Monday, January 2, 2017

Melampaui Ruang & Waktu: Teori Kuantum Menyatakan Kesadaran Tetap Ada Setelah Kematian

consciousness-2-759x420Oleh: Arjun Walia
Untuk menjawab salah satu pertanyaan terbesar ilmu pengetahuan modern hari ini  tentang kesadaran manusia harus dilakukan dengan melihat asal-usulnya – apakah itu hanya produk dari otak, atau apakah otak itu sendiri hanyalah penerima kesadaran. Jika kesadaran bukan merupakan produk dari otak, itu berarti bahwa tubuh fisik kita tidak diperlukan untuk kontinuitas; bahwa kesadaran dapat eksis di luar tubuh kita.

Mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini adalah dasar untuk memahami sifat sejati dari realitas kita, dan dengan popularitas fisika kuantum pertanyaan tentang kesadaran dan hubungannya dengan fisik manusia menjadi semakin relevan.

Max Planck, fisikawan teoritis yang dikenal sebagai pelopor teori kuantum – dimana dia memenangkan Hadiah Nobel Fisika pada tahun 1918 – menawarkan penjelasan terbaik mengapa memahami kesadaran adalah sangat penting: “Saya menganggap kesadaran sebagai fundamental. Saya menganggap materi adalah turunan dari kesadaran. Kita tidak bisa mengabaikan kesadaran. Segala sesuatu yang kita bicarakan, segala sesuatu yang kita anggap ada, berasal dari kesadaran.”

Eugene Wigner, yang juga seorang ahli fisika teoritis dan matematika, menyatakan bahwa tidak mungkin untuk “merumuskan hukum mekanika kuantum dengan cara yang sepenuhnya konsisten tanpa mengacu pada kesadaran.”

Apakah Kesadaran Berpindah Setelah Kematian?
Pada tahun 2010, salah satu ilmuwan yang paling dihormati di dunia, Robert Lanza, menerbitkan sebuah buku berjudul Biocentrism: How Life and Consciousness are the Keys to Understanding The True Nature of the Universe.

Sebagai seorang ahli dalam pengobatan regeneratif dan direktur ilmiah dari Advanced Cell Technology Company, Lanza juga sangat tertarik dengan mekanika kuantum dan astrofisika, minat yang membawanya pada jalur untuk mengembangkan teori biocentrism: teori bahwa kehidupan dan kesadaran adalah dasar untuk memahami sifat dari realitas kita, dan kesadaran muncul sebelum penciptaan alam semesta material.

Teorinya menunjukkan bahwa kesadaran kita tidak mati setelah kematian fisik, melainkan bergerak, dan ini menunjukkan bahwa kesadaran bukan merupakan produk dari otak. Ini adalah sesuatu yang lain sama sekali, dan ilmu pengetahuan modern mulai memahami kemungkinan ini.

Teori ini diilustrasikan percobaan kuantum celah ganda . Ini adalah contoh yang bagus bagaimana faktor-faktor ini berhubungan dengan kesadaran dan dunia materi fisik kita saling terhubung dalam beberapa cara; bahwa pengamat menciptakan realitas.

Fisikawan dipaksa untuk mengakui bahwa alam semesta bisa dianggap sebagai konstruksi mental, atau setidaknya, kesadaran yang memainkan peranan penting dalam penciptaan materi.

RC Henry, Profesor Fisika dan Astronomi di Johns Hopkins University menulis dalam publikasi 2005 untuk jurnal Nature:

Menurut [perintis fisikawan] Sir James Jeans: “aliran pengetahuan adalah menuju realitas non-mekanik; semesta mulai terlihat lebih seperti pikiran besar daripada seperti mesin besar. Pikiran tidak lagi muncul menjadi penyusup tidak disengaja ke ranah materi … kita seharusnya menganggapnya sebagai pencipta dan pengatur alam materi. “. . . . . Semesta adalah immaterial – mental dan spiritual. (“The Mental Universe”; Nature 436:29,2005).

Teori Lanza ini mengimplikasikan bahwa jika tubuh menghasilkan kesadaran, maka kesadaran akan mati ketika tubuh mati. Tetapi jika tubuh menerima kesadaran dengan cara yang sama seperti alat penerima sinyal satelit, maka tentu saja kesadaran tidak berakhir pada saat kematian fisik. Ini adalah contoh yang kerap digunakan untuk menggambarkan teka-teki kesadaran.

Percobaan celah ganda telah menunjukkan berulang kali bahwa “pengamatan tidak hanya mengganggu apa yang harus diukur, tapi mereka menciptakannya. . . . . . . Jika kita memaksa [elektron] untuk mengukur posisinya yang pasti. . . . . . . Kita mendapatkan posisinya.”
Gagasan bahwa kita hidup dalam sejenis hologram alam semesta tidak terlalu mengada-ada , dan jika pengamat diperlukan untuk menciptakan materi fisik, maka pengamat harus sudah ada sebelum tubuh fisik.

Hipotesis bahwa otak menciptakan kesadaran mendominasi dunia materialistik arus utama ilmu pengetahuan, meskipun banyak bukti yang menunjukkan bahwa otak (dan realitas fisik keseluruhan, dalam hal ini) kemungkinan besar adalah produk kesadaran.

Berikut adalah kutipan yang bagus untuk menggambarkan apa yang dimaksud dengan ilmu “materi”.
“Cara pandang ilmiah modern terutama didasarkan pada asumsi-asumsi yang berkaitan erat dengan fisika klasik. Ide materialisme bahwa materi adalah satu-satunya realitas-adalah salah satu asumsi ini.” Asumsi yang terkait itu adalah reduksionisme, gagasan bahwa hal-hal kompleks dapat dipahami dengan mereduksinya sebagai interaksi dari bagian-bagiannya, atau mereduksinya sebagai dibangun dari materi yang lebih mendasar seperti partikel materi kecil.”

Manifesto untuk Sains Post-materialis
Meneliti proses neurokimia di dalam otak yang terjadi ketika seseorang memiliki pengalaman subjektif adalah penting, dan memberikan wawasan tertentu. Ini memberitahu kita bahwa ketika pengalaman terjadi, ada proses di dalam otak. Tapi itu tidak membuktikan bahwa proses neurokimia itulah yang memproduksi pengalaman. Bagaimana jika pengalaman itu sendiri sesungguhnya yang memproduksi proses neurokimia?

Menentukan bagaimana kesadaran menciptakan materi fisik adalah langkah berikutnya. Satu hal yang pasti, dengan semua informasi di luar sana yang mendalilkan adanya kesadaran yang independen dari otak, saatnya kita untuk mendorong batas-batas kerangka pengetahuan yang kita terima saat ini dan mempertanyakan apa yang kita pikir kita ketahui.

Implikasi dari teori ini sangat besar. Coba bayangkan jika kehidupan setelah kematian bisa dikonfirmasi oleh komunitas ilmiah utama – berapa banyak ini akan berdampak tidak hanya pemahaman kita tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga filsafat, agama, dan banyak wawasan lain dari kehidupan kita?

Pemahaman Besar
Beberapa ilmuwan dan filsuf materialistis cenderung menolak untuk mengakui fenomena ini karena mereka tidak konsisten dengan konsepsi eksklusif mereka terhadap dunia. Penolakan penyelidikan pasca-materialis terhadap alam atau penolakan untuk mempublikasikan temuan ilmu pengetahuan yang kuat mendukung kerangka pasca-materialis yang bertentangan dengan spirit sejati penyelidikan ilmiah, yaitu bahwa data empiris harus selalu ditangani secara memadai. Data yang tidak cocok dengan teori dan keyakinan yang disukai tidak dapat begitu saja diberhentikan secara apriori.
Pemberhentian tersebut adalah ranah ideologi, bukan ilmu pengetahuan.– Dr. Gary Schwartz, Professor of Psychology, Medicine, Neurology, Psychiatry, and Surgery at the University of Arizona (1).

Bagaimana tentang Near Death Experiences?
Dr. Bruce Greyson adalah Professor Emeritus of Psychiatry and Neurobehavioral Science at the University of Virginia. Dia dianggap sebagai salah satu bapak studi pengalaman dekat kematian, dan merupakan Profesor Emeritus Psikiatri dan Ilmu Neurobehavioral di University of Virginia.

Dia mendokumentasikan kasus individu-individu yang sudah meninggal secara klinis (tidak menunjukkan aktivitas otak), tapi mampu mengamati segala sesuatu yang terjadi terhadap mereka diatas meja operasi pada waktu yang sama. Ia menjelaskan bagaimana ada banyak contoh dari ini – di mana individu dapat menjelaskan hal-hal yang seharusnya mereka tidak mungkin bisa menggambarkan. Pernyataan lain yang signifikan dari Dr. Greyson adalah bahwa penelitian seperti ini telah banyak diabaikan karena kecenderungan kita untuk melihat ilmu pengetahuan sebagai total materialistis. Dengan melihat dulu baru percaya, di komunitas ilmiah. Ini sangat disayangkan bahwa hanya karena kita tidak bisa menjelaskan sesuatu melalui cara-cara yang materialistis, itu harus langsung didiskreditkan. Fakta sederhananya adalah bahwa “kesadaran” itu sendiri adalah “hal” non-fisik yang menyulitkan bagi beberapa ilmuwan untuk memahami, dan sebagai akibat dari bentuk non-materi, mereka percaya hal itu tidak dapat dipelajari oleh ilmu pengetahuan.

Near Death Experiences (NDE) telah didokumentasikan dan dipelajari dalam waktu yang cukup lama. Misalnya, pada tahun 2001, jurnal medis internasional The Lancet, menerbitkan sebuah studi tentang 13 tahun penelitian Near Death Experiences (NDE):

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa faktor medis tidak dapat menjelaskan terjadinya NDE. Semua pasien memiliki serangan jantung, dan secara klinis mati dengan kondisi tidak sadar akibat kekurangan pasokan darah ke otak. Dalam keadaan tersebut, EEG (ukuran aktivitas listrik otak) menjadi datar, dan jika CPR tidak dimulai dalam waktu 5-10 menit, kerusakan otak tidak dapat diperbaiki dan pasien akan mati.

Para peneliti telah memonitor total 344 pasien, dan yang mengejutkan adalah 18% dari mereka memiliki semacam memori ketika mereka meninggal atau tidak sadar (tidak ada aktivitas otak), dan 12% (1 dari setiap 8) memiliki pengalaman yang sangat kuat dan “mendalam “. Perlu diingat bahwa pengalaman ini terjadi ketika tidak ada aktivitas listrik di otak akibat serangan jantung.

Studi lain berasal dari University of Southampton, di mana para ilmuwan menemukan bukti bahwa kesadaran berlanjut selama setidaknya beberapa menit setelah kematian. Dalam dunia ilmiah ini dianggap mustahil. Berikut ini adalah penelitian terbesar di dunia tentang pengalaman kematian(NDE) yang pernah diterbitkan, dan itu diterbitkan dalam  jurnalResuscitation:

Pada tahun 2008, sebuah studi besar-besaran yang melibatkan 2.060 pasien dari 15 rumah sakit di Inggris, Amerika Serikat dan Austria diluncurkan. The Aware studi(Awareness selama resusitasi) , yang disponsori oleh University of Southampton di Inggris, meneliti berbagai pengalaman mental dalam kaitannya dengan kematian. Para peneliti ini juga menguji validitas pengalaman sadar menggunakan tanda-tanda objektif untuk pertama kalinya dalam sebuah studi besar untuk menentukan apakah klaim kesadaran yang kompatibel dengan pengalaman out-of-body sesuai dengan peristiwa nyata atau sekedar halusinasi.

Nikola Tesla mengatakan : “Ilmu pengetahuan hari mulai mempelajari fenomena non-fisik, itu akan membuat lebih banyak kemajuan dalam satu dekade dibandingkan berabad-abad sebelumnya”.

Ada alasan mengapa setiap tahun, para ilmuwan yang diakui secara internasional terus mendorong topik yang sering diabaikan ini ke dalam komunitas ilmiah mainstream. Faktanya adalah, materi (proton, elektron, foton, sesuatu yang memiliki massa) bukan satu-satunya realitas. Jika kita ingin memahami sifat dari realitas kita, kita tidak bisa terus hanya meneliti realitas fisik dan mengabaikan fakta bahwa yang ‘tak terlihat’ menciptakan sebagian besar dari itu.

Mungkin pertanyaan yang paling penting adalah, apa peran dari sistem non-fisik, seperti kesadaran, dalam kaitannya dengan fisik (materi)?

“Meskipun keberhasilan empiris yang tak tertandingi dari teori kuantum, kesimpulan bahwa ini mungkin benar benar sebagai deskripsi dari alam semesta masih disambut dengan sinisme, ketidakpahaman dan bahkan dengan kemarahan.”

Ini adalah apa yang dikenal sebagai ilmu pengetahuan pasca-materialis, dan menurut saya, itu jelas adalah wilayah berikutnya dari studi untuk lebih memahami sifat alam semesta kita. Dan studi tentang ‘kesadaran’ sebagai dasarnya.

Sumber: Henkykuntarto’s Blog

No comments:

Post a Comment