Minggu, 27 Agustus 2017

Michio Kaku – Bukti Tuhan Eksis

22 Juni 2016

Sumber: www.sacerdotus.com

Saya selalu menekankan bahwa sains adalah pembunuh ateisme. Meski filsafat melakukan kerja bagus melawan ateisme, orang ateis akan selalu berpaling pada permintaan bukti nyata eksistensi Tuhan ketimbang argumen. Lebih jauh, teologi sendiri tidak cukup untuk membuktikan eksisnya Tuhan kepada seorang ateis. Sains adalah satu-satunya cara untuk “membungkam” ateis argumentatif dalam debat atau diskusi.

Michio Kaku

Kaum ateis selalu mengklaim tak ada bukti pendukung eksistensi Tuhan. Saya sudah jelaskan beberapa cara dalam buku saya, Atheism is Stupid, yang berurusan dengan sains semata dan dalam beberapa hal dengan filsafat.

Well, salah seorang profesor favorit dari almamater saya, City University of New York (CUNY), konon telah menyediakan sebuah teori yang dapat membereskan ide alam semesta berpencipta cerdas. Dr. Michio Kaku dari CUNY yang mengajar di City College, New York City, dan merupakan salah satu pendiri Teori-M (Teori String) menyatakan (menurut sebuah artikel) bahwa primitive semi-radius tachyon dapat dipakai untuk membuktikan pencipta tertinggi memang eksis. Tachyon adalah partikel hipotetis. Mereka diyakini bergerak lebih cepat daripada cahaya yang melesat pada kecepatan 286.282 mil per detik. Saking cepatnya, mereka melucuti materi dari alam semesta yang sebagian besar berupa ruang hampa berkomposisi partikel virtual, dark matter, dan energi. Ini membuat alam semesta bebas dari pengaruh apapun. Dr. Kaku dikutip menyatakan:
“Saya berkesimpulan, kita berada di dunia yang diciptakan berdasarkan kaidah yang dibuat oleh suatu kecerdasan. Percayalah, segala sesuatu yang kita sebut untung-untungan tidak lagi masuk akal hari ini. Bagi saya jelas, kita eksis dalam rencana yang diatur menurut kaidah yang dibuat, dibentuk oleh kecerdasan universal dan bukan oleh untung-untungan.”
Dr. Kaku memandang alam semesta sebagai “matriks” atau simulasi. Saya pernah menulis tentang ide ini, yang banyak dibahas di lingkaran filsafat dan fisika: Universe is a Program.. uh oh, there must be a Programmer.

Sebelumnya Dr. Kaku juga menyebut, dengan kemajuan fisika kita mulai melihat bahwa alam semesta bersifat matematis. Matematika adalah bahasa rasional yang hanya bisa datang dari akal cerdas. Dr. Kaku berkesimpulan, “Tuhan adalah matematikawan.” Dia menyatakan dalam sebuah video untuk “Big Think”:
“Mendadak teori-teori supersimetri bermunculan dari fisika yang kemudian merevolusi matematika, sehingga cita-cita fisika yang kita yakini adalah menemukan persamaan sepanjang kurang dari satu inchi yang memungkinkan kita menyatukan semua gaya alam dan membaca pikiran Tuhan. Lantas apa kunci menuju persamaan satu inchi itu? Supersimetri, kesimetrian yang muncul dari fisika, bukan matematika, dan telah menggoncangkan dunia matematika. Tapi Anda lihat, semua ini matematika murni, maka boleh jadi resolusi akhirnya adalah Tuhan seorang matematikawan. Dan ketika Anda membaca pikiran Tuhan, kita sebetulnya punya kandidat untuk pikiran Tuhan. Pikiran Tuhan yang kita yakini adalah musik kosmik, musik string yang bergaung ke segenap hyperspace 11 dimensi. Itulah pikiran Tuhan.”
Saya belum menemukan apa-apa di situs Dr. Kaku yang mengkonfirmasi banyak pemberitaan di luar sana dan mungkin akan menghubunginya untuk informasi lebih jauh. Menarik untuk dicatat, seseorang yang diduga ilmuwan Kristen bersikap skeptis terhadap klaim-klaim ini (blog.drwile.com). Namun akun Twitter resmi CUNY bercuit begini:
Bisakah “primitive semi-radius tachyon” membuktikan adanya Tuhan? Ya, kata @michiokaku! dari #CUNY bit.ly/1Ymtc33
— CUNY Newswire (@cunynewswire) 14 Juni 2016
Sumber:
www.scienceworldreport.com
www.cnsnews.com
www.catholic.org
www.wnd.com
www.christiantoday.com
www.ageac.org
www.australianetworknews.com
www.ferocesmente.com
www.youtube.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar