Komentar: Bukankah menakjubkan bahwa para ilmuwan akhirnya harus
mengakui rancangan alam semesta begitu sempurna hingga mengisyaratkan
adanya perancangan cerdas, tapi mereka tetap berusaha menghindari
penjelasan yang mencakup istilah Tuhan.
Teori multiverse telah menelurkan teori lain—bahwa alam semesta kita adalah simulasi, tulis Paul Davies.
Jika Anda pernah berpikir hidup adalah mimpi, tenang saja. Beberapa
ilmuwan tersohor mungkin sependapat. Para filsuf sudah lama bertanya
apakah memang ada dunia nyata di luar sana, ataukah “realitas” hanyalah
kilasan imajinasi kita.
Lalu datanglah fisikawan quantum, yang menyingkap alam ketidakpastian atom ala Alice in Wonderland, di mana partikel-partikel bisa berupa gelombang, dan benda padat larut ke dalam pola samar energi quantum.
Dan sekarang kosmolog ikut-ikutan, menyatakan bahwa apa yang kita
persepsikan sebagai alam semesta mungkin sebetulnya tidak lebih dari
simulasi raksasa.
Cerita di balik pernyataan janggal ini berawal dari pertanyaan
menjengkelkan: kenapa alam semesta begitu ramah hayati? Sudah lama
kosmolog dibingungkan oleh fakta bahwa hukum alam seolah diramu dengan
lihai untuk memperkenankan munculnya kehidupan. Ambil contohnya unsur
karbon, bahan vital yang menjadi dasar seluruh kehidupan. Itu tidak
dibuat dalam [peristiwa] big bang yang melahirkan alam semesta.
Justru, karbon dimasak di jeroan bintang-bintang raksasa, yang lantas
meledak dan memuntahkan jelaga ke segenap alam semesta.
Proses yang menghasilkan karbon adalah reaksi nuklir rumit. Ternyata,
keseluruhan rantai peristiwa tersebut perkara yang amat ketat, meminjam
kata-kata Lord Wellington. Jika gaya yang menjaga kesatuan nukleus atom
sedikit lebih kuat atau sedikit lebih lemah, reaksi takkan bekerja
dengan benar dan kehidupan mungkin tak pernah ada.
Mendiang astronom Inggris Fred Hoyle begitu terpesona oleh kebetulan
bahwa gaya nuklir mempunyai kekuatan tepat untuk menghasilkan makhluk
seperti dirinya. Dia memproklamirkan alam semesta adalah “konspirasi
terencana”. Karena ini terdengar mirip sekali dengan pemeliharaan ilahi,
para kosmolog bersusah-payah mencari jawaban ilmiah untuk teka-teki
keramah-hayatian kosmik.
Yang mereka hasilkan adalah alam semesta jamak, atau “multiverse”.
Teori ini menyatakan apa yang kita sebut “alam semesta” bukanlah alam
semesta. Ia adalah fragmen inifinitesimal dari sistem yang jauh lebih
akbar dan rumit di mana kawasan kosmik kita, betapapun luasnya, hanya
melambangkan satu gelembung ruang di antara gelembung-gelembung lain
yang tak terhitung, atau alam semesta saku (pocket universe).
Keadaan jadi menarik ketika teori multiverse digabung dengan ide-ide
dari fisika partikel subatom. Bukti terus menggunung bahwa apa yang
fisikawan anggap hukum ajeg karunia Tuhan mungkin lebih mirip regulasi
lokal, berlaku di petak kosmik kita, tapi beda di alam semesta saku
lainnya. Jika bepergian ke satu triliun cahaya di luar galaksi
Andromeda, Anda mungkin berada di alam semesta yang gravitasinya sedikit
lebih kuat atau elektronnya sedikit lebih berat.
Mayoritas alam-alam semesta lain ini tidak harus mengandung
kebetulan-kebetulan setelan halus yang diperlukan untuk munculnya
kehidupan; mereka tandus, jadi terus tidak terlihat. Hanya di alam-alam
semesta Goldilocks seperti milik kita, di mana aspek-aspeknya ternyata
tepat (murni kebetulan), makhluk berperasaan akan timbul dan takjub oleh
betapa ramah hayatinya alam semesta mereka.
Itu ide apik, dan sangat populer di kalangan ilmuwan. Tapi itu
membawa implikasi ganjil. Karena jumlah total alam semesta saku tidak
terbatas, harus ada sekurangnya satu yang bukan cuma berpenghuni, tapi
juga didiami oleh peradaban maju—komunitas berteknologi dengan kemampuan
komputer memadai untuk menciptakan kesadaran buatan. Bahkan, sebagian
ilmuwan komputer berpikir teknologi kita hampir menggapai mesin
berpikir.
Tinggal satu langkah kecil dari penciptaan pikiran buatan pada mesin
menuju pensimulasian seluruh dunia virtual untuk dihuni makhluk
simulasi. Skenario ini jadi familiar sejak dipopulerkan oleh film-film The Matrix.
Kini sebagian ilmuwan menyatakan itu harus diambil serius.
“Barangkali kita adalah simulasi…ciptaan suatu entitas tertinggi atau
super,” renung Astronomer Royal Inggris, Sir Martin Rees, penganjur
kukuh teori multiverse. Dia bertanya-tanya apakah keseluruhan alam
semesta fisik adalah aplikasi di dalam realitas virtual, sehingga “kita
ada dalam matriks ketimbang fisika itu sendiri”.
Adakah justifikasi untuk mempercayai ide sinting ini? Tentu saja,
kata Nic Bostrom, filsuf di Universitas Oxford yang bahkan punya situs
khusus untuk topik ini (www.simulation-argument.com). “Karena komputernya begitu canggih, mereka bisa menjalankan banyak simulasi,” tulisnya dalam The Philosophical Quarterly.
Jadi jika ada peradaban berkemampuan simulasi kosmik, maka alam-alam
semesta palsu yang mereka ciptakan akan cepat berkembangbiak melampaui
jumlah alam semesta asli. Biar bagaimanapun, realitas virtual jauh lebih
murah daripada yang asli. Jadi berdasarkan statistik sederhana, seorang
pengamat acak seperti saya atau Anda kemungkinan besar adalah makhluk
simulasi di dunia palsu. Dan dipandang dari dalam matriks, kita tak
pernah bisa menyebut perbedaannya.
Atau bisa? John Barrow, rekan Martin Rees di Universitas Cambridge,
penasaran apakah para simulator akan bersusah-payah dan berhambur-hambur
menjadikan realitas virtual tahan penyalahgunaan. Jangan-jangan jika
menengok cukup cermat, kita akan menangkap pemandangan tertatih-tatih.
Dia bahkan mengisyaratkan bahwa malfungsi dalam sejarah simulasi
kosmik kita sudah ditemukan oleh John Webb di Universitas NSW. Webb
menganalisa cahaya dari quasar-quasar jauh, dan menemukan sesuatu yang
ganjil terjadi sekitar 6 miliar tahun lampau—kecepatan cahaya bergeser
tipis. Mungkinkah ini berarti para simulator sedang meléng?
Harus diakui, saya turut bertanggungjawab atas kekacauan ini. Tahun lalu saya menulis sebuah artikel untuk The New York Times.
Isinya menyatakan, sekali teori multiverse keluar, skenario-skenario
mirip Matrix pasti mengekor. Kesimpulan saya: mungkin seharusnya kita
mempertahankan skeptisime sehat terhadap konsep multiverse sampai hal
ini dijernihkan. Tapi jauh dari meredakan teori, itu justru menggenjot
antusiasme terhadapnya.
Bagaimana akhir semua itu? Jelek, barangkali. Setelah para simulator
tahu kita mengenali mereka, dan permainan sudah habis, mereka mungkin
kehilangan minat dan memutuskan menekan tombol “hapus”. Demi kebaikan
Anda, jangan percaya sepatah katapun tulisan saya ini.
Tentang penulis: Paul Davies adalah profesor ilmu alam di Australian Centre for Astrobiology Universitas Macquarie. Buku terbarunya adalah How to Build a Time Machine.
No comments:
Post a Comment