Monday, December 5, 2016

Jangan Terpaku Pada Tubuh Anda


Oleh: Osho

Dalam dunia modern, suatu pencarian besar telah dimulai untuk mencari inti terdalam dari manusia. Ada baiknya bagi kita untuk memahami seberapa jauh upaya modern saat ini telah membawa kita.

Pavlov, BF Skinner dan para pemikir behavioris lain, terus berputar hanya di sekitar tubuh fisik. Mereka berpikir manusia hanyalah tubuh fisik. Mereka terlalu banyak terlibat dalam rumah pertama, mereka terlalu banyak terlibat dengan alam materi, sehingga mereka melupakan segala sesuatu yang lain.

Mereka ini mencoba untuk menjelaskan manusia hanya melalui fenomena fisik, materi. Sikap ini menjadi hambatan karena mereka kemudian menjadi tidak terbuka.

Bulan Madu yang Tidak Pernah Berakhir

Illusion-Reality-Love-Fear-CreateOleh: Osho

Cinta bukanlah sebuah hubungan. Cinta adalah tentang berhubungan, tetapi bukan sebuah hubungan. Sebuah hubungan adalah sesuatu yang sudah selesai. Sebuah hubungan adalah kata benda; sudah sampai pada tempat pemberhentian, bulan madu telah berakhir. Sekarang tidak ada lagi sukacita, tidak ada lagi antusiasme, sekarang semua sudah selesai. Anda dapat menjaganya, hanya untuk sekedar menepati janji Anda. Anda dapat mempertahankannya karena nyaman, menyenangkan, merasa aman. Anda dapat menjaganya karena tidak ada lagi yang harus dilakukan. Anda bisa mempertahankannya karena jika Anda mengganggunya, itu akan menciptakan banyak masalah bagi Anda … Suatu hubungan berarti sesuatu yang lengkap dan telah selesai.

Cinta tidak pernah merupakan satu hubungan tetap; cinta adalah tentang berhubungan. Ia selalu seperti sungai, yang terus mengalir, tak berujung. Cinta tidak pernah mengenal pemberhentian tetap; bulan madu dimulai tetapi tidak pernah berakhir. Ia tidak seperti membaca sebuah novel yang dimulai pada titik tertentu dan berakhir pada titik tertentu. Ini adalah fenomena yang terus berlangsung. Sebuah hubungan bisa berakhir, cinta tetap berlanjut- ia adalah sebuah kontinum. Ia adalah kata kerja, bukan kata benda.

Semuanya Hidup, Semuanya Sadar

everyday oshoOleh: Osho

Apa pun yang telihat sebagai eksistensi hanyalah fenomena dari kesadaran, hanya gelombang, hanya kristalisasi dari kesadaran ini – dan tidak ada yang lain. Tapi ini harus dirasakan. Analisis dapat membantu, pemahaman intelektual dapat membantu, tapi itu harus dirasakan bahwa tidak ada yang lain, kecuali kesadaran itu sendiri. Kemudian berperilaku seolah-olah hanya kesadaran yang eksis.

Saya pernah mendengar kisah tentang Lin Chi, seorang guru Zen. Saat ia sedang duduk satu hari di gubuk seseorang datang menemuinya. Orang yang datang itu sedang marah. Dia mungkin baru bertengkar dengan istri atau dengan bosnya atau sesuatu – tapi dia sangat marah. Dia membuka pintu dalam kemarahan, ia melemparkan sepatunya dalam kemarahan dan kemudian ia datang, dengan sangat hormat, dan membungkuk ke Lin Chi. Lin Chi mengatakan, “Pertama pergi dan mintalah pengampunan dari pintu dan sepatu itu.” Orang orang menganggap Lin Chi sangat aneh. Ada orang lain juga duduk di sana dan mereka mulai tertawa. Lin Chi mengatakan, “Berhenti!” Dan kemudian berkata kepada orang itu, “Jika Anda tidak melakukannya pergi dari sini. Saya tidak ada urusan dengan Anda. “Orang itu berkata,” Saya akan terlihat gila meminta pengampunan dari sepatu dan pintu. “Lin Chi mengatakan,” apakah tidak terlihat gila ketika Anda mengekspresikan kemarahan. Jadi sekarang saja Anda merasa gila? Segala sesuatu memiliki kesadaran. Jadi pergilah, dan kecuali jika pintu itu mengampuni Anda, saya tidak akan membiarkan Anda masuk ke dalam.”

Sunday, December 4, 2016

Jalan Sains Dari Mitos Menuju Multiverse

Oleh: Dan Falk
 
17 Maret 2015
(Sumber: www.quantamagazine.org)


Dalam buku terbarunya, peraih Hadiah Nobel Steven Weinberg menggali bagaimana sains menciptakan dunia modern, dan ke mana ia akan membawa kita.


Steven Weinberg, fisikawan di Universitas Texas, Austin, memenangkan Hadiah Nobel pada     1979 atas penelitian yang menjadi batu pijakan fisika partikel.

Kita boleh anggap sejarah fisika sebagai upaya menyatukan dunia di sekeliling kita: secara berangsur-angsur, setelah berabad-abad, kita sampai pada pemahaman bahwa fenomena-fenomena yang kelihatannya tidak berkaitan ternyata berhubungan erat. Fisikawan Steven Weinberg dari Universitas Texas, Austin, menerima Hadiah Nobel pada 1979 atas terobosan besar dalam upaya tersebut—menunjukkan bagaimana elektromagnetisme dan gaya nuklir lemah adalah manifestasi teori pokok yang sama (dia berbagi Hadiah Nobel dengan Abdus Salam dan Sheldon Glashow).

Penelitian itu menjadi batu pijakan Standard Model fisika partikel, [standar] yang menguraikan bagaimana blok-blok fundamental penyusun alam semesta bersatu membentuk dunia yang kita lihat.

Saturday, November 26, 2016

La Galigo, Odisei, Trah Buendia


Oleh: Nirwan Ahmad Arsuka
 
Sawerigading dalam epik Bugis ‘karya’ I  La Galigo dan Odiseus dalam epik Yunani ‘karya’ Homerus — kedua tokoh ini tidak sekedar meniti ombak menyusur dunia. Mereka berdua membangun semesta, yang ditata pada skala pemahaman manusia.
 
Tersusun dari sekitar 300.000 larik sajak dalam bahasa tinggi arkaik dengan berbagai cerita berangkai, Sureq (serat) Galigo adalah salah satu karya sastra terbesar dunia. Dan yang pasti, bersama  epik besar Kyrgizstan yang berusia seribu tahun, Manas; dan novel terbesar Cina berjumlah 120 jilid, Impian Kamar Merah (Hung Lou Meng) ‘karya’ Cao Xueqin dan Gao E yang ditulis di Era Dinasti Manchu di pertengahan abad 18, Sureq Galigo termasuk naskah klasik terpanjang yang dihasilkan manusia.

Dari segi jumlah larik sajak saja, Sureq Galigo sudah melampaui epos terbesar Anak Benua India yang kerap dianggap terpanjang di dunia: Mahabharata. Tapi panjang larik sajak, kecuali mungkin memamerkan stamina penyusunnya, tak dengan sendirinya mencerminkan kekuatan sebuah karya.

Sebuah puisi epik, merujuk Ian Johnston, berbeda dari sajak naratif panjang lainnya karena cakrawalanya yang istimewa. Epik merujuk pada kualitas yang diciptakan oleh puisi berupa penjelajahan dan perayaan atas sesuatu yang jauh lebih besar ketimbang karakter-karakter atau tempat-tempat istimewa yang diuraikannya. Kepada pembaca yang menghidupi dan dihidupinya, epik mempersembahkan sebuah pandangan dunia, sebentuk rasa keparipurnaan budaya, a sense of cultural completeness.

Spiritualitas tanpa “Spiritualitas”


Spiritualitas sebagai Dialektika Transrasionalitas Zen Buddhisme dari Sudut Pandang Tiga Master Zen: Ma-Tsu, Lin-Chi dan Ikkyu
 
Oleh Reza A.A Wattimena
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya

Kita hidup di era krisis spiritualitas. Teknologi dan ekonomi berkembang maju, tetapi jiwa dan pikiran manusia justru semakin menderita. Mereka hidup terpisah dengan alam, dan akhirnya terasing dari alam itu sendiri, dan bahkan menghancurkan alam. Orang hidup dalam kelimpahan harta dan uang, namun hatinya penuh penderitaan, rasa takut dan rasa benci.1 Tak heran, tingkat bunuh diri, stress, depresi dan beragam penderitaan batin lainnya semakin meningkat. Banyak keluarga hancur di tengah jalan, karena rasa benci dan rasa takut yang menutupi pikiran. Pengguna narkoba pun semakin meningkat dan usianya semakin muda, persis untuk mengalihkan manusia dari penderitaan batin yang dirasakannya. Agama, yang dilihat sebagai dasar dari spiritualitas menuju hidup yang bermakna, pun kini terjebak pada fundamentalisme. Mereka mendewakan tradisi, ritual dan aturan, serta bersedia mengorbankan manusia. Bahkan, agama sering digunakan untuk pembenaran bagi tindakan-tindakan bejat dan kepentingan politik yang menutupi sejuta kemunafikan. Yang dibutuhkan oleh banyak orang sekarang ini adalah jenis spiritualitas yang baru, yang bisa memberikan makna bagi hidupnya, dan mengurangi penderitaan batinnya, guna menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Stephen Hawking Menanyakan Pertanyaan Besar tentang Alam Semesta

Tidak ada sesuatu pun yang lebih agung, lebih luas, atau lebih tua daripada alam semesta itu sendiri. Ketika kita menatap langit malam yang gelap, dipenuhi titik-titik cahaya yang jauh dan dingin, kita seolah diundang untuk bertanya: Dari manakah semua ini berasal? Bagaimana alam semesta terbentuk? Apakah kita sendirian di antara bintang-bintang? Adakah kehidupan lain yang berbagi kosmos ini bersama kita? Dan, yang paling penting untuk kelangsungan umat manusia: seperti apakah masa depan kita?

Pada awal abad ke-20, keyakinan ilmiah umum menyatakan bahwa alam semesta adalah statis—diam, tak berubah sejak awal keberadaannya. Namun penemuan besar di tahun 1920-an oleh Edwin Hubble mengubah segalanya. Ia menunjukkan bahwa galaksi-galaksi jauh ternyata bergerak menjauhi kita, dan semakin jauh galaksi itu, semakin cepat ia menjauh. Alam semesta ternyata sedang mengembang.