Sunday, May 20, 2018

KISAH UDDALAKA DAN SVETAKETU

Seorang bijak yang agung, Uddalaka, ditanya oleh putranya, Svetaketu, “Ayah, siapakah aku"? "Apa yang ada di dalam diriku"? Aku mencoba dan mencoba, aku bermeditasi dan bermeditasi, tetapi aku tidak dapat menemukannya.

Svetaketu adalah seorang anak kecil tapi dia mengajukan pertanyaan yang sangat sulit. Jika orang lain yang bertanya, Uddalaka dapat menjawabnya dengan mudah, tetapi bagaimana cara membantu seorang anak untuk mengerti? Dan dia menanyakan masalah terbesar yang ada.

Uddalaka harus menciptakan satu sarana. Dia berkata, “Engkau pergi ke sana, di sana, di mana engkau melihat pohon beringin dan engkau bawa satu buah darinya." Anak itu berlari; dia membawa satu buah kecil dari pohon beringin.

KEBENARAN DAN TUHAN

Ada dua aliran mistik di dunia: yang satu menempatkan Tuhan sebagai yang pertama dan kebenaran sebagai yang kedua; kategori kedua dari mistik menempatkan kebenaran sebagai yang pertama dan Tuhan sebagai yang kedua.

Kedua sikap itu benar, keduanya dapat menuntunmu ke tujuan akhir, tetapi yang lebih kusukai adalah kebenaran sebagai yang pertama dan Tuhan sebagai yang kedua.

Buddha, Lao Tzu, Mahavira, setuju denganku - dan ini adalah ketiga mistik terbesar yang pernah ada. Muhammad, Yesus, Krishna - mereka milik tradisi yang lain; Tuhan adalah yang pertama, kebenaran itu sekunder.

Mengapa Buddha, Lao Tzu dan Mahavira bersikeras bahwa kebenaran adalah kualitas tertinggi. Setelah pengalaman selama dua puluh lima abad, dapat dikatakan bahwa mereka benar, desakan mereka benar, karena ketika engkau menempatkan Tuhan sebagai yang pertama, Tuhan menjadi satu kepercayaan. Alih-alih menciptakan para pencari engkau menciptakan orang yang percaya.
Jika engkau menempatkan kebenaran terlebih dahulu maka tidak ada pertanyaan tentang kepercayaan; engkau harus bertanya, engkau harus menyelidiki. Jika Tuhan yang pertama maka imam sangat penting - gereja, kuil, doktrin, kitab suci, tradisi.

LA ILLAHA ILL ALLAH

LA ILLAHA ILL ALLAH -- Tidak ada apa-apa selain Allah. Ini adalah esensi mendasar dari jalan Sufi. Ini adalah benihnya. Dari benih ini telah tumbuh pohon Bodhi dari Sufisme. Dalam proklamasi kecil ini, semua yang berharga dari semua agama yang ada telah terkandung di dalamnya: Tuhan ada dan hanya Tuhan yang ada.

Pernyataan ini membuat Tuhan identik dengan keberadaan (segala sesuatu yang ada ini). Tuhan adalah potensialitas dari semua yang ada. Tuhan tidak terpisah dari ciptaan-Nya. Pencipta ada di dalam ciptaan-Nya; tidak ada dualitas, tidak ada jarak, sehingga apapun yang engkau temui adalah Tuhan. Pohon-pohon dan sungai-sungai dan pegunungan, semua adalah perwujudan Tuhan. Engkau dan orang-orang yang engkau cintai, dan orang-orang yang engkau benci, semua adalah perwujudan dari Tuhan.

Pernyataan kecil ini dapat mengubah seluruh hidupmu. Hal ini dapat mengubah seluruh visimu. Pada saat kita mengakui bahwa semua adalah satu, cinta muncul dengan sendirinya.

Cinta adalah Sufisme

Sufisme tidak peduli dengan pengetahuan. Seluruh keperduliannya adalah cinta, yang intens, cinta yang bergairah: bagaimana untuk jatuh cinta dengan keseluruhan, bagaimana menjadi selaras dengan keseluruhan, bagaimana menjembatani jarak antara ciptaan dan pencipta.

ISHQ - CINTA AUTENTIKMU KEPADA TUHAN

Rumi mengatakan:

Jika engkau bukan satu dengan Yang Tercinta
Carilah!
Dan jika engkau dalam penyatuan,
Bersukacitalah!

Sufi berbicara tentang dua jenis cinta. Yang pertama mereka sebut muhabbah; Itu berarti cinta biasa, suam-suam kuku, sesaat, sebagian. Suatu saat ia di sana, saat yang lain ia pergi. Ia tidak memiliki kedalaman, tanpa intensitas. Engkau menyebutnya gairah, tapi itu tidak penuh dengan kegairahan. Itu bukan nyala api yang bisa membakar dirimu. Engkau tidak menjadi terbakar dengannya; ia tetap sesuatu di bawah kendalimu. Engkau tidak dirasuki olehnya, engkau tidak kehilangan dirimu di dalamnya. Engkau tetap memegang kendali.
Jenis cinta lainnya, cinta sejati, cinta yang autentik, sufi menyebutnya ishq; ishq berarti mencintai dengan intensitas total. Orang hilang di dalamnya, ia dirasuki olehnya. Ia menjadi gila di dalamnya.

Aku pernah mendengar, Master besar sufi Ruzbihan suatu kali berada di atap khaniqahnya saat berada dalam keadaan WAJD (sukacita spiritual).

MANTRA

Pertanyaan:

Osho terkasih, agama yang berbeda memiliki mantra yang berbeda, seperti: Om namo shivaya namo, Arihanta nam, Allahu akbar, Om mani padme hum. Dalam kondisi keberadaan manakah mantra-mantra besar ini lahir? Bagaimana dan dalam cara apa mereka terhubung dengan berbagai pusat dalam diri kami? Bagaimana seharusnya seorang pencari memilih mahamantra yang paling sesuai dengannya?

Jawaban OSHO:

Perjalanan seorang pencari bisa berlanjut dalam dua jalan; Satu adalah kekuatan/kesaktian, yang lainnya adalah kedamaian. Perjalanan menuju kekuatan bukanlah perjalanan menuju kebenaran, ini adalah perjalanan menuju ego - apakah kekuatan itu berasal dari uang, nama baik/kehormatan, atau dari membaca mantra. Untuk memiliki keinginan akan kekuatan berarti engkau tidak memiliki keinginan untuk kebenaran. Kekuatan apa pun yang engkau dapatkan, entah itu tubuh, pikiran atau jika itu disebut kekuatan spiritual, hanya akan memperkuat engkau, dan semakin kuat engkau, semakin engkau menjauh dari kebenaran. Kenyataan dari kekuatanmu adalah penegasan egomu dalam menghadapi kebenaran. Kekuatanmu akan berubah menjadi penghalang. Kekuatanmu pada kenyataannya akan menjadi kelemahanmu dalam dunia kebenaran. Jadi semakin kuat dirimu, semakin engkau menjadi impoten di pintu kebenaran.

DOA VS MEDITASI

Pertanyaan:
Master terkasih, apakah meditasi cukup untuk menjadi utuh dan sehat? Tolong jelaskan.

Jawaban OSHO:
Kata “meditation” (meditasi) dan kata “medicine” (obat) berasal dari akar kata yang sama. Obat berarti sesuatu yang menyembuhkan fisik, dan meditasi berarti sesuatu yang menyembuhkan spiritual. Keduanya adalah kekuatan penyembuhan.

Hal lain yang harus diingat: kata “healing” (penyembuhan) dan kata “whole” (utuh/keseluruhan) juga berasal dari akar kata yang sama. Menjadi tersembuhkan hanya berarti menjadi utuh, tidak kehilangan apa pun. Konotasi lain dari kata itu - kata "holy” (suci/kudus) - juga berasal dari akar kata yang sama. Kata “penyembuhan”, “utuh”, “suci”, tidak berbeda dalam akar kata mereka.

Meditasi menyembuhkan, membuatmu utuh; dan menjadi utuh adalah menjadi suci. Kesucian tidak ada hubungannya dengan menjadi penganut agama tertentu, atau menjadi anggota gereja tertentu. Ini hanya berarti bahwa di dalam dirimu, engkau utuh, lengkap; tidak ada yang hilang, engkau terpenuhi. Engkau adalah apa yang semesta inginkan. Engkau telah menyadari potensi dirimu sendiri.

MENGAPA PARA SUFI MENARI?

Ya, ini adalah pertanyaan yang penting. Umat Buddha hanya duduk diam. Mengapa para Sufi menari? Orang Zen hanya bermeditasi, duduk diam, tidak melakukan apa-apa - hanya duduk diam. Musim semi datang, dan rumput tumbuh dengan sendirinya. Tapi Sufi menari.

Inilah dua jalur yang berbeda, karena ada dua jenis energi di dunia: positif dan negatif, pria dan wanita, yin dan yang. Orang Zen menggunakan energi negatif; mereka menggunakan jalan yang pasif. Para Sufi menggunakan energi positif; mereka menggunakan jalan yang aktif. Mereka adalah orang yang sangat hidup. Meditasi mereka bukanlah kepasifan; Meditasi mereka adalah suka cita.

Keduanya adalah cara-cara engkau bisa mencapai tujuan yang sama, karena tujuannya ada tepat di tengah-tengah. Yang positif adalah satu ekstrem, yang negatif adalah ekstrem lainnya. Antara yang positif dan yang negatif ada satu titik tengah, tepat di tengahnya, di mana transformasi terjadi - orang melampaui dunia dan segalanya - di mana ia masuk ke dalam Tuhan dan menjadi Tuhan.