Oleh: Mary Mageau
Kita hidup dalam pergeseran paradigma. Agama yang terorganisasi, termasuk gereja-gereja Kristen dan semua denominasinya, sedang menjadi saksi terus berkurangnya keanggotaan mereka. Saat ini lebih sedikit orang yang melihat ke agama tradisional dan gereja-gereja untuk memperoleh jawaban atas masalah kontemporer mereka. Ini adalah karena ajaran sederhana yang berasal dari para guru telah menjadi ajaran yang menguasai dan mengendalikan manusia, menjadikannya budaya, peraturan, ritual dan dogma dogma. Mempertimbangkan fakta bahwa Yesus Kristus tidak pernah menjadi penganut Kristen, Sang Buddha juga tidak menganut Buddha. Dan sementara agama tradisional terus berusaha menyangkal, akar dan cabang-cabang gerakan spiritualitas baru terbentuk di mana-mana. Jalan lain telah dipilih dan dialami oleh banyak orang di seluruh dunia.
Kita hidup dalam pergeseran paradigma. Agama yang terorganisasi, termasuk gereja-gereja Kristen dan semua denominasinya, sedang menjadi saksi terus berkurangnya keanggotaan mereka. Saat ini lebih sedikit orang yang melihat ke agama tradisional dan gereja-gereja untuk memperoleh jawaban atas masalah kontemporer mereka. Ini adalah karena ajaran sederhana yang berasal dari para guru telah menjadi ajaran yang menguasai dan mengendalikan manusia, menjadikannya budaya, peraturan, ritual dan dogma dogma. Mempertimbangkan fakta bahwa Yesus Kristus tidak pernah menjadi penganut Kristen, Sang Buddha juga tidak menganut Buddha. Dan sementara agama tradisional terus berusaha menyangkal, akar dan cabang-cabang gerakan spiritualitas baru terbentuk di mana-mana. Jalan lain telah dipilih dan dialami oleh banyak orang di seluruh dunia.
Gerakan Spiritualitas baru berada satu tingkat tersendiri. Tidak seperti kebanyakan agama, ia tidak memiliki kitab suci, pusat organisasi, pendeta yang secara resmi dilantik, dan tidak ada tempat sentral, pemujaan atau dogma.Spiritualitas Baru mengekspresikan diri dengan cara berikut: perduli lebih aktif terhadap lingkungan, mempelajari praktek meditasi agama Timur, pemerhati masalah keadilan sosial, keadilan bagi laki-laki dan perempuan dalam semua aspek pengambilan keputusan, mencari sistem ekonomi yang lebih baik untuk semua dan melakukan upaya perdamaian sebagai lawan dari peperangan. Spiritualitas baru ini terus berkembang dan kuat saat ini ketika semua sistem budaya, politik dan ekonomi yang ada terlihat gagal. Karena pengalaman kita sebelumnya tentang keterpisahan diri sangat besar, keinginan yang mendalam terhadap hubungan personal yang kuat untuk kehadiran suci dari keberadaan diri kita didalam, untuk struktur sosial dan untuk alam itu sendiri yang mendorong kemajuan dari perubahan itu.






