Monday, December 10, 2012

Mencari Agama Merengkuh Sains

Hampir 100 tahun yang silam, tepatnya 30 Juni 1905, Albert Einstein menyerahkan draft paper, bukan sebuah buku tebal, yang ia kerjakan di waktu senggang. Kepada penerbitnya, Einstein bercanda semoga draft itu layak diumumkan, jika pun memang ada ruang yang sisa. Paper berkepala Zur Elektrodynamik Bewegter K├Ârper (Tentang Elekrodinamika Benda-benda Bergerak) itu muncul di jurnal Annalen der Physik 17:891, 1905. Isinya terutama adalah reaksi terhadap eksperimen Michelson-Morley yang menguji keberadaan “luminiferous ether” sebagai medium penjalaran cahaya, sekaligus perluasan ide transformasi Lorentz dan teori gelombang elektromagnetik Maxwell. Di sana disimpulkan bahwa ether tak perlu ada, dan bahwa kecepatan cahaya selalu sama, tak peduli sumber cahaya atau si pengamat bergerak saling menjauh atau mendekat. Ringkasnya, paper itu berisi pemikiran yang meleceh akal sehat:  pandangan tentang ruang waktu nisbi yang mendobrak persepsi ruang-waktu mutlak Newtonian yang sudah berkuasa lebih dari 3 abad.

Ketika Einstein menyerahkan paper itu, ia hanyalah seorang pegawai culun di kantor paten Swiss. Ia bukan seorang professor dengan riwayat akademik yang mengesankan, dengan setumpuk buku tebal yang terbit mencantumkan namanya. Dan meski paper itu secara sempurna menghina akal sehat, menampik pandangan ruang-waktu yang tengah berkuasa, tak ada berita tentang kelompok ilmuwan yang merasa tersinggung oleh paper itu. Kita pun tak mendengar bahwa forum ilmuwan Jerman, Perancis dan Inggeris, bersama pimpinan sejumlah ormas, partai politik dan universitas paling berpengaruh di Eropa, bersatu lalu mengeluarkan fatwa hukuman mati. Tak ada catatan adanya kehebohan yang membuat mertua Einstein atau profesor pembimbing disertasinya, menegur Einstein dan mencoba memperbaiki sikap keilmuwannya. Juga tak ada keluhan mengapa Einstein menerbitkan papernya di jurnal berbahasa Jerman, mengapa bukan di jurnal berbahasa Inggeris: bukankah paper itu merongrong persepsi ruang waktu Newton yang Inggeris itu?

Keluhan tunggal atas paper itu adalah bahwa di sana tak tercantum daftar rujukan; Einstein diduga telah melakukan tindakan plagiarisme. Christopher Jon Bjerknes, bulan Juli 2002 lalu menerbitkan buku bertajuk “Albert Einstein: The Incorrigible Plagiarist“. Namun, keluhan yang masih bisa disanggah itu, tak mencegah masyarakat ilmiah dunia untuk memahami isi pikiran Einstein, dan tidak meributkan siapa dia dan bagaimana cara dia menuliskan pikiran itu. Sikap ini membawa banyak akibat. Yang terpenting adalah kian kayanya khazanah ilmu manusia, kian majunya pengertian kita atas sifat-sifat dasar alam semesta. Einstein pun dianugrahi Hadiah Nobel dan jadi Tokoh Terpenting abad ke-20 versi Time, lambang kegeniusan dan kebebasan berpikir.

Sains, seperti halnya agama, memang untuk manusia berakal. Namun, meski bersumber dari mata air yang sama, dan meski satu kebenaran seharusnya tak bertabrakan dengan kebenaran lainnya, kadang terlihat bahwa kehidupan ilmiah dan kehidupan religius bisa bertentangan. Jika sains, seperti halnya seni modern, sangat menjunjung tinggi pendobrakan, agama justeru tampak menjunjung tinggi resistensi terhadap pendobrakan. Gejala ini terlihat kembali dalam kasus yang terjadi pada Ulil Abshar-Abdalla akibat tulisannya yang bertajuk “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” (Kompas, 18/11/2002).

Dalam responnya terhadap Ulil, Haidar Bagir, kandidat doktor filsafat islam, mengajukan soal yang akan terasa ganjil dalam filsafat ilmu. Dalam tulisan berjudul “Beberapa Pertanyaan Untuk Ulil” (Kompas, 4/12/2002), Haidar mula-mula “menyinggung” riwayat dan otoritas ilmiah Ulil. Ia memang mengakui bahwa sungguh tak banyak hal baru yang diungkapkan Ulil dalam lontaran mutakhirnya ini. Sejak awal abad 20, demikian Haidar, para pemikir “pembaru pemikiran Islam” — dengan berbagai variasi gaya dan kecanggihan — telah melontarkan sebagian, atau semua unsur yang terangkum dalam tulisan Ulil. Bedanya, para pendahulu Ulil telah menulis banyak buku, setidaknya puluhan makalah serius untuk menyampaikan gagasan-gagasan pembaruannya, Ulil meringkaskannya dalam satu artikel pendek dan popular di sebuah koran.

Saya kira Haidar sebenarnya mengharapkan Ulil menulis buku, sebuah harapan yang bagus. Tapi, harapan itu tentu tak perlu meremehkan artikel Ulil. Toh Einstein menyampaikan teori Relativitas Khusus cuma lewat paper, bukan buku. Jika sebuah pemikiran bisa disampaikan secara baik dalam hanya beberapa halaman, apa perlunya itu ditulis sampai ribuan halaman? Tak ada korelasi antara kecermerlangan pemikiran dengan panjang lebarnya pemaparan. Sementara itu, bukankah segala unsur dalam pemikiran Ulil itu sudah dikerjakan oleh pendahulunya? Akan mubazir jika Ulil mengulang lagi apa yang sudah ditulis.

Karena itu, kekhawatiran Haidar yang bertumpu pada tidak diungkapkannya metodologi yang memandu Ulil dalam mengambil kesimpulan-kesimpulannya, dengan sendirinya menjadi kehawatiran yang tak bermakna. Apa pentingnya metodologi itu dikerjakan lagi oleh Ulil, jika metodologi itu sudah disediakan oleh para pendahulunya? Kalaupun ada yang harus dikerjakan oleh Ulil dan jaringan tempat ia bertaut (JIL), maka itu adalah menguji lalu memilih dan, kalau perlu, memperbaiki berbagai metodologi yang sudah ada itu.

Di bagian lain, Haidar mengaku betapa tak sulit memahami pandangan tentang belum selesainya kerja Rasul — bahkan mungkin, baru bersifat awal. Selanjutnya merupakan ijtihad para penerus Rasul, termasuk ulama dan intelektual, untuk membawa kehidupan pada tujuan penciptaan. Juga mudah dimengerti, karya Rasul adalah “hasil maksimal” dari negosiasi antara nilai-nilai ideal Islam yang dibawa dengan kenyataan masyarakat Arab di masanya. Maka, karya itu bersifat historis dan — sampai batas tertentu — bersifat partikular kontekstual.

Memang, menisbahkannya “ketaksempurnaan” itu kepada “kekurangan-kekurangan” sang Rasul, butuh satu penjelasan. Yang terasa aneh adalah bahwa Haidar menutup kemungkinan adanya penjelasan itu. Alasannya adalah: dalam sejarah pemikiran Islam, sudah jadi pandangan mainstream ulama Sunni bahwa dalam kesempatan tertentu Rasul diluruskan oleh Allah. Dan tak satu pun di antara para ulama itu, yang berpendapat, Rasul bisa salah dalam menerima dan menyampaikan ajaran Tuhan. Di sini Haidar mengira bahwa jika sebuah pandangan telah jadi mainstream, dan jika segala pakar telah setuju, maka pandangan itu dengan sendirinya benar sepanjang masa. Dan mereka yang menggugat apalagi menentang pandangan itu, dengan sendirinya akan salah. Alangkah kuno dan primitif pandangan ini dibanding spirit ilmu seperti yang diperlihatkan Kopernikus, Galileo atau Einstein, dalam pendobrakan kebenaran yang sudah berusia ratusan tahun.

Bagi banyak orang, tulisan Ulil itu bernada “teror”. Buat saya, tulisan yang judulnya mengingatkan kita pada buku penting Muhammad Iqbal, terasa sebagai sebuah persaksian; sebuah pernyataan sikap. Gaya bahasa Ulil di sana mengingatkan saya pada gaya Takdir Alisyahbana ketika ia mengawali Polemik Kebudayaan, gaya Asrul Sani menuliskan Surat Kepercayaan Gelanggang, gaya Wiratmo Soekito merumuskan Manifesto Kebudayaan, atau gaya Sutardji Calzoum Bachri menyatakan kredo puisinya. Artikel Ulil memang tak ditulis sebagai satu bangun pemikiran yang dialas dengan sejumlah postulat lalu ditutup dengan sekian kesimpulan. Artikel itu ditulis dengan harapan jadi sebuah Proklamasi, sebuah Deklarasi Kemerdekaan, yang jika kepadanya terus menerus dituntut sebuah metodologi, akan menjadi sebuah tindakan yang salah tempat. Penjelasan terbaik atas sebuah proklamasi takkan datang dari setumpuk buku tebal. Penjelasan itu datang dari pengalaman panjang dan berliku yang secara intens bertabrakan dengan apa yang disebut ketidakadilan, ketertindasan dan ketertinggalan: pelecehan atas martabat dan maslahat manusia.

Bahwa Haidar terus menuntut metodologi yang jelas kepada Ulil dan jaringannya,  itu tidak pertama-tama berangkat dari sebuah kebutuhan epistemologis. Tuntutan itu lebih merupakan wujud dari keinginan agar kampanye pembaharuan pemikiran keagamaan bisa berlangsung tanpa gejolak. Tapi di sini Haidar melakukan kekeliruan lagi, dengan menyamakan antara pemikiran yang benar dengan pemikiran yang enak didengar. Pendek kata, metodologi yang dituntut oleh Haidar itu terutama adalah metodologi yang menetaskan pemikiran yang menyenangkan semua pihak. Tetapi, pemikiran yang benar dan pemikiran yang enak didengar adalah dua hal yang bisa saling tengkar. Keduanya memang berbeda; kadang bisa sejalan, kadang juga tidak. Dan jika kedua pemikiran itu berselisih arah, kita bisa menebak pikiran mana yang dipilih oleh Haidar, dan juga oleh sebagian besar bangsa dan ummat. Ini adalah hal yang wajar bagi anak-anak belahan Bumi yang cenderung melakukan moderasi dan enggan menguji sesuatu sampai ke ujung-ujungnya.

Penciptaan iklim di mana gerakan pemikiran yang mendasar bisa berlangsung tanpa menimbulkan gejolak besar dan kekerasan, cukup gejolak intelektual saja, adalah salah satu tujuan utama peradaban. Iklim seperti ini adalah ukuran tertinggi sebuah peradaban. Dan iklim yang memungkinkan perbedaan pendapat menjadi benar-benar rahmat, hanya bisa terbentuk di dalam sistem yang terbuka, dunia ilmiah misalnya. Dalam dunia ilmiah, setiap tawaran pembaharuan, seradikal apa pun, bukan saja bisa ditampung, tapi bahkan dipujikan. Jika goncangan meledak, sistem terbuka seperti ini punya mekanisme untuk mencerna goncangan itu lalu beradaptasi dan terus menumbuhkan dirinya.

Contoh mutakhir misalnya adalah terbitnya buku kontroversial Stephen Wolfram, A New Kind of Science (2002). Dikarang oleh seorang entrepreneur perangkat lunak dengan rekor akademik yang mengesankan, buku ini jelas ditulis dengan gaya provokatif yang tak ingin menyembunyikan “entusiasme seorang inovator” dalam diri penulisnya. Kalau saya parafrasekan secara kasar niat dan inti pemikiran Wolfram, hasilnya kira-kira sebagai berikut:

“Saya meletakkan alam semesta pertama-tama sebagai sebuah komputer, sebuah otomaton maha besar. Saya ingin menawarkan satu revolusi dalam hakikat ilmu pengetahuan, yang berbeda dari pengetahuan ilmiah tradisional. Jika pengetahuan tradisional menjadi satu-satunya penuntun kita, maka kita akan mengalami jalan buntu. Tiga abad yang lalu, ilmu pengetahuan mengalami transformasi besar oleh gagasan baru yang dramatis bahwa hukum-hukum yang didasarkan pada persamaan matematis dapat digunakan untuk menjelaskan kenyataan alam. Tujuan saya, dengan buku ini, adalah mengawali sebuah transformasi yang tak kalah besarnya. Buku ini adalah salah satu karya terpenting dalam seluruh sejarah pengetahuan teoritis, yang dapat menjelaskan kompleksitas fenomena kosmos, kecerdasan dan kehidupan. Mari kita menuju sains yang berbasis komputasi dan algoritme, yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia.”

Bahkan sebelum buku itu terbit, kalangan ilmuwan sudah terpecah dalam sejumlah perbedaan pendapat. Tapi tentu saja tak ada yang merasa terhina, menuding bahasa Wolfram sebagai bernada “teror”, apalagi sampai mengobral fatwa hukuman mati lalu melaporkan Wolfram ke polisi atau Mahkamah Internasional. Banyak memang yang membaca buku Wolfram dan menemukan sekian soal, lalu bilang bahwa isi buku ini tidak baru, dan bukan sains. Kalaupun ada aspek sains yang dicapai maka itu adalah aspek deskriptif, belum prediktif. Teori yang tak punya kemampuan prediktif, kita tahu, adalah teori yang belum memenuhi standar ilmiah, dan hanya dipakai selama belum ada teori tandingan yang lebih baik.

Steven Weinberg, yang bersama Abdus Salam dan Sheldon Glashow meraih Nobel Fisika pada 1979, punya pendapat menarik. Bagi Weinberg, tak sulit melihat hubungan antara latar belakang Wolfram sebagai ilmuwan genius yang bergulat dengan komputer, dengan pandangan bahwa alam semesta bersifat diskrit di mana waktu mengalir secara terpotong-potong, dan ruang terdiri dari titik-titik terisolir, seperti sel-sel dalam sebuah atomaton. Seorang ilmuwan yang sekaligus pembangun software yang sukses, betul dengan mudah bisa menyimpulkan bahwa alam semesta adalah sebuah otomaton raksasa. Tetapi, seperti kata Weinberg, seorang tukang kayu pun bisa melihat ke bulan, dan kemudian mengira bahwa benda langit itu adalah selembar papan. (Catatan: Komentar Weinberg tentu tak bisa merontokkan teori Wolfram. Yang bisa merontokkan sebuah teori ilmiah bukanlah komentar manusia, tapi fakta empiris.)

Di sebuah sistem yang tertutup, bahkan sebuah lontaran pemikiran yang “tak baru”, bisa menimbulkan goncangan. Sistem menjadi resah, melonjak-lonjak dan melakukan berbagai cara untuk mencegah ketidak-stabilan itu. Ini hal yang sangat natural. Secara sederhana, ada dua jalan yang bisa dilakukan sistem seperti ini. Pertama, sistem itu menjadi lebih tertutup lagi, dan tak jarang memutuskan hubungan dengan dunia luar, karena informasi dari luar sistem, sekecil apa pun, akan membuat sistem jadi tak stabil. Cara yang lain adalah menjinakkan, menyerang dan menghancurkan informasi luar beserta sumber-sumbernya.

Sistem tertutup, entah itu agama atau ideologi, kita tahu adalah sistem yang tak normal. Sistem ini bukan saja tak bisa berkembang hidup, tapi juga akan membunuh dirinya sendiri, kadang dengan lebih dahulu membunuh sistem lain di sekitarnya. Menghadapi sistem beku seperti ini, bahkan seorang nabi pun tak akan mampu menyampaikan sebuah informasi tanpa membawa gempa. Karena itulah, seluruh riwayat nabi-nabi besar yang mengubah jalannya sejarah, selalu berisi goncangan, bahkan konfrontasi, betapapun besar usaha para nabi menghindarkan konfrontasi. Dalam sistem tertutup, goncangan akan terjadi sekalipun oleh pesan sederhana seperti, “Cintailah musuh-musuhmu”, atau “Yang mutlak hanya Tuhan”.

Pemahaman akan kelewat sensitifnya sistem tertutup akan membuat kita tahu apa yang terpenting dalam upaya penciptaan iklim pertukaran pemikiran yang tak perlu membakar konfrontasi. Dan itu bukanlah tuntutan yang terus menerus agar informasi ditata menurut asas episemologis yang ketat, tetapi membuat sistem tertutup itu menjadi lebih terbuka.

Membuat agama menjadi sistem terbuka, menjadi organisme, tampaknya memang perlu strategi tertentu. Di sinilah mungkin perlunya ada semacam metodologi dari para pembaharu pemikiran agama. Tapi metodologi ini, seperti saya sebut tadi, bukan pertama-tama untuk menjawab tuntutan epistemologis, tapi kebutuhan komunikasi, bahkan mungkin terapi. Atau yang lebih halus: edukasi. Metodologi ini tak bertujuan untuk menyampaikan informasi sebenar dan selengkap mungkin, tapi untuk mencari “takaran” informasi yang masih mungkin diterima oleh sistem itu, tanpa membuat sistem itu tidak stabil dan sekaligus bisa terus membuka diri. Jika informasi yang diberikan benar dan lengkap secara epistemologis, hasilnya justeru akan seperti yang ditakutkan oleh mereka yang menabukan konfilk, termasuk konflik intelektual sekalipun. Informasi seperti ini, tak akan menyuburkan iklim dialog produktif, namun akan mengentalkan sikap penolakan a priori, bahkan mungkin menyulut konfrontasi.

Pelembutan dan penyuntikan informasi secara metodologis, akan berguna jika masih ada celah, ada membran yang bisa dimasuki oleh informasi itu. Pelembutan ini punya batas-batasnya sendiri, dan akan gagal jika sistem tersebut menjadi sama sekali tertutup, menjadi sistem jahiliyah yang kehilangan tekad, sekaligus mencemaskan kemampuan sendiri, untuk terbuka.

Semua agama pada awalnya adalah selalu sistem terbuka. Sistem organik ini, selain terus-menerus mendakwahkan informasi, juga terus-menerus menyerap informasi. Islam di abad 9 – 13, menjadi suar peradaban karena ia menjadi sistem terbuka: sepon yang menyerap apa saja di sekitarnya. Ia menyedot puisi dari Persia, teater dari Cina, matematika dari India, filsafat dari Yunani. Semua ini kemudian dicerna untuk dikembalikan lagi ke peradaban. Agama adalah wilayah terbuka tempat berlangsungnya dialog, sumbang-menyumbang, pinjam-meminjam: proses panjang yang serba saling mempengaruhi. Karena itulah memang, karya Rasul adalah “hasil maksimal” dari negosiasi antara nilai-nilai “ideal dan universal” Islam yang dibawa, dengan kenyataan masyarakat Arab di masanya, dengan situasi sosial di sana bersama segenap kendala yang ada. Karya itu memang bersifat historis, partikular dan kontekstual.

Bahwa sebuah agama, setelah terlembaga, perlahan-lahan menjadi sistem tertutup yang kehilangan ilham untuk mendorong maju gerak dunia, itu hanya menunjukkan bahwa agama memang pada dasarnya adalah sistem organik. Ketertutupan itu adalah hasil interaksi berbagai faktor historis yang melibatkan manusia dengan berbagai prasangka dan keterbatasannya. Agama yang tertutup adalah seperti sebuah sungai di muara yang membalik arah arusnya: sebuah pertanda datangnya bala. Agama yang mengeras besi, adalah agama yang mengingkari diri, dan karena itu bukan agama lagi. Agama adalah proses maju ke arah pembebasan diri manusia, pembebasan dari rasa takut yang melumpuhkan yang diwariskan oleh sistem primitif pembentukan masyarakat awal manusia, sistem yang membedakan komunitas manusia dari gerombolan hewan: sistem tabu dan larangan.

Sistem tabu, kita tahu, adalah landasan purba bagi seluruh tertib sosial, satu-satunya sistem pembatas sosial yang pernah dikenal oleh manusia, sebelum datangnya agama-agama. Namun, bila sistem tabu terus bertahan dan meluas, maka ketakutan akan kian membekukan kehidupan manusia, sampai pada sikap pasif total. Salah satu prestasi terpenting agama, seperti dibabar oleh Ernst Cassirer, adalah mengubah kepatuhan pasif sistem tabu itu menjadi perasaan religius yang aktif. Sistem tabu memang dapat memisahkan manusia dari binatang, tapi juga dapat mencengkeram manusia dan membuatnya melihat hidup ini sebagai beban yang pada akhirnya tak tertanggungkan. Seluruh eksistensi manusia, fisik dan moral, dapat tercekik oleh himpitan tabu yang terus-menerus. Di sinilah agama-agama mengulurkan tangan dan membaktikan diri dengan tugas yang sama. Mereka itu meringankan beban sistem tabu yang amat berat, dengan menemukan makna kewajiban religius yang lebih mendalam, yang bukan merupakan paksaan atau larangan, melainkan berupa ekspresi cita-cita positif kebebasan manusia.

Pembebasan manusia dari rasa gentar purba itu, sejalan dengan cita-cita pembebasan manusia untuk memenuhi kodratnya sebagai makhluk berakal yang selalu ingin tahu. Manusia memang “diciptakan” untuk tahu, dan itu terbukti dengan dilahirkannya manusia dengan kemampuan berbahasa. Manusia berakal telah muncul dari dalam evolusi biologis dengan susunan mental bawaan yang mampu mengolah pikiran. Pada pokoknya, dengan metafor yang akan disukai kaum pengusung paradigma komputasional, manusia adalah sejenis komputer nir-kabel yang sangat rumit dan canggih, yang hanya butuh satu level tertentu dorongan eksternal untuk memulai bekerjanya proses-proses kognitif-kreatif. Penemuan tatabahasa universal oleh Noam Chomsky, menunjukkan implikasi jelas bahwa pada tingkat yang paling dasar, pikiran dan tingkah laku manusia seluruhnya bersifat universal, dan terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi.

Bersama kecurigaannya atas potensi buruk manusia, yang lemah dan harus selalu diawasi; dan obsesinya terhadap “penutup kebugilan tubuh” dan “negara agama”; kaum fundamentalis tampak jadi pewaris paling telanjang dan paling meletup dari tugas agama menata masyarakat manusia, bukan hewan. Agama di sini cenderung ditarik mundur dan dibentangkan sebagai satu versi yang lebih luas dari sistem tabu dan larangan. Bersama harapannya atas potensi baik manusia, yang konon mengandung sentuhan tangan Tuhan; dan upayanya “membebaskan tafsir agama seimajinatif mungkin”; kaum liberal mungkin memang penerus paling setia dari semangat agama mendorong gerak maju pembebasan manusia.

Pengingkaran terbesar agama pada dirinya, adalah pada kecurigaannya terhadap kegirangan berpikir, pada permusuhannya atas upaya manusia mencari penjelasan dunia yang koheren dan konsisten, yang lebih baik dari apa yang ditawarkan secara tradisional oleh agama-agama itu sendiri. Kita tahu, ilmu pengetahuan modern yang kita kenal sekarang, mustahil lahir tanpa adanya agama-agama. Dengan menegaskan adanya Pencipta alam semesta, dan dengan menetapkan adanya arah eskatologis bagi kehidupan di dunia, agama-agama monoteistik memperkenalkan gagasan akan kausalitas dan linearitas waktu, yang di dalamnya benih-benih pemikiran ilmiah bisa tumbuh dan kesadaran sejarah bisa ditandur. Maka tidaklah aneh bahwa banyak peletak dasar ilmu pengetahuan modern adalah juga pemikir yang punya aspirasi religius.

Melihat sejarah dan raison d’etre-nya, mestinya tak sulit membuat agama jadi sistem yang lebih organik; kembali ke fitrah-nya. Lagi pula jelas tampak bahwa di sekian peristiwa, agama-agama menggeliatkan kehidupan dengan tenaga yang baru. Kembali ke fitrah, bagi agama-agama berarti: membersihkan diri dari ketakutan tabu religius yang tak berdasar; menyuling makna pemikiran mitologis yang pada dasarnya fiktif; sekaligus menyerap kesadaran ilmiah yang melihat kebenaran, betapapun tangguh, selalu bisa diruntuhkan.

Bagaikan para Einstenian-Popperian dalam melihat teori-teori ilmu, agama perlu melihat betapa tafsir dan pemikiran berupaya merengkuh hal-hal yang tiap kali mengelak, dan menjauh bagai garis cakrawala yang terus kita buru. Agama, seperti halnya sains dan seni, seharusnya memang selalu berakar dari — dan berujung pada — kehidupan manusia dalam pengertian yang luas; dan dengan kesadaran bahwa hasil sains, seni dan agama tak akan mungkin sempurna, meskipun itulah impian tertinggi mereka. Jika para saintis mampu mengakui keterbatasan teorinya dan menerimanya sebagai kutuk sekaligus berkah, kaum agamawan pun memang mestinya terus-menerus menegaskan keterbatasan pengetahuan agamanya, dan dari sana tanpa henti berijtihad melampaui keterbatasan itu. Sebagaimana saintisme bertentangan dengan semangat sains, pemutlakan agama juga bertentangan dengan sukma agama.

Walau upaya menjadikan agama sistem organik berarti mengembalikan agama ke fitrahnya, upaya ini tak dengan sendirinya akan gampang. Ketakutan terhadap perubahan dan keterbukaan, apalagi jika tak menjanjikan kepastian, adalah ketakutan yang tidak cuma milik kaum berimajinasi tanggung. Ketakutan ini bisa muncul dari semangat protektif melindungi komunitas kelompok yang dianggap paling tertindas di dunia, sekaligus dari prasangka buruk atas keadaan yang tampak bergerak keluar dari wilayah kognitif yang bisa dipahami. Ketakutan ini kadang juga berdekatan jarak dengan ketaatan yang tulus dan kesediaan untuk mengorbankan diri sampai tandas, sebagai jalan penghancuran seluruh bagian dunia yang dianggap terkutuk.

Dalam bentuk yang halus, ketakutan atas perubahan yang tak jelas dan kepastian yang selalu lepas, bisa menyamar dalam dalih bahwa agama tak akan dapat mempertahankan kesuciannya bila ia berubah, tak lagi seperti yang secara tradisional dipahami para pengikutnya dulu sekian abad yang silam. Meski bisa dimengerti, ada yang memang merawankan hati, dalam kalimat “Agama seharusnya terkunci: tertutup, tak berkembang. Bila agama berubah dan berkembang, ia kehilangan tempatnya yang mulia, kesuciannya. Karena itu, tiap kitab suci agama manapun harus beku, tak berubah.”

Ketertutupan agama bukan saja merugikan agama itu sendiri, tapi juga merugikan peradaban, merugikan ilmu pengetahuan yang tengah bergulat membentuk makna hakiki kehidupan dan semesta yang begitu besar. Ketertutupan itu akan berarti tandusnya salah satu sumber daya intelektual terbesar di bumi. Yang pasti, jika agama tetap jadi sistem tertutup yang kedap imajinasi, orang mungkin akan mencari “jejak-jejak pengalaman dengan yang Agung” bukan lagi di rumah-rumah ibadah, tapi ke tayangan sekuler yang banyak menguak rahasia alam dan kehidupan, Discovery Channel, misalnya. Orang pun tak lagi akan “membaca” kitab-kitab suci, karena gentar bikin tafsir salah. Mereka akan lebih suka mengaji kitab-kitab tak suci, sastra dan seni dunia, karena di sana tafsir salah disambut hangat. Karena menyibak banyak kemungkinan, mentransfigurasi kenyataan ke bentuk-bentuk yang tak terbayangkan, penghianatan tafsir atas kitab-kitab itu bahkan dipujikan, tak hanya dengan Hadiah Nobel.

Ketimbang paham agama yang tertutup, sains mutakhir ternyata jauh lebih cocok dengan banyak sensibilitas dan aspirasi religius, seperti bahwa kenyataan Hidup dan Dunia ini memang mukjizat, dan semua manusia — bahkan seluruh makhluk hidup — sungguh secara fundamental bersaudara. Atau bahwa hanya Tuhan yang memang mutlak tak terbatas (absolutely absolute); sementara segala hal selain Tuhan, segala hal yang terbentuk dalam waktu, termasuk agama-agama, kitab-kitab suci dan semesta pengetahuan ilmiah manusia, sungguh hanya sementara dan terbatas (relatively absolute)
***
Nirwan Ahmad Arsuka
Tanggal dimuat: 27 Agustus 2010
Catatan:

Esei ini ditulis untuk menanggapi polemik Ulil Abshar Abdalla di Harian KOMPAS yang dikepung oleh berbagai pihak. Sayang sekali, karena berbagai tekanan, Harian KOMPAS menghentikan polemik dan pengujian pemikiran itu, dan esei yang diselesaikan di paruh pertama Desember 2002 ini akhirnya tak dapat terbit.

1 comment:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    ReplyDelete