Wednesday, April 25, 2012

Mengapa Kita Takut akan Kematian?

oleh Caroline Nettle

Sering dikatakan bahwa hanya ada dua hal dalam hidup yang pasti yaitu kematian dan pajak dan ini nampaknya benar. Segala sesuatu di dunia sekitar kita terus berubah. Kita harus melepaskan tradisi, beradaptasi dengan perubahan sosial, politik dan keuangan di dunia dalam rangka untuk terus berfungsi dan masuk ke dunia di sekitar kita. Semua perubahan ini, yang tampaknya akan terjadi lebih cepat dan lebih dramatis hari ini, telah menyebabkan kemungkinan melihat kehidupan dan kematian dari perspektif yang baru. Persepsi ini tidak benar-benar baru, melainkan lebih merupakan kenangan tentang cara alami untuk melihat lingkaran kehidupan dan peran kita di dalamnya.

Jika Anda berhenti sejenak untuk merenungkan faktor-faktor yang memainkan peranan untuk adanya kehidupan di Bumi, Anda akan terkejut. Planet Bumi memerlukan jarak yang tepat dari matahari dengan komposisi yang tepat dari materi-materi untuk mendukung suatu kehidupan. Kehidupan ini juga harus dipertahankan di Bumi, sambil kita terus bergerak melalui ruang dengan kecepatan tertentu yang kita hanya dapat mencoba untuk memahami.

Alam memiliki pola untuk semua kehidupan. Diawali siklus kelahiran, diikuti oleh pertumbuhan, reproduksi dan akhirnya kematian. Namun, kematian bukanlah berakhir sekedar menjadi sisa-sisa organisme hewan, tumbuhan, serangga atau organisme hidup lain, ia digunakan untuk memelihara dan menyediakan kehidupan pada organisme lain dalam siklus. Tanpa siklus ini, kehidupan yang berkelanjutan di permukaan bumi tidak mungkin terjadi.

Pikirkan tentang pohon dan bagaimana ia melengkapi siklus hidupnya. Sebutir benih jatuh ke tanah, berakar dan tumbuh. Selama bertahun-tahun menumpuk daun yang membusuk untuk memperkaya tanah di mana pohon dan tanaman lainnya tumbuh. Bahkan ketika pohon tersebut tumbang, dalam kematian batang dan anggota badan tetap digunakan dalam rencana besar alam. Di dalam lautan ikan-ikan menetas, tumbuh dan makan, bereproduksi dan mati, dengan tubuh mereka yang kemudian tenggelam ke bawah, memberi makan spesies lain dari ikan dan organisme lain. Organisme dan ikan lebih kecil ini menjadi pakan ikan yang lebih besar, melanjutkan siklus tidak pernah berakhir. Setiap bentuk kehidupan mengalami proses sirkuler yang sama, masing-masing bersimbiosis dan menyediakan rantai makanan untuk organisme selanjutnya.

Mengapa Kita Takut Mati? Hewan, tanaman dan organisme di alam tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan tentang kematian. Hal ini disebabkan karena mereka hidup terlalu sibuk setiap hari. Hanya spesies manusia lah yang memiliki kekhawatiran, dan ketakutan akan kematian. Para peneliti telah menemukan dari pemangsa yang memangsa binatang, ketika terjebak oleh pemangsa, mereka berjuang untuk sementara waktu dan kemudian menyerah, menerima nasib mereka tanpa menyebabkan stress atau perjuangan yang meningkat. Hal ini seolah-olah mereka memahami peran yang mereka mainkan dalam skema besar kehidupan.

Mungkin alasan bahwa manusia, khususnya dalam budaya barat, sekarang merasa takut akan kematian adalah karena kita tidak lagi melihat diri kita sebagai bagian dari siklus alami. Tidak ada rasa takjub pada keajaiban kehidupan dan tempat kita berada di dalam alam semesta. Fokus kita adalah pada apa yang kita dapat buktikan, teori apa yang paling trend dan bagaimana penting dan esensial kita di dunia.

Masih ada beberapa budaya di dunia yang masih sangat menghargai Bumi dan merangkul pikiran tentang kematian hanya sebagai bagian lain dari suatu siklus. Mereka tidak hanya menerima kematian sebagai kejadian alami dalam hidup tetapi mereka juga menunjukkan penghargaan dan apresiasi bagi leluhur mereka dan mereka yang telah pergi mendahului. Mereka mewarisi kebijaksanaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, bukannya melupakan sebagai sesuatu yang tidak lagi relevan. Mereka mencari pemahaman di masa lalu, dan menghormati leluhur mereka.

Jika Anda berhenti untuk merenungkan tentang kematian, Anda akan menemukan bahwa kadang-kadang, meskipun itu adalah sebuah akhir, itu juga merupakan awal yang baru. Kematian dalam sebuah hubungan misalnya, memungkinkan Anda untuk mencari hubungan-hubungan baru dalam hidup Anda yang dapat membuat hubungan Anda menjadi lebih kuat, lebih mendukung dan lebih baik untuk Anda. Ketika kita membuat pilihan berdasarkan pengalaman hidup kita, persepsi lama kita akan mati dan layu ketika pemahaman baru berkembang.

Ini juga diulang pada skala dunia. Budaya dan peradaban lama mati untuk digantikan oleh budaya yang lebih maju. Peristiwa bencana seperti jatuhnya meteor mungkin akan menghapus sebagian besar kehidupan di planet ini namun spesies lain yang lebih baik yang mampu beradaptasi akan bangkit dari abu tersebut. Ide-ide dan filosofi baru akan menggantikan ide-ide yang mungkin telah dilihat sebagai satu-satunya jalan di masa lalu.

Daripada kita takut akan kematian adalah penting untuk melihat kematian sebagai bagian alamiah dari kehidupan. Dengan melepaskan rasa takut Anda akan kematian, Anda akan dapat menikmati kehidupan yang Anda alami hari ini. Semua waktu yang Anda habiskan untuk mengkhawatirkan tentang bagaimana kematian akan terjadi adalah bukan waktu yang Anda harus habiskan sia-sia dalam hidup yang telah diberikan. Kita semua akan mati dan tidak ada dari kita yang tahu kapan itu akan terjadi. Beberapa akan hidup lama sementara yang lain mungkin memiliki kehidupan yang pendek, tapi semua orang dapat membuat hidup mereka berarti.

Ketika orang menghabiskan seluruh waktu mereka mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi mereka terlibat dalam proses yang dikenal sebagai proyeksi. Proyeksi adalah hal umum yang dirasakan pada orang yang takut mati dan mereka biasanya tidak menyadari betapa kekhawatirkan mereka sesungguhnya adalah penurunan kualitas hidup yang mereka alami. Melepaskan proyeksi dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran adalah pilihan terbaik. Menjalani kehidupan sebaik-baiknya dan melihat dari sudut pandang lebih luas terhadap kematian adalah salah satu cara untuk membantu proyeksi ini berhenti karena Anda dapat yakin bahwa hal-hal tersebut akan tertangani dengan baik.

Kita tidak mengerti apa yang terjadi setelah kematian atau mengapa kematian itu terjadi ketika itu terjadi. Sulit untuk melihat gambaran lebih besar ketika orang yang dicintai meninggal tiba-tiba atau meninggal pada usia muda. Alih-alih mencoba untuk merasionalisasi dan menentukan mengapa kematian terjadi, yang terbaik adalah untuk mempertimbangkan bahwa ada gambaran yang jauh lebih besar dalam kehidupan. Kita semua memiliki peran untuk dimainkan dalam drama kehidupan, meskipun kita mungkin tidak sepenuhnya memahami peran kita. Seringkali kematian orang yang dicintai adalah bagian dari pengalaman pembelajaran kita. Kita dapat belajar bagaimana untuk berduka, bagaimana untuk melepaskan, atau bahkan menjadi lebih harmonis dengan menjadi spritual.

Bagi banyak budaya kematian tidak dilihat sebagai akhir kehidupan, tetapi pelepasan roh dari pelajaran sementara di bumi. Dalam beberapa budaya kematian ini sering diakui sebagai bagian dari perjalanan hidup, sehingga kehidupan di sisi lain adalah kehidupan yang benar-benar indah. Bahkan untuk mereka yang mungkin tidak memiliki pandangan yang sama tentang kematian dan akhirat, menghabiskan waktu untuk gelisah dan mengkhawatirkan tentang kematian, akan merampas sebagian besar waktu yang Anda miliki di sini di Bumi. Nikmati hidup Anda, pastikan kehidupan tersebut diisi dengan tawa, cinta dan hal-hal yang menyenangkan adalah cara terbaik untuk menghabiskan hari-hari Anda, jangan mengkhawatirkan bagian dari kehidupan Anda di mana Anda tidak memiliki kendali atasnya.

Sumber: Henkykuntarto’s Blog -Wellcome to my spiritual blog

2 comments: