Sunday, September 13, 2020

Beberapa Fisikawan Percaya bahwa Kita Hidup dalam Hologram Raksasa

Oleh : Joseph Stromberg 

Idenya bukanlah bahwa alam semesta ini adalah semacam simulasi seperti dalam film The Matrix, tetapi bahwa meskipun kita tampaknya hidup di alam semesta tiga dimensi, alam semesta ini mungkin hanya memiliki dua dimensi. Ini disebut prinsip holografik.

Pemikirannya seperti ini: Ada permukaan dua dimensi yang berada cukup jauh, yang berisi semua data yang diperlukan untuk sepenuhnya menggambarkan semesta kita – dan seperti halnya dalam hologram, data ini diproyeksikan muncul dalam tiga dimensi. Seperti halnya karakter di layar TV, kita hidup di permukaan datar yang kelihatannya memiliki kedalaman.

Mungkin terdengar tidak masuk akal. Tetapi ketika beberapa fisikawan menganggap itu benar dalam perhitungan mereka, semua masalah fisika besar – seperti sifat lubang hitam dan rekonsiliasi gravitasi dan mekanika kuantum – menjadi jauh lebih mudah untuk dipecahkan. Singkatnya, hukum fisika tampaknya lebih masuk akal ketika ditulis dalam dua dimensi daripada dalam tiga dimensi.

Dunia Batin, Melampaui Sains, Di Balik Pengalaman Spiritual

Oleh : Peter Russel 

Ilmu pengetahuan dan spiritualitas hampir tidak pernah sejalan. Pandangan mereka tentang sifat materi sering tampak bertentangan. Dan semakin banyak pemahaman ilmiah kita tentang dunia telah bertumbuh, semakin dalam pertentangan yang tampak.

Ilmu pengetahuan modern telah menjelajahi jauh ke dalam ruang, waktu, dan materi, sering tampaknya menjauh dari Tuhan. Para astronom telah melihat ke luar angkasa, ke tepi alam semesta yang diketahui; kosmolog telah melihat kembali ke dalam apa yang mereka sebut “waktu yang dalam”, ke awal penciptaan; sementara fisikawan telah melihat ke bawah ke “struktur dalam” materi, ke fundamental kosmos. Dari quark ke quasar, mereka tidak menemukan bukti tentang Tuhan. Mereka juga tidak menemukan kebutuhan akan Tuhan. Semesta tampaknya bekerja dengan sangat baik tanpa bantuan sosok ilahi.

Tuhan yang telah dihilangkan oleh sains disebut “Tuhan kesenjangan/ the God of the gaps” – Tuhan yang diperlukan untuk menjelaskan kesenjangan dalam pengetahuan manusia. Selama berabad-abad, ilmu pengetahuan semakin mengisi celah-celah ini. Sebelum Newton, orang mengira Tuhan yang menggerakkan matahari dan bulan melewati langit; sekarang kita memahami gerakan mereka adalah karena gravitasi. Sebelum Darwin, diyakini bahwa Tuhan menciptakan banyak spesies kehidupan yang berbeda; sekarang kita menjelaskannya dalam hal evolusi genetika. Demikian pula dengan gempa bumi, aurora borealis dan respon imun, saat ini lempeng tektonik, ion matahari, dan biologi molekuler menjelaskannya dengan cukup memuaskan.

Friday, May 15, 2020

Visi Cinta dan Kerinduan Ibn Al-Arabi

"Jika engkau mencintai suatu wujud karena keindahannya, sesungguhnya engkau mencintai Allah, karena Dia adalah satu-satunya Wujud yang sungguh-sungguh indah.”

Bagi Ibn al-Arabi, cinta bukan sekadar gejolak rasa atau relasi antar manusia, melainkan jalan agung menuju Tuhan. Cinta adalah manifestasi dari Keindahan Ilahi. Apa pun yang membuat hati manusia terpaut karena keelokan dan keelusannya, sejatinya adalah pantulan dari satu-satunya Keindahan Absolut: Allah.

Wednesday, May 13, 2020

KEMBALI KE AKAR (Bagian 1)

Sosan berkata: Untuk kembali ke akar berarti menemukan maknanya, tetapi menejar wujud-wujud berarti melewatkan sumbernya.
 
Untuk kembali ke akar berarti menemukan maknanya ... apakah tujuan dari seluruh permainan semesta ini? Apakah makna dari semua pepohonan yang bertumbuh ini, dan manusia, hewan-hewan, dan burung-burung? Apakah makna dari bumi dan surga ini? Apakah makna dari keseluruhan ini? Di manakah engkau akan menemukan maknanya?
 
Bagi pikiran, makna haruslah menjadi akhirnya – ke mana semesta ini bergerak haruslah menjadi maknanya, tujuannya. Bagi pikiran, makna haruslah di suatu tempat di tempat tujuan: ke mana kita sedang pergi.
 
Dan sutra Sosan ini mengatakan: Untuk kembali ke akar adalah untuk mencari maknanya ... bukan di masa depan, bukan dalam keinginan dan tujuan, bukan di tempat lain, tetapi ke akarnya. Bukan pada yang akhir tetapi pada yang awal.
 
Cobalah untuk memahaminya. Banyak hal yang harus dipahami. Pertama, jika ada makna itu pastinya berada di dalam benih. Mungkin tersembunyi, tidak terlihat, tetapi pastinya berada di dalam benih, karena tidak ada apa pun yang bisa muncul yang tidak ditemukan di dalam benih. Tidak ada apa pun yang bisa keluar dari kekosongan.
 

RASA INGIN TAHU

Seribu dua ratus tahun yang lalu ada sekolah mistikus persis seperti ini. Sekolah mistikus itu milik salah satu Sufi terhebat, Mevlana Jalaluddin Rumi. Dalam bahasa Turki "mevlana" berarti Guru yang Terkasih; kata itu tidak pernah digunakan untuk orang lain.

Di depan sekolahnya tertulis dengan huruf tebal: "Tempat ini bukan untuk mereka yang hanya ingin tahu."

Keingintahuan tidak memiliki makna spiritual.

Rasa ingin tahu (Curiosity) adalah sesuatu yang terasa gatal di pikiranmu: jika engkau merasa gatal, itu akan berlalu; jika engkau tidak merasa gatal, itu juga berlalu. Keingintahuan tidak memiliki hasrat di dalamnya; sangat dangkal. Hanya sekedar basa-basi, sekedar ingin tahu, hanya sekedar pertanyaan yang muncul di dalam dirimu - tetapi itu bukan pencarianmu, engkau tidak harus mendedikasikan hidupmu dalam mencari jawaban untuk itu. Anda bahkan tidak akan berkomitmen pada eksplorasi. Keingintahuan itu murahan. Jika ada yang menjawab, bagus; jika tidak ada yang menjawab, juga tidak masalah. Engkau tidak begitu tertarik, tidak muncul dari kedalaman hatimu. Keingintahuan harus disingkirkan sebelum engkau mendapatkan sebuah pencarian yang penuh semangat (passionate inquiry) tentang seluruh keberadaan

OSHO 
(Satyam Sivam Sundaram. Chapter 3. Learn the Art Living with the Eternal

MENCARI TUHAN DAN TARIAN SEMESTA

SEMESTA penuh dengan Tuhan. Semesta berlimpah dengan Tuhan. Namun kita belum bisa melihatNya. Kita buta – buta karena kepercayaan kita. Semakin banyak kepercayaan yang engkau miliki, semakin buta pula dirimu; matamu menjadi tertutup oleh kepercayaanmu dan engkau tidak bisa melihat apa yang sebenarnya.
 
Hanya pikiran yang telanjang yang bisa melihat Tuhan, hanya hati yang telanjang yang bisa terisi Tuhan. Engkau bisa terus mencari dengan semua filosofimu dan agamamu dan dogmamu; engkau tidak akan menemukanNya. Engkau tidak akan menemukanNya di mana pun – dan Dia ada di mana-mana. Sesuatu menghalangi jalannya.
 
Tuhan telah selalu datang kepadamu, Dia telah mengetuk pintumu. Tetapi engkau penuh dengan kegaduhan dirimu sendiri, dari kitab sucimu, sehingga engkau tidak bisa mendengar suara kecil keheningan itu. dia datang dalam seribu satu cara – Dia terus menerus datang, Dia terus berharap. Tetapi engkau sangatlah keras kepala. Dan ironisnya adalah bahwa engkau berpikir bahwa engkau sedang mencari Tuhan.
 

Monday, April 27, 2020

TIGA GURU HASSAN-AL BASRI

Ketika seorang mistikus sufi yang besar, Hassan, sedang sekarat, seseorang bertanya, "Hassan, siapakah gurumu?"
 
Dia berkata,’Sekarang sudah terlambat untuk bertanya. Waktunya singkat, aku sebentar lagi mati.” Tapi si penanya bertanya, ‘Engkau hanya perlu mengatakan namanya. Engkau masih hidup, engkau masih bernafas dan berbicara, engkau hanya perlu memberitahuku namanya.’
 
Ia berkata, “Ini akan sulit karena aku memiliki ribuan guru. Jika aku hanya menyebut nama mereka itu perlu bulanan dan tahunan. Itu sudah terlambat. Tapi tiga guru aku akan memberitahumu".