Monday, August 26, 2019

Drama Manusia Di Panggung Dunia

Jika anda memahami dan menghayati betul sekte Liberalisme, maka anda akan tahu bahwa Liberalisme tlah mengambil jalan radikal dalam menyangkal semua drama kosmik, tetapi ia kemudian menciptakan kembali drama dalam manusia, dimana alam semesta tidak memiliki alur, terserah kita sebagai manusia membuat plot, dan ini adalah tugas kita dan makna dari hidup kita.

Buddhisme kuno melangkah lebih jauh dengan menyangkal tidak hanya semua drama kosmik, tetapi bahkan drama batin ciptaan manusia. Alam semesta tidak memiliki makna, dan perasaan manusia juga bukan bagian dari kisah kosmik yang hebat. Mereka adalah getaran fana, muncul dan menghilang tanpa tujuan tertentu.

Sang Buddha mengajarkan bahwa ada tiga realitas dasar alam semesta, yakni segala sesuatu terus berubah, tidak ada yang memiliki esensi abadi, dan tidak ada yang benar-benar memuaskan. Anda dapat menjelajahi jarak terjauh gakaksi, tubuh anda, atau pikiran anda - tetapi anda tidak akan pernah menemukan sesuatu yang tidak berubah, sesuatu yang memiliki esensi abadi, dan sesuatu yang benar-benar memuaskan anda.

 Penderitaan muncul karena orang gagal menghargai ini. Mereka percaya bahwa ada beberapa esensi abadi di suatu tempat, dan jika mereka hanya dapat menemukannya dan terhubung dengannya, mereka akan benar-benar puas. Esensi abadi ini kadang-kadang disebut Tuhan, bangsa, jiwa, diri yang sejati, dan cinta yang sejati. Dan semakin banyak orang melekat padanya, semakin kecewa dan sengsara mereka karena kegagalan menemukannya. Lebih buruk lagi, semakin besar keterikatannya, semakin besar pula kebencian orang-orang itu, yang berkembang kearah siapa pun, kelompok atau lembaga apa pun, yang terlihat berdiri menghalangi tujuan kepada yang mereka cintai.

Menurut sang Buddha, kemudian, hidup tidak memiliki makna, dan orang-orang tidak perlu menciptakan makna apa pun. Mereka hanya perlu menyadari bahwa tidak ada makna, dan dengan demikian terbebas dari penderitaan yang disebabkan oleh keterikatan kita dan indentifikasi kita terhadap fenomena kosong. 'Apa yang harus saya lakukan?' tanya seseorang, dan Buddha menyarankan, 'jangan lakukan apa-apa. Sama sekali tidak ada'. Seluruh masalahnya adalah kita selalu melakukan sesuatu. Belum tentu pada tingkat fisik - kita bisa duduk tanpa bergerak selama berjam-jam dengan mata tertutup, namun pada tingkat mental kita sangat sibuk menciptakan cerita dan identitas, bertempur dan meraih kemenangan. Benar-benar tidak berarti bahwa pikiran kita juga melakukan apa-apa dan tidak menciptakan apa-apa.

Kata Harari, pertanyaan besar yang dihadapi munusia bukanlah 'apa makna hidup?', melainkan, 'bagaimana kita bisa keluar dari penderitaan?' Ketika anda meninggalkan semua cerita fiktif kata Harari lebih lanjut, anda dapat mengamati realitas dengan kejelasan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, dan jika anda benar -benar mengetahui kebenaran tentang diri anda dan tentang dunia, tidak ada yang dapat membut anda sengsara. Tapi itu tentu saja lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

"Kita manusia telah menalukkan dunia berkat kemampuan kita dalam mencipta dan mempercayai fiksi. Oleh karena itu, kita sangat buruk dalam mengetahui perbedaan antara fiksi dan kenyataan. Mempertimbangkan perbedaaan ini telah menjadi masalah kelangsungan hidup bagi kita. Jika anda tetap ingin mengetahuinya perbedaanya, tempat untuk memulai adalah dengan peneritaan. Karena hal yang paling nyata di dunia adalah penderitaan", tandas Harari.

@AOS

No comments:

Post a Comment