Platform seperti Facebook mencatat lebih dari 120 juta pengguna aktif bulanan, sementara TikTok, yang terus melesat dalam popularitasnya di kalangan generasi muda, telah digunakan oleh lebih dari 106 juta orang Indonesia (Datareportal, 2024). Pengguna media sosial Indonesia sebagian besar adalah generasi muda: kelompok usia 18-34 tahun mendominasi dengan lebih dari 60 persen, menjadikan media sosial sebagai "ruang publik baru" yang sangat dipengaruhi oleh dinamika emosi, preferensi personal, dan algoritma.
Tuesday, November 5, 2019
Post-Truth dan Media Sosial: Ketika Emosi Mengalahkan Fakta
Peta Pemikiran dalam Islam: Dinamika Aliran-Aliran Teologis dan Filsafat
Sepanjang sejarah Islam, dinamika pemikiran telah memainkan peran penting dalam membentuk arah peradaban, sistem pengetahuan, dan pandangan dunia umat. Keragaman pemikiran yang muncul dalam bentuk aliran-aliran teologi, filsafat, dan tasawuf mencerminkan pergulatan panjang antara teks wahyu, akal rasional, dan pengalaman spiritual. Dalam peta besar pemikiran Islam, terdapat sejumlah arus utama yang membentuk spektrum ideologis dan metodologis, seperti Jabariah, Qadariah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, sufisme, dan aliran hikmah filosofis.
Friday, September 20, 2019
DEMOKRASI, PERASAAN, DAN OTORITAS ALGORITMA
Sekularisme: Nilai-nilai Inti dan Relevansinya dalam Dunia Modern
MORALITAS: Akar Sejarah dan Evolusi Etika Manusia
Mistisisme: Inti Spiritualitas dan Evolusi Kesadaran Manusia
Psikolog Carl Gustav Jung melihat mistisisme sebagai bagian dari archetype manusia, yakni pola bawah sadar kolektif yang mendorong pencarian akan makna dan totalitas diri (individuasi). Dalam kerangka ini, mistisisme bukan patologi atau ilusi, melainkan proses penting dalam perkembangan jiwa manusia menuju keutuhan.
Ibn al-‘Arabi dan Realitas Ketuhanan: Melampaui Batasan Dogma
Dalam pemikiran Ibn al-‘Arabi, ketuhanan dan kemanusiaan bukanlah dua entitas yang sepenuhnya terpisah, melainkan dua sisi dari satu realitas yang lebih dalam—kehidupan ilahiah yang menyokong gerak seluruh semesta. Namun, ia menolak anggapan bahwa satu sosok manusia, betapapun suci dan mulianya, bisa mewadahi sepenuhnya realitas Ilahi yang tak berbatas. Sebaliknya, setiap manusia adalah manifestasi unik, semacam avatar ilahiah yang memantulkan sebagian dari cahaya ketuhanan sesuai dengan kapasitasnya.






