Friday, October 31, 2025

Otak, Roh, dan Pengalaman Spiritual: Perspektif Evolusi dan Neurosains

Spesies cerdas Homo sapiens, yang menjadi pewaris sekaligus pelaku peradaban modern, muncul sekitar 300.000 hingga 400.000 tahun lalu di Afrika. Kemunculannya bukanlah suatu kebetulan, melainkan hasil dari proses evolusi biologis yang sangat panjang dan kompleks selama jutaan tahun. Evolusi ini, terutama pada sistem saraf pusat dan otak, telah memungkinkan manusia bukan hanya bertahan hidup, tetapi juga mengembangkan kesadaran diri, bahasa, imajinasi, serta—yang sangat unik—kemampuan untuk mengalami dan merumuskan makna dari pengalaman spiritual.

Di sisi lain, alam semesta telah eksis jauh lebih lama. Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Sejak awal, inti planet ini telah memancarkan medan magnetik yang sangat kuat dan stabil. Medan magnet ini berperan dalam banyak aspek geofisika, termasuk perlindungan terhadap radiasi kosmik dan pengaturan kehidupan di permukaan. Selain itu, di ruang antarbintang maupun antargalaksi, kita tahu bahwa gelombang elektromagnetik dan radiasi kosmik terus-menerus memancar, membentuk lanskap fisik yang luas dan energetik. Di tengah lingkungan kosmik dan geofisik yang demikian inilah otak manusia berkembang—dan dengan itu pula muncul kemungkinan bagi pengalaman spiritual untuk menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Tuhan, Jiwa, dan Sains: Pergeseran Paradigma dalam Memahami Realitas

Selama sebagian besar sejarah peradaban manusia, konsep Tuhan dan jiwa digunakan sebagai penjelasan utama untuk fenomena yang tidak dimengerti. Dalam masyarakat pra-modern, segala yang tak dapat dijelaskan secara langsung dianggap sebagai intervensi adikodrati. Kilatan petir di langit adalah kemarahan dewa; hujan yang turun adalah rahmat ilahi; dan kehidupan yang muncul di muka bumi adalah karya tangan Tuhan yang tak terjangkau nalar.

Pandangan ini, yang dikenal sebagai God of the gaps (Tuhan pengisi kekosongan pengetahuan), bertahan lama karena manusia belum memiliki metode untuk menguji dan memverifikasi hipotesis secara sistematis. Namun, sejak lahirnya sains modern pada abad ke-16 dan 17, pendekatan manusia terhadap pengetahuan mulai berubah secara radikal. Galileo Galilei, Francis Bacon, hingga Isaac Newton menanamkan satu gagasan revolusioner: bahwa alam semesta tunduk pada hukum-hukum alam yang dapat dipahami, diukur, dan diprediksi, tanpa perlu asumsi metafisik sebagai prasyarat utama.

Tuesday, June 24, 2025

PEMBERITAHUAN

Setelah sekian lama tidak diperbarui, kini seluruh tulisan pribadi saya di blog ini telah melalui proses penyuntingan ulang. Revisi ini dilakukan untuk menyesuaikan isi, konteks, dan sudut pandang dengan perkembangan terbaru.

Blog AOS – Spiritualitas & Sains memuat beragam tulisan dari para pemikir dan pakar dunia, serta refleksi-refleksi pribadi saya sebagai pemilik blog. Semuanya disajikan sebagai ruang terbuka untuk berbagi wawasan, menggugah pemikiran, dan mendorong dialog yang kritis namun segar.

Terima kasih atas perhatian dan kesetiaan Anda selama ini. Selamat membaca kembali—dengan sudut pandang yang diperbarui.

AOS
 

Kesadaran: Batas Terakhir Ilmu Pengetahuan?

Di era ketika sains mampu membaca DNA, memetakan galaksi jauh, dan bahkan menciptakan kecerdasan buatan, ada satu pertanyaan mendasar yang tetap tidak terjawab: apa itu kesadaran? Bagaimana mungkin segumpal materi biologis di dalam tengkorak manusia bisa menghasilkan pengalaman subyektif seperti rasa sakit, marah, cinta, atau rasa ingin tahu?

Pertanyaan ini bukan hanya teka-teki ilmiah. Ia adalah jantung dari apa artinya menjadi manusia.

Wednesday, June 18, 2025

Menjadi Manusia Sepenuhnya: Sebuah Renungan tentang Belas Kasih dan Cahaya Kesadaran

Di zaman yang penuh gejolak ini—ketika suara-suara saling tumpang tindih dan dunia seolah bergerak terlalu cepat menuju sesuatu yang tak pasti—kita ditantang untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi peserta aktif dalam pencarian makna terdalam hidup ini. Di tengah kabut ideologi, ego, dan hiruk-pikuk kepentingan, ada satu kualitas manusia yang pelan namun kuat, lembut namun tak tergantikan: kasih sayang.

Kasih sayang bukan sekadar perasaan manis atau kelembutan sesaat. Ia adalah kekuatan moral yang memancar dari kedalaman batin manusia. Belajar mengasihi—bukan hanya mereka yang memudahkan hidup kita, tapi juga mereka yang menyulitkan, bahkan yang menyakiti—adalah pergulatan panjang dan tak selalu mudah. Kita belajar mencintai bukan karena orang lain selalu layak dicintai, tetapi karena diri kita sendiri sedang belajar menjadi pribadi yang pantas untuk mencintai.

Realitas dan Ekor Sang Singa: Metafora Einstein tentang Jagat Raya

Jagat raya memiliki dimensi yang begitu besar dan kompleks, hingga tak mungkin sepenuhnya dipahami oleh pikiran manusia. Selama ribuan tahun, manusia berusaha menyingkap rahasia semesta, namun apa yang berhasil kita ketahui ternyata baru secuil saja dari keseluruhan realitas.

Albert Einstein pernah menggunakan sebuah metafora yang indah dan menggugah untuk menggambarkan keterbatasan manusia dalam memahami alam semesta. Ia mengatakan bahwa apa yang kita lihat dan pahami dari alam ini hanyalah “ekor sang singa.”

DIMENSI TINGGI: FISIKA, SPEKULASI, DAN BAYANGAN DUNIA LAIN

Apakah alam semesta ini hanya terbatas pada tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu? Ataukah ada dimensi yang lebih tinggi — ruang-ruang yang tidak bisa kita lihat, sentuh, atau rasakan, namun nyata secara matematis dan mungkin fundamental bagi struktur semesta? Pertanyaan ini bukan hanya milik mistikus atau penulis fiksi ilmiah. Dalam beberapa dekade terakhir, ia justru menjadi pusat perhatian fisikawan teoretis paling serius.

Fisikawan seperti Michio Kaku dan para peneliti teori string kini meyakini bahwa dimensi lebih tinggi sangat mungkin nyata. Teori string — salah satu kandidat utama untuk Theory of Everything (Teori Segalanya) — menyatakan bahwa partikel dasar di alam semesta bukanlah titik-titik kecil, tetapi "string" yang bergetar dalam ruang berdimensi lebih tinggi. Teori ini hanya bisa bekerja secara matematis jika alam semesta memiliki lebih dari empat dimensi. Secara khusus, versi lengkap dari teori ini membutuhkan sembilan hingga sepuluh dimensi ruang, plus satu waktu — total sepuluh atau sebelas dimensi.

Empat Kekuatan Dasar Alam Semesta dan Pencarian Teori Segalanya

Alam semesta yang kita huni ini tampaknya begitu kompleks dan penuh misteri. Namun, menurut fisikawan teoretis seperti Michio Kaku, di balik seluruh keragaman fenomena alam terdapat empat kekuatan fundamental yang menjadi dasar dari segalanya. Keempat kekuatan ini—gravitasi, elektromagnetisme, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah—tidak hanya mengatur perilaku partikel terkecil, tetapi juga mengendalikan gerak galaksi yang berputar di angkasa. Mereka adalah empat pilar kosmik yang menopang seluruh struktur realitas.

Apa yang membuat keempat gaya ini sangat menarik bagi para ilmuwan adalah kemungkinan bahwa mereka sejatinya adalah manifestasi dari satu kekuatan tunggal yang lebih dalam. Dalam teori dimensi lebih tinggi, seperti yang diajukan oleh teori string dan teori medan terpadu, keempat gaya ini dapat dipandang sebagai hasil getaran dalam ruang dimensi yang belum dapat kita lihat. Cahaya, misalnya, menurut Michio Kaku, mungkin hanyalah getaran dari suatu realitas di dimensi kelima. Maka bukan tidak mungkin, gravitasi dan gaya nuklir pun adalah bentuk getaran dalam dimensi yang bahkan lebih tinggi lagi.

Tuesday, June 17, 2025

Tiga Misteri Besar: Kesadaran, Asal Usul Alam Semesta, dan Teori Segalanya

Di tengah pencapaian luar biasa ilmu pengetahuan modern, ada tiga misteri besar yang hingga kini masih menjadi tantangan utama bagi para ilmuwan: bagaimana otak menghasilkan kesadaran, apa yang sebenarnya menyebabkan Big Bang, dan bagaimana menyatukan seluruh hukum fisika dalam satu kerangka yang utuh—yang disebut Teori Segalanya (Theory of Everything).

Dalam bidang biologi dan neurosains, para ahli telah berhasil memetakan fungsi otak secara rinci. Kita kini memahami bagaimana neuron-neuron saling berinteraksi, bagaimana area tertentu di otak berhubungan dengan emosi, memori, dan persepsi. Namun, satu pertanyaan paling mendasar tetap tak terjawab: bagaimana aktivitas fisik otak—yang terdiri dari reaksi kimia dan impuls listrik—dapat melahirkan pengalaman subjektif seperti rasa sakit, warna merah, atau rasa takut? Pertanyaan ini dikenal sebagai “hard problem of consciousness”, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh filsuf David Chalmers. Tidak satu pun teori saat ini yang mampu menjelaskan bagaimana kesadaran muncul dari proses biologis, atau bahkan apakah kesadaran itu murni hasil kerja otak atau melibatkan sesuatu yang lebih fundamental.

Monday, June 16, 2025

Bagaimana Nasib Agama di Masa Depan?

Sumit Paul-Choudhury
Peranan, BBC Future

Agama-agama dilahirkan, tumbuh dan mati. 3.500 tahun lalu, agama Zoroastrianisme menjadi agama yang diikuti jutaan orang. Kini, agama ini sekarat dan hanya diikuti sedikit orang. Bagaimana nasib agama-agama lain?

Sebelum Muhammad, sebelum Yesus, sebelum Buddha, ada seorang Zoroaster. Sekitar 3.500 tahun yang lalu, pada Zaman Perunggu Iran, dia mendapatkan visi tentang satu-satunya Tuhan yang tertinggi.

Selang 1.000 tahun kemudian, Zoroastrianisme, agama monoteistik besar pertama di dunia menjadi kepercayaan resmi Kekaisaran Persia yang perkasa. Kuil-kuil apinya dihadiri oleh jutaan umat. 1.000 tahun setelah itu, kekaisaran runtuh, dan para pengikut Zoroaster dipaksa dan dimualafkan ke agama baru penakluk mereka, Islam.

Lalu 1.500 tahun kemudian, hari ini, Zoroastrianisme adalah kepercayaan yang sekarat. Jumlah para penyembah api kudusnya telah mencapai titik paling minim.

Saturday, October 23, 2021

Bisakah Fisika Membuktikan Keberadaan Tuhan?

Bagi sebagian orang, pertanyaan tentang keberadaan Tuhan menjadi sebuah pertanyaan yang tak lekang oleh waktu. Bisakah fisika membuktikan keberadaan Tuhan?

Saya masih percaya Tuhan (saya sekarang seorang ateis) ketika saya mendengar pertanyaan berikut yang diajukan Albert Einstein dalam sebuah seminar, yang membuat saya tercengang oleh keanggunan dan kedalaman pertanyaannya:
 
"Jika ada Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta dan SEMUA hukum fisikanya, apakah Tuhan mengikuti hukum yang ia ciptakan sendiri?
 
Atau bisakah Tuhan melampaui hukumnya sendiri, seperti berkelana lebih cepat dari kecepatan cahaya dan dengan demikian mampu berada di dua tempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan?"
 
Dapatkah jawaban tersebut membantu kita membuktikan apakah Tuhan itu ada atau tidak, atau di sinilah titik di mana empirisme ilmiah dan keyakinan agama bersinggungan, dengan TIDAK disertai jawaban yang pasti?
 
David Frost, 67 tahun, Los Angeles.
 
Saya berada dalam karantina wilayah ketika menerima pertanyaan ini dan langsung tertarik.
 
Tidak mengherankan momen kapan pertanyaan ini muncul - kejadian tragis, seperti pandemi, acap kali membuat kita mempertanyakan keberadaan Tuhan: jika Tuhan maha baik, mengapa bencana seperti ini terjadi?
 
Gagasan bahwa Tuhan mungkin "terikat" oleh hukum fisika - yang juga mengatur tentang kimia dan biologi dan dengan demikian halnya batasan-batasan ilmu kedokteran - adalah hal yang menarik untuk ditelusuri.
 
Jika Tuhan tak dapat melanggar hukum fisika, ia bisa dibilang tidak sekuat yang Anda harapkan sebagai makhluk tertinggi.
 
Namun, jika ia bisa melakukannya, mengapa kita belum melihat bukti hukum fisika pernah dilanggar di alam semesta?

Argumen Penutup Ketiadaan Tuhan

Argumen ini akan saya gunakan untuk membuktikan bahwa tuhan tidak ada. Saya akan membunuh tuhan. Pendekatan yang saya gunakan adalah pendekatan logika. Bukan pendekatan iman, bukan pula pendekatan agama.

Argumen ini adalah tantangan dan serangan. Argumen ini tidak ambil posisi netral. Silahkan ditanggapi, dihajar, diserang balik.
 
Argumen ini saya bagi menjadi beberapa runtutan logika. Yang mesti dibaca satu persatu dari atas ke bawah untuk dipahami. Argumen ini tersusun dalam tiga bagian yang saya sebut major argument. Dua bagian awal akan menunjukkan kepada Anda bahwa tuhan tidak mungkin ada. Dan argumen penutup akan menutup celah logika yang tertinggal pada dua argumen sebelumnya. Tiga major arguments ini mesti dibaca berurutan dan dipahami sebagai satu kesatuan menuju kesimpulan penutup: BAHWASANYA MENURUT LOGIKA DAN AKAL SEHAT, TUHAN TIDAK MUNGKIN ADA DAN JELAS TIDAK ADA.
 
Pertama kita akan berangkat dari asumsi kaum teis tradisional bahwa tuhan adalah pencipta berpribadi dan berkehendak. Tuhan yang dalam eksistensinya adalah berinisiatif dan aktif dalam relasi dengan manusia dan semesta alam. Yang akan kita bedah dengan pisau logika menuju major argument pertama.
 
Major Argument #1 To Kill The Personal God
 
TUHAN, JIKA DIA MEMANG ADA, ADALAH TUHAN YANG PASIF DAN INAKTIF.
Argumen ini bertujuan untuk menolak konsep Personal God. Tuhan yang melibatkan diri secara terus menerus dalam kehidupan manusia. Berinisiatif, berpikir dan berkendak. Berfirman dan bermukjizat. Tuhan para kreasionis yang aktif menciptakan, mengadakan, menjaga, dan memelihara alam sekehendaknya. Tuhan agama-agama Semitik, Dewa-Dewi Hindu, Romawi, dan Yunani. Ada dua minor arguments yang disusun untuk mendukung major argument ini.
 

Thursday, October 21, 2021

Kutipan dari 'MASA DEPAN PIKIRAN'

Oleh: Michio Kaku

Telepati Digital dan Vidio Pikiran: Menuju Era Baru Komunikasi Mental

Harry Houdini, pesulap legendaris, pernah menolak kemungkinan telepati sebagai hal yang mustahil. Namun, ilmu pengetahuan kini perlahan membuktikan bahwa keyakinannya keliru. Di berbagai universitas di seluruh dunia, para ilmuwan sedang meneliti kemampuan membaca pikiran manusia menggunakan teknologi sensor canggih. Hasilnya sungguh luar biasa: kini kita dapat mengakses kata-kata, gambar, bahkan pikiran yang muncul dalam benak seseorang. Teknologi ini berpotensi mentransformasi cara kita berinteraksi, terutama bagi mereka yang mengalami kelumpuhan total akibat stroke atau kecelakaan, yang hanya dapat berkomunikasi lewat kedipan mata. Dan itu baru permulaan.

Sunday, October 17, 2021

Bagaimana Pandangan Zen terhadap Kematian?

Tertawa. Ya, tertawa adalah sikap Zen terhadap kematian dan terhadap kehidupan juga, karena kehidupan dan kematian tidak terpisahkan. Apapun sikap Anda terhadap kehidupan adalah sikap Anda terhadap kematian, karena kematian datang seperti mekarnya bunga di akhir kehidupan. Kehidupan hadir untuk kematian. Kehidupan hadir melalui kematian. Tanpa kematian tidak akan ada kehidupan sama sekali. Kematian bukanlah akhir tetapi puncak. Kematian bukanlah musuh, ia adalah teman. Ia membuat kehidupan menjadi mungkin.
 
Jadi sikap Zen tentang kematian adalah persis sama seperti sikap Zen terhadap kehidupan-yaitu dengan tertawa, sukacita, perayaan. Dan jika Anda sudah bisa tertawa pada kematian, saat kematian, Anda terbebas dari semua. Maka Anda adalah kebebasan. Jika Anda tidak bisa menertawakan kematian Anda tidak akan bisa tertawa terhadap kehidupan karena kematian akan selalu datang. Setiap tindakan dalam kehidupan, setiap pengalaman dalam kehidupan, membawa kematian lebih dekat. Setiap momen yang Anda jalani, membawa lebih dekat dengan kematian. Jika Anda tidak bisa tertawa dengan kematian, bagaimana Anda bisa tertawa pada kehidupan dan di dalam kehidupan?
 
Tetapi ada perbedaan antara umat Buddha Zen dan agama-agama lain. Agama lain tidak sedalam itu: agama lain juga mengatakan bahwa Anda tidak perlu takut terhadap kematian karena jiwa adalah abadi. Tapi dalam gagasan tentang kekekalan jiwa, pikiran Anda akan mencari keabadian dan tidak ada yang lain. Dengan gagasan tentang keabadian, Anda menolak kematian, Anda mengatakan bahwa kematian tidak ada. Anda berkata, “Jadi, mengapa harus takut"? Tidak ada kematian. Aku akan terus hidup-jika tidak sebagai tubuh ini, saya akan terus hidup sebagai jiwa. Esensi saya akan terus hidup. Jadi mengapa takut akan kematian? Kematian tidak akan menghancurkan saya. Aku akan tetap hidup, saya akan bertahan, saya akan melanjutkan hidup.”Agama-agama lain berkompromi dengan keinginan Anda untuk tetap ada selamanya, mereka memberikan penghiburan". Mereka berkata, “Jangan khawatir. Anda akan berada di beberapa tubuh lainnya, dalam bentuk lain, tetapi Anda terus hidup.” Hal ini tampaknya menjadi melekat.
 
Tapi pendekatan Zen terhadap kematian benar-benar berbeda, sangat mendalam. Agama-agama lain mengatakan untuk tidak mengkhawatirkan tentang kematian, untuk tidak takut, karena jiwa adalah abadi. Zen mengatakan: tidak ada kematian karena tidak ada yang mati. Lihat perbedaan-tidak ada yang mati. Diri tidak ada, sehingga kematian tidak dapat mengambil apa pun dari Anda. Hidup tidak bisa memberikan apa-apa dan kematian tidak dapat mengambil apa pun. Tidak ada tujuan dalam kehidupan dan tidak ada tujuan dalam kematian. Tidak ada kematian. Agama-agama lain mengatakan kamu tidak akan mati jadi jangan khawatir tentang kematian. Zen mengatakan: Anda tidak eksis - pada apakah Anda khawatir? Tidak ada yang nyata dalam kehidupan dan tidak ada yang nyata dalam kematian; Anda adalah murni kekosongan. Tidak ada apa-apa.

Saturday, October 16, 2021

ALAM SEMESTA DALAM DIRI KITA (3): Sudut Pandang Kosmik dan Pembebasan Pikiran

"Sudut pandang kosmik bersifat spiritual dan memerdekakan."

Apa sesungguhnya bahan pembentuk diri kita? Di balik struktur biologis yang kita kenali sebagai tubuh manusia, jawaban dari sains modern membawa kita menuju pemahaman yang jauh lebih luas dan menakjubkan. Fisika nuklir dan astrofisika telah mengungkap bahwa unsur-unsur kimia yang menyusun tubuh kita—hidrogen, oksigen, karbon, dan nitrogen—merupakan produk dari reaksi fusi termonuklir yang terjadi di dalam inti bintang raksasa. Ketika bintang-bintang bermassa besar mencapai akhir hidupnya dan meledak dalam peristiwa supernova, mereka memuntahkan elemen-elemen berat ke ruang antarbintang, memperkaya galaksi dengan bahan-bahan pembentuk kehidupan.

POHON SILSILAH DAN ASAL USUL KITA (2)

"Kita adalah debu bintang yang menjadi hidup, lalu diberdayakan oleh alam semesta untuk mengerti."Neil deGrasse Tyson

Sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, di pinggiran sebuah supergugus galaksi yang dikenal sebagai Virgo, terbentuklah sebuah sistem bintang dari sisa-sisa ledakan generasi bintang sebelumnya. Salah satu bintang di sistem itu—Matahari—lahir dari kondensasi awan gas dan debu yang kaya unsur berat. Di sekitarnya, materi yang tersisa membentuk cakram protoplanet, dan dari sanalah Bumi terbentuk melalui proses akresi selama jutaan tahun.

Bumi menempati posisi yang sangat istimewa di sekitar Matahari, pada jarak yang secara termal stabil untuk menjaga air tetap dalam bentuk cair. Ini adalah zona yang oleh para ilmuwan disebut "Zona Goldilocks"—tidak terlalu panas hingga laut menguap, dan tidak terlalu dingin hingga membeku. Dalam keseimbangan suhu inilah lautan terbentuk, menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya reaksi kimia kompleks.

PERMULAAN: Alam Semesta Kita (1)

“Satu per setriliun detik sudah berlalu sejak permulaan.” – Neil deGrasse Tyson

Namun, pertanyaannya tetap menggantung dalam kehampaan yang luas: apa yang terjadi sebelum itu?

Inilah teka-teki besar kosmologi modern. Para ahli fisika dan astrofisika belum memiliki jawaban pasti, bukan karena kurang cerdas, tetapi karena keterbatasan alat dan kerangka hukum fisika kita saat ini. Dalam istilah Neil deGrasse Tyson, kita belum memiliki “dasar sains eksperimental” untuk menyelidiki pra-Big Bang. Fisika modern—termasuk relativitas umum Einstein dan mekanika kuantum—mulai gagal ketika kita mencoba memahami kondisi singularitas, yakni titik awal yang padat, panas, dan tak terbatas yang diyakini menjadi awal mula ruang dan waktu.

ZEN ADALAH ZEN

ZEN ADALAH ZEN. Tidak ada yang sebanding dengannya. Hal ini unik - unik dalam arti bahwa itu adalah hal yang paling biasa namun juga merupakan fenomena yang paling luar biasa yang telah terjadi pada kesadaran manusia. Zen adalah yang paling biasa karena ia tidak percaya pada pengetahuan, tidak percaya pada pikiran. Hal ini bukan filsafat, bukan juga agama. Ini adalah penerimaan terhadap semua yang ada dengan hati yang penuh, dengan sepenuhnya, tidak menginginkan dunia yang lain, supra-duniawi, supra-mental. Ia tidak memiliki ketertarikan dalam setiap omong kosong esoteris, tidak tertarik pada metafisika sama sekali. Ia tidak menginginkan pantai yang lainnya; pantai ini sudah lebih dari cukup. Penerimaan terhadap pantai ini yang begitu luar biasa dan melalui penerimaan yang sangat luar biasa itu maka ia men-transformasi/mengubah pantai ini - dan pantai ini pun menjadi pantai yang lain itu:

Tubuh ini adalah sang buddha;
Bumi ini adalah teratai surga.

Oleh karena itu ia biasa. Ia tidak ingin engkau untuk menciptakan jenis spiritualitas tertentu, jenis kesucian tertentu. Semua yang diminta hanyalah agar engkau menjalani hidupmu dalam kekinian, spontanitas. Dan kemudian yang biasa itu menjadi suci.

Keajaiban terbesar Zen adalah dalam me-transformasi/mengubah yang biasa menjadi suci. Dan itu sangat luar biasa karena cara hidup yang seperti ini belum pernah didekati sebelumnya, cara hidup INI tidak pernah sedemikian dihormati sebelumnya.

ZEN

Penanya:
Aku tidak bisa mengerti filosofi Zen. Apa yang harus aku lakukan untuk memahaminya?

Jawaban OSHO:
Zen sama sekali bukan filosofi. Untuk memahami Zen seolah-olah itu adalah filsafat adalah memulai dengan cara yang salah sejak awal. Filosofi adalah sesuatu dari pikiran; Zen benar-benar berada di luar jangkauan pikiran. Zen adalah proses berjalan melampaui pikiran, jauh dari pikiran; zen adalah proses transendensi, melampaui pikiran. Engkau tidak dapat memahami zen dengan pikiran, pikiran tidak memiliki kegunaan di dalam zen.

Zen adalah keadaan tanpa pikiran, itu sesuatu yang harus diingat. Zen bukan Vedanta. Vedanta adalah filsafat; engkau bisa memahaminya dengan baik. Zen bahkan bukan Buddhisme; Buddhisme juga merupakan filsafat.

Zen adalah pembungaan yang sangat langka - adalah salah satu hal aneh yang telah terjadi dalam sejarah kesadaran - zen adalah pertemuan pengalaman Buddha dan pengalaman Lao Tzu. Buddha, bagaimanapun juga, adalah bagian dari warisan India: dia berbicara bahasa filsafat; Dia sangat jelas, engkau bisa memahaminya. Sebenarnya, dia menghindari semua pertanyaan metafisik; Dia sangat sederhana, jelas, logis. Tapi pengalamannya bukan dari pikiran. Dia mencoba menghancurkan filosofimu dengan memberimu filsafat negatif. Sama seperti engkau bisa mengeluarkan duri dari kakimu dengan duri lain, Upaya Buddha adalah mengeluarkan filosofi dari pikiranmu dengan filsafat lain. Begitu duri pertama dibawa keluar, kedua duri itu bisa dibuang dan engkau akan berada di luar jangkauan pikiran.

Monday, July 26, 2021

Apakah Jiwa Itu Ada? Brian Cox: Fisika Modern Membantah Konsep Jiwa Manusia

Pertanyaan mengenai kehidupan setelah kematian masih menjadi misteri besar bagi umat manusia. Banyak orang yang mengklaim memiliki pengalaman spiritual saat berada di ambang kematian, seperti melihat cahaya terang atau bertemu dengan kerabat yang telah tiada. Pengalaman-pengalaman ini, yang dikenal sebagai near-death experiences (NDE), sering dialami oleh pasien yang mengalami henti jantung atau dinyatakan mati secara klinis selama beberapa saat.