Thursday, October 21, 2021

Kutipan dari 'MASA DEPAN PIKIRAN'

Oleh: Michio Kaku

Telepati Digital dan Vidio Pikiran: Menuju Era Baru Komunikasi Mental

Harry Houdini, pesulap legendaris, pernah menolak kemungkinan telepati sebagai hal yang mustahil. Namun, ilmu pengetahuan kini perlahan membuktikan bahwa keyakinannya keliru. Di berbagai universitas di seluruh dunia, para ilmuwan sedang meneliti kemampuan membaca pikiran manusia menggunakan teknologi sensor canggih. Hasilnya sungguh luar biasa: kini kita dapat mengakses kata-kata, gambar, bahkan pikiran yang muncul dalam benak seseorang. Teknologi ini berpotensi mentransformasi cara kita berinteraksi, terutama bagi mereka yang mengalami kelumpuhan total akibat stroke atau kecelakaan, yang hanya dapat berkomunikasi lewat kedipan mata. Dan itu baru permulaan.

Sunday, October 17, 2021

Bagaimana Pandangan Zen terhadap Kematian?

Tertawa. Ya, tertawa adalah sikap Zen terhadap kematian dan terhadap kehidupan juga, karena kehidupan dan kematian tidak terpisahkan. Apapun sikap Anda terhadap kehidupan adalah sikap Anda terhadap kematian, karena kematian datang seperti mekarnya bunga di akhir kehidupan. Kehidupan hadir untuk kematian. Kehidupan hadir melalui kematian. Tanpa kematian tidak akan ada kehidupan sama sekali. Kematian bukanlah akhir tetapi puncak. Kematian bukanlah musuh, ia adalah teman. Ia membuat kehidupan menjadi mungkin.
 
Jadi sikap Zen tentang kematian adalah persis sama seperti sikap Zen terhadap kehidupan-yaitu dengan tertawa, sukacita, perayaan. Dan jika Anda sudah bisa tertawa pada kematian, saat kematian, Anda terbebas dari semua. Maka Anda adalah kebebasan. Jika Anda tidak bisa menertawakan kematian Anda tidak akan bisa tertawa terhadap kehidupan karena kematian akan selalu datang. Setiap tindakan dalam kehidupan, setiap pengalaman dalam kehidupan, membawa kematian lebih dekat. Setiap momen yang Anda jalani, membawa lebih dekat dengan kematian. Jika Anda tidak bisa tertawa dengan kematian, bagaimana Anda bisa tertawa pada kehidupan dan di dalam kehidupan?
 
Tetapi ada perbedaan antara umat Buddha Zen dan agama-agama lain. Agama lain tidak sedalam itu: agama lain juga mengatakan bahwa Anda tidak perlu takut terhadap kematian karena jiwa adalah abadi. Tapi dalam gagasan tentang kekekalan jiwa, pikiran Anda akan mencari keabadian dan tidak ada yang lain. Dengan gagasan tentang keabadian, Anda menolak kematian, Anda mengatakan bahwa kematian tidak ada. Anda berkata, “Jadi, mengapa harus takut"? Tidak ada kematian. Aku akan terus hidup-jika tidak sebagai tubuh ini, saya akan terus hidup sebagai jiwa. Esensi saya akan terus hidup. Jadi mengapa takut akan kematian? Kematian tidak akan menghancurkan saya. Aku akan tetap hidup, saya akan bertahan, saya akan melanjutkan hidup.”Agama-agama lain berkompromi dengan keinginan Anda untuk tetap ada selamanya, mereka memberikan penghiburan". Mereka berkata, “Jangan khawatir. Anda akan berada di beberapa tubuh lainnya, dalam bentuk lain, tetapi Anda terus hidup.” Hal ini tampaknya menjadi melekat.
 
Tapi pendekatan Zen terhadap kematian benar-benar berbeda, sangat mendalam. Agama-agama lain mengatakan untuk tidak mengkhawatirkan tentang kematian, untuk tidak takut, karena jiwa adalah abadi. Zen mengatakan: tidak ada kematian karena tidak ada yang mati. Lihat perbedaan-tidak ada yang mati. Diri tidak ada, sehingga kematian tidak dapat mengambil apa pun dari Anda. Hidup tidak bisa memberikan apa-apa dan kematian tidak dapat mengambil apa pun. Tidak ada tujuan dalam kehidupan dan tidak ada tujuan dalam kematian. Tidak ada kematian. Agama-agama lain mengatakan kamu tidak akan mati jadi jangan khawatir tentang kematian. Zen mengatakan: Anda tidak eksis - pada apakah Anda khawatir? Tidak ada yang nyata dalam kehidupan dan tidak ada yang nyata dalam kematian; Anda adalah murni kekosongan. Tidak ada apa-apa.

Saturday, October 16, 2021

ALAM SEMESTA DALAM DIRI KITA (3): Sudut Pandang Kosmik dan Pembebasan Pikiran

"Sudut pandang kosmik bersifat spiritual dan memerdekakan."

Apa sesungguhnya bahan pembentuk diri kita? Di balik struktur biologis yang kita kenali sebagai tubuh manusia, jawaban dari sains modern membawa kita menuju pemahaman yang jauh lebih luas dan menakjubkan. Fisika nuklir dan astrofisika telah mengungkap bahwa unsur-unsur kimia yang menyusun tubuh kita—hidrogen, oksigen, karbon, dan nitrogen—merupakan produk dari reaksi fusi termonuklir yang terjadi di dalam inti bintang raksasa. Ketika bintang-bintang bermassa besar mencapai akhir hidupnya dan meledak dalam peristiwa supernova, mereka memuntahkan elemen-elemen berat ke ruang antarbintang, memperkaya galaksi dengan bahan-bahan pembentuk kehidupan.

POHON SILSILAH DAN ASAL USUL KITA (2)

"Kita adalah debu bintang yang menjadi hidup, lalu diberdayakan oleh alam semesta untuk mengerti."Neil deGrasse Tyson

Sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, di pinggiran sebuah supergugus galaksi yang dikenal sebagai Virgo, terbentuklah sebuah sistem bintang dari sisa-sisa ledakan generasi bintang sebelumnya. Salah satu bintang di sistem itu—Matahari—lahir dari kondensasi awan gas dan debu yang kaya unsur berat. Di sekitarnya, materi yang tersisa membentuk cakram protoplanet, dan dari sanalah Bumi terbentuk melalui proses akresi selama jutaan tahun.

Bumi menempati posisi yang sangat istimewa di sekitar Matahari, pada jarak yang secara termal stabil untuk menjaga air tetap dalam bentuk cair. Ini adalah zona yang oleh para ilmuwan disebut "Zona Goldilocks"—tidak terlalu panas hingga laut menguap, dan tidak terlalu dingin hingga membeku. Dalam keseimbangan suhu inilah lautan terbentuk, menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya reaksi kimia kompleks.

PERMULAAN: Alam Semesta Kita (1)

“Satu per setriliun detik sudah berlalu sejak permulaan.” – Neil deGrasse Tyson

Namun, pertanyaannya tetap menggantung dalam kehampaan yang luas: apa yang terjadi sebelum itu?

Inilah teka-teki besar kosmologi modern. Para ahli fisika dan astrofisika belum memiliki jawaban pasti, bukan karena kurang cerdas, tetapi karena keterbatasan alat dan kerangka hukum fisika kita saat ini. Dalam istilah Neil deGrasse Tyson, kita belum memiliki “dasar sains eksperimental” untuk menyelidiki pra-Big Bang. Fisika modern—termasuk relativitas umum Einstein dan mekanika kuantum—mulai gagal ketika kita mencoba memahami kondisi singularitas, yakni titik awal yang padat, panas, dan tak terbatas yang diyakini menjadi awal mula ruang dan waktu.

ZEN ADALAH ZEN

ZEN ADALAH ZEN. Tidak ada yang sebanding dengannya. Hal ini unik - unik dalam arti bahwa itu adalah hal yang paling biasa namun juga merupakan fenomena yang paling luar biasa yang telah terjadi pada kesadaran manusia. Zen adalah yang paling biasa karena ia tidak percaya pada pengetahuan, tidak percaya pada pikiran. Hal ini bukan filsafat, bukan juga agama. Ini adalah penerimaan terhadap semua yang ada dengan hati yang penuh, dengan sepenuhnya, tidak menginginkan dunia yang lain, supra-duniawi, supra-mental. Ia tidak memiliki ketertarikan dalam setiap omong kosong esoteris, tidak tertarik pada metafisika sama sekali. Ia tidak menginginkan pantai yang lainnya; pantai ini sudah lebih dari cukup. Penerimaan terhadap pantai ini yang begitu luar biasa dan melalui penerimaan yang sangat luar biasa itu maka ia men-transformasi/mengubah pantai ini - dan pantai ini pun menjadi pantai yang lain itu:

Tubuh ini adalah sang buddha;
Bumi ini adalah teratai surga.

Oleh karena itu ia biasa. Ia tidak ingin engkau untuk menciptakan jenis spiritualitas tertentu, jenis kesucian tertentu. Semua yang diminta hanyalah agar engkau menjalani hidupmu dalam kekinian, spontanitas. Dan kemudian yang biasa itu menjadi suci.

Keajaiban terbesar Zen adalah dalam me-transformasi/mengubah yang biasa menjadi suci. Dan itu sangat luar biasa karena cara hidup yang seperti ini belum pernah didekati sebelumnya, cara hidup INI tidak pernah sedemikian dihormati sebelumnya.

ZEN

Penanya:
Aku tidak bisa mengerti filosofi Zen. Apa yang harus aku lakukan untuk memahaminya?

Jawaban OSHO:
Zen sama sekali bukan filosofi. Untuk memahami Zen seolah-olah itu adalah filsafat adalah memulai dengan cara yang salah sejak awal. Filosofi adalah sesuatu dari pikiran; Zen benar-benar berada di luar jangkauan pikiran. Zen adalah proses berjalan melampaui pikiran, jauh dari pikiran; zen adalah proses transendensi, melampaui pikiran. Engkau tidak dapat memahami zen dengan pikiran, pikiran tidak memiliki kegunaan di dalam zen.

Zen adalah keadaan tanpa pikiran, itu sesuatu yang harus diingat. Zen bukan Vedanta. Vedanta adalah filsafat; engkau bisa memahaminya dengan baik. Zen bahkan bukan Buddhisme; Buddhisme juga merupakan filsafat.

Zen adalah pembungaan yang sangat langka - adalah salah satu hal aneh yang telah terjadi dalam sejarah kesadaran - zen adalah pertemuan pengalaman Buddha dan pengalaman Lao Tzu. Buddha, bagaimanapun juga, adalah bagian dari warisan India: dia berbicara bahasa filsafat; Dia sangat jelas, engkau bisa memahaminya. Sebenarnya, dia menghindari semua pertanyaan metafisik; Dia sangat sederhana, jelas, logis. Tapi pengalamannya bukan dari pikiran. Dia mencoba menghancurkan filosofimu dengan memberimu filsafat negatif. Sama seperti engkau bisa mengeluarkan duri dari kakimu dengan duri lain, Upaya Buddha adalah mengeluarkan filosofi dari pikiranmu dengan filsafat lain. Begitu duri pertama dibawa keluar, kedua duri itu bisa dibuang dan engkau akan berada di luar jangkauan pikiran.