Monday, November 19, 2018

Tuhan Sudah Mati (Bagian 2, selesai)

Nietzsche tetap berada dalam kesulitan: di satu sisi dia terus melawan Tuhan yang lama; di sisi lain, di saat-saat ketika dia tidak begitu kuat, dia menjadi takut juga.
Zarathustra berkata,
Jauh!
Dia sendiri telah melarikan diri
Temanku yang terakhir, satu-satunya
Musuh terbesarku,
Yang tidak aku ketahui,
Dewa algojoku.
Tidak! Kembalilah
Dengan semua siksaanmu!
Untuk yang terakhir dari semua yang kesepian
Oh, kembalilah!
Semua air mataku mengalir
Arah mereka kepadamu;
Dan nyala akhir hatiku -
Menyala untukmu!
Oh, kembalilah,
Tuhanku yang tidak diketahui! Sakitku!
Kebahagiaanku yang terakhir!

Kata-kata ini terlihat hampir gila: “Tuhanku yang tidak diketahui! Sakitku! Kebahagiaanku yang terakhir! Ah, kembalilah!”

Nietzsche tetap terbagi, terpecah, skizofrenia. Satu bagian dari dirinya masih takut: "Mungkin Tuhan hidup"; mungkin dia salah. Siapa tahu? Bagaimana orang bisa yakin tentang hal-hal mendalam seperti itu? Dan dialah yang pertama mengatakannya, jadi tentu saja dia takut. Dia ingin menyingkirkan musuh. Dia menyebut Tuhan 'musuh', musuh manusia, karena Tuhan seperti batu di dada manusia - yang engkau sebut Tuhan. Aku tidak berbicara tentang Tuhan dari Buddha dan Mahavir dan Zarathustra dan Yesus dan Musa, tidak. Aku berbicara tentang Tuhan dari massa biasa, dari orang kebanyakan. Nietzsche juga berbicara tentang massa.

Tuhan dari kerumunan orang adalah konsep yang buruk: itu menunjukkan banyak tentang kelemahanmu, tetapi tidak menunjukkan apa pun tentang kebenaran dari keberadaan. Ketika engkau berlutut dalam doa, engkau hanya menunjukkan kelemahanmu, bukan berarti engkau tahu apakah doa itu. Ketika engkau pergi ke kuil, engkau pergi untuk menuntut sesuatu, untuk memohon sesuatu. Engkau hanya menunjukkan ke-pengemis-anmu tetapi tidak sesuatu pun tentang Tuhan. Sangat sedikit orang yang tahu kebenaran tentang Tuhan.

Jika Nietzsche telah bertemu Buddha, Buddha akan sangat setuju, namun juga tidak setuju. Dia akan berkata, “Engkau benar: Tuhan sudah mati, Tuhan dari orang banyak. Tetapi ada pandangan lain, pandangan dari orang-orang yang tercerahkan. Tuhan mereka bukanlah seseorang; Tuhan mereka adalah kehidupan di dalam inti/esensinya. Dan bagaimana kehidupan bisa mati? Pepohonan masih hijau, burung-burung masih bernyanyi, matahari masih ada, malam masih menjadi puisi, cinta masih terjadi. Bagaimana Tuhan bisa mati?”

Tuhan sebagai kehidupan tidak akan pernah mati; Tuhan sebagai sebuah konsep harus mati berkali-kali. Setiap kali manusia tumbuh, konsep lama harus dijatuhkan. Yang lama telah dijatuhkan.

Masalahnya dengan pikiran modern adalah: yang lama telah dijatuhkan, setengah dari tujuan
pernyataan Nietzsche terpenuhi. Setengah lainnya hilang: manusia belum mengakar pada dirinya sendiri; sehingga di sana ada ketidakberartian besar di seluruh dunia. Semua orang merasakan semacam ketumpulan, kesedihan, frustrasi. Semua orang hidup dalam semacam kesengsaraan, kegelisahan, penderitaan yang panjang dan berlarut-larut. Hidup telah menjadi identik dengan semacam penderitaan. Semua yang dapat engkau lakukan adalah menggunakan pembunuh rasa sakit, obat penenang, entah bagaimana terus menarik dirimu sendiri sampai kematian datang dan engkau bisa beristirahat selamanya.

Sigmund Freud mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa bahagia. Paling banyak kita bisa mengurangi ketidakbahagiaannya sedikit. Paling banyak kita bisa membuatnya tidak bahagia seperti biasa. Itulah tujuan dari psikoanalisis: untuk membuat orang tidak bahagia seperti biasanya, untuk membantu mereka agar tidak menjadi tidak bahagia secara abnormal. Tujuan seperti apa ini? Tetapi ini telah terjadi, dan Freud hanya menyatakan satu fakta. Dengan melihat pada manusia modern, dengan melihat ke dalam ketidaksadaran dari manusia modern - dan dia adalah satu-satunya orang yang telah melihat paling jauh ke dalam pikiran sadar dan tidak sadar - bagaimana dia bisa berbohong? Dia harus mengatakan yang sebenarnya.

Dia akhirnya mengerti bahwa terjadinya kebahagiaan itu mustahil. Bagaimana manusia pernah bisa bahagia? - ketika Tuhan mati, dan ketika manusia belum mencari pandangan lain, tujuan lain, bintang lain agar perjalanan bisa dimulai lagi, perjalanan akan makna dan kepentingan (hidup). Tanpa Tuhan, manusia paling banyak bisa menjadi tidak bahagia seperti biasanya.

Kesimpulan Freud adalah bagian dari deklarasi Nietzsche.

Pekerjaanku di sini adalah melakukan separuh bagian lainnya; oleh karenanya aku tidak banyak berbicara tentang Tuhan. Oleh karenanya bahkan jika para ateis datang dan ingin menjadi sannyasin, aku menerima mereka dengan hati terbuka. Bahkan mereka sedikit curiga mengapa aku menerima mereka. Mereka berkata, “Kami adalah ateis. Kami tidak percaya pada Tuhan. Apakah engkau masih siap menerima kami sebagai sannyasin? Bisakah kami bermeditasi?”

Dan aku katakan kepada mereka: engkau adalah orang-orang yang bisa bermeditasi! Orang yang percaya pada Tuhan yang lama tidak bisa bermeditasi: dia terlalu bergantung pada Tuhan; dia tidak pernah menjadi orang yang dewasa. Meditasi membutuhkan pertumbuhan tertentu. Engkau bisa bermeditasi; Tuhan tidak diperlukan. Tuhan bukanlah prasyarat untuk meditasi, tetapi ketika engkau bermeditasi, perlahan-lahan engkau menjadi sadar akan Tuhan.

Tuhan adalah penerangan terakhir, bukan prasyaratnya. Tuhan bukanlah suatu syarat untuk menjadi seorang sannyasin; Tuhan adalah realisasi/kesadaran tertinggi dari para sannya.

Tetapi kemudian engkau tidak akan marah pada Nietzche, ingat, karena engkau akan tahu bahwa apa yang dikatakannya juga benar. Dia berbicara tentang konsep dari Tuhan.

Konsep Musa tentang Tuhan pasti mati. Ketika Musa meninggal, konsepnya tentang Tuhan mati. Bahkan, konsep itu hidup terlalu lama; selama tiga ribu tahun itu terus berlanjut. Itu hanya menunjukkan kebodohan umat manusia. Jika tidak, pada saat seseorang yang tercerahkan meninggalkan dunia, konsepnya tentang Tuhan juga akan hilang. Jika kita telah belajar sesuatu dari orang yang tercerahkan, kita akan melanjutkan, lebih jauh ke depan. Kita akan berdiri di atas pundak orang yang tercerahkan dan kita akan dapat melihat lebih jauh ke depan daripadanya. Kita akan menciptakan pandangan tentang Tuhan yang lebih baik, pandangan tentang Tuhan yang indah. Kita akan datang semakin lama semakin dekat pada kebenaran.

Dan ingat, orang hanya bisa datang semakin lama semakin dekat pada kebenaran. Pada saat engkau datang benar-benar pada kebenaran, engkau menghilang. Maka hanya ada kebenaran.

Nietzsche mengatakan, “Tuhan sudah mati.” Aku berkata: aku mati dan Tuhan hidup, sangat hidup.
Itulah yang terjadi jika engkau terus bermeditasi: suatu hari tiba-tiba engkau mendapati dirimu tidak ada lagi, hanya Tuhan yang ada.

OSHO ~ The Guest, Chpt 14
---
Nietzsche remained in difficulty: on the one hand he continued to fight with the old God; on the other hand, in moments when he was not so strong, he became scared too.

Zarathustra says,
Away!
He himself fled
My last, only companion,
My great enemy,
My unknown,
My hangman-god.
No! Do come back
With all thy tortures!
To the last of all that are lonely
Oh, come back!
All my tear-streams run
Their course to thee;
And my heart’s final flame –
Flares up for thee!
Oh, come back,
My unknown god! My pain!
My last – happiness!

These words look almost insane: “My unknown god! My pain! My last happiness! Ah, come back!”

Nietzsche remained divided, split, schizophrenic. One part of him was still afraid: “Maybe God IS alive”; maybe he was wrong. Who knows? How could one be certain about such profound matters? And he was the first to say it, so naturally he was scared. He wanted to get rid of the enemy. He called God ‘the enemy’, enemy of man, because God had been like a rock on the chest of man – your so-called God. I am not talking about the God of Buddha and Mahavir and Zarathustra and Jesus and Moses, no. I am talking about the God of the common masses, of the mob. Nietzsche is also talking about the mob.

The God of the crowds is an ugly concept: it shows much about your weaknesses, but shows nothing about the truth of existence. When you pray on your knees you simply show your weakness, not that you know what prayer is. When you go to the temple you go to demand something, to beg for something. You simply show your beggarliness but nothing about God. Very few people have known the truth of God.

If Nietzsche had met Buddha, Buddha would have perfectly agreed, and yet disagreed. He would have said, “You are right: God is dead, the God of the crowds. But there is another vision, the vision of the enlightened ones. Their God is not a person; their God is life in its essence. And how can life be dead? Trees are still green, birds are still singing, the sun is still there, the night still becomes poetry, love still happens. How can God be dead?”

God as existence can never be dead; God as a concept has to die many times. Each time man grows, the old concept has to be dropped. The old has been dropped.

The problem with the contemporary mind is: the old has been dropped, half the purpose of
Nietzsche’s declaration is fulfilled. The other half is missing: man has not yet become rooted in his own being; hence there is great meaninglessness all over the world. Everybody is feeling a kind of dullness, sadness, frustration. Everybody is living nothing but a kind of long, drawn-out misery, anxiety, anguish. Life has become synonymous with a kind of agony. All that you can do is use pain killers, tranquilizers, somehow go on pulling yourself together till death comes and you can rest forever.

Sigmund Freud says that man can never be happy. At the most we can reduce his unhappiness a little bit. At the most we can make him normally unhappy. That is the goal of psychoanalysis: to make people normally unhappy, to help them not to become abnormally unhappy. What kind of goal is this? But this has happened, and Freud was simply stating a fact. Looking at the modern man, looking into the unconscious of the modern man – and he was the one man who had looked deepest into the conscious and the unconscious mind – how could he lie? He had to say the truth.

He came to understand that it is impossible for happiness to happen. How can man ever be happy? – when God is dead, and when man has not searched for another vision, for another goal, for another star so that the journey can start again, the journey of meaning and significance. Without God, man can at the most be normally unhappy.

Freud’s conclusion is part of Nietzsche’s declaration.

My work here consists in doing the other half; hence I don’t talk much about God. Hence even if atheists come and want to become sannyasins, I accept them with an open heart. Even they are a little suspicious of why I am accepting them. They say, “We are atheists. We don’t believe in God. Are you still ready to accept us as sannyasins? Can we still meditate?”

And I say to them: you are the persons who can meditate! The person who believes in the old God cannot meditate: he depends too much on God; he is never a grown-up person. Meditation needs a certain growth. You can meditate; God is not needed. God is not a prerequisite for meditation, but when you meditate, slowly, slowly you become aware of God.

God is the ultimate revelation, not the prerequisite. God is not a condition to become a sannyasin; God is the ultimate realization of sannyas.

But then you will not be angry with Nietzsche, remember, because you will know that what he was saying is also true. He was talking about the concept of God.

Moses’s concept of God is certainly dead. When Moses died, his concept of God died. In fact, it lived too long; for three thousand years it continued to prevail. That simply shows the stupidity of humanity. Otherwise the moment an enlightened person leaves the world, his concept of God will also disappear. If we have learned anything from the enlightened person, we will go ahead, further ahead. We will stand on the shoulders of the enlightened person and we will be able to look further ahead than him. We will create better visions of God, beautiful visions of God. We will come closer and closer to the truth.

And remember, one can only come closer and closer to the truth. The moment you come absolutely to the truth, you disappear. Then only truth is.

Nietzsche says, “God is dead.” I say: I am dead and God is alive, very alive.

That’s what happens if you go on meditating: one day suddenly you find you are not, only God is.

OSHO ~ The Guest, Chpt 14

Sumber: OSHO Indonesia

No comments:

Post a Comment