Friday, June 22, 2018

Mengapa Tuhan Tidak Menciptakan Alam Semesta

Oleh: Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow

Diterjemahkan oleh TACU

Menurut mitologi Viking, gerhana terjadi ketika dua serigala, Skoll dan Hati, menangkap matahari atau bulan. Pada permulaan terjadinya gerhana, orang-orang sengaja membuat kebisingan, berharap dapat menakut-nakuti serigala-serigala itu hingga kabur. Setelah beberapa saat, orang-orang mesti menyadari bahwa gerhana itu berakhir tanpa menghiraukan apakah mereka berlarian dan menghancurkan pot-pot.

Keacuhan terhadap bagaimana alam ini bekerja, telah menggiring orang-orang kuno untuk membuat mitos-mitos sebagai dalil pembuktian bagi pemahaman mereka terhadap dunia. Akan tetapi, kemudian orang-orang beralih ke filsafat, yakni berusaha menggunakan nalar mereka—beserta intuisi berdosis tepat—untuk menguraikan semesta mereka berada. Hari ini kita menggunakan nalar, matematika dan tes uji coba—dengan kata lain, ilmu pengetahuan modern.

Albert Einstein mengatakan, “Hal yang paling tidak bisa dimengerti tentang alam semesta adalah bahwa ia dapat dipahami secara luas dan lengkap.” Maksudnya adalah, tidak seperti kondisi rumah kita di hari yang buruk, alam semesta bukanlah praktik konglomerasi atas hal-hal yang berjalan masing-masing di jalannya sendiri. Segala sesuatu di alam semesta mengikuti hukum, tanpa kecuali.
Newton percaya bahwa sistem tata surya kita—yang dapat ditinggali meski nampaknya amat ganjil, “tidaklah muncul dari kekacauan hukum alam.” Sebaliknya, dia menyatakan bahwa urutan alam semesta “diciptakan oleh Tuhan pada awalnya dan dilestarikan olehNya hingga hari ini dengan keadaan dan kondisi yang sama.” Penemuan baru-baru ini secara ekstrem memutarbalikkan teori-teori mengenai alam semesta yang berasal dari gagasan adanya rancangan besar yang dikerjakan oleh sang Perancang Agung. Alih-alih mengukuhkan, kemajuan terbaru dalam bidang kosmologi menjelaskan mengapa hukum alam semesta tampaknya dibuat khusus untuk manusia, tanpa memerlukan pencipta baik hati.

Banyak kejadian mustahil yang saling tumpang tindih dalam hal penciptaan manusia sebagaimana yang kita saksikan dalam bentuk manusia sekarang ini. Akan sangat membingungkan pula jika kita adalah satu-satunya sistem tata surya di alam semesta. Akan tetapi, hari ini kita mengetahui adanya ratusan sistem tata surya lain, dan hanya sedikit yang meragukan keberadaan mereka (manusia dalam bentuk seperti kita) dengan jumlah tak terhitung lainnya di antara miliaran bintang di dalam galaksi kita.

Planet yang mempunyai segala macam entitas yang dibutuhkan bagi kehidupan (sebagaimana bumi) ternyata sangat jelas keberadaannya. Ketika entitas-entitas penyokong kehidupan di suatu planet mengetes kondisi di sekitar mereka, maka mereka terikat untuk menemukan bahwa lingkungan mereka memenuhi persyaratan yang mereka butuhkan untuk tetap eksis.

Hal ini dimungkinkan untuk mengubah pernyataan terakhir menjadi prinsip ilmiah: Fakta dari keberadaan kita membatasi karakteristik jenis lingkungan di mana kita menemukan diri kita. Sebagai contoh, jika kita tidak tahu jarak dari bumi ke matahari, fakta bahwa entitas seperti kita ada, akan memungkinkan kita untuk menempatkan batas pada seberapa kecil atau besar pemisahan yang terjadi antara bumi dan matahari. Kita perlu cairan berupa air untuk eksis, dan jika bumi terlalu dekat dengan matahari, itu semua akan mendidih. Jika terlalu jauh maka akan membeku. Prinsip ini disebut prinsip antropis terlemah.

Prinsip antropis terlemah ini tidaklah sangat kontroversial. Akan tetapi, ada prinsip yang lebih kuat dan dipandang remeh oleh beberapa fisikawan. Prinsip antropis yang lebih kuat menawarkan fakta bahwa keberadaan/eksistensi kita membebankan ketidakleluasaan, tidak hanya pada lingkungan kita, tetapi pada kemungkinan bentuk dan isi dari hukum-hukum alam itu sendiri.

Ide tersebut muncul karena tidak hanya karakteristik khas dari sistem tata surya kita yang secara aneh tampak kondusif bagi pengembangan kehidupan manusia, tetapi juga karakteristik seluruh alam semesta kita—dan hukum-hukumnya. Mereka tampaknya memiliki desain yang memang dibuat untuk mendukung kita dan, jika kita memang menghendaki eksistensi tersebut, juga meninggalkan sedikit ruang untuk perubahan. Itu akan jauh lebih sulit untuk dijelaskan.

Kisah tentang bagaimana bentuk primordial alam semesta adalah hidrogen, helium dan sedikit lithium yang berevolusi, setidaknya menyimpan satu kisah dalam banyak bab tentang dunia yang dipenuhi dengan kehidupan cerdas seperti kita. Kekuatan alam harus sedemikian rupa sehingga berat unsur-terutama karbon bisa dihasilkan dari elemen primordial, dan tetap stabil setidaknya selama miliaran tahun. Unsur-unsur berat itu terbentuk dalam tungku yang kita sebut bintang, sehingga kekuatan pertama alam semesta pasti memungkinkan terbentuknya bintang-bintang dan galaksi. Mereka pada gilirannya tumbuh dari sebiji inhomogenitas kecil di awal-awal semesta alam.

Bahkan, semua itu belumlah cukup: Dinamika bintang-bintang harus sedemikian rupa sehingga beberapa akhirnya akan meledak, tepatnya dengan cara yang bisa memecah elemen paling berat melintasi ruang. Selain itu, hukum alam harus mendikte bahwa sisa-sisa pecahan itu akan merekondisi dirinya menjadi generasi baru bintang-bintang, yang dikelilingi planet-planet yang bergabung dengan bentukan baru elemen-elemen berat.

Dengan memeriksa model alam semesta yang kita hasilkan ketika teori-teori fisika diubah dengan cara tertentu, seseorang dapat mempelajari pengaruh perubahan hukum fisika secara metodis. Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa apabila sedikitnya terjadi perubahan 0,5% dalam kekuatan gaya nuklir, atau 4% dalam kekuatan listrik, akan menghancurkan nyaris seluruh karbon, atau semua oksigen di setiap bintang, dan karenanya memungkinkan kehidupan seperti yang kita tahu. Demikian pula, sebagian besar konstanta fundamental yang muncul dalam teori kami, muncul secara baik. Dalam arti bahwa jika mereka diubah oleh jumlah yang sederhana saja, alam semesta akan secara kualitatif berbeda, dan dalam banyak kasus tidak cocok untuk pengembangan kehidupan. Misalnya, jika proton adalah 0,2% lebih berat, mereka akan membusuk menjadi neutron, menyebabkan atom tak stabil.

Jika seseorang menganggap bahwa diperlukan beberapa ratus juta tahun orbit yang stabil bagi kehidupan di planet untuk berevolusi, maka jumlah dimensi ruang juga akan disesuaikan dengan keberadaan kita. Hal tersebut dikarenakan, menurut hukum gravitasi, hanya dalam tiga dimensi yang dimungkinkan stabilnya orbit berbentuk elips. Bahkan, gangguan kecil pada sesuatu yang bertiga dimensi, seperti yang dihasilkan oleh tarikan planet lain, akan melencengkan sebuah planet dari orbit edarnya, dan menyebabkan bergerak spiral mendekat atau pun menjauhi matahari.

Munculnya struktur rumit yang mampu mendukung pengamatan tentang makhluk atau objek berintelejensi tinggi, tampaknya sangat rapuh. Hukum alam membentuk sistem yang sedemikian teratur dan serasi. Apa yang bisa kita perbuat dari kebetulan-kebetulan ini? Keberuntungan yang presisi dan sifat alamiah hukum fisika dasar adalah jenis keberuntungan yang berbeda dari keberuntungan yang kita temukan dalam faktor-faktor lingkungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa (kebetulan) itu adalah caranya?

Banyak orang menginginkan kita untuk menggunakan kebetulan sebagai bukti pekerjaan Tuhan. Gagasan bahwa alam semesta ini dirancang untuk mengakomodasi umat manusia muncul dalam teologi dan mitologi yang berasal dari ribuan tahun yang lalu. Dalam budaya Barat, Perjanjian Lama berisi ide rancangan takdir, tapi pandangan Kristen tradisional juga sangat dipengaruhi oleh Aristoteles, yang percaya “bahwa dunia secara cerdas dan alamiah melakukan fungsinya sesuai dengan beberapa rancangan yang disengaja.”

Itu bukan jawaban dari ilmu pengetahuan modern. Sebagai kemajuan terbaru dalam kosmologi menunjukkan, hukum gravitasi dan teori kuantum memungkinkan alam semesta muncul secara spontan dari ketiadaan. Penciptaan spontan adalah alasan adanya sesuatu daripada tidak ada apapun, mengapa alam semesta ada, mengapa kita ada. Hal ini tidak perlu melibatkan Tuhan untuk menyalakan kertas biru yang tersentuh dan mengatur jalannya alam semesta.

Alam semesta kita tampaknya menjadi salah satu dari banyak, masing-masing dengan hukum yang berbeda. Banyaknya ide tentang semesta itu bukanlah gagasan yang diciptakan untuk menjelaskan keajaiban keteraturan dan keserasian alam. Ini adalah konsekuensi yang diprediksi oleh banyak teori dalam kosmologi modern. Jika benar, maka akan mengurangi prinsip antropik yang kuat dengan yang lemah, menempatkan keselarasan dan keteraturan hukum fisika pada pijakan yang sama dengan faktor lingkungan karena hal itu berarti bahwa habitat kosmik kita—seluruh semesta yang sekarang dapat diamati—hanyalah salah satu dari banyak alam semesta.

Masing-masing semesta kemungkinan memiliki sejarah dan kondisi beragam. Barangkali hanya beberapa saja yang memungkinkan makhluk seperti kita untuk eksis. Meskipun kita lemah dan tidak terlalu signifikan pada skala kosmos, justru dalam hal penciptaan membuat keberadaan kita lebih masuk akal.

—Stephen Hawking is a professor at the University of Cambridge. Leonard Mlodinow is a physicist who teaches at Caltech. Adapted from “The Grand Design” by Stephen Hawking and Leonard Mlodinow. Copyright © by Stephen Hawking and Leonard Mlodinow. Printed by arrangement with the Random House Publishing Group.

No comments:

Post a Comment