Spiritualitas sebagai Dialektika Transrasionalitas Zen Buddhisme dari Sudut Pandang Tiga Master Zen: Ma-Tsu, Lin-Chi dan Ikkyu
Oleh Reza A.A Wattimena
Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya
Kita hidup di era krisis spiritualitas. Teknologi dan ekonomi
berkembang maju, tetapi jiwa dan pikiran manusia justru semakin
menderita. Mereka hidup terpisah dengan alam, dan akhirnya terasing dari
alam itu sendiri, dan bahkan menghancurkan alam. Orang hidup dalam
kelimpahan harta dan uang, namun hatinya penuh penderitaan, rasa takut
dan rasa benci.
1
Tak heran, tingkat bunuh diri, stress, depresi dan beragam penderitaan
batin lainnya semakin meningkat. Banyak keluarga hancur di tengah jalan,
karena rasa benci dan rasa takut yang menutupi pikiran. Pengguna
narkoba pun semakin meningkat dan usianya semakin muda, persis untuk
mengalihkan manusia dari penderitaan batin yang dirasakannya. Agama,
yang dilihat sebagai dasar dari spiritualitas menuju hidup yang
bermakna, pun kini terjebak pada fundamentalisme. Mereka mendewakan
tradisi, ritual dan aturan, serta bersedia mengorbankan manusia. Bahkan,
agama sering digunakan untuk pembenaran bagi tindakan-tindakan bejat
dan kepentingan politik yang menutupi sejuta kemunafikan. Yang
dibutuhkan oleh banyak orang sekarang ini adalah jenis spiritualitas
yang baru, yang bisa memberikan makna bagi hidupnya, dan mengurangi
penderitaan batinnya, guna menghadapi berbagai tantangan kehidupan.