Wednesday, April 25, 2012

Merajut Cahaya dalam Kerangka Kosmik

Citra yang didapat oleh Teleskop Subaru. Kredit : ESO/Subaru/National Astronomical Observatory of Japan/M. Tanaka Citra yang didapat oleh Teleskop Subaru. Kredit : ESO/Subaru/National Astronomical Observatory of Japan/M. Tanaka

Astronom berhasil melacak kumpulan galaksi raksasa yang sebelumnya tidak dikenal dan berada 7 milyar tahun cahaya dari kita.  Objek tersebut ditemukan oleh kombinasi dua teleskop landas Bumi yang memiliki kemampuan mutakhir dan sekaligus menjadikan penemuan ini sebagai pengamatan yang pertama dalam hal struktur galaksi pada alam semesta yang jauh. Dengan demikian penemuan ini memberikan kepada kita sebuah cerita baru dari jaringan kosmik dan bagaimana ia terbentuk.

Menurut Masayuki Tanaka dari ESO, “materi tidak terdistribusi seragam di alam semesta. Di daerah kosmik, bintang terbentuk dalam galaksi dan galaksi-galaksi biasanya membentuk kelompok dan gugus. Teori kosmologi yang paling diterima memperediksikan materi juga berada dalam rumpun dengan skala yang cukup besar yang biasanya dikenal sebagai jaringan kosmik, dimana galaksi tertanam dalam filamen dan terulur diantara kehampaan membentuk struktur gumpalan maha raksasa”.

Filamen-filamen tersebut panjangnya jutaan tahun cahaya dan merupakan kerangka alam semesta: galaksi berkumpul disekelilingnya, dan gugus galaksi yang sangat besar terbentuk di ruang perpotongannya, mengintip seperti laba-laba raksasa yang menanti materi lebih banyak lagi untuk dilahap. Nah, para peneliti justru berusaha mencari tahu bagaimana filamen-filamen tersebut bisa melakukan putaran dan ada seperti yang dilihat. Sebelumnya, struktur filamen yang masif sudah pernah diamati pada jarak yang lebih dekat, namun bukti keberadaan mereka pada alam semesta jauh sebenarnya bisa dikatakan masih sangat kurang sampai dengan saat ini.

Tim yang dipimpin Tanaka berhasil menemukan struktur raksasa disekeliling gugus galaksi dalam citra yang mereka dapatkan sebelumnya. Mereka kemudian menggunakan dua teleskop landas Bumi untuk dapat mempelajari struktur tersebut dalam detil yang lebih baik lagi. Pengamatan spektroskopik kemudian dilakukan dengan menggunakan instrumen VIMOS pada Very Large Telescope milik ESO dan FOCAS pada Teleksop Subaru yang dioperasikan oleh National Astronomical Observatory of Japan.

Hasilnya, para astronom bisa membuat studi demografi dari struktur yang ditemukan tersebut dan melakukan identifikasi terhadap beberapa kelompok galaksi yang mengelilingi rumpun galaksi utama. Tak hanya itu, mereka juga berhasil melihat dengan jelas dan membedakan puluhan rumpun, dan secara tipikal 10 kali lebih masif dari galaksi Bima Sakti. Sebagian lainnya bahkan diperkirakan ribuan kali lebih masif, sementara hasil perhitungan menunjukkan massa di cluster galaksi setidaknya 10 ribu kali massa Bima Sakti. Bahkan sebagian rumpun mengalami gaya tarik yang fatal dari si cluster dan akibatnya mereka jatuh ke dalam rumpunan tersebut.

Ilustrasi yang menunjukkan posisi galaksi. Kredit: ESO
Ilustrasi yang menunjukkan posisi galaksi. Kredit: ESO

Menurut Tanaka, “Ini pertama kalinya mereka mengamati struktur
yang kaya di galaksi jauh. Kami sekarang bisa berpindah dari
demografi ke sosiologi dan kemudian mempelajari perangkat
di dalam galaksi yang bergantung pada lingkungan, saat alam
semesta berusia 2/3 dari usia saat ini. Filamen tersebut
berlokasi 6,7 milyar tahun cahaya dan membentang
sampai dengan 60 juta tahun cahaya.

Sumber:,LangitSelatan

No comments:

Post a Comment