Selasa, 05 September 2017

Peta Theory of Everything

Oleh: Natalie Wolchover

3 Agustus 2015

Sumber: Quanta Magazine


“Sejak menyingsingnya peradaban,” tulis Stephen Hawking dalam buku laris internasionalnya, A Brief History of Time, “orang-orang tidak puas melihat peristiwa-peristiwa sebagai hal yang tak terhubung dan tak terjelaskan. Mereka mengidamkan pemahaman akan tatanan fundamental di dunia.”

Video interaktif: Peta Theory of Everything.
Jelajahi misteri-misteri terdalam di perbatasan 
fisika fundamental, dan ide-ide paling menjanjikan 
yang diajukan untuk memecahkannya.

(Emily Fuhrman untuk Quanta Magazine, teks oleh 
Natalie Wolchover dan arahan seni oleh Olena Shmahalo)
Dalam pencarian deskripsi alam terpadu dan koheren—sebuah “theory of everything”—fisikawan telah menemukan akar tunggang yang menautkan semakin banyak fenomena berbeda. Dengan hukum gravitasi universal, Isaac Newton mengawinkan jatuhnya apel dengan orbit planet. Albert Einstein, dalam teori relativitasnya, menenun ruang dan waktu menjadi kain tunggal, dan menunjukkan bagaimana apel dan planet jatuh sepanjang lengkungan kain. Dan hari ini, semua partikel unsur terpasang rapi ke dalam struktur matematis yang disebut Standard Model. Tapi teori-teori fisika kita masih dipenuhi perpecahan, lubang, dan inkonsistensi. Ini masalah mendalam yang harus dijawab dalam pengejaran theory of everything.