Universitas California, Berkeley “Scientists uncover evidence of impending tipping point for Earth Juni tahun ini.

    Perubahan Iklim Akan Sebabkan Kepunahan Massal

    Kepunahan massal terjadi antara dua titik puncak perubahan iklim yang diakibatkan metana di atmosfer dan karbon dioksida tetapi tidak terjadi secara bersamaan.
    Ada beberapa teori mengungkapkan kepunahan massal yang menyebabkan musnahnya dinosaurus, dan mungkin bagi kitatidak asing dengan istilah zaman es. Ada beberapa sumber yang saya temukan menyebutkan bahwa kepunahan massal tidak hanya disebabkan letusan gunung vulkanik secara global, tetapi yang paling berpengaruh adalah perubahan iklim. Termasuk diantaranya mirip dengan pemanasan global yang terjadi saat ini.

     Dalam sebuah artikel yang dimuat jurnal ilmiah Geology yang juga dirilis melalui Videnskab, dokumen penelitian Geus menyatakan bahwa bumi mengalami kepunahan massal sebelum adanya pelepasan metana. Kepunahan massal terjadi antara dua titik puncak perubahan iklim yang diakibatkan metana di atmosfer dan karbon dioksida tetapi tidak terjadi secara bersamaan.