Sunday, May 20, 2018

KISAH UDDALAKA DAN SVETAKETU

Seorang bijak yang agung, Uddalaka, ditanya oleh putranya, Svetaketu, “Ayah, siapakah aku? Apa yang ada di dalam diriku? Aku mencoba dan mencoba, aku bermeditasi dan bermeditasi, tetapi aku tidak dapat menemukannya.

Svetaketu adalah seorang anak kecil tapi dia mengajukan pertanyaan yang sangat sulit. Jika orang lain yang bertanya, Uddalaka dapat menjawabnya dengan mudah, tetapi bagaimana cara membantu seorang anak untuk mengerti? Dan dia menanyakan masalah terbesar yang ada.

Uddalaka harus menciptakan satu sarana. Dia berkata, “Engkau pergi ke sana, di sana, di mana engkau melihat pohon beringin dan engkau bawa satu buah darinya." Anak itu berlari; dia membawa satu buah kecil dari pohon beringin.

Sang ayah berkata, “Sekarang engkau potong buah itu. Apa yang engkau lihat di dalamnya?"

Anak itu berkata,"Jutaan biji-biji kecil.”

Sang ayah berkata," Sekarang engkau pilih satu biji dan potong biji itu. Sekarang apa yang engkau lihat di dalamnya?"

Anak itu berkata, "Tidak ada sesuatu pun.”

Sang ayah berkata,"Dari ketiadaan itu muncullah pohon besar ini. Di dalam bijinya, tepat di pusatnya, ada ketiadaan. Engkau memotongnya - tidak ada apa-apa, dan dari ketiadan itu muncul keberadaan pohon besar ini. Dan hal yang sama berlaku untukmu, Svetaketu.”

Dan salah satu ucapan terbesar yang pernah diucapkan oleh manusia dilahirkan:“Tat-Twam-Asi, Svetaketu”-“ Itu adalah engkau, engkau adalah itu, Svetaketu.”

Engkau juga adalah ketiadaan itu yang hadir tepat di jantung/pusat dari bijinya. Kecuali jika engkau menemukan ketiadaan ini di dalam dirimu, engkau tidak akan mencapai kebenaran yang murni. Kemudian engkau dapat bergerak di dalam teori, kemudian engkau dapat berfilsafat, tetapi engkau tidak akan menyadari.

Anak laki-laki itu bermeditasi atas ketiadaannya dan dia menjadi sangat hening. Dia merenung, dia menikmati ketiadaan ini, dia merasakannya dengan sangat dalam. Tapi sekali lagi satu pertanyaan muncul. Setelah beberapa hari, dia mendatangi sang ayah lagi, dan dia berkata: “Aku bisa merasakan, tetapi segala sesuatunya masih belum jelas, mereka samar-samar, seolah-olah kabut mengelilingi segalanya. Aku dapat melihat bahwa dari ketiadaan semuanya dilahirkan, tetapi bagaimana ketiadaan bercampur dengan adanya hal-hal? Bagaimana ke-ada-an bercampur dengan ketiadaan? Bagaimana cara keberadaan bercampur dengan ketiadaan? Mereka saling berlawanan.”

Sang ayah lagi-lagi mengalami kesulitan - setiap kali anak-anak mengajukan pertanyaan, sangat sulit untuk menjawabnya. Hampir sembilan puluh sembilan persen jawaban yang diberikan orang dewasa kepada anak-anak adalah salah - hanya perangkat untuk menyelamatkan muka. Engkau menipu. Tetapi Uddalaka tidak ingin menipu anak ini. Dan rasa ingin tahunya bukan hanya keingintahuan, itu adalah penyelidikan yang mendalam. Dia benar-benar peduli/khawatir. Tubuhnya mungkin seperti anak kecil tetapi jiwanya sangat tua. Dia pasti telah berusaha keras di masa lalu, berusaha keras untuk menembus misteri itu. Dia tidak hanya ingin tahu - dia benar-benar peduli. Itu bukan hanya pertanyaan yang berkeliaran dalam pikiran, itu sangat mengakar.

Sang ayah berkata, “Engkau pergi dan bawalah secangkir air.”

Anak itu mengambil secangkir air.

Lalu ayahnya berkata, “Sekarang pergilah dan bawalah sedikit gula.”

Dia membawakan gula, dan sang ayah berkata,"Campurkanlah keduanya."

Gula itu larut ke dalam air, dan sang ayah berkata," Sekarang, bisakah engkau memisahkan gula dari air?”

Anak itu berkata,"Sekarang itu tidak mungkin. Aku bahkan tidak bisa melihat ke mana gula itu pergi.”

Sang ayah berkata,"Engkau cobalah."

Anak lelaki itu memeriksanya tetapi dia tidak dapat melihat gula apa pun; itu telah larut, telah menjadi air.

Kemudian sang ayah berkata, “Engkau cobalah rasanya.”

Anak itu mencicipinya, rasanya manis.

Dan sang ayah berkata, “Lihatlah, tepat seperti ini. Engkau mungkin tidak dapat memutuskan apa itu keberadaan dan apa itu ketiadaan; mereka mencair satu sama lain seperti air dan gula. Engkau bisa mencicipi dan engkau bisa tahu bahwa air ini mengandung gula. Engkau mungkin tidak dapat memisahkan mereka sekarang - pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang dapat memisahkan mereka karena mereka tidak terpisah.”

Air dan gula dapat dipisahkan - itu hanya alat untuk membuat anak itu mengerti - tetapi ketiadaan dan keberadaan tidak dapat dipisahkan, hidup dan mati tidak dapat dipisahkan. Itu tidak mungkin. Mereka tidak terpisah, bagaimana engkau bisa memisahkan mereka? Mereka selalu ada bersama. Sesungguhnya untuk mengatakan bahwa mereka ada bersama-sama itu bukan cara mengatakan yang sebenarnya, karena kata "bersama" membawa konsep tentang dua hal. Mereka bukan dua, mereka adalah satu. Mereka hanya terlihat sebagai dua.

Dari mana engkau telah datang? Pernahkah engkau merenungkan masalah yang sangat mendasar ini? - Dari mana engkau telah datang? Ketiadaan. Di mana engkau bergerak, ke mana engkau sedang pergi? Ketiadaan. Dari ketiadaan ke ketiadaan ... dan hanya di antara dua ketiadaan muncullah keberadaan. Sungai keberadaan mengalir di antara dua tepian dari ketiadaan. Keberadaan itu indah, tetapi ketiadaan juga indah. Hidup itu baik, tetapi kematian juga baik - karena kehidupan tidak mungkin ada tanpa kematian. Biasanya engkau berpikir bahwa kematian itu bertentangan dengan kehidupan, bahwa ia menghancurkan. Tidak, engkau salah. Tanpa kematian, kehidupan tidak bisa ada bahkan untuk sesaat. Ia mendukungnya. Ia adalah dasarnya. Karena engkau bisa mati, itu sebabnya engkau bisa hidup.

Hidup dan mati bukan dua hal tetapi dua sayap - dua sayap dari fenomena yang sama.

OSHO, Tao: The Three Treasures Vol 1, Chpt 7
---
A great sage, Uddalaka, was asked by his son, Svetaketu, “Father, who am I? What is it that exists in me? I try and try, I meditate and meditate, but I cannot find it.”

Svetaketu was a small child but he raised a very very difficult question. Had somebody else asked the question, Uddalaka could have answered easily, but how to help a child to understand? And he was asking the greatest problem that exists.

Uddalaka had to create a device. He said, “You go there, yonder, where you see the Banyan tree and you bring a fruit from it.”

The child ran; he brought a small fruit from the Banyan tree.

The father said, “Now you cut it. What do you see inside it?”

The child said, “Millions of small seeds.”

The father said, “Now you choose one seed and cut that seed. Now what do you see in it?”

The child said, “No-thingness.”

The father said, “Out of that no-thingness arises this big tree. In the seed, just at the center, exists no thingness. You cut it – there is no-thing, and out of that no-thingness arises the being of this big tree. And the same is true with you, Svetaketu.”

And one of the greatest sayings ever uttered by any human being was born: “Tat-Twam-Asi, Svetaketu” – “That art thou, thou art that, Svetaketu.”

You are also that no-thingness which exists just at the heart of the seed. Unless you find this non-being within you, you will not attain to authentic truth. Then you can move in theories, then you can philosophize, but you will not realize.

The boy meditated on his nothingness and he became very silent. He contemplated, he enjoyed this nothingness, he felt it very deeply. But then again a question arose. After a few days he came to the father again, and he said: “I can feel, but things are still not very clear, they are vague, as if a mist surrounds everything. I can see that out of nothingness everything is born, but how does nothingness mix with thingness? How does isness mix with nothingness? How does being mix with non-being?
 They are paradoxical.”

The father was again in difficulty – whenever children raise questions it is very difficult to answer them. Almost ninety-nine per cent of the answers that grownups give to children are false – just face-saving devices. You deceive. But Uddalaka didn’t want to deceive this child. And his curiosity was not only a curiosity, it was deep inquiry. He was really concerned. His body may have been that of a child but his soul was ancient. He must have struggled in the past, tried hard to penetrate into the mystery. He was not just curious – he was authentically concerned. It was not just a vagrant question in the mind, it was very deep-rooted.

The father said, “You go and bring a cup of water.”

The boy fetched a cup of water.

Then the father said, “Now you go and bring a little sugar.”

He brought the sugar, and the father said, “Mix them both.”

The sugar dissolved into the water, and the father said, “Now, can you separate the sugar from the water?”

The boy said, “Now it is impossible. I cannot even see where the sugar has gone.”

The father said, “You try.”

The boy looked into it but he couldn’t see any sugar; it had dissolved, it had become water.
Then the father said, “You taste it.”

The boy tasted, it was sweet.

And the father said, “Look, just like this. You may not be able to decide what is being and what is non-being; they are melting into each other just like water and sugar. You can taste and you can know that this water contains sugar. You may not be able to separate them right now – in fact nobody can ever separate them because they are not separate.”

Water and sugar can be separated – that was just a device to make the child understand – but non-being and being cannot be separated, life and death cannot be separated. It is impossible. They are not separate, how can you separate them? They always exist together. In fact to say that they exist together is not to say it rightly, because the very word “together” carries the concept of twoness. They are not two, they are one. They only appear two.

From where have you come? Have you ever pondered over this very basic problem? – from where have you come? Nothingness. Where are you moving, where are you going? Nothingness. From nothingness to nothingness… and just in between two nothingnesses arises being. The river of being flows between two banks of nothingnesses. Being is beautiful, but non-being is also beautiful. Life is good, but death is also good – because life cannot exist without death. Ordinarily you think that death is against life, that it destroys. No, you are wrong. Without death life cannot exist for a single moment. It supports it. It is the very base. Because you can die, that’s why you can live.

Life and death are not two things but two wings – two wings of the same phenomenon.

OSHO, Tao: The Three Treasures Vol 1, Chpt 7

Sumber: OSHO FB

No comments:

Post a Comment