Komentar: Bukankah menakjubkan bahwa para ilmuwan akhirnya harus
mengakui rancangan alam semesta begitu sempurna hingga mengisyaratkan
adanya perancangan cerdas, tapi mereka tetap berusaha menghindari
penjelasan yang mencakup istilah Tuhan.
Teori multiverse telah menelurkan teori lain—bahwa alam semesta kita adalah simulasi, tulis Paul Davies.
Jika Anda pernah berpikir hidup adalah mimpi, tenang saja. Beberapa
ilmuwan tersohor mungkin sependapat. Para filsuf sudah lama bertanya
apakah memang ada dunia nyata di luar sana, ataukah “realitas” hanyalah
kilasan imajinasi kita.
Nima Arkani-Hamed tengah memperjuangkan kampanye pembangunan
pembentur partikel (particle collider) terbesar di dunia seraya mengejar
visi hukum alam yang baru.
Nima Arkani-Hamed. (Béatrice de Géa untuk Quanta Magazine)
Ajaklah Nima Arkani-Hamed berbincang tentang alam semesta—tidak
sulit—maka dia akan bicara bermenit-menit atau berjam-jam dan membawa
Anda ke batas pemahaman manusia, kemudian dia akan lewati batas
tersebut, melampaui Einstein, melampaui ruang-waktu
dan mekanika quantum dan semua tropus penat fisika abad 20, menuju visi
baru nan spektakuler tentang bagaimana segala sesuatu bekerja. Rasanya
begitu sederhana, begitu jelas. Dia akan mengingatkan Anda bahwa, di
tahun 2015, ini masih spekulatif. Tapi dia yakin, suatu hari kelak visi
ini akan jadi kenyataan.
Dalam esai naratif ini, kita mengikuti perjalanan para fisikawan abad
ke-20 ke luar dari batas pandangan dunia yang lama untuk menjelajahi
dunia menarik dari mekanika kuantum dan implikasi filosofis yang
mendalam dari penemuan itu.
Dunia yang dijelaskan oleh mekanika kuantum
adalah aneh dan kontra-intuitif, yang meruntuhkan gagasan materialisme, determinisme, dan pemisahan. Kita juga menjelajahi masalah pengukuran
dalam mekanika kuantum dan memeriksa argumen mengapa kesadaran
diperlukan untuk menyelesaikan masalah kuantum. Resolusi tersebut,
memaksa kita untuk melakukan perubahan radikal dalam pemahaman kita
tentang dunia dan kesadaran.
Dari buku : The Silent Whisperings of the Heart
oleh : Swami Dhyan Giten
Cinta bukanlah suatu hubungan eksklusif antara kita dengan orang
lain; cinta adalah kualitas yang muncul ketika kita berada dalam kontak
dengan batin kita, dengan diri-sejati, dengan kualitas meditasi
yang dalam, dengan keheningan batin dan kekosongan. Diri sejati ini
dialami oleh kita dan dinyatakan ke luar dalam wujud cinta. Cinta ini
tidak ditujukan kepada orang tertentu, melainkan sebuah kehadiran dan
kualitas yang mengelilingi orang seperti aroma.
Hati manusia adalah penyembuh, yang menyembuhkan baik orang
lain maupun diri kita sendiri. Hati yang terbuka adalah seperti air
mancur, yang tidak lagi membuat perbedaan antara: “Aku suka kamu – aku
tidak suka kamu”. Hati yang terbuka adalah tidak membuat perbedaan
apapun antara teman dan musuh. Hati yang terbuka terbuka baik bagi diri
kita sendiri dan untuk orang lain. Hati yang terbuka adalah cinta tanpa
syarat.
David Wolpert
biasa menyindir saat berkata bahwa teorinya menempatkan batas pada
agama-agama. “Tak boleh ada dua tuhan/dewa, yang dua-duanya mampu
mengamati segala sesuatu secara sempurna, atau yang dua-duanya mampu
mewujudkan apapun yang mereka mau,” tuturnya. Bahkan, tak boleh ada dua
tuhan yang dua-duanya memiliki ingatan sempurna. Ringkasnya, secara
matematis mustahil terdapat alam semesta politeistik beserta tuhan-tuhan
maha tahu.
Pernyataan demikian (dilontarkan sambil membuat “isyarat kutipan
serius di udara”) adalah konsekuensi dari batas-batas yang Wolpert
peroleh berdasarkan kemampuan “perangkat inferensi” (mesin yang mampu
mengamati dan/atau mengendalikan dunia di sekelilingnya). Alih-alih
menganalisa beragam kumpulan dewa, Wolpert tertarik dengan pembatasan
matematis informasi yang dapat dimiliki sebuah perangkat mengenai suatu
sistem dan implikasi pembatasan ini terhadap hukum fisika. Dia menemukan
batasan yang mirip sekali dengan batasan-batasan yang sudah lama
dikenal oleh fisikawan dari teori quantum, contohnya Prinsip
Ketidakpastian Heisenberg. Temuan Wolpert bisa membantu fisikawan
memahami pangkal kekaburan masyhur di alam quantum tersebut. Ini boleh
jadi timbul akibat pembatasan formal pada apa-apa yang dapat diketahui.
Dari buku : Ngobrol dengan Tuhan oleh Neale Donald Walsh
Kenapa begitu banyak konflik gara-gara meributkan agama mana yang paling benar?
Kebanyakan agama-agama di dunia mu meyakini bahwa hanya ada satu
jalan menuju Tuhan, yakni jalan mereka. Mereka begitu yakin akan hal
ini, dan mengajarkannya — sampai sampai mereka menganggap diri mereka
superior di mata-Ku. Dan ilusi tentang superioritas ini mereka anggap
nyata.
Banyak di antara mereka juga percaya bahwa mereka harus membuat
orang-orang lain meyakini jalan mereka juga, sebab dengan berbuat
begini, seolah mereka telah memenuhi kewajiban mereka terhadap-Ku.
Oleh: George F.R. Ellis
(Sumber: Scientific American, Agustus 2011, hal 38-43)
Bukti eksistensi alam-alam semesta paralel yang sangat berbeda dari alam semesta kita mungkin masih di luar domain sains.
Selama dekade terakhir, sebuah klaim luar biasa telah memikat para
kosmolog: alam semesta mengembang yang kita saksikan di sekeliling kita
bukanlah satu-satunya; miliaran alam semesta lain ada di luar sana.
Bukan satu universe—yang ada multiverse. Dalam artikel-artikel Scientific American dan buku-buku seperti karangan terakhir Brian Green, The Hidden Reality,
para ilmuwan terkemuka sudah membahas revolusi super-Copernican. Dalam
pandangan ini, bukan hanya bahwa planet kita adalah salah satu dari
sekian banyak planet, tapi juga bahkan keseluruhan alam semesta kita
tidak signifikan pada skala kosmik segala sesuatu. Ia cuma satu dari
banyak alam semesta tak terhitung, masing-masing mengerjakan urusannya
sendiri.
Kata “multiverse” memiliki makna-makna berlainan. Astronom mampu
melihat ke jarak sekitar 42 miliar tahun-cahaya, horizon visual kosmik
kita. Kita tak punya alasan untuk menyangka alam semesta berhenti sampai
di situ. Di baliknya boleh jadi banyak—bahkan tak terhingga—domain yang
sangat mirip dengan yang kita saksikan. Masing-masing memiliki
distribusi materi awal berlainan, tapi hukum fisika yang sama beroperasi
di semuanya. Hampir semua kosmolog hari ini (termasuk saya) menerima
tipe multiverse ini, yang Max Tegmark sebut “level 1”. Tapi sebagian
beranjak lebih jauh. Mereka mengemukakan jenis-jenis alam semesta amat
berbeda, dengan fisika berbeda, sejarah berbeda, barangkali jumlah
dimensi ruang berbeda. Sebagian besar hampa, walaupun sebagian lain
disesaki kehidupan. Pendukung utama multiverse “level 2” ini adalah
Alexander Vilenkin, yang melukis sebuah gambar dramatis berupa set alam
semesta tak terhingga dengan jumlah galaksi tak terhingga, jumlah planet
tak terhingga, dan jumlah orang tak terhingga dengan nama Anda dan
sedang membaca artikel ini.